MasukHendra yang saat ini mendapatkan 90 poin, ia pun bingung harus menukarkan nya dengan apa, dimana Hendra sangat ingin menukarkan poin tersebut dengan ayam ataupun babi, lantaran dirinya ingin mencoba makan daging.
Namun setelah dipikir-pikir, Hendra yang bingung dengan bagaimana cara ia membawa nya, sehingga Hendra pun tidak jadi untuk menukarkan poin nya dengan hewan tersebut. Alhasil Hendra mencari kembali apa yang akan ia tukarkan. "Busettt senjata panah dapat ditukarkan dengan 70 poin, gilaaa ini jauh lebih mahal dibandingkan dengan daging babi dan juga ayam.... sistem apa kelebihan dari senjata panah ini, kenapa bisa mahal sekali, padahal buatnya juga tidak susah". *DING* "Apabila tuan rumah menukarkan poin dengan senjata panah itu, maka tuan rumah akan mendapatkan kemampuan memanah setara juara dunia, walupun saat ini tuan belum bisa sama sekali memanah, dan selain itu tuan juga mendapatkan mata X-ray dengan jangkauan 1 km apabila tuan memegang senjata panah tersebut". Hendra yang baru pertama kali mendengar mata X-ray, ia pun penasaran dengan mata tersebut "sistem apa itu mata X-ray?". *DING* "Mata X-ray adalah kemampuan yang dapat melihat rintangan, baik itu berupa perangkap, dan dapat mendeteksi objek yang tersembunyi". "Wahhh gilaa, itu berarti apabila mata X-ray dan kemampuan memanah dikombinasikan, maka pasti sangat berguna untuk berburu disini". "Sistem tukarkan poin dengan senjata panah tersebut" ucap Hendra yang tanpa menunggu lama, ia pun langsung menukarkan nya. *DING*. "Penukaran selesai". Seketika itu juga terdapat busur panah dan anak panah dihadapan Hendra. "Hahaha mari kita tes senjata ini, apakah sangat berguna" ucap Hendra, dan karena dia sangat penasaran, lantas Hendra pun langsung berburu. "Hahh apa itu gerak-gerak, sepertinya kelinci, ehh iya itu kelinci, behh baru kali ini aku melihat kelinci di gunung, sepertinya daging kelinci enak untuk dimakan" dengan langkah kaki yang sangat perlahan, dan tidak menimbulkan suara, hendra pun perlahan demi perlahan mencari tempat yang bagus untuk melepaskan anak panah nya. "Headshoottt" anak panah itu pun melesat dengan sangat cepat, dan tepat menusuk kepala kelinci. "Pffttttt..... busetttt bisa tepat sasaran gini, kalau negara tau aku memiliki kemampuan seperti ini, sudah pasti aku akan menjadi atlit panahan hahahaha" Hendra sendiri yang melepaskan anak panah, ia pun sangat terkejut bisa tepat sasaran. *DING*. "Selamat tuan rumah mendapatkan 25 poin". "Banyak juga, sepertinya menangkap hewan jauh lebih banyak mendapatkan poin dari pada berburu tumbuhan, kalau gitu lebih baik menangkap jamur saja" Hendra pun langsung memasukkan kelinci yang ia tangkap ke keranjang yang dia bawa. Sering hendra menyusuri lereng gunung, ia pun tidak menemukan hewan lagi" sepertinya dengan mata X-ray yang hanya pada jarak 1 km ini sangat susah untuk mencari hewan di gunung yang sebesar ini, gakpapa lah mendapatkan satu kelinci dan satu burung merpati, lumayanlah buat makan nanti malam". Karena hari bentar lagi gelap, Hendra pun memilih untuk kembali ke rumah. Sesampainya di rumah, Hendra melihat adiknya Hani yang duduk melamun di depan rumah. "Lho kenapa di luar Han". "Nunggu kak Hendra pulang, gimana kak dapat apa aja sore ini". "Coba tebak aku dapat apa?". Penasaran dengan hasil yang didapatkan oleh kakak nya itu, hani pun mencoba untuk menebak isi di dalam keranjang yang dibawa oleh kakak nya. "Melihat eskpresi wajah kak Hendra yang terlihat sangat senang, sepertinya kak Hendra dapat bayak ubi hari ini, ya gak? benar gak tebakan ku". "Tetoottttt salahh, sore hari ini aku mendapatkan kelinci dan juga burung". "Apaa, kelinci dan juga burung" sahut Hani, karena tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh kakak nya, Hani pun langsung merebut keranjang yang dibawa oleh Hendra dan melihat isi di