Share

4. Pertemuan

Author: Asayake
last update publish date: 2026-05-08 01:26:25

Sakit menusuk ke dalam ulu hati, menyaksikan pria yang Lilian harapkan akan menjadi penjaganya, justru dengan tenang membiarkan teman-temannya bicara buruk.

Mengapa Sean terkesan tidak peduli padanya?

Meski semua orang tahunya mereka kekasih yang dijodohkan. Sean punya hati nurani yang bisa dia gunakan, apakah dia sama sekali tidak merasa tersinggung saat istrinya dipandang buruk?

“Sejak kecil kau selalu ditempeli oleh Lilian sampai tidak memiliki ruang kebebasan. Kau baru saja beruntung bisa bebas selama dua bulan terakhir ini, tapi sepertinya keberuntungan itu akan segera berakhir,” celetuk Dean semakin berani bicara buruk seolah Lilian adalah seorang penggangganggu yang merepotkan.

“Sudahlah, jangan membicarakannya,” jawab Sean menyeruakan sesuatu yang sama sekali tidak berarti.

“Sean benar, ada Selena disini. Jangan buat Sean tidak nyaman karena kau kau menyebut Lilian,” nasihat Ava.

“Selena kan punya pikiran yang lebih dewasa, mana mungkin cemburu pada Lilian yang kekanakan dan hanya bisa merengek itu,” tawa Dean terdengar meremehkan.

“Sebaiknya kita nikmati saja pestanya. Tidak baik membicarakan seseorang dibelakangnya,” nasihat Selena terdengar bijaksana, bertolak belakang dengan gerak tangannya yang begitu halus alami merangkul lengan Sean seolah itu bukan kontak fisik pertama mereka.

Ada sesuatu diantara mereka, sebuah kemesraan yang tidak hanya tersirat di sentuhan, tapi juga tatapan.

Mengapa hal itu bisa terjadi hanya dengan kepergian Lilian selama beberapa bulan saja?

Kapan perempuan bernama Selena itu memasuki celah dalam hubungannya dengan Sean yang telah terbangun bukan hanya sekadar satu dua tahun, tetapi delapan tahun!

Mengapa Sean seperti ini, atau kah justru inilah Sean yang sebenarnya?

Lilian yang telah menyaksikan segalanya di balik dinding lemari, memilih mundur dan pergi dari tempat itu. Lilian enggan terlibat pertengkaran yang hanya akan membuat harga dirinya semakin terluka.

Langkah Lilian kian cepat berkejaran dengan degup jantung yang berdebar tidak beraturan. Sikap Sean begitu menyakiti hatinya, Lilian merasa sangat kecewa dan terkhianati.

Apa salah jika selama ini dia manja pada suaminya sendiri? Lilian tidak pernah melewati batasan meski semua orang tahu bahwa mereka hanya sepasang kekasih biasa.

Putil mata Lilian memanas tidak kuasa menahan tangisan mengetahui betapa rendah dan bodohnya dia mata banyak orang, diamnya Sean pun seakan membenarkan hal-hal buruk tentang Lilian.

Bagaimana bisa, Lilian percayakan seluruh hidupnya pada lelaki yang bahkan tidak mampu menjaga nama baik isterinya sendiri dihadapan teman-temannya?

Untuk menghentikan ucapan buruk orang lain saja Sean tidak sudi, apalagi harus berkorban hal-hal besar!

Dengan kasar Lilian mengusap air mata yang akhirnya jatuh membasahi pipi.

“Lilian, kau mau kemana?” tanya Karina begitu lihat Lilian kembali keluar.

“Aku minta maaf Karina, ada hal mendesak yang harus aku lakukan,” jawab Lilian dengan senyuman yang dia paksakan untuk menutupi luka dihatinya.

“Apa kau sudah bertemu dengan Sean?”

Lilian menggeleng pelan. “Jangan sampai Sean tahu aku datang, aku tidak ingin dia khawatir, kau mau kan tutup mulut?”

“Tentu saja,” jawab Karina seraya merangkul bahu Lilian untuk diantar sampai ke mobilnya.

“Maaf aku tidak sempat menikmati pestamu,” ucap Lilian yang telah duduk di kursi kemudi.

