LOGINHendra yang merasa sangat gagal, lantaran dirinya yang sudah dewasa namun belum bisa memberikan segala sesuatu buat adik nya dan juga dirinya sendiri, ia pun saat ini hanya bisa meratapi nasib nya.
Namun tiba-tiba saja terdengar suara yang membuat Hendra sangat terkejut dengan suara tersebut. "Apaa sistem? kalau gak salah tadi aku mendengar kata sistem, tapi siapa yang suara, jelas-jelas disini tidak ada orang sama sekali" Hendra yang mengerenyitkan dahi nya, ia pun merasa sangat bingung dengan apa yang terjadi. Dan tiba-tiba saja terdapat sebuah layar di deoan hendra, hal tersebut membuat hendra semakin bingung. "Ada apa ini, ini semua apa, apakah aku saking stres nya jadi halusinasi ini". "Aduhhhhhh" Hendra yang merasa bahwa semua itu hanyalah halusinasi, ia pun mencubit dirinya sendiri, namun Hendra tidak menyangka bahwa cubitan itu sangatlah sakit, sehingga ia berteriak sangat kencang. "Kakk!? apa yang terjadi dengan kak Hendra" Hani yang baru saja selesai mandi dan berganti pakaian, ia yang mendengar suara jeritan kakak nya, membuat Hani penasaran dengan apa yang terjadi pada kakak nya, lantas hani pun langsung menghampiri hendra yang berada di depan rumah. "Ini..... inii ternyata tidak mimpi, ini beneran" Ucap Hendra yang merasa bahwa layar yang ada di depan nya itu beneran nyata. "Kak Hendra, ada apa kak, kenapa kak Hendra tadi berteriak". "Hanii, han coba lihat ini, disini terdapat layar yang sangat keren, coba lihat" Hendra dengan raut wajah yang tersenyum karena sangat senang, ia pun ingin memperlihatkan layar tersebut ke Hani. Dengan raut wajah yang kebingungan, Hani pun tidak tau apa yang dikatakan oleh kakak nya "hahh layar, layar apa yang kak Hendra maksud". "Iniii... jelas-jelas di depan ku, apakah kamu tidak melihat nya". "Kakk di depan kak Hendra tidak ada apa-apa, sepertinya kak Hendra sedang kecapekan saat ini, lebih baik kak Hendra istirahat dulu aja" hani yang merasa bahwa kakak nya saat ini sedang banyak pikiran, sehingga membuat nya berhalusinasi. "Sistem, tadi apa namanya sistem kan?, kenapa adik ku tidak bisa melihat layar yang jelas-jelas ada di depan ku, apakah hanya aku saja yang bisa melihat nya". *DING* "Iya benar tuan, hanya tuan rumah lah yang dapat mendengar suara sistem, dan melihat layar yang ada di depan tuan". "Iyakahhh? Kalau begitu ini semua berarti serasa hidup dengan curang, hahahahaha dengan adanya sistem ini aku akan merubah nasib ku dan menjadi kaya raya" memikirkan hal tersebut, Hendra pun tersenyum-senyum sendiri. "Apa kak Hendra sekarang sudah gila ya, kasihan sekali umur masih muda tapi sudah gila, tenang saja kak aku belum gila, jadi kak Hendra lebih bauk saat ini istirahat saja, biar aku yang mencari jamur itu besok". "Heiii apa yang kamu katakan, siapa juga yang gilaa, orang aku masih sehat seperti ini". "Lah tadi kak Hendra senyum-senyum tidak jelas". "Ehh... ehhh itu karena aku merasa bahwa besok kita akan mendapatkan banyak jamur" ucap Hendra yang mencari alasan untuk menutupi kesenangan nya tadi. "Apaansih kakkk, gak jelas banget". "Udah-udah, lebih baik saat ini kita istirahat dulu aja, kamu jangan lupa, jamur yang