dalam nya. "Ini... iniii betul kelinci dan juga burung, bagaimana cara kak Hendra menangkap nya, bukankah saat ini sangat susah untuk mencari kelinci, apalagi kelinci ini merupakan hewan yang suka bersembunyi". "Aku menangkap nya dengan menggunakan panah ini" ucap Hendra sambil memperlihatkan panah yang ia simpan di dalam keranjang. "Hahh panahh? emang kak Hendra bisa menggunakan panah, dan juga dari mana kak Hendra mendapatkan panah itu". "Tadi aku menemukan nya di sana, meskipun aku tidak pernah menggunakan panah, ehh gak taunya ternyata bisa mendapatkan kelinci dan juga burung ini, sepertinya kakak mu ini memiliki bakat yang terpendam" ucap Hendra sambil tersenyum menatap adik nya. "Udah lah, aku mau mandi dulu, nanti malam kita akan makan daging". "Hahhh daginnggg" dimana Hani yang sedari kecil bersama dengan kakak nya sangat jarang memakan daging, bahkan hampir tidak pernah kecuali mendapatkan makanan dari kakek, nenek nya, ia pun sudah lupa dengan rasa daging. Selang beberapa menit ketika hendra telah selesai mandi, ia bersama dengan adiknya langsung ingin mengola daging tangkapan mereka. "Kak, kamu tau cara masak daging, soalnya aku gak tau sama sekali" mendengar apa yang dikatakan oleh adiknya, Hendra pun sadar bahwa dirinya tidak tau cara memasak daging tersebut. "Sistem, apakah tidak ada skill untuk memasak" ucap Hendra, yang sangat membutuhkan kemampuan memasak. *DING*. "Ada tuan" dan seketika itu juga di depan Hendra muncul sebuah layar yang memperlihatkan beberapa skill yang dapat dikuasai oleh Hendra. "Busett skill memasak kaki lima, skill memasak restauran, skill memasak kafe, skill memasak hotel, dan masih banyak lagi skill yang lainnya, ada juga beladiri, namun sistem apa yang dimaksud dengan skill memasak kaki lima" ucap Hendra dari dalam hatinya. *DING*. "Skill memasak kaki lima, merupakan kemampuan memasak setara dengan pedagang di pinggir jalan, dan untuk restauran setara kemampuan memasak di restauran, begitu pun juga seterusnya". "Wahhh kalau semua skill yang ada disini dapat aku kuasai, uang pun dapat hadir dengan sendirinya.... tapi melihat poin ku saat ini yang terkumpul 58 poin, seharusnya dapat ditukar dengan kemampuan memasak setara hotel" untuk tingkat kaki lima membutuhkan 17 poin, untuk restauran membutuhkan 37 poin, dan untuk tingkat kafe membutuhkan 57 poin. "Alahh mendingan aku tukarin kaki lima aja, kan intinya buat bisa masak, sistem tukar poin dengan kemampuan memasak kaki lima". *DING*. "Penukaran selesai, selamat tuan telah berhasil mendapatkan kemampuan memasak setara dengan pedagang kaki lima" dan seketika itu juga berbagai kemampuan tentang cara memasak masuk kedalam kepala Hendra. "Hahaha dengan kemampuan ini, aku bisa merubah daging-daging ini menjadi masakan yang enak". "Kakk kak Hendra, kenapa kak Hendra diam aja, diajak bicara juga" Hani yang melihat kakak nya hanya terdiam sedari tadi, ia pun merasa ada yang aneh dengan kakak nya itu. "Kak Hendra sakit ya". "Hustt siapa juga yang sakit" sahut Hendra yang sudah tersadar dari pikiran nya. "Lahh dari tadi diajakin ngomong bukannya jawab malah melamun gak jelas". "Udah-udah, sekarang kita masak daging ini, kamu tenang aja biar kakak mu ini yang masak" ucap Hendra sambil membusungkan dada. "Dihh apaan dah, ini serius kak Hendra bisa masak" hani yang sedari kecil terus bersama dengan kakak nya, dan ia mendapati bahwa kakak nya sangat jarang memasak, sehingga Hani pun tidak percaya dengan kakak nya. "Udah dibilangin tenang aja kok, sekarang kamu rebahan aja di kamar mu, nanti kalau sudah matang aku panggil kamu". "Hmm aku bantuin aja gimana kak". "Udah sana pergi ke kamar, jangan ganggu aku memasak" Hendra yang telah mendapatkan kemampuan baru, ia pun sangat berantusias untuk mencoba kemampuan nya tersebut, sehingga Hendra menolak bantuan yang ditawarkan oleh adik