Sang Pendekar

Sang Pendekar

last updateLast Updated : 2021-08-11
By:  CahyaGumilar79Completed
Language: Bahasa_indonesia
goodnovel16goodnovel
9.9
271 ratings. 271 reviews
127Chapters
163.6Kviews
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

"Aku sudah tegaskan, kalau aku tidak tahu apa-apa mengenai pendekar yang kalian cari," teriak petani itu tampak berani dan tidak merasa gentar meskipun dahi dan pergelangan tangan kanannya sudah terluka oleh sabetan pedang dari salah seorang prajurit yang sedang mengeroyoknya itu."Jangan bohong kamu!" kata prajurit yang bertubuh besar tinggi, sambil meletakkan ujung pedang di leher petani tersebut."Aku tidak tahu, Punggawa," jawab petani itu berusaha mengatakan hal yang sebenarnya. Sejatinya, ia memang tidak mengetahui tentang kemunculan pendekar bertopeng itu.Kemudian, prajurit tersebut menendang keras dagu pria setengah baya itu, dengan begitu beringasnya dan mehujaminya dengan rentetan pukulan keras mengenai perut dan wajah pria setengah baya itu.Ketika prajurit lainnya hendak menebas leher petani tersebut. Tiba-tiba sebongkah batu berukuran besar melesat cepat dari arah tak terduga menghantam tubuh prajurit tersebut, sehingga membuatnya terpental dan sekarat seketika dengan bersimbah darah dari mulut dan hidungnya. Tampak seperti ayam baru disembelih, tubuhnya terlentang di hadapan rekan-rekannya.****

View More

Chapter 1

1. Sebuah Kudeta

Di sebuah kerajaan besar yang terletak di sebelah selatan pegunungan Sanggabuana, terjadi sebuah konflik yang berkecamuk dengan dahsyat. Istana kerajaan tersebut digemparkan oleh sebuah kudeta yang dilakukan oleh seorang petinggi istana terhadap raja yang berkuasa, Prabu Sanjaya.

Senapati Rawinta, seorang pria yang memiliki kekuatan dan pengaruh besar di istana, telah menghimpun kekuatan selama bertahun-tahun untuk melakukan kudeta ini. Ia telah mempengaruhi para prajurit dan petinggi istana lainnya untuk bergabung dengannya, sehingga kekuatannya semakin besar dan tak terbendung.

Kerajaan Kuta Tandingan, yang sebelumnya hidup dalam damai dan makmur di bawah kepemimpinan Prabu Sanjaya, kini terancam oleh ambisi dan keserakahan Senapati Rawinta. 

Peristiwa tersebut menjadi sebuah sejarah yang sangat kelam bagi rakyat di kerajaan tersebut. Sang Raja yang mereka kagumi, yang terkenal dengan kebaikan dan kebijaksanaannya terhadap rakyat, harus tewas di tangan senapatinya sendiri yang telah melakukan pengkhianatan.

"Tangkap Prabu Sanjaya dan seret keluar!" seru seorang pria berperawakan tinggi dan bertubuh kekar, suaranya yang keras dan berwibawa menggema di seluruh istana. 

Para prajurit yang telah dipengaruhi oleh Senapati Rawinta segera bergerak untuk melaksanakan perintah tersebut, tanpa mempedulikan kesetiaan dan kehormatan mereka kepada raja yang telah memerintah dengan adil dan bijaksana.

Pria tersebut adalah Sugriwa, seorang prajurit senior yang secara terang-terangan berpihak pada Senapati Rawinta dan berani mengkhianati kepercayaan Prabu Sanjaya sebagai sang penguasa kerajaan Kuta Tandingan.

"Sugriwa!" teriak Senapati Rawinta, suaranya yang keras dan berwibawa menunjukkan bahwa dirinya memiliki pengaruh yang kuat sebagai seorang pemimpin.

"Iya, Gusti Senapati," sahut Sugriwa, langsung melangkah menghampiri sang senapati yang berdiri dengan menggenggam pedang berlumuran darah. Wajah Sugriwa terlihat tanpa beban, seolah-olah ia tidak memiliki hati nurani yang dapat diganggu oleh tindakan pengkhianatannya.

Senapati Rawinta menatap Sugriwa dengan mata yang tajam, seolah-olah memeriksa kesetiaan dan keberanian Sugriwa dalam melakukan kudeta ini.