tadi yang hanya tersisa satu itu, kamu makan agar malam ini bisa tidur dengan tenang". "Maksud kakak tidur dengan tenang aku meninggal gitu" Sahut Hani dengan wajah kesal. "Ehh.... astagaaa, maksud aku itu, agar kamu tidak kelaparan nanti malam, dengan begitu kamu bisa tidur dengan tenang, siapa juga yang bilang kamu akan meninggal". "Ohh gituuu" Sahut Hani. Setelah itu mereka berdua pun masuk kedalam rumah, dimana hani tak lupa makan terlebih dahulu sebelum ia tidur. Karena rumah tersebut hanya terdapat satu kamar, sehingga Hendra pun memilih tidur diruangan tempat makan, yang hanya di alasi dengan sarung. Waktu pun terus berlalu, kini matahari telah menampakkan wujudnya untuk menyinari bumi, menggantikan tugas dari bulan yang telah bekerja untuk menyinari bumi di malam hari. Suara kicau burung terdengar sangat merdu di sekitaran gunung. "Aahhhhhhh, saat nya menjelaskan misi dari sistem" Sambil meregangkan anggota tubuh nya lantaran baru bangun tidur, Hendra pun langsung bersiap-siap untuk pergi ke gunung. "Sistem apakah terdapat syarat untuk menukarkan barang menjadi poin". *DING* "Syarat untuk mengumpulkan poin, yaitu tuan rumah secara langsung mengambil barang tersebut dengan tangan tuan sendiri". "Ohh maksudnya mencari barang di gunung, ntah itu tumbuhan, ataupun hewan dengan tangan ku sendiri, maka hal itu akan bisa menjadi poin, tapi sistem bagaimana kalau adik ku yang memetik nya, apakah tidak mendapatkan poin". *DING* "Tidak tuan, hanya tuan rumah lah yang bisa mendapatkan poin". Ketika Hendra sedang berbicara dengan sistem, keluarlah hani dari dalam kamar yang baru saja bangun tidur. "Udah siap aja kak". "Iya ayok, cuci muka dulu biar segar, habis itu berangkat, hari ini kita harus semangat untuk mendapatkan jamur-jamur yang diminta oleh bu Siti". "Iya kak tunggu sebentar". Selang beberapa menit, Hendra dan juga Hani sudah siap, mereka berdua pun langsung mendaki gunung untuk mencari jamur guna mengganti jamur milik bu Siti. "Kakk, kak Hendra coba lihat disini terdapat jamur" ucap hani yang melihat jamur yang tumbuh di bawah pepohonan. Mendengar apa yang dikatakan oleh Hani, Hendra pun langsung mendekat. "Wahh jamur tiram, akhirnya kita menemukan nya" Sahut Hendra. "Kalau gitu aku ambil dulu kak". "Ehh tunggu dulu" Hendra yang melihat hani ingin memetik jamur tersebut, ia pun langsung menghentikan nya. "Ada apa kak". "Gakpapa, biar aku aja yang metik" Sahut Hendra, dan ia langsung memasukan jamur tersebut kedalam keranjang yang dia bawa. "Kalau Hani yang memetik nih jamur, yang ada aku tidak akan mendapatkan poin" ucap hendra dari dalam hatinya. *DING* "Selamat tuan, tuan telah mendapatkan 10 poin". Suara dari sistem pun terdengar 4 kali. "Baru juga nyari tapu sudah dapat 4 jamur aja, sekarang tinggal kurang 6 untuk melunasi hutang bu Siti". "Lebih baik kita berpencar aja kak, untuk mencari jamur-jamur atau tumbuhan lain yang bisa dimakan disini, dengan begitu kita lebih cepat dari pada kita terus bersama". "Hmm baiklah, kalau gitu jangan jauh-jauh, takutnya ada binatang liar disini. "Baik kak aman aja, kita sudah berpengalaman disini, jadi kak Hendra jangan khawatir". "Mau