nya. "Hmm baiklah kalau gitu, tapi aku mau disini" dan hani pun langsung duduk sambil memperhatikan Hendra yang sedang memasak. Selang beberapa menit, ketika hendra berhasil membersihkan daging kelinci tersebut dari bulu-bulu nya, ia pun langsung mulai memasak nya. Namun karena di rumah hendra sangat kurang bumbu-bumbu memasak, sehingga Hendra menyuruh adik nya untuk pergi ke warung bu Ani. "Han minta tolong belikan kecap dan garam di warung Bu Ani". "Mau beli gimana kak, kita uang aja gak punya". "Ngutang dulu aja sama bu ani, bilang besok kami akan ganti". "Hmm baiklah kalau gitu mau beli kecap dan garam berapa". "Kecap dua dan garam dikit aja". "Okee...." dan hani pun langsung pergi ke warung bu Ani". Sedangkan Hendra yang telah selesai memotong-motong daging kelinci tersebut dan membersihkan nya bersamaan dengan burung yang dia dapat, sehingga Hendra pun saat ini menunggu kedatangan Hani. "Ini kak kecap dan juga garam nya" ucap Hani sambil memberikan kecap dan juga garam ukuran kecil kepada Hendra. "Habis beberapa semua nya Han". "Semuanya menjadi 5 ribu kak". "Ouhh okeee..... yaudah kalau gitu kamu duduk tenang dulu disini, biar aku yang memasak untuk mu" dengan bumbu seadanya Hendra pun memasak daging tersebut. Selang beberapa menit, akhirnya masakan Hendra pun telah selesai, dan Hendra langsung menyajikan makanan itu untuk dimakan bersama-sama. "Ini..... iniiiii enakk bangeettttt, kakk, kakk Hendra kok bisa masak seenak ini" Hani yang baru saja makan satu suapan daging itu kedalam mulut nya, ia pun terkejut dengan kenikmatan yang ada pada masakan kakak nya. "Hahaha ayoo habiskan malam ini, agar nanti kamu bisa tidur nyenyak". Lantas mereka berdua pun makan daging-daging tersebut dengan lahapnya. "Baru kali ini aku makan sebanyak dan seenak ini". "Mulai sekarang kita harus rajin mencari makanan, atau apapun itu lah yang bisa dimakan di gunung, agar bisa makan seperti ini terus". "Iya kakkk, tapi akhir-akhir ini meskipun kita sudah berupaya, namun mau gimana lagi, sekarang sangat susah untuk mencari makanan di gunung". "Tenang saja, kakak mu ini hebat dalam berburu". "Alahh paling juga lagi beruntung ini". "Kita lihat aja besok". Setelah itu mereka berdua pun sudah tidak sanggup lagi untuk melanjutkan makanan yang berada di depan mereka. "Ahhh kenyang sekali..... baru kali ini aku makan sampe kecapekan" ucap Hani sambil memegangi perut nya. "Yaudah sisa nya bisa kita makan besok, agar besok kita lebih semangat pergi ke gunung". "Iya kak, kalau gitu biar aku yang beresin kak, kak Hendra istirahat dulu aja". "Okee baik" dan Hendra pun langsung pergi ke halaman rumah untuk bersantai sehabis makan banyak. "Andai saja barang apapun itu yang diambil oleh Hani digunung, dapat menghasilkan poin juga, pasti dengan begitu akan mendapatkan poin dengan cepat". Hendra dalam pikirannya, ia pun memikirkan cara untuk bisa mendapatkan poin lebih cepat. "Sistem apakah tidak ada cara tentang masalah ini". *DING*. "Ada tuan, tuan dapat membeli sarung tangan di toko sistem, dengan begitu siapapun yang memakai sarung tangan ini maka barang apapun yang ia ambil di gunung tuan akan mendapatkan poin juga". "Benarkah sistem? kalau begitu tukaran sekarang". *DING*. "Penukaran telah berhasil, selamat tuan telah mendapatkan satu pasang sarung tangan, dengan harga 10 poin, sisa poin tuan saat ini 31". "Hmm untuk sarung tangan seperti ini, dikasih harga 10 poin, boleh lah meskipun agak mahal, siapa tau nanti akan sangat berguna" lantas Hendra pun langsung menyimpan sarung tangan tersebut yang akan diserahkan kepada hani keesokan hari nya. "Sekarang saat nya untuk tidur, biar besok lebih bertenaga untuk memburu poin" dengan sarung sebagai alas, Hendra pun dapat tertidur dengan pulas. Waktu pun terus berlalu, kini matahari telah menampakkan wujudnya untuk menyinari bumi di siang