"Cari Pangeran Erlangga dan selir-selir sang raja!" titah Senapati Rawinta dengan suara yang keras dan berwibawa.

"Baik, Gusti Senapati," jawab Sugriwa, bergegas melaksanakan tugas tersebut dengan langkah yang cepat dan pasti.

Kemudian, Senapati Rawinta memerintahkan para prajurit yang memihak kepadanya agar segera membunuh semua prajurit yang tidak patuh dan masih setia terhadap raja. "Kumpulkan mereka dan tebas batang leher mereka jika bersikeras tidak mau memihak kepada kita!" seru Senapati Rawinta dengan mata yang merah dan wajah yang penuh amarah.

"Baik, Gusti Senapati," jawab mereka serempak, suaranya yang keras dan bersemangat menunjukkan betapa mereka bersedia melaksanakan perintah tersebut tanpa ragu-ragu.

Kudeta ini telah berubah menjadi pembantaian, dan tidak ada yang tahu berapa banyak nyawa yang akan melayang.

Di halaman istana, tampak seorang pria paruh baya dengan mengenakan jubah dan mahkota kebesaran sebagai seorang raja, berdiri dengan tubuh terbelenggu tali yang sangat kuat, menyatu dengan sebatang kayu berukuran besar yang menancap ke tanah. Darah segar mengalir di keningnya, hampir menutupi semua bagian wajah pria paruh baya itu.

Tubuhnya lemah, seakan-akan sendi-sendi dalam tubuhnya sudah rapuh akibat siksaan dari para prajuritnya sendiri yang sudah berkhianat. Wajahnya yang biasanya bersinar dengan kebijaksanaan dan keadilan, kini terlihat kusam dan penuh luka.

"Ayahanda!" teriak seorang anak kecil yang duduk di atas batang pohon besar yang rimbun dengan dedaunan.

Anak kecil itu adalah Pangeran Erlangga, yang berhasil lolos dari kepungan para prajurit karena diselamatkan oleh Landuji, ajudan pribadi sang raja.

"Diam, Pangeran. Mereka akan menangkap kita kalau mengetahui keberadaan kita di sini," bisik Landuji, mendekap erat tubuh Erlangga dengan penuh kasih sayang.

"Lantas kalau kita diam, siapa yang akan menolong ayahandaku, Paman?" tanya Erlangga, suaranya yang kecil dan penuh ketakutan menunjukkan betapa khawatirnya ia akan nasib ayahandanya.

"Aku harap, Pangeran turuti perkataanku! Jika Pangeran nekat turun, kelak yang akan membalaskan dendam ayahandamu siapa?" jawab Landuji, terus memberikan nasihat dan berusaha menguatkan Erlangga agar bisa menerima kenyataan yang terjadi.

Landuji menatap Erlangga dengan mata yang penuh kasih sayang, berharap anak kecil itu dapat memahami situasi yang sedang terjadi dan tidak melakukan tindakan yang dapat membahayakan dirinya sendiri.

Kekejaman itu tidak berhenti sampai di situ saja. Senapati Rawinta mengeksekusi para selir sang raja yang sudah berhasil ditangkap, dan juga langsung menggantung sang ratu di halaman istana kerajaan tersebut.

Kekejaman Senapati Rawinta dan anak buahnya disaksikan langsung oleh sang raja, yang terlihat tak berdaya dan penuh luka. Bahkan Erlangga dan Landuji pun turut menyaksikan kekejaman itu, sembari bersembunyi di atas pohon besar yang tumbuh di dekat pagar tembok istana.

Terasa pilu, sedih, dan emosi. Perasaan itu terus berkecamuk dalam jiwa dan pikiran Erlangga. Ia tak kuasa melihat kekejaman dari Senapati Rawinta terhadap ibunya dan para selir ayahnya.

"Kejam sekali, Paman Senapati Rawinta," desis Erlangga, suaranya yang lirih dan penuh kesedihan menunjukkan betapa terkejut dan terlukanya ia menyaksikan kekejaman Senapati Rawinta dan para pengikutnya.

Landuji, yang mendampingi Erlangga, menahan napas dan memeluk erat anak kecil itu, berusaha melindungi dan menghibur Erlangga di tengah-tengah kekejaman yang sedang terjadi.