pengalaman atau tidak, yang namanya di alam tidak memandang itu han, hari sial tidak ada yang tau, jadi alangkah baiknya untuk hati-hati" sahut hendra, dan mereka berdua pun berpencar untuk mengumpulkan tumbuhan yang bisa dimakan di sekitar gunung tersebut. "Lumayan dapat 40 poin hari ini" ucap Hendra, dan ia pun langsung melanjutkan hasil pencarian nya di gunung. Selang beberapa jam, dan cuaca kini sangat panas, hendra dan Hani berkumpul kembali. "Gimana dapat berapa kamu hari ini". "Cuma dapat 4 jamur aja kak, susah banget sekarang nyarinya, kalau kak Hendra?". "Ehh lumayan lah, aku dapat 7 jamur dan 1 ubi, jadi hari ini kita dapat mengganti jamur milik bu Siti, dan bisa memakan ubi nanti". "Yeee akhirnya bisa makan selain jamur, jujur sudah bosan sekali makan jamur kak, tapi mau bagaimana lagi". "Iya gakpapa lah, ya mau bagaimana juga adanya jamur, kalau kita gak makan jamur terus mau makan apa untuk bertahan hidup". "Iya kakkk" sahut Hani. "Yaudah kalau gitu kita pulang aja, ini sudah panas banget hari ini". "Okeee" dan mereka berdua pun turun dari gunung dan kembali ke rumah mereka. "Huaaaa gilaaa, hari ini bisa panas banget" sesampainya di rumah, hani pun dibuat kecapekan dengan cuaca yang sangat panas. "Persediaan air bagaimana han, apakah masih aman". "Tinggal sedikit kak, tapi bisa lah digunakan untuk mandi dan minum beberapa hari". "Yaudah kamu minum dulu, istirahat sana, biar aku yang mengembalikan jamur milik bu Siti". "Baik kak". Lantas Hendra dengan membawa 10 jamur, ia pun pergi ke rumah bu Siti untuk melunasi hutang nya. "Tok, tok, tok, bu.... Bu siti" sesampainya di rumah bu Siti, Hendra mendapati bahwa pintu rumah tertutup, lantas hendra pun mengetuk-ngetuk pintu rumah tersebut. "Iya sebentar" sahut bu siti dari dalam rumah, dan ia langsung membuka pintu rumah nya. "Ada apa dra, apakah kamu kesini ingin bilang, kalau kamu tidak bisa melunasi hutang mu, hmm.... jangan harap aku akan kasihan dengan mu, yang pasti petang nanti kamu harus sudah mengganti jamur yang kamu ambil dari ku" ucap Bu siti dan ia langsung menutup kembali pintu rumah nya. "Ehh tunggu dulu bu, aku kesini cuma ingin mengembalikan jamur milik bu Siti, ini tadi aku dan hani sudah mendapatkan 10 jamur di gunung" ucap Hendra sambil memberikan 10 jamur tersebut ke Bu Siti. Mendengar apa yang dikatakan oleh Hendra, Bu siti pun langsung membuka kembali pintu rumah nya nahh bilang dong dari tadi" Ucap bu Siti sambil menerima 10 jamur tersebut. "Terimakasih, dan ingat jangan mencuri lagi, atau kamu harus mengganti nya 4 kali lipat" "Iya bu siti, mohon maaf". "Udah-udah sana pulang" dan bu Siti langsung menutup pintu rumah nya. Sesampainya di rumah, Hendra yang sangat kecapekan, ia pun langsung tertidur dengan sarung yang ia jadikan alas untuk tidur. Hani yang terbangun dari tidurnya, melihat kakak nya yang tertidur dengan sangat pulas, Hani pun merasa kasihan dengan kakak nya itu. "Kak Hendra pasti sangat kecapekan, tapi apa yang bisa aku lakukan selain membantunya mencari sesuatu di gunung yang bisa untuk dimakan". Hendra pun terbangun dari tidurnya, ketika ia melihat jam sudah menunjukkan