hari, menggantikan tugas bulan yang telah bersinar sepanjang malam hari. Suara kicau burung terdengar sangat merdu di sekitaran gunung, dan dipagi hari yang sangat cerah ini, Hendra pun terbangun dengan penuh semangat. "Akkhhhhh saatnya untuk berburu poin" ucap Hendra sambil merenggangkan anggota tubuhnya di pagi hari. Dimana ketika Hendra baru saja bangun tidur, ia pun melihat adiknya hani yang sedang makan sisa makanan tadi malam. "Lhoo sudah bangun Han". "Iya kak, baru aja aku bangun, sini makan dulu kak lumayan masih enak, sebelum kita pergi ke gunung, biar lebih bertenaga nanti". "Iya bentar ngumpulin nyawa dulu, baru bangun banget". Setelah Hendra dan juga hani telah selesai makan, mereka berdua pun bersiap-siap untuk mendaki gunung kembali. "Kenapa akhir-akhir ini mereka berdua rajin sekali pergi ke gunung". "Iya betul kemarin sore aku lihat sih Hendra juga naik gunung seorang diri". "Hahh seriusann!!, apakah dia tidak takut dengan hewan buas yang ada di gunung itu, dengar-dengar dari kepala desa, gunung itu masih banyak hewan buas nya, lagian juga di musim kemarau seperti ini nyari apa di gunung". "Siapa tau Hendra dan Hani mendapatkan barang bagus di gunung, kemarin aja mereka beli kecap dan garam kesini, kalau gak buat masak ya buat apa". "Seriussan bu Anii, tapi dengan mereka berdua yang sudah ditinggal oleh orang tuanya sedari kecil, emang bisa memasak". "Sepertinya mereka berdua belajar dari kakek dan nenek nya, kan selama ini mereka berdua dikasih makan oleh kakek dan nenek nya". Melihat kepergian Hendra dan juga Hani ke gunung di pagi hari, para ibu-ibu yang sedang berbelanja di warung Bu Ani, mereka semua pun langsung menggosip tentang Hendra dan juga Hani.Hendra yang mendapatkan informasi dari sistem, kalau terdapat beberapa cara untuk memulihkan tenaga dalamnya ataupun menambah tenaga dalamnya, diantara cara yang disampaikan oleh sistem yaitu dengan cara menyerang energi pada batu giok. Mendapati hal itu, Hendra pun langsung saja pergi ke kota, dan ke pasar tempat sebelumnya Hendra membeli batu giok, namun sampai disana Hendra pun tidak melihat adanya penjual batu disana. Bingung harus pergi kemana, Hendra pun teringat dengan adanya kakek-kakek yang memberikan nya kartu nama. "Ahh untung saja kartu nama ini masih ada, kalau begitu langsung saja pergi kesana, siapa tau disana ada beberapa hal yang bermanfaat" lantas Hendra pun lantas mengikuti alamat yang ada pada kartu nama itu. selang beberapa menit Hendra yang terus mencari alamat itu, dengan bantuan oleh orang-orang disekitarnya, sehingga Hendra pun telah sampai di tempat yang dituju. "Astaga besar sekali rumah ini, ini serius aku tidak salah tempat" pikir Hendra, dan ia
Hendra yang melihat sudah tidak ada waktu lagi, ia pun langsung memeriksa kondisi kakek Bejo, dan Hendra pun sangat dibuat terkejut setelah ia memeriksa nya. Dimana Hendra mendapati bahwa tubuh kakek Bejo sudah sangat hancur, meskipun dari luar terlihat biasa saja. "Hmm sepertinya aku harus menggunakan 7 jarum surgawi, meskipun 7 jarum surgawi tidak bisa secara langsung menyembuhkan kakek, akan tetapi 7 jarum itu dapat memulihkan kondisi kakek 70%, dan nanti bisa dilanjutkan akupuntur lagi" gumam Hendra, dimana Hendra pun menggunakan tenaga dalam yang ia miliki, untuk menggerakkan setiap jarum yang ada. "Kemampuan ini, apakah ini yang dinamakan menggerakkan jarum dengan energi, busettt masih bocah sudah bisa menggunakan kekuatan seperti ini" ucap dokter Rey, yang merupakan dokter yang mengawasi Hendra, dan dokter yang bertaruh dengan Hendra sebelumnya. "Wuuussshhhh" sekali hentakan, 7 jarum itu pun langsung menancap ke tubuh kakek Bejo dengan sendirinya Hendra pun terus mengguna
