LOGINJari-jari Lilian yang gemetar dingin, semakin digenggam lebih erat. Mante mengangkat wajahnya dengan tenang sedikitpun tidak menunjukan reaksi, dia tatap sang nenek dengan dingin tanpa emosi seakan, hinaan yang telah Gabriella lontarkan pada isterinya tidak mempengaruhi apapun.Jach yang tengah duduk tidak jauh dari posisinya Mante justru gelisah. Jach tahu betul reaksi itu, semakin tenang Mante maka semakin banyak hal-hal buruk yang sedang dia rencanakan.Jach tahu Mante mungkin tidak akan mempermasalahkan kritik Gabriella mengenai pernikahannya atau seleranya dalam memilih perempuan. Akan tetapi, jika Gabriella sampai menganggap Lilian tidak pantas menjadi istrinya.. itu layak dipersoalkan.“Ya ampun, Nyonya Gabriella. Anda seharusnya tidak berbicara seperti itu. Bagaimanapun, Lilian sudah menjadi istri cucu Anda. Memang, pernikahannya jauh dari kata pantas, begitu pula dengan masa lalunya,” timpal Nichole, putri tertua Beatrix.“Bukankah terlalu berlebihan jika seorang janda masih
Kemunculan Gabriella Hemilton menjadi kejutan tersendiri bagi seluruh orang yang berada di ballroom. Di usianya yang sebentar lagi genap sembilan puluh tahun, selama ini Gabriella lebih banyak menghabiskan waktu di Zurich, Swiss.Sebagaimana pernikahan dalam lingkaran keluarga berpengaruh, pernikahan Gabriella dan Nathalius dibentuk untuk memperkokoh aliansi bisnis kedua belah pihak. Namun, karena Nathalius berulang kali mengkhianati pernikahan tersebut melalui perselingkuhan dan keberadaan beberapa anak di luar nikah. Akhirnya, Gabriella memilih hengkang keluar negeri. Kendati demikian, Gabriella tidak pernah menuntut cerai apalagi melepaskan kedudukannya sebagai Donna dari Don Hemilton, gelar tetap melekat padanya sekalipun rumah tangganya retak.Kepergian Gabriella tidak pernah benar-benar membuat Nathalius mengubah perilakunya. Nathalius justru membawa Ophelia, salah satu perempuan simpanannya sekaligus ibu kandung Beatrix, untuk menetap di kediaman utama keluarga Hemilton.Sete
Irish mata Lilian bergerak cepat mencari-cari objek yang bisa dijadikan pelarian pandangannya. Lilian sama sekali tidak memiliki keberanian untuk membalas tatapan salah satu orang yang kini tengah memperhatikannya.Jantung Lilian berdebar kencang hingga bisa dia rasakan, setiap denyutnya yang seakan mau melompat jatuh dari dalam dada.Lilian berulang kali mengucapkan kata-kata penenang dalam hati, berusaha membangun keberanian di tengah tekanan yang mengimpitnya. Jari-jarinya bahkan sudah ingin meremas pakaian untuk menyalurkan kegugupan, tetapi ketegangan membuat kedua tangannya hanya terpaku dengan gemetar.Dapat Lilian rasakan pandangan orang-orang dalam ruangan kian tajam. Mereka tidak sekadar memperhatikannya, melainkan sedang mengamati, mempelajari, sekaligus menilai setiap detail tentang dirinya. Seolah-olah Lilian adalah seseorang yang sedang diperiksa kelayakannya sebelum diterima di tengah keluarga mereka.Lilian sama sekali tidak tahu apa yang kini harus dia lakukan. Janga
Lilian menelan salivanya dengan kesulitan. Tidak ada yang salah dari kata-kata Mante, bahkan.. mungkin siapapun wanita yang mendengarnya akan melompat senang karena dijanjikan akan tinggal di tempat yang begitu mirip dengan sebuah istana, tempat yang tidak semua laki-laki bisa memberikannya, tempat yang bahkan mungkin jauh lebih indah dari gambaran istana sebuah buku dongeng.Namun Lilian tidak merasakan kebahagiaan itu, nalurinya justru merasakan ada bahaya yang sulit dia jelaskan dengan kata.Dibandingkan bahagia, justru Lilian bertanya-tanya.. bagaimana caranya dia kabur dari tempat seluas ini? Luasnya bahkan setara dengan mega hotel milik ayahnya yang sempat Lilian jual.Samar Lilian tersenyum, menghargai apa yang sudah Mante katakan.Kendaraan akhirnya memperlambat lajunya setelah melewati hamparan halaman yang begitu luas, lalu berhenti tepat di depan teras utama. Di tempat itu, Roland sang kepala pelayan sudah berdiri menunggu, menyambut kedatangan Mante dan isterinya yang pert
Perlahan Mante mendekat tanpa melepaskan sedetikpun perhatiannya dari sosok Lilian yang telah siap ia bawa pergi.Mante menyapukan pandangannya dari ujung kaki hingga ujung kepala.Malam ini Lilian tampak seperti seekor angsa hitam, seseorang yang akan menjadi sesuatu paling berbeda dalam keluarga Hemilton.Di hadapan seluruh keluarga Hemilton, seluruh perasaan Lilian mungkin akan terbaca dari setiap ekspresinya yang tidak pandai berbohong, sifatnya yang penakut akan langsung terbuka melalui tangannya yang gemetar mencengkram dan ujung sepatu yang tidak bisa berhenti mengetuk lantai.Jika moment itu benar-benar terjadi, Mante sangat berharap ada kata-kata tidak terduga yang bisa Lilian ucapkan.Selayaknya angsa hitam yang sesungguhnya.. berbeda dan mengubah keadaan.Mante semakin mendekat hingga ujung sepatunya menyentuh sisi high heels Lilian. Tubuh Lilian yang kecil ramping itu hanya mampu menghalangi setengah badan Mante.Di balik helaian bulu mata yang menaungi sepasang iris biru
“Apa kau pernah bertemu dengan perempuan yang telah Mante nikahi?” tanya Beatrix yang tidak dapat menyembunyikan rasa penasaran.Cara Mante yang langsung menikah tanpa persetujuan siapapun, mengingatkan Beatrix pada apa yang pernah Elisio lakukan semasa mudanya. Pernikahan itu bukan semata-mata keputusan impulsif, apalagi sekadar luapan perasaan yang menggebu. Ada alasan jauh lebih kuat di baliknya, yaitu sebuah penegasan bahwa sekali Mante menetapkan calonnya yang benar-benar dia inginkan, tidak seorang pun berhak menghentikannya, dan tidak ada aturan yang cukup berkuasa untuk mengubah keputusannya.Roselia menggeleng dengan senyuman. “Aku juga penasaran, wanita macam apa yang nanti akan dibawa Mante ke rumah ini,” jawabnya mengandung banyak arti.Rasa penasaran Roselia bukan lah hanya sebatas ingin tahu, lalu berhenti usai mendapatkan jawabannya. Ada sesuatu yang lebih dari itu.. Roselia ingin melihat sejauh mana kecerdasannya dan pesona perempuan itu hingga bisa sampai buat Mante
Jarak yang begitu dekat menyisakan sedikit celah, hangat deru napas Lilian menyapu dinginnya kulit Mante.Pria itu menahan diri untuk tidak bergerak, diam-diam menarik napas ingin mengulang kembali sensasi pertama yang menyapa indranya saat sadar dari pingsan, yaitu aroma lembut milik Lilian. Aroma
“Dipertemuan tadi, semua orang membicarakan hal penting yang bahkan tidak aku tahu.” Seorang pria paruh baya melepaskan setelan jassnya, dengan sigap sang isteri menerimanya dan mengikuti langkah suaminya. “Memangnya apa yang sedang dibicarakan mereka?” tanya Katty penasaran. Dengan wajah muram
Lilian mundur seketika, dengan wajah pucat pasinya gadis itu mundar-mandir menggigit ujung jari, tidak dapat mengendalikan kepanikan yang semakin berkeacamuk dalam kepala. Jika pria asing itu tidak ingat apapun, apa itu artinya dia mengalami lupa ingatan akibat benturan? Jika hal itu benar, ini
“Hutang orang tua Anda pada pihak bank lebih dari 20 juta dollar belum termasuk bunga, dan Lilian’s hotel ini adalah jaminannya. Saya turut berduka cita atas kecelakaan yang telah menimpa kedua orang tua Anda, Nona Lilian. Tetapi hutang tetap harus dibayar, pihak pasar obligasi tidak bisa menunggu