pukul 3 sore. "Kak Hendra udah bangun, makan dulu kak, dari pagi ehh gak sih justru dari malam kak Hendra belum makan sama sekali, ini aku sudah membakar ubi yang kak Hendra dapatkan tadi di gunung, mau aku goreng tapi kita gak punya minyak kak" Hani yang melihat kakak nya sudah bangun, ia pun memberikan ubi bakar tersebut kepada kakak nya. "Kenapa gak direbus aja han, lebih simpel dari pada dibakar". "Ehh iya benar juga, kenapa aku gak kepikiran" sahut Hani "Hahaha yaudah, kamu sudah makan belum". "Belum kak, tapi aku masih kenyang kok, jadi ubi ini kak Hendra makan aja". "Halahhh jangan bohong sama aku, udahh kita makan bersama aja" dimana mereka berdua pun menikmati satu ubi bakar yang dimakan bersama-sama. "Habis ini aku mau pergi ke gunung, siapa tau sore ini dapat sesuatu yang bisa kita makan nanti malam, kamu di rumah aja han". "Ahh gak mau kak, aku mau ikut kak Hendra pergi ke gunung". "Udahh gausah, ini sudah sore, sangat berbahaya, lebih baik kamu disini aja, bersih-bersih rumah atau apa gitu". "Udah tau berbahaya, kak Hendra malah mau ke gunung seorang diri" sahut Hani. "Gakpapa aman aja, yaudah aku siap-siap dulu, ingat dirumah jangan ikut". Setelah selesai bersiap-siap, Hendra pun langsung berangkat mendaki gunung. "Hati-hati kak" ucap Hani. "Aman aja, nanti sebelum petang aku sudah pulang" sahut Hendra sambil melambaikan tangan nya. Sesampainya di tengah-tengah hutan, yang sudah termasuk lereng gunung, Hendra tidak langsung berburu, melainkan ia masih penasaran dengan poin yang ia dapatkan sebelumnya. "Sistem berapa poin yang telah aku dapatkan". *DING* "Tuan rumah telah mengumpulkan poin sebanyak 90 poin, diantaranya 70 poin yang didapatkan dari jamur, dan 20 poin yang didapatkan dari ubi". "Lantas apa yang dapat ditukarkan dengan poin-poin ini" ucap Hendra yang semakin penasaran. *DING* "Silahkan tuan rumah dapat melihat menu yang ada di toko sistem, untuk menukarkan poin yang tuan rumah dapatkan" seketika itu juga terdapat sebuah hologram layar di depan wajah Hendra. "Inii, ada bahan baku, peralatan, rumah juga udahh, mobill juga, busett lengkap banget disini, sistem apakah dibawa ini harga poin yang dapat ditukarkan". *DING* "Iya tuan". "Alahhh untuk menukarkan rumah memerlukan poin yang sangat banyak, sedangkan aku hanya memiliki 90 poin". "Ahhh Hendra apasih yang kamu pikirkan, untuk rumah nanti lah gampang, yang terpenting dapat bertahan hidup dulu". "Sistem apa yang dapat ditukarkan dengan 90 poin". *DING* "Dengan 90 poin yang telah tuan miliki, tuan dapat menukarkan nya dengan rekomendasi dari sistem" dan seketika itu juga tampilan layar di depan hendra pun berubah, dimana semua barang-barang yang ada di toko sistem disesuaikan dengan batas poin yang dimiliki oleh Hendra. "Ayam 20 poin, babi 25 poin, busett murah sekali, dengan poin yang aku miliki saat ini dapat memborong itu semua, apa tukarkan dengan ayam dan babi aja ya, sekali-kali makan daging". Mendapati dua hewan yang belum pernah Hendra makan bersama dengan adiknya, ia pun ingin menukarkan poin yang ia miliki dengan kedua hewan tersebut. "Tapi kalau aku membawa pulang babi dan ayam terus dilihat oleh tetangga, bagimana cara aku menjelaskan kepada mereka, yakali aku menangkap kedua hewan ini dengan tangan kosong, melihat tubuh ku yang sangat kurus, sudah pasti meraka semua tidak akan ada yang percaya" memikirkan hal itu, Hendra pun memikirkan kembali apa yang akan dia tukarkan dengan poin yang ia miliki saat ini.Hendra yang mendapatkan informasi dari sistem, kalau terdapat beberapa cara untuk memulihkan tenaga dalamnya ataupun menambah tenaga dalamnya, diantara cara yang disampaikan oleh sistem yaitu dengan cara menyerang energi pada batu giok. Mendapati hal itu, Hendra pun langsung saja pergi ke kota, dan ke pasar tempat sebelumnya Hendra membeli batu giok, namun sampai disana Hendra pun tidak melihat adanya penjual batu disana. Bingung harus pergi kemana, Hendra pun teringat dengan adanya kakek-kakek yang memberikan nya kartu nama. "Ahh untung saja kartu nama ini masih ada, kalau begitu langsung saja pergi kesana, siapa tau disana ada beberapa hal yang bermanfaat" lantas Hendra pun lantas mengikuti alamat yang ada pada kartu nama itu. selang beberapa menit Hendra yang terus mencari alamat itu, dengan bantuan oleh orang-orang disekitarnya, sehingga Hendra pun telah sampai di tempat yang dituju. "Astaga besar sekali rumah ini, ini serius aku tidak salah tempat" pikir Hendra, dan ia
Hendra yang melihat sudah tidak ada waktu lagi, ia pun langsung memeriksa kondisi kakek Bejo, dan Hendra pun sangat dibuat terkejut setelah ia memeriksa nya. Dimana Hendra mendapati bahwa tubuh kakek Bejo sudah sangat hancur, meskipun dari luar terlihat biasa saja. "Hmm sepertinya aku harus menggunakan 7 jarum surgawi, meskipun 7 jarum surgawi tidak bisa secara langsung menyembuhkan kakek, akan tetapi 7 jarum itu dapat memulihkan kondisi kakek 70%, dan nanti bisa dilanjutkan akupuntur lagi" gumam Hendra, dimana Hendra pun menggunakan tenaga dalam yang ia miliki, untuk menggerakkan setiap jarum yang ada. "Kemampuan ini, apakah ini yang dinamakan menggerakkan jarum dengan energi, busettt masih bocah sudah bisa menggunakan kekuatan seperti ini" ucap dokter Rey, yang merupakan dokter yang mengawasi Hendra, dan dokter yang bertaruh dengan Hendra sebelumnya. "Wuuussshhhh" sekali hentakan, 7 jarum itu pun langsung menancap ke tubuh kakek Bejo dengan sendirinya Hendra pun terus mengguna
Hendra yang telah berhasil mendapatkan satu set jarum akupuntur, setelah ia menukarkan nya dengan poin yang ia miliki, selanjutnya Hendra pun kembali ke rumah sakit lestari. Sesampainya di rumah sakit, Hendra yang mendapati bahwa kakek Bejo saat ini masih di rawat oleh dokter, dan Hendra yang melirik ke arah nenek nya yang saat ini terlihat sangat lemas, hal itu membuat Hendra ingin menyembuhkan nenek nya. "Nek apakah nenek merasa capek dan pusing". "Hahh kenapa kamu bisa tau ndra" dengan suara yang lemas, nenek Romlah pun penasaran bagaimana Hendra dapat mengetahui nya. "Ahhh gausah dipikirkan bagaimana aku bisa tau, yang pasti aku akan mencoba untuk menyembuhkan nenek". "Kakkk udah lah kakk, nenek sedang mau istirahat, jadi jangan diajak bercanda seperti itu" sahut Hani yang menganggap apa yang keluar dari mulut kakak nya itu merupakan candaan. "Siapa juga yang bercanda, udahh kamu diam aja kalau kamu gak percaya". "Nekk, mungkin akan ada sensasi terkejut setelah aku m