Karina menggeleng dengan senyuman ramah, “Tidak apa-apa. Aku sudah sangat senang dengan kehadiranmu.”

Setelah berpamitan, Lilian langsung memacu kendaraannya dengan cepat. Melintasi kegelapan malam yang pekat, derung suara mesin supercar yang dikendarainya terdengar kencang menenggelamkan suara tangisnya yang tersedu-sedu.

Lilian telah berkendara sejauh 18 mil untuk mendapatkan sedikit penghiburan di sebuah pesta, namun apa yang dia dapat?

Jangankan mendapatkan hiburan, dia justru menerima lebih banyak luka. Lilian mulai ragu untuk berbicara segalanya kepada Sean, dia harus bangkit menyelesaikan masalahnya sendiri.

***

Dibawah kegelapan malam yang semakin pekat, Mante bergerak dijalanan miring yang membawanya turun melewati pohon-pohon besar, mencari keberadaan jalan untuk mendapatkan tumpangan.

Napas Mante yang terengah lelah sambil menahan sakit terdengar diantara suara riak angin malam yang membelai dedaunan, hewan malam saling bersahutan dalam gelap.

Tanpa rasa takut, Mante terus berjalan layaknya seekor srigala yang sedang mencari kawanannya.

Samar-samar cahaya kendaraan terlihat dari kejauhan, menandakan Mante semakin dekat ke jalanan.

Suara kendaraan terdengar lebih jelas seiring dengan langkah Mante yang bergerak turun.

Tanpa terduga, saat Mante sampai di jalanan berhasil keluar dari hutan, dari arah lain Lilian yang berkendara dalam keadaan menangis langsung membanting stir berusaha untuk menghindar.

Decitan suara roda ban terdengar, kendaraan berputar dan berakhir menghantam Mante hingga pria itu terhempas jatuh dengan keras ke jalan.

Kepulan asap dari roda mengepul tersorot lampu kendaraan.

Dengan napas terengah dan wajah yang basah oleh air mata, Lilian terbelalak lebar melihat seseorang terbaring di depannya akibat tidak sengaja tertabrak.

Lilian memegang erat kemudinya dengan gemetar.

Masalah apa lagi sekarang yang harus Lilian hadapi, kenapa selalu saja ada masalah besar yang menghujani kehidupannya akhir-akhir ini?

Apa yang kini harus Lilian lakukan?

Lilian melihat kebelakang yang gelap gulita, tidak berapa lama kemudian dia memutuskan untuk keluar kendaraannya dan menghampiri Mante dalam keadaan tidak sadarkan diri.

Sekali lagi Lilian lihat kepenjuru arah dengan kepanikan.

Akan menjadi masalah yang serius jika seseorang melihat dan melapor polisi!

Lilian membungkuk meraih tubuh besar pria itu, niat hati ingin memapahnya, namun justru tubuh Lilian yang terjungkal karena perbedaan postur tubuh.

Kepanikan yang semakin menjadi, pada akhirnya membuat Lilian menyeret sekuat tenaga kaki Mante untuk dibawa ke dalam kendaraan.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Dari Istri Sah Menjadi Kesayangan Mafia   124. Sebaris Cerita

    “Silakan, Nona Lilian.” Roland sedikit membungkukkan tubuh, mempersilakan Lilian berjalan di sampingnya.Lilian menoleh, dilihatnya Mante dengan mata berkaca-kaca menahan tangisan, dia ingin sekali merengek agar Mante tidak membiarkannya sendirian bersama orang asing, namun Lilian malu melakukannya karena itu akan semakin merusak reputasinya.Menjaga ketenangan bukanlah perkara mudah bila Lilian berada diantara orang-orang berkarakter keras seperti keluarga Hemilton.Jangankan untuk dekat, untuk berpapasan pun rasanya Lilian ingin pergi bersembunyi.Ragu-ragu akhirnya Lilian melangkah, meski sekali lagi gadis itu sempat menoleh ke belakang, melihat Mante yang tengah memastikan kepergiannya.Pada akhirnya, dengan berat hati Lilian pergi mengikuti Roland yang akan mengantarnya menuju kamar pribadi Mante untuk menunggu dan beristirahat, sementara Mante harus memenuhi panggilan Elisio yang telah menantinya di ruang pribadi.Derap suara langkah kaki heels terdengar di lantai, menyusuri set

  • Dari Istri Sah Menjadi Kesayangan Mafia   123. Meninggalkan Makan Malam

    Ruangan makan itu sunyi seketika.. Orang-orang saling melihat tak dapat menyembunyikan seberapa terkejutnya mereka dihadapkan pada kenyataan, bahwa ternyata istri Mante memiliki keberanian untuk langsung bersuara.Siapa yang menyangka? Perempuan kecil yang sejak pertama kali menginjakkan kaki di ballroom hanya bersembunyi di balik bahu Mante, gemetar seolah tidak sanggup menghadapi tatapan keluarga Hemilton, ternyata bukan sosok yang bisa terus-menerus diperlakukan sesuka hati.Penampilannya yang penakut, sempat membuat beberapa orang meragukan kemampuannya. Bahkan, diam-diam ada yang menganggap Lilian akan menjadi beban terbesar hidup Mante di masa depan.Namun, begitu perempuan itu akhirnya mengangkat suara, satu kalimat darinya sudah cukup untuk membuat Gabriella Hemilton membeku di tempat.Di balik kacamata yang bertengger di hidungnya, mata Gabriella bergetar hebat menahan amarah. Jemarinya yang keriput mencengkeram tepi meja begitu kuat hingga buku-buku jarinya menegang.Gabrie

  • Dari Istri Sah Menjadi Kesayangan Mafia   122. Angkat Suara

    Jari-jari Lilian yang gemetar dingin, semakin digenggam lebih erat. Mante mengangkat wajahnya dengan tenang sedikitpun tidak menunjukan reaksi, dia tatap sang nenek dengan dingin tanpa emosi seakan, hinaan yang telah Gabriella lontarkan pada isterinya tidak mempengaruhi apapun.Jach yang tengah duduk tidak jauh dari posisinya Mante justru gelisah. Jach tahu betul reaksi itu, semakin tenang Mante maka semakin banyak hal-hal buruk yang sedang dia rencanakan.Jach tahu Mante mungkin tidak akan mempermasalahkan kritik Gabriella mengenai pernikahannya atau seleranya dalam memilih perempuan. Akan tetapi, jika Gabriella sampai menganggap Lilian tidak pantas menjadi istrinya.. itu layak dipersoalkan.“Ya ampun, Nyonya Gabriella. Anda seharusnya tidak berbicara seperti itu. Bagaimanapun, Lilian sudah menjadi istri cucu Anda. Memang, pernikahannya jauh dari kata pantas, begitu pula dengan masa lalunya,” timpal Nichole, putri tertua Beatrix.“Bukankah terlalu berlebihan jika seorang janda masih

  • Dari Istri Sah Menjadi Kesayangan Mafia   121. Reaksi tak Terduga

    Kemunculan Gabriella Hemilton menjadi kejutan tersendiri bagi seluruh orang yang berada di ballroom. Di usianya yang sebentar lagi genap sembilan puluh tahun, selama ini Gabriella lebih banyak menghabiskan waktu di Zurich, Swiss.Sebagaimana pernikahan dalam lingkaran keluarga berpengaruh, pernikahan Gabriella dan Nathalius dibentuk untuk memperkokoh aliansi bisnis kedua belah pihak. Namun, karena Nathalius berulang kali mengkhianati pernikahan tersebut melalui perselingkuhan dan keberadaan beberapa anak di luar nikah. Akhirnya, Gabriella memilih hengkang keluar negeri. Kendati demikian, Gabriella tidak pernah menuntut cerai apalagi melepaskan kedudukannya sebagai Donna dari Don Hemilton, gelar tetap melekat padanya sekalipun rumah tangganya retak.Kepergian Gabriella tidak pernah benar-benar membuat Nathalius mengubah perilakunya. Nathalius justru membawa Ophelia, salah satu perempuan simpanannya sekaligus ibu kandung Beatrix, untuk menetap di kediaman utama keluarga Hemilton.Sete

  • Dari Istri Sah Menjadi Kesayangan Mafia   120. Tamu Baru

    Irish mata Lilian bergerak cepat mencari-cari objek yang bisa dijadikan pelarian pandangannya. Lilian sama sekali tidak memiliki keberanian untuk membalas tatapan salah satu orang yang kini tengah memperhatikannya.Jantung Lilian berdebar kencang hingga bisa dia rasakan, setiap denyutnya yang seakan mau melompat jatuh dari dalam dada.Lilian berulang kali mengucapkan kata-kata penenang dalam hati, berusaha membangun keberanian di tengah tekanan yang mengimpitnya. Jari-jarinya bahkan sudah ingin meremas pakaian untuk menyalurkan kegugupan, tetapi ketegangan membuat kedua tangannya hanya terpaku dengan gemetar.Dapat Lilian rasakan pandangan orang-orang dalam ruangan kian tajam. Mereka tidak sekadar memperhatikannya, melainkan sedang mengamati, mempelajari, sekaligus menilai setiap detail tentang dirinya. Seolah-olah Lilian adalah seseorang yang sedang diperiksa kelayakannya sebelum diterima di tengah keluarga mereka.Lilian sama sekali tidak tahu apa yang kini harus dia lakukan. Janga

  • Dari Istri Sah Menjadi Kesayangan Mafia   119. Pertemuan

    Lilian menelan salivanya dengan kesulitan. Tidak ada yang salah dari kata-kata Mante, bahkan.. mungkin siapapun wanita yang mendengarnya akan melompat senang karena dijanjikan akan tinggal di tempat yang begitu mirip dengan sebuah istana, tempat yang tidak semua laki-laki bisa memberikannya, tempat yang bahkan mungkin jauh lebih indah dari gambaran istana sebuah buku dongeng.Namun Lilian tidak merasakan kebahagiaan itu, nalurinya justru merasakan ada bahaya yang sulit dia jelaskan dengan kata.Dibandingkan bahagia, justru Lilian bertanya-tanya.. bagaimana caranya dia kabur dari tempat seluas ini? Luasnya bahkan setara dengan mega hotel milik ayahnya yang sempat Lilian jual.Samar Lilian tersenyum, menghargai apa yang sudah Mante katakan.Kendaraan akhirnya memperlambat lajunya setelah melewati hamparan halaman yang begitu luas, lalu berhenti tepat di depan teras utama. Di tempat itu, Roland sang kepala pelayan sudah berdiri menunggu, menyambut kedatangan Mante dan isterinya yang pert

  • Dari Istri Sah Menjadi Kesayangan Mafia   9. Perkara Baju

    Jarak yang begitu dekat menyisakan sedikit celah, hangat deru napas Lilian menyapu dinginnya kulit Mante.Pria itu menahan diri untuk tidak bergerak, diam-diam menarik napas ingin mengulang kembali sensasi pertama yang menyapa indranya saat sadar dari pingsan, yaitu aroma lembut milik Lilian. Aroma

  • Dari Istri Sah Menjadi Kesayangan Mafia   8. Berubah

    “Dipertemuan tadi, semua orang membicarakan hal penting yang bahkan tidak aku tahu.” Seorang pria paruh baya melepaskan setelan jassnya, dengan sigap sang isteri menerimanya dan mengikuti langkah suaminya. “Memangnya apa yang sedang dibicarakan mereka?” tanya Katty penasaran. Dengan wajah muram

  • Dari Istri Sah Menjadi Kesayangan Mafia   7. Menghindar

    Lilian mundur seketika, dengan wajah pucat pasinya gadis itu mundar-mandir menggigit ujung jari, tidak dapat mengendalikan kepanikan yang semakin berkeacamuk dalam kepala. Jika pria asing itu tidak ingat apapun, apa itu artinya dia mengalami lupa ingatan akibat benturan? Jika hal itu benar, ini

  • Dari Istri Sah Menjadi Kesayangan Mafia   6. Lupa Ingatan

    “Keadaannya baik-baik saja meski ada beberapa luka dan memar. Setelah nanti teman Anda bangun, baiknya mandi air dingin untuk membantu mengurangi nyeri dari benturan dan pembengkakan. Untuk mengetahui apakah ada cedera, Anda harus membawanya ke rumah sakit,” ucap seorang dokter sambil meletakan tab

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status