"Harus kalian ketahui, mulai hari ini raja kalian adalah aku, raja yang berkuasa di seluruh negeri ini!" teriak Senapati Rawinta, mendaulat dirinya menjadi seorang raja di hadapan para prajurit yang tunduk kepadanya.

Suara Senapati Rawinta yang keras dan berwibawa menggema di seluruh halaman istana, menunjukkan betapa yakinnya ia dengan kekuasaannya yang baru. Namun, Prabu Sanjaya, yang masih terikat di sebatang kayu, tidak tinggal diam.

"Kau boleh bangga dengan kemenanganmu," kata Prabu Sanjaya dengan suara yang lemah tapi tetap berwibawa. "Tapi ingat! Kelak di masa yang akan datang, putraku akan membunuhmu dan akan membuatmu menderita, Senapati!"

Lemah dan tidak berdaya, sang raja tampak kesulitan melepaskan diri dari tali yang membelenggu tubuhnya. Tali yang melingkar di perutnya terlalu kuat, membuatnya tidak bisa bergerak dengan leluasa. Meski demikian, Prabu Sanjaya sangat yakin bahwa putranya akan selamat dari kejahatan sang senapati.

"Ayahanda tidak boleh mati, Paman," kata Erlangga, suaranya yang kecil dan penuh kesedihan menunjukkan betapa khawatirnya ia akan nasib ayahnya. "Aku harus turun untuk menyelamatkannya," sambungnya sambil berurai air mata, menunjukkan betapa kuatnya keinginan Erlangga untuk menolong ayahnya.

"Pangeran masih kecil, Pangeran tidak akan sanggup melawan mereka," kata Landuji dengan suara yang lembut namun tegas. "Aku harap Pangeran turuti apa kataku, kelak aku akan mengajarkan Pangeran ilmu kanuragan, agar Pangeran bisa melakukan balas dendam terhadap Senapati Rawinta dan para pengikutnya!"

Erlangga terdiam menyimak perkataan Landuji, ia hanya menangis menyaksikan penderitaan yang dialami kedua orang tuanya. Tak hanya membunuh sang ratu saja, Senapati Rawinta pun akhirnya membunuh Prabu Sanjaya dengan cara yang sangat kejam, menggantungnya kemudian membakar tubuh Prabu Sanjaya dengan kobaran api.

Landuji terus mendekap tubuh sang pangeran, supaya tidak melakukan tindakan nekat yang sudah barang tentu akan mencelakai dirinya sendiri. Di saat para pengikut Senapati Rawinta tengah merayakan kemenangan, Landuji memanfaatkan kelengahan mereka.

Perlahan ia turun dari pohon tersebut dengan menggendong tubuh sang pangeran yang kala itu masih berusia tujuh tahun. Landuji langsung membawa Erlangga berlari meninggalkan istana, menjauhkan dirinya dari kekejaman yang telah terjadi.

"Kita tidak boleh lari, Paman," kata Erlangga, berontak mencoba melepaskan diri dari dekapan Landuji. "Kita harus menolong mereka yang masih hidup!" Erlangga berteriak dengan suara yang penuh ketakutan dan kesedihan, menunjukkan betapa kuatnya keinginan anak kecil itu untuk menolong orang-orang yang dicintainya.

Landuji tidak mengindahkan teriakan Erlangga, ia terus berlari, sambil berusaha menenangkan Erlangga dan melindunginya dari bahaya yang mengancam. 

Singkat cerita ....

Landuji dan Erlangga sudah tinggal di sebuah gubuk di dekat lembah yang ada di tengah hutan. Setiap harinya, Landuji banyak mengajarkan ilmu bela diri kepada Erlangga, berharap kelak Erlangga akan menjadi seorang pendekar yang tangguh yang dapat melawan kezaliman dan menumpas kejahatan.

"Paman sudah tua, suatu saat nanti kau harus mendatangi sebuah padepokan untuk mengasah ilmu kanuraganmu agar lebih mumpuni lagi!" kata Landuji di sela perbincangannya dengan Erlangga.

"Maksud, Paman?" tanya Erlangga, menatap wajah Landuji penuh rasa penasaran.