Ketika nenek Romlah dan Andika sedang menunggu kakek Bejo di luar ruangan, mereka berdua pun dikejutkan dengan dokter dan beberapa perawat lainnya yang datang. "Ada apa dok, kenapa kalian semua datang kesini, apakah ada sesuatu dengan suami ku" Ucap nenek Romlah. Setelah mengetahui bahwa dokter tersebut mendapatkan laporan bahwa pasien sedang dalam keadaan kritis, hal itu membuat nenek Romlah sangat terkejut, dan dokter itu pun langsung masuk kedalam ruangan. Tak lama setelah itu, datanglah Hendra dan juga Hani "Ndra apakah kamu yang bilang kepada dokter kalau kakek mu sedang dalam keadaan kritis". "Iya nek". "Kakk, kenapa kak Hendra bisa tau kalau kakek saat ini sedang kritis" Ucap Andika. "Hmm susah menjelaskan nya, kita lihat aja nanti". Tak lama setelah itu dokter yang merawat kakek bejo itu pun keluar dari ruangan, dimana dokter itu terlihat sangat panik setelah keluar dari ruangan. "Dok, bagaimana dengan kondisi suami ku dok". "Kondisi pasien saat ini sangat be
Hendra yang sudah menjual hasil buruannya kepada bos Cahyo, dan juga Hendra yang mendapatkan uang lebih, lantas mereka berdua pun langsung segera menuju ke rumah sakit lestari untuk melunasi biaya operasi kakek Bejo. Akan tetapi ketika Hendra bersama Reno baru saja berjalan beberapa langkah, Reno pun mendapatkan panggilan telepon dari ayahnya, lantas Reno pun mengangkat panggilan telepon tersebut, dimana setelah Reno melakukan panggilan telepon, ia mendapati bahwa kakek nya sedang di rawat di rumah sakit madika. Dikarenakan perbedaan rumah sakit, lantas Hendra dan Reno pun berpisah, mereka berdua pun menuju ke rumah sakit masing-masing. Hendra yang sudah sampai di rumah sakit lestari, ia pun langsung menemui Hani dan yang lainnya. "Nenek, bagaimana dengan kondisi kakek nek, apakah kakek Bejo baik-baik saja". "Ah Hendra, akhirnya kamu datang juga, tadi kata dokter yang melakukan operasi kepada kakek Bejo, dia mengatakan bahwa kondisi kakek Bejo saat ini sudah baik-baik saja, akan
Setelah Hendra dan Reno turun dari gunung, mereka berdua pun langsung membawa hasil tangkapan mereka yaitu ada babi dan kelinci ke kota untuk dijual. Dimana Hendra tanpa pikir panjang langsung menuju ke toko restauran milik bos Cahyo yang berada di pusat kota. Sesampainya Hendra di restoran bos Cahyo, satpam yang bertugas menjaga keamanan itu pun langsung mengenali nya, dan mereka langsung membawa Hendra di ruangan bos Cahyo. "Ehhh Hendra, ada apa lagi ndra, mau jual hasil tangkapan, wahhh gilaaa juga kamu, setiap hari menjual hasil tangkapan, padahal aku denger dari orang-orang saat ini sangat susah untuk berburu, melihat cuaca yang sangat panas dan musim kemarau". "Hmm iya betul sih bos, untuk saat ini emang susah berburu, namun aku sendiri pun tidak tau keberuntungan apa yang berpihak kepada ku, sehingga aku bisa mendapatkan hasil tangkapan seperti ini". "Sepertinya keberuntungan mu tidak hanya berburu ndra, kemarin aja kamu bisa mendapatkan uang dari beli batu". "Hahahaha na







