LOGINHaira seorang wanita yang dilatih untuk tampak sempurna ternyata menyembunyikan hasrat liar-nya di balik penampilan yang dingin dan tegas. Sebagai wanita yang terbiasa memegang kendali ia memilih Laks sebagai pilihan terbaik untuk menjadi suami sekaligus pasangan pemuas hasrat sexsualnya. Mendefinisikan cinta dengan caranya sendiri, yang mengarah pada pernikahan yang aneh namun manis. Laks yang tenang dan Haira yang Liar.
View MoreBunyi heels menggema membuat pelayan yang berpapasan segera menundukkan kepalanya, ia adalah Putri sulung keluarga itu—Haira Madhava.
Wanita selalu mencolok dengan aura dominan yang menguat. Langkah berhenti di depan sebuah ruang. Tok. Tok. "Masuk." Wanita itu membuka pintu dan melangkah ke dalam. Bisa dia lihat pria paru baya—Dirga Madhava yang merupakan ayahnya duduk di balik meja kerjanya segera mengangkat kepala saat ia masuk ruangan tersebut. "Kau sudah datang." Haira berdiri beberapa meter darinya, "Kalau Ayah ingin membicarakan sesuatu, langsung saja. Aku masih punya pekerjaan." Sang ayah berkerut mendengar ucapan putrinya, mulut Haira masih setajam biasanya. "Bahkan untuk berbicara dengan ayahmu sendiri, kau tidak bisa bersikap lebih sopan?" Haira mengangkat sebelah alis. "Kalimat itu terdengar familiar." "Sudahlah!" Dirga mengembuskan napas kasar. "Ayah dengar kau menampar putra keluarga Rajendra kemarin. Apa sebenarnya yang kau lakukan? dimana etikamu sebagai wanita?" "Ah, ternyata gosipnya sudah sampai ke telinga Ayah." Ia tersenyum puas. Wajah Dirga semakin suram. "Berhentilah bermain-main! Kau pikir tindakanmu tidak akan menimbulkan masalah? Keluarga Rajendra bukan keluarga sembarangan!" Haira menghela napas ringan. "Aku hanya menamparnya sekali. Kalau tahu dia akan mengadu ke mana-mana, seharusnya aku menamparnya dua kali." Haira tidak merasa bersalah sedikitpun, pria yang terlalu npd itu masih bagus hanya dia pukul sekali. "HAIRA!" Dirga menatap putrinya tidak percaya. Menghadapi Haira selalu menguras kesabarannya, terlebih ketika perempuan itu sama sekali tidak menunjukkan penyesalan. Ia tahu putrinya keras kepala, tetapi keberanian Haira dalam memperlakukan orang lain terkadang benar-benar melewati batas. Keluarga Rajendra bukan hanya pengusaha besar di industri nikel, tetapi juga memiliki hubungan yang semakin kuat dengan kalangan politik setelah salah satu anggotanya memasuki parlemen. Menjaga hubungan dengan keluarga seperti itu jelas menguntungkan. Sayangnya, putrinya justru berbuat sebaliknya. Dia kini terlalu Arogan dan sombong. "Ayah, Pria itu terlalu banyak omong kosong," balas Haira tanpa merasa bersalah. "Lagipula, kenapa kalian ingin menjodohkanku dengan orang jelek seperti itu?" Kemarin, atas permintaan kakeknya, ia bersedia menemui putra keluarga Rajendra. Namun, alih-alih menemukan calon pasangan yang layak, ia justru harus menghabiskan waktu bersama pria menyebalkan yang merasa dirinya terlalu istimewa. Bagi Haira, satu tamparan saja sudah terlalu murah hati. Dia bisa menebak pasti ayahnya yang meminta kakek untuk memaksanya pergi menemui pria itu. "Sebagai wanita apapun alasannya kau tidak boleh melakukan itu." Berbicara dengan putrinya sendiri sangat menguras emosi, bisa-bisa tensi-nya naik. Kemana putrinya yang anggun dan penurut saat kecil. "Hm." Cuek. "Haira, Ayah ini ayahmu!" "Lalu?" Dirga menatapnya tajam. "Aku sedang menasehatimu!" "Ayah bicara sebagai ayahku atau sebagai ketua komisaris?" "Haira!" "Kalau tidak ada urusan lain, aku pergi." Tidak berniat berlama-lama Haira berbalik akan pergi. "Ayah belum selesai bicara!" "Haira!" ucapnya sedikit lebih keras dari sebelumnya. "Ayah tidak mau banyak bicara lagi. Bersiaplah untuk menikah." Keputusan final. Dirga rasa Haira bener-benar harus menikah, macan betina itu harus di jinakan atau paling tidak sedikit hidup seperti wanita pada umumnya. Salah juga yang mendidik terlalu keras untuk menjadi pewaris yang sempurnya hingga kepribadian seperti ini. "Apa yang ayah katakan?" Perkataan Dirga berhasil membuat tangan Haira berhenti di gagang pintu dan kembali menoleh ke arah ayahnya. "Kau dengar dengan jelas." "Aku tidak mau menikah." Jawaban Haira itu keluar begitu cepat hingga Dirga langsung mengernyit. "Kenapa kau tidak mau menikah?" "Karena aku tidak mau nikah." Haira menatapnya seolah pertanyaan itu sama sekali tidak masuk akal. "Usiamu sudah tidak muda lagi, Haira. Bagi seorang wanita, kalau tidak menikah, apa yang akan kau lakukan?" Haira terdiam sejenak. Kemudian, ia tertawa pendek. "Aku pintar, aku kaya. Aku punya pekerjaan dan bisa mengurus hidupku sendiri. Untuk apa aku menikah?" "Pintar dan kaya tidak bisa jadi alasanmu untuk tidak menikah! Menikah dan punya anak barulah kehidupan seorang wanita." "Hah? Sangat tidak masuk akal!" "Lagipula sejak kapan kau menggapku seperti wanita." Keluh Haira, setelah didik begitu keras bahkan dulu saat ia menangis ayahnya tidak pernah meredakannya. Ia di didik untuk menjadi pewaria sempurna bukan bagaimana menjadi seorang wanita sosialita. "Ayah tidak peduli kau harus menikah jika tidak lepaskan kursi jabatanmu di perusahan dan tinggalkan madhava." "Ayah mengancamku?" "Terserah kau menganggapnya apa." " jika tetap aku menolak?" tanya Haira. "Maka kamu akan menjadi Haira biasa. Tanpa nama belakang Madhava. Tanpa saham dan semua fasilitas di sita." jawab Dirga dengan dingin. Pria itu tidak berniat bermain-main dengan ucapannya, jika tidak bisa dengan ucapan baik-baik maka Dirga akan menggunakan kursi singgasananya sebagai ancaman. "Kau tau para petinggi komisaris mengeluhkan kepemimpinanmu!" Di mata para pemegang saham konservatif, status lajangnya kerap menjadi bahan penilaian—menurut mereka orang yang tidak bisa membangun keluarga bagaimana mungkin bisa membuat keputusan yang besar. "Jadi pikirkanlah, keputusan ada di tanganmu." Keheningan menyelimuti ruangan. Haira seperti tidak bisa mengabaikan sembarangan, ini menyangkut Madhava. Meski ada kakek di belakangnya, pemegang saham tertinggi saat ini adalah ayahnya. "Baiklah." Dirga mengangkat wajahnya, tampak sedikit terkejut tidak percaya putrinya akhirnya akan menurut. "Kau setuju?" "Aku bilang baiklah, bukan berarti aku menyetujui cara berpikir Ayah." Ujarnya lalu berjalan meninggalkan sang ayah, tak menghiraukan apa yang di katakan pak tua itu. "Ya dewa, aku akan sangat bersyukur jika ada pria yang berhasil menikahinya." Dirga menghela napas, putri bener-bener sulit. Para dewan masih meragukan posisinya toh dengan menikah ia berharap Haira mendapat sosok yang selalu menemaninya. Shopie—ibu tiri Haira yang sejak tadi menguping di balik pintu langsung tersentak ketika mendengar langkah kaki mendekat. Ia buru-buru menjauh dari pintu ruangan dan pura-pura sibuk. Haira keluar dengan wajah dingin, sama sekali tidak peduli pada keberadaan shopie. "Haira," panggil shopie,"Kau sudah mau pulang?" Haira melirik sekilas. "Menurutmu." "Bagaimana kalau kau ikut makan malam di sini?" "Tidak perlu. Siapa yang tahu masakannya beracun." Setelah melontarkan kalimat itu, Haira langsung melengos pergi. Tidak ada gunakanya dia lama-lama di sini, kakek juga sedang pergi ke rumah temannya. "Sayang~ Kau dengar sendiri, kan? Dia benar-benar tidak menghormatiku!" Shopie langsung menghampiri suami dengan wajah merajuk. Dirga menghela napas. "Sudahlah, jangan dimasukkan ke hati. Ucapanku saja tidak dengar , apalagi kepadamu sebagai ibu tirinya." Shopie memeluk suaminya, sebuah senyum tipis muncul di bibirnya menatap kepergian Haira. Jika Haira kehilangan jabatan dan hak warisnya, jalan menuju kekuasaan akan terbuka lebih lebar bagi pihak lain. Dan Sophie bukan tipe perempuan yang akan menyia-nyiakan kesempatan"Laks!" Dimas langsung menghampiri begitu melihat sahabatnya datang tergesa-gesa ke ruang tunggu IGD. "Laila bagaimana?" "Masih diperiksa dokter. Duduk dulu." "Kenapa dia bisa masuk rumah sakit lagi?" Dimas menarik napas panjang. Wajahnya tampak serius. "Tadi rumahmu didatangi polisi. Ibumu dibawa karena terlibat kasus penipuan investasi." Laks membeku. "Apa?" Dia menatap Dimas tidak percaya. "Dim, jangan bercanda!" "Aku serius. Katanya ada beberapa korban yang melapor. Total kerugiannya sampai dua ratus juta." "Dua ratus juta?!" "Bagaimana mungkin Ibu terlibat penipuan?" "Aku belum tahu jelas. Waktu sampai di rumahmu, ibumu sudah dibawa polisi." Dimas juga tidak tahu pasti karena tidak saat kejadian. “Tapi katakanya ibumu juga berteriak kalo dia juga di tipu.” Laks mengusap wajahnya kasar. "Lalu Laila?" "Dia melihat semuanya. Waktu polisi membawa ibumu, Laila panik sampai sesak dan akhirnya pingsan. Tetanggamu langsung menghubungiku, jadi aku membaw
"Maaf, saya tidak tertarik."Laks menutup map hitam di hadapannya, lalu menggesernya kembali ke arah Haira."Jangan terburu-buru menolak. Dengarkan dulu tawaranku.""Saya sudah membacanya." Laks tidak mau mendengarkan apapun. Pernikahan kontrak? Sungguh tidak masuk akal."Tapi kau belum mendengar semuanya."Haira meletakkan gelasnya di atas meja. Tatapannya masih tertuju pada Laks, seolah penolakan barusan sama sekali tidak membuatnya gentar."Aku tahu kau memiliki banyak utang. Dengan penghasilanmu sekarang, entah berapa tahun lagi kau bisa melunasinya. Belum lagi biaya pengobatan adikmu."Wajah Laks seketika mengeras, bagaimana bisa wanita itu tahu."Anda menyelidiki kehidupan pribadi saya?""Tentu saja. Aku perlu mengetahui latar belakang pria yang akan menjadi suamiku.""Saya belum menyetujui apa pun.""Karena itu aku sedang berusaha meyakinkanmu."Haira sedikit mencondongkan tubuhnya. Senyum percaya diri masih menghiasi wajah cantiknya."Menikahlah denganku. Seluruh utangmu akan
Setelah Laksmana masuk, pintu kembali tertutup.Di dalam ruangan, seorang wanita telah duduk menunggunya.Wanita itu terlihat begitu tenang dan berkelas. Pakaiannya sederhana, tetapi dari potongan dan kualitas bahannya, Laks bisa menebak harganya tidak murah. Rambut hitamnya tergerai rapi, sementara jemarinya memainkan gelas berisi air mineral di atas meja.Ketika wanita itu mengangkat wajah, langkah Laks seketika terhenti.Dia?Bukankah ini wanita yang pernah ditemuinya saat mengantarkan pesanan makanan ke kamar hotel?Laks tidak menyangka akan bertemu dengannya lagi, terlebih di ruangan privat Maison Grey.Sementara itu, Haira mengamati pria yang berdiri di ambang pintu.Penampilannya biasa saja. Kaos putih, celana hitam, serta wajah tampan yang terdapat sedikit bekas luka goresan di pipi.Tidak ada sesuatu yang istimewa dari penampilannya. Namun sudah Naluri jika ia menemuka permata mentah untuk memolesnya."Duduklah. Apa kau akan terus berdiri seperti patung?"Suara Haira membuyar
Laks segera mendorong troli masuk dan mulai menata hidangan di atas meja.Sementara itu, Haira berdiri tak jauh darinya, memperhatikan setiap gerakan pria tersebut.Jadi, dia bekerja di hotel milik Madhava?Tatapannya turun ketika menyadari Laks berjalan sedikit pincang.Haira langsung teringat kejadian tadi sore. Pria itu sempat terjatuh ke aspal saat menyelamatkan anak kecil.Apa kakinya terluka karena kejadian tadi?Tanpa sadar, Haira berjalan mendekat."Bagaimana kakimu?"Gerakan tangan Laks terhenti."