"Kau harus menemui Ki Bayu Seta yang ada di Padepokan Kumbang Hitam, dan bawa pedang ini sebagai senjata untuk berjaga diri," kata Landuji, mengeluarkan sebuah pedang yang semalam ini ia simpan dengan baik. "Ingat, pedang ini bukan untuk membunuh tanpa sebab!"

Erlangga mendengarkan dengan saksama, menyerap setiap kata-kata Landuji dengan penuh perhatian sambil memperhatikan pedang dalam genggaman tangan Landuji.

Landuji menyerahkan pedang itu kepada Erlangga. Pedang tersebut ia dapatkan dari kamar Prabu Sanjaya ketika pemberontakan berkecamuk di istana. Landuji hanya bisa menyelamatkan Erlangga dan pedang tersebut saja, dua hal yang paling berharga baginya.

"Bukankah ini pedang ayahanda?" tanya Erlangga, mata anak kecil itu memancarkan rasa penasaran dan kesedihan.

"Iya, Pangeran," jawab Landuji dengan suara yang lembut. "Paman sengaja mengambilnya, karena menurut Paman ini adalah senjata penting untuk dirimu."

Erlangga memandang pedang tersebut dengan mata yang berkaca-kaca, mengenang ayahandanya yang telah tiada. Ia menerima pedang tersebut dengan tangan yang gemetar, merasakan beban tanggung jawab yang besar untuk meneruskan warisan ayahnya.

* * *

Waktu terus berjalan, tidak terasa 10 tahun telah berlalu sejak Erlangga menetap di tengah hutan dan tinggal di sebuah gubuk sederhana bersama Landuji. Selama periode itu, Erlangga telah banyak belajar dan berkembang, baik secara fisik maupun mental.

Di bawah bimbingan Landuji, Erlangga telah mempelajari berbagai ilmu bela diri dan kanuragan, yang membuatnya menjadi seorang pemuda yang tangguh dan berani. Ia juga telah belajar tentang nilai-nilai kehidupan, seperti kesabaran, ketekunan, dan kesetiaan.

Erlangga telah tumbuh menjadi seorang pemuda yang kuat dan percaya diri, dengan semangat yang membara untuk membela kebenaran dan keadilan. Sementara Landuji sudah mulai rapuh dan terlihat lemah, ia jatuh sakit. Erlangga berusaha mengobatinya dengan segenap kemampuan yang ia miliki, namun takdir berkata lain. Landuji memang sudah waktunya meninggalkannya menuju ke alam baka.

Dalam momen yang sangat menyedihkan itu, Landuji mengembuskan napas terakhir dalam pangkuan Erlangga. Dengan sisa-sisa kekuatan yang ada, ia menyampaikan satu pesan terakhir kepada Erlangga, pesan yang sangat berarti dan akan membekas dalam hati Erlangga selamanya.

"Berikan kedamaian untuk rakyat, dan kelak kau akan menjadi raja seperti ayahandamu!" Demikianlah pesan terakhir yang disampaikan oleh Landuji kepada Erlangga, dengan suara yang lemah namun penuh makna.

Pesan itu seperti sebuah warisan yang sangat berharga, yang membekas dalam hati Erlangga dan menjadi motivasi bagi dirinya untuk terus berjuang dan berjuang demi mewujudkan cita-citanya. Erlangga menatap wajah Landuji dengan mata yang berkaca-kaca, berjanji dalam hati untuk menjalankan pesan terakhir tersebut dan membuat ayahnya serta Landuji bangga.

Setelah kematian Landuji, Erlangga mulai melakukan pengembaraan, mencari seorang guru yang mempunyai kesaktian tinggi sesuai saran Landuji. Landuji semasa hidupnya pernah menyarankan kepada Erlangga agar mendatangi Padepokan Kumbang Hitam yang ada di sebuah bukit di bawah kaki Gunung Sanggabuana.

"Aku harus tiba di Padepokan Kumbang Hitam hari ini," desis Erlangga lirih, sembari mengangkat wajah ke arah puncak bukit yang menjulang tinggi.

Dengan tekad yang kuat dan semangat yang membara, Erlangga mulai mendaki bukit tersebut, siap menemui Ki Bayu Seta dan mempelajari ilmu kanuragan yang lebih tinggi. Ia berharap bisa sampai di atas bukit menaiki tebing yang sangat tinggi, dengan banyak rintangan yang menghalangi jalannya. Namun, tekad Erlangga tidak goyah, ia terus maju dengan semangat yang membara, siap menghadapi segala tantangan yang ada di hadapannya.

