LOGINKehidupan sempurna Lilian Narinia berubah kacau sejak kedua orang tuanya mengalami kecelakaan pesawat, meninggalkan banyak hutang dan membawa Lilian pada kebangkrutan. Hati Lilian kian hancur karena cinta pertama suaminya hadir, membuat Sean Floyed mengabaikan Lilian di masa-masa tersulitnya. Diujung keterpurukannya, Lilian tidak sengaja berjumpa dengan Mante Hemilton dalam kondisi terluka dan amnesia. Memanfaatkan kondisi Mante, tanpa dia tahu, ternyata Mante Hemilton adalah putra peminpin kelompok mafia yang paling berkuasa di negaranya. Hubungan Lilian dan Mante ditengah ketidak pedulian Sean, mulai menggoyahkan kesetiaan Lilian pada pernikahannya. Lilian akhirnya jatuh pada jurang perselingkuhan panas dengan Mante. Disaat Lilian sudah bertekad untuk bercerai, ingatan Mante kembali.. Jalan mana yang akan Lilian pilih selanjutnya? Apakah melanjutkan pernikahannya dengan Sean yang menyadari kesalahannya, atau mengejar Mante yang ternyata sudah berkuasa tanpa perlu diberi tahta.
View More“Hutang orang tua Anda pada pihak bank lebih dari 20 juta dollar belum termasuk bunga, dan Lilian’s hotel ini adalah jaminannya. Saya turut berduka cita atas kecelakaan yang telah menimpa kedua orang tua Anda, Nona Lilian. Tetapi hutang tetap harus dibayar, pihak pasar obligasi tidak bisa menunggu karena sudah jatuh tempo,” ucap seorang wanita berkacamata dengan tumpukan dokument yang dia letakan di atas meja.
“Anda satu-satunya ahli waris dari tuan Rafael dan nyonya Diana. Keputusan Anda sangat penting, kami mengajukan untuk melelang Lilian’s hotel,” seorang pria ikut angkat bicara. “Nona, saya tidak bermaksud merendahkan pengetahuan dan pengalaman Anda. Menurut saya, lebih baik Anda lepas saja Lilian’s hotel untuk dilelang dibandingkan habis-habisan Anda pertahankan, tetapi Anda tidak tahu bagaimana cara melanjutkan dan mengelolanya. Jika Anda melelang Lilian’s hotel, bukan hanya hutang akan terlunisi, setidaknya akan ada orang tepat yang mampu meneruskan hotel ini,” bujuk seorang pengacara berbisik penuh kehati-hatian. Cahaya sore berwarna keemasan membasuh wajah cantik seorang perempuan yang kini tengah duduk di kursi kebesaran ayahnya yang telah lama ditinggalkan. Dalam diamnya, kilatan kesedihan tersirat disepasang mata hazelnya yang berkaca-kaca menahan tangisan, menghadapi kenyataan pahit bahwa hotel yang sudah dibangun susah payah oleh ayahnya, kini akan diambil alih karena gagal bayar hutang. Perempuan muda nan cantik itu bernama Lilian Narinia, seorang anak tunggal dari pasangan pengusaha. Lilian terlahir dengan kemewahan, serba berkecukupan, hidupnya dimanja dengan kasih sayang yang tak bercelah. Sayangnya, kehidupnya yang sempurna hanya berlaku sampai 3 bulan yang lalu… Segalanya berubah sejak kedua orang tuanya mengalami kecelakaan pesawat dalam perjalanan dinas ke luar negeri. Lilian ditinggal dengan segunung hutang yang harus dibereskan pada banyak pihak. Seluruh akses keuangannya telah dibekukan. Bukan hanya hutang pada bank, Lilian pun harus menghadapi trade credit dan tagihan vendor atas tunggakan proyek pembangunan resort yang baru setengah jalan. Semua pihak yang bersangkutan telah berbesar hati memberinya waktu, mereka mengerti Lilian sedang berkabung, tapi mereka juga memiliki batas kesabaran untuk menunggu. Dalam situasi berkabung, Lilian telah menjual lebih