Hendra yang telah berhasil mendapatkan satu set jarum akupuntur, setelah ia menukarkan nya dengan poin yang ia miliki, selanjutnya Hendra pun kembali ke rumah sakit lestari. Sesampainya di rumah sakit, Hendra yang mendapati bahwa kakek Bejo saat ini masih di rawat oleh dokter, dan Hendra yang melirik ke arah nenek nya yang saat ini terlihat sangat lemas, hal itu membuat Hendra ingin menyembuhkan nenek nya. "Nek apakah nenek merasa capek dan pusing". "Hahh kenapa kamu bisa tau ndra" dengan suara yang lemas, nenek Romlah pun penasaran bagaimana Hendra dapat mengetahui nya. "Ahhh gausah dipikirkan bagaimana aku bisa tau, yang pasti aku akan mencoba untuk menyembuhkan nenek". "Kakkk udah lah kakk, nenek sedang mau istirahat, jadi jangan diajak bercanda seperti itu" sahut Hani yang menganggap apa yang keluar dari mulut kakak nya itu merupakan candaan. "Siapa juga yang bercanda, udahh kamu diam aja kalau kamu gak percaya". "Nekk, mungkin akan ada sensasi terkejut setelah aku m
Ketika nenek Romlah dan Andika sedang menunggu kakek Bejo di luar ruangan, mereka berdua pun dikejutkan dengan dokter dan beberapa perawat lainnya yang datang. "Ada apa dok, kenapa kalian semua datang kesini, apakah ada sesuatu dengan suami ku" Ucap nenek Romlah. Setelah mengetahui bahwa dokter tersebut mendapatkan laporan bahwa pasien sedang dalam keadaan kritis, hal itu membuat nenek Romlah sangat terkejut, dan dokter itu pun langsung masuk kedalam ruangan. Tak lama setelah itu, datanglah Hendra dan juga Hani "Ndra apakah kamu yang bilang kepada dokter kalau kakek mu sedang dalam keadaan kritis". "Iya nek". "Kakk, kenapa kak Hendra bisa tau kalau kakek saat ini sedang kritis" Ucap Andika. "Hmm susah menjelaskan nya, kita lihat aja nanti". Tak lama setelah itu dokter yang merawat kakek bejo itu pun keluar dari ruangan, dimana dokter itu terlihat sangat panik setelah keluar dari ruangan. "Dok, bagaimana dengan kondisi suami ku dok". "Kondisi pasien saat ini sangat be
Hendra yang sudah menjual hasil buruannya kepada bos Cahyo, dan juga Hendra yang mendapatkan uang lebih, lantas mereka berdua pun langsung segera menuju ke rumah sakit lestari untuk melunasi biaya operasi kakek Bejo. Akan tetapi ketika Hendra bersama Reno baru saja berjalan beberapa langkah, Reno pun mendapatkan panggilan telepon dari ayahnya, lantas Reno pun mengangkat panggilan telepon tersebut, dimana setelah Reno melakukan panggilan telepon, ia mendapati bahwa kakek nya sedang di rawat di rumah sakit madika. Dikarenakan perbedaan rumah sakit, lantas Hendra dan Reno pun berpisah, mereka berdua pun menuju ke rumah sakit masing-masing. Hendra yang sudah sampai di rumah sakit lestari, ia pun langsung menemui Hani dan yang lainnya. "Nenek, bagaimana dengan kondisi kakek nek, apakah kakek Bejo baik-baik saja". "Ah Hendra, akhirnya kamu datang juga, tadi kata dokter yang melakukan operasi kepada kakek Bejo, dia mengatakan bahwa kondisi kakek Bejo saat ini sudah baik-baik saja, akan
Setelah Hendra dan Reno turun dari gunung, mereka berdua pun langsung membawa hasil tangkapan mereka yaitu ada babi dan kelinci ke kota untuk dijual. Dimana Hendra tanpa pikir panjang langsung menuju ke toko restauran milik bos Cahyo yang berada di pusat kota. Sesampainya Hendra di restoran bos Cahyo, satpam yang bertugas menjaga keamanan itu pun langsung mengenali nya, dan mereka langsung membawa Hendra di ruangan bos Cahyo. "Ehhh Hendra, ada apa lagi ndra, mau jual hasil tangkapan, wahhh gilaaa juga kamu, setiap hari menjual hasil tangkapan, padahal aku denger dari orang-orang saat ini sangat susah untuk berburu, melihat cuaca yang sangat panas dan musim kemarau". "Hmm iya betul sih bos, untuk saat ini emang susah berburu, namun aku sendiri pun tidak tau keberuntungan apa yang berpihak kepada ku, sehingga aku bisa mendapatkan hasil tangkapan seperti ini". "Sepertinya keberuntungan mu tidak hanya berburu ndra, kemarin aja kamu bisa mendapatkan uang dari beli batu". "Hahahaha na