Baru beberapa langkah saja, Erlangga sudah dikejutkan oleh teriakan seorang pria dari arah belakang. "Tunggu, Anak muda!" 

Erlangga menghentikan langkahnya, lalu menoleh ke arah belakang dengan rasa penasaran. "Kau siapa, Ki Sanak?" tanya Erlangga, meluruskan pandangannya ke arah pria tersebut dengan mata yang tajam. Rupanya pria itu adalah seorang pendekar, ia berdiri tegak sambil bertolak pinggang dengan sikap angkuhnya, menunjukkan kepercayaan dirinya.

"Ternyata Andika masih anak ingusan yang masih bau kencur!" kata pria berjanggut tebal itu dengan sikap sinis, sambil menatap Erlangga dengan sinisnya. "Seharusnya aku yang bertanya kepadamu," sambungnya, membusungkan dada dan membuang ludah di hadapan Erlangga, menunjukkan sikap tidak hormat.

"Baiklah kalau itu keinginanmu, silakan!" Erlangga berusaha untuk mengalah dan tidak mau meladeni keangkuhan pria itu, menunjukkan betapa bijaknya dirinya.

"Tujuanmu hendak ke mana? Kenapa kau berada di tempat ini?" Pria tersebut bertanya dengan sorot mata tajam, memandang wajah Erlangga dengan penuh curiga.

"Mohon maaf sebelumnya, Ki Sanak," kata Erlangga dengan nada yang ramah dan sopan. "Aku Erlangga, aku jauh dari alas Cidoro sengaja datang ke sini karena aku ingin berjumpa dengan Ki Bayu Seta."

Pria sombong itu tertawa lepas, "Hahaha ...!" Suara tawanya yang keras dan mengejutkan membuat Erlangga tetap tenang dan tidak terpancing oleh sikap angkuh yang ditunjukkan oleh pria tersebut.

Lantas, pria itu berkata dengan perkataan yang sedikit menyinggung perasaan Erlangga, "Andika tidak akan pernah bisa naik ke sana tanpa seizinku. Untuk itu, bertarunglah denganku terlebih dahulu! Kalau berhasil mengalahkan aku, maka kau boleh melanjutkan perjalananmu."

Sekasar apa pun kalimat yang terlontar dari mulut pria tersebut, Erlangga hanya tersenyum saja, ia tidak mengindahkan sikap sombong orang yang ada di hadapannya itu. Namun, sikap Erlangga disalah artikan oleh pria tersebut, ia beranggapan bahwa diamnya Erlangga sebagai tanda menyepelekannya.

Amarah pria itu semakin memuncak, dan langsung melakukan serangan terhadap Erlangga. "Bedebah, kau sudah menyepelekan aku! Rasakan ini!" Ia mulai melancarkan pukulan ke arah wajah Erlangga dengan tenaga yang kuat.

Dengan sigap Erlangga dapat menghindari pukulan tersebut, sehingga tubuh pendekar sombong itu tersungkur akibat terbawa tenaganya sendiri. Erlangga tidak membalas, melainkan berusaha untuk menenangkan situasi.

"Aku harap Ki Sanak jangan melanjutkan pertarungan ini!" cegah Erlangga dengan nada yang tenang dan sopan. "Kedatanganku ke sini bukan untuk mencari musuh," sambungnya, menunjukkan bahwa ia tidak ingin memperkeruh keadaan. 

Namun, orang itu tetap bersikap sombong dan terus melancarkan serangan kepada Erlangga. Hingga pada akhirnya, Erlangga mulai terpancing emosi dan langsung melakukan perlawanan. Dengan gerakan yang cepat dan tepat, Erlangga membalas serangan itu dengan satu pukulan yang kuat, membuat pria sombong itu kembali jatuh dan memuntahkan darah segar.

"Maafkan aku, Ki Sanak!" ucap Erlangga, melangkah mendekati dengan wajah yang penuh penyesalan. Ia membantu pria itu untuk bangkit, menunjukkan bahwa ia tidak ingin memperkeruh keadaan.

Ternyata, orang itu salah menduga tentang Erlangga. Ia tampak menyesali semua tindakannya dan mulai memahami bahwa Erlangga memiliki sikap yang baik dan tidak sombong seperti dirinya. "Maafkan aku, Anak muda," kata pendekar itu dengan nada yang lembut. "Silakan lanjutkan perjalananmu!"

Namun, Erlangga tidak ingin pergi dan meninggalkan orang itu dalam keadaan terluka. "Tidak, Ki Sanak," jawab Erlangga dengan tegas. "Sebelum melanjutkan perjalanan, aku harus mengobati lukamu dulu! Aku bertanggung jawab atas apa yang sudah aku lakukan."

Dengan penuh perhatian, Erlangga pamit kepada pendekar itu untuk mencari air dan dedaunan yang bisa dijadikan obat. "Ki Sanak tunggu di sini," kata Erlangga dengan nada yang sopan. "Aku akan mencari air dan dedaunan yang bisa dijadikan obat untuk menyembuhkan luka dalam Ki Sanak!" Erlangga bergegas pergi, meninggalkan orang tersebut yang masih terbaring dengan luka di tubuhnya.

Pria itu hanya menganggukkan kepalanya, napasnya terasa sesak dan dadanya pun terasa sakit sekali. Pukulan Erlangga benar-benar sangat berbahaya, sehingga pria tersebut tak dapat berbuat apa-apa lagi. Ia hanya pasrah dengan kondisi tubuh yang lemah, bersandar ke pohon besar sambil menahan sakit.

Sementara itu, Erlangga langsung melangkah menuju ke arah sumber air yang banyak ditumbuhi tanaman obat untuk mengobati luka dalam yang diderita oleh orang yang sudah berusaha mencelakainya. Dengan sikap baik yang ditunjukkan oleh Erlangga, pendekar berjanggut tebal itu merasa takjub dan kagum.

"Dari gaya bicara dan tutur sapanya, pemuda itu seperti berasal dari keluarga bangsawan?" gumamnya dalam hati, sambil memandang Erlangga dengan rasa penasaran.

Tidak lama kemudian, Erlangga sudah kembali dengan membawa air dan juga dedaunan yang hendak ia jadikan obat. "Mohon maaf, Ki Sanak," kata Erlangga dengan nada yang sopan. "Aku terlalu lama meninggalkanmu." Erlangga langsung duduk di samping pria tersebut, menunjukkan bahwa ia benar-benar peduli dengan keadaan orang itu.

Erlangga menyerahkan wadah air minum yang terbuat dari batang bambu kepada pria itu, yang menerima dengan tangan yang sedikit gemetar. Setelah itu, Erlangga langsung mengobati luka memar di bagian dada pria tersebut dengan menggunakan dedaunan yang sudah ia haluskan.

"Maafkan aku, Ki Sanak," ucap Erlangga dengan nada yang menyesal. "Aku sudah melukaimu." Erlangga merasa bersalah atas perbuatan yang sudah ia lakukan terhadap pria tersebut.

Tidak ada tabib mana pun yang bisa mengobati luka dalam akibat pukulan tersebut, hanya pemilik pukulan itulah yang mampu mengobatinya. Sehingga menjadi alasan untuk Erlangga tidak meninggalkan pendekar itu dalam kondisi terluka parah.

Pendekar itu tersenyum dan bangkit, ia menatap tajam wajah Erlangga sembari mengulurkan tangannya. "Namaku Anggadita," katanya dengan suara yang lebih lembut daripada sebelumnya.

Erlangga langsung meraih uluran tangan Anggadita, menunjukkan bahwa ia menerima Anggadita sebagai teman. "Aku Erlangga," jawab Erlangga dengan senyum yang hangat. 

Erlangga tampak semringah karena mempunyai kawan baru. Ia berharap Anggadita tidak mengulangi perbuatan jahatnya kepada orang lain. Dengan senyum yang hangat, Erlangga menyerahkan beberapa lembar daun kepada Anggadita.

"Ki Sanak harus mengunyah daun ini," kata Erlangga dengan nada yang lembut. "Mungkin rasanya sedikit pahit, tapi ini sangat berkhasiat untuk mengobati luka dalam Ki Sanak."

Anggadita hanya mengangguk dan langsung menuruti permintaan Erlangga, mengunyah beberapa lembar daun yang dipercaya dapat mengobati luka dalam. Ia merasa sedikit lega ketika rasa pahit daun tersebut mulai bekerja mengobati luka di dalam tubuhnya.

Dengan perawatan yang dilakukan oleh Erlangga, Anggadita mulai merasa lebih baik. Ia berharap dapat membalas kebaikan Erlangga suatu hari nanti. 

Setelah itu, mereka langsung berbincang-bincang, mereka bercerita tentang niat dan maksud mereka berada di tempat tersebut. Anggadita pun bercerita kepada Erlangga bahwa dirinya sudah hampir 31 hari berusaha untuk mendatangi Padepokan Kumbang Hitam. Namun, usahanya selalu gagal karena dalam perjalanan selalu dihadang oleh sekelompok makhluk gaib penguasa alas tersebut.

Hingga pada akhirnya, ia menyerah dan merasa frustasi, hingga melakukan tindakan jahat terhadap orang-orang yang hendak mengunjungi Padepokan Kumbang Hitam. Anggadita menatap Erlangga dengan mata yang sedikit lelah, namun ada sedikit harapan di dalam hatinya.

"Hari ini aku tidak akan melanjutkan perjalananku," kata Erlangga lirih.

Anggadita bangkit sembari terus memegangi dadanya yang masih sakit, namun rasa sakit itu mulai berkurang.

"Apa alasannya?" tanya Anggadita, meluruskan pandangan ke wajah Erlangga dengan rasa penasaran. Apakah Erlangga memiliki alasan yang kuat untuk tidak melanjutkan perjalanannya ke Padepokan Kumbang Hitam?

Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

Comments

10
99%(268)
9
0%(0)
8
0%(1)
7
0%(0)
6
0%(1)
5
0%(0)
4
0%(1)
3
0%(0)
2
0%(0)
1
0%(0)
9.9 / 10.0
271 ratings · 271 reviews
Write a review
user avatar
Andi Firmansyah Karaengtakamru
mantap lanjutkan
2025-01-17 18:14:14
1
user avatar
Irma_Asma
Tetap konsisten menulis novel silatnya
2024-07-06 07:31:27
1
user avatar
Sute Cute
Cerita ini akan menjadi cerita legenda di GoodNovel, keren Bang
2024-03-28 03:45:07
1
user avatar
Rajep Khan
Dua bab lagi tamat, lanjut ke season keduanya. terima kasih thor
2023-12-23 10:48:27
0
user avatar
Mbak Marni
Drama kolosal pertama yang aku baca di GoodNovel
2023-12-22 15:55:06
0
user avatar
Afie
Saya tidak pernah bosan membaca cerita ini, ia adalah cerita yang bagus.
2023-12-22 15:48:42
0
user avatar
Akuna One
Lanjutan Season keduanya Pewaris Tahta Kerajaan ya, Thor?
2023-12-21 12:38:28
1
user avatar
Monata
Jos ceritanya bagus
2023-11-17 08:26:17
1
user avatar
samudrabiru412
judul novel yg sy cari kok gak ada di apk ini penguasa pedang dewa
2023-10-21 16:41:41
1
user avatar
Zhu Phi
Halo semuanya ... Ijin promosi ya thor... Mampir yuk ke PERJALANAN PENDEKAR TANGAN SATU. Kisah Rawindra yang berjuang menjadi Pendekar Pedang Terhebat dengan segala kekurangannya.
2023-10-05 01:13:56
1
user avatar
CahyaGumilar79
Terima kasih untuk kalian yang sudah mampir, jangan lupa baca juga cerita lainnnya, Pewaris Tahta Kerajaan, Pandu Kesatria Genda Yaksa, Wanara, Sang Pendekar Lembah Naga, dan Tasbih Cinta Yang Hilang
2023-08-24 14:59:19
0
user avatar
Isma
Keren Ceritanya
2023-06-08 10:00:26
1
user avatar
Ananda Ziyan
Aku kira belum tamat, tapi udah tamat yah? baguslah gak perlu nunggu bab update busa langsung baca
2023-06-07 12:58:44
1
user avatar
Ananda Ziyan
Lanjutkan,,,
2023-06-07 12:57:50
1
user avatar
CahyaGumilar79
Season dua dari novel ini judulnya Pewaris Tahta Kerajaan ya, Kak.... Jangan lupa lanjut ke sana
2023-05-28 15:55:27
0
  • 1
  • 2
  • 3
  • 4
  • 19
127 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status