dari setengah asset milik orang tuanya untuk melunasi hutang dibandingan bertemu para penagih di pengadilan. Dengan segala keterbatasan pengalaman dan pengetahuannya, Lilian berusaha menghadapi semuanya semampu yang dia bisa, dan puncak masalah yang kini harus dia hadapi itu adalah penyitaan hotel. Lilian’s Hotel adalah bentuk cinta orang tuanya, dibangun atas nama Lilian dengan serangkaian sejarah yang begitu berarti. Keadaan membuat Lilian tidak memiliki pilihan lain selain merelakan Lilian’s Hotel untuk dilelang. Ini bukan hanya sekadar untuk menutup beban hutang, ini juga untuk masa depan karyawan hotel yang jumlahnya lebih dari 300 orang, mereka harus mendapatkan kepastian tetap bekerja. Lilian’s Hotel harus tetap beroperasi, sekalipun di masa depan bukan Lilian pemiliknya. Jika hotel ini tetap beroperasi, setidaknya ada kenangan yang tetap terjaga disetiap sudutnya yang bisa Lilian kunjungi saat nanti dia merindukan kedua orang tuanya yang telah tiada. “Nona Lilian,” panggil David berhati-hati. Lilian menoleh, menatap semua orang yang tengah menantikan jawabannya. “Saya baru pulang dari Luksemburg satu jam lalu, saya belum sempat sampai ke rumah setelah tiga bulan lamanya menghadapi masalah. Bisakah beri saya waktu satu hari lagi? Saya ingin membenahi barang-barang penting orang tua saya di owner’s suite dan membereskan barang-barangnya di ruangan ini sebelum pergi. Saya janji, besok saya akan menandatangi apapun yang terbaik untuk kita semua.” “Baik, kami tunggu janji Anda besok.” *** “Hutan disini aman meski posisinya curam dan terjal, jika tersesat kau tinggal menyusuri sungai yang nanti akan membawamu keluar hutan menuju ke jalan. Tapi kau harus hati-hati karena aku telah menanam banyak tumbuhan beracun di banyak titik. Pastikan saja, saat kudamu beristirahat tidak makan sembarangan rumput,” nasihat seorang pemuda tengah duduk santai di bangku kayu. Seorang pria berpakai riding attire menggendong senapan yang telah disiapan pengawalnya. Dibawah lembayung sore, rambutnya yang berwarna perak berkilau lembut membingkai wajah tampan yang terpahat sempurna. Dalam satu gerakan, pria itu melompat naik ke punggung kuda ras Arabian. “Anda yakin, tidak mau ditemani?” tanya Robin, salah satu pengawal yang menemaninya. “Tidak perlu, kalian pergi saja, aku ingin sendirian,” jawab Mante dengan nada datar namun sepenuhnya perintah. Tanpa berkata-kata lagi, Mante langsung memacu kudanya memasuki hutan, bergerak dengan cepat dibawah sinar matahari sore yang menembus celah rimbunnya daun. Mante habiskan waktunya di dalam hutan itu seorang diri, mengejar hewan yang dilihatnya untuk dia bidik menjadi buruan, melepas satu persatu peluru dari senapan hanya untuk membuat satu persatu hewan jatuh mati di dalam hutan itu. Ratusan burung terlihat berterbangan dilangit, suara ledakan senapannya terdengar samar-samar dari luar hutan. “Satu jam lagi akan gelap, kau yakin tuan Mante akan baik-baik saja?” tanya Robin sekali lagi. “Jangan khawatir, setan saja takut padanya, apalagi hanya sekadar babi hutan,” jawab Michaelin dengan begitu enteng. “Michaelin benar, sia-sia kita mengkhawatirkan orang yang bahkan kita juga takut padanya,” tawa Shwan membenarkan. Keempat orang pria itu akhirnya beranjak pergi meninggalkan area hutan tanpa mengkhawatirkan keselamatan Mante Hemilton. Mante Hemilton, dia adalah putra kedua Elisio Hemilton, peminpin kelompok mafia yang paling berkuasa di negara. Kelompok criminal itu bukan hanya sekadar sekumpulan penjahat biasa. Elisio Hemilton sudah seperti pohon strangler fig yang awalnya hanya menumpang tumbuh di suatu wilayah, perlahan akarnya bergerak menjalar dibawah tanah dan memeluk sang inang, mengambil alih dengan cengkraman dan tekanan, menguasai tanpa batas, merusak aturan setelah berhasil mengambil alih penguasa yang sebenarnya. Derap pelan suara langkah kaki kuda terdengar kala menginjak bebatuan, menyusuri jalanan setapak yang hampir tertutup rumput liar. Mante mengangkat senapannya dan mengarahkannya ke langit, sepasang mata biru kehijauan tertembus cahaya keemasan itu melihat dahan tempat bertengkernya seekor burung. Ujung telunjuk Mante menarik pelatuk, suara letupan peluru terdengar ditengah hutan, kembali menjatuhkan seekor burung, menghabiskan peluru terakhir yang dia miliki. Mante kembali memacu kudanya.. Saat cahaya sore mulai memudar tertelan kegelapan, Mante memutuskan berhenti di pinggiran sungai dan membiarkan kudanya beristirahat sejenak, sementara dia pergi berkeliaran hanya dengan satu pisau, mencari buruan lain untuk dia bunuh, memenuhi keinginan nalurinya untuk menyakiti sesuatu agar gejolak amarahnya mereda. Kuda yang ditinggal Mante pergi meminum air di sungai dan tanpa pengawasan, hewan itu memakan daun-daun cannabis yang tumbuh subur.Melihat tidak ada satu orang pun yang mampu bersuara untuk membela diri, Lilian tersenyum dan berkata, “Terima kasih atas waktunya, sampai bertemu lagi,” pamit Lilian sebelum melenggang pergi.Begitu kaki Lilian berhasil keluar melewati pintu, suara helaan napas kasar terdengar dari bibir mungilnya..Lalu lalang orang-orang disekitar tampak seperti bayangan, keramaian suaranya terasa sunyi di pendengaran..Dengan tergesa gadis itu melangkah, tangannya yang gemetar berkeringat dingin, mengusap dada dengan tekanan berusaha meredakan debaraan kencang jantungnya dari sisa-sisa adrenalin.Butuh pengendalian besar untuk bisa tetap tenang di hadapan orang-orang yang sangat dibencinya.Berkali-kali Lilian memuji dirinya sendiri karena bisa melewati semuanya tanpa meneteskan satupun air mata, dia telah berhasil memasang topengnya dengan sempurna, menutupi kondisinya yang sesungguhnya sangat hancur berantakan.Tidak ada satu orang-pun yang tahu bahwa saat ini, sesungguhnya Lilian masih sangat t
Mata Sean memerah, dadanya panas penuh sesak terbakar amarah melihat perempuan yang selalu dia pandang lemah lembut dan bisanya hanya menangis, dengan kepala tegak dan wajah dingin Lilian mampu lontarkan hinaan-hinaan tajam yang sangat menyakitkan untuk didengar. Sean telah salah menilainya, dia terlalu meremehkan mental Lilian. Di ranjang pasien, Selena gemetar tidak mampu menahan malu dan marah yang bercampur menjadi satu. Tajamnya kata-kata Lilian bicara berhasil menghancurkan kepercayaan dirinya, Selena bahkan tidak dapat membela diri dari ucapan Lilian yang memang kenyataannya.. dia telah mencuri. Selena sempat berpikir, Lilian akan histeris marah dihadapannya setelah tahu kerja kerasnya dicuri. Siapa yang akan menduga, Lilian justru mengasihaninya seperti orang hina yang sangat menyedihkan. “Cukup Lian! Selena tidak mencurinya, aku lah yang sudah memberikan portopolio itu padanya. Aku melakukannya karena kau sudah melukai Selena, ini salahmu sendiri, siapa suruh begit
Dagu Lilian terangkat angkuh dihadapan perempuan yang suka seenak hatinya meremehkan Lilian dan tidak pernah berhenti mencari celah untuk untuk membuatnya selalu terlihat salah.Lilian sudah hancur sekarang…Segala hal yang berada digenggamannya sudah pergi meninggalkannya, bahkan Lilian hampir kehilangan akal sehatnya dan dan hampir gila menghadapi tekanan masalah yang ada.Puncak masalah itu meledak hari ini..Lilian tidak hanya telah dikhianati, mimpinya juga dihancurkan oleh pria yang dipilih oleh orang tuanya, pria yang pernah habis-habisan Lilian cintai dan dan dia harapkan akan menjadi pasangan hidup selamanya.Selama ini, Lilian selalu diam tidak berusaha membalas perlakuan buruk semua orang karena dia selalu ingat nasihat orang tuanya. Membalas kejahatan dengan kejahatan tidak akan pernah membuat seseorang menjadi pribadi yang lebih baik.Persetan dengan nasihat itu! Kesabarannya sudah habis sekarang, tidak akan Lilian izinkan dirinya kalah dan hancur oleh orang-orang brengs
“Aku tidak menyangka jika ternyata kau seberbakat ini Selena," tawa Katty dengan mata berbinar. "Kau tidak hanya akan membawa baik nama kampus dan mengangkat derajat ibumu, kau juga akan mendapatkan hadiah uang dan mentorship untuk membangun bisnis mode-mu sendiri. Selamat ya."Selena menundukkan kepala. “Anda terlalu berlebihan memuji saya, Nyonya. Siapa pun pasti bisa melakukannya, bukan hanya saya,” jawabnya dengan rendah hati.“Siapa bilang? Lihatlah Lilian. Meski tumbuh dengan segala fasilitas yang mendukung kariernya di dunia mode, hasil yang ia capai masih belum bisa menandingi dirimu yang belajar sambil bekerja dari satu toko ke toko.”Melalui ekor matanya, diam-diam Selena melirik Sean hanya untuk melihat reaksi pria itu saat mendengar Selena dibanding-bandingkan dan sedikit dijunjung lebih tinggi dibandingkan Lilian istrinya."Aku sangat senang sekali," ungkap Katty.Terang saja Katty senang, kemenangan Selena dalam kompetisi bisa buatnya ikut menumpang nama perusahannya aga
Selena terbaring lemah di ranjangnya. Wajahnya yang telah terobati penuh dengan lebam biru dan goresan, sementara satu kakinya terpasang gips akibat terkilir sewaktu jatuh dari tangga.Sisa-sisa nyeri dan perih masih bisa Selena rasakan, terutama pada tulang-tulangnya yang terbanting. Selena terl
Dingin..Itulah yang Lilian rasakan saat berdiri di hadapan Sean. Udaranya, suasananya, tatapannya, caranya berdiri terasa begitu jauh, bukan lagi seseorang yang bisa Lilian jangkau dengan apapun.Lilian tidak menemukan sedikitpun kepedulian dimatanya, sekalipiun kini Lilian berdiri tanpa alas hany
Lilian menelan salivanya dengan kesulitan, gadis itu melihat kepenjuru arah dengan gugup. Sekarang mereka sedang berada di area kampus, bisa-bisanya Mante meminta Lilian melakukan sesuatu yang tidak pantas dilakukan.Lilian tidak tahu, apa yang sebenarnya Mante mau setelah dia duduk dipangkuannya.
Dada Mante berdebar keras. Pertanyaan tak terduga dari Lilian terus bergema di kepala, berulang kali mengusik pendengarannya. Tangan Mante bergerak pelan, ia merengkuh Lilian lebih erat, memastikan apa yang telah didengarnya benar-benar nyata.Lilian mengajaknya berpacaran. Bukankah itu artinya, L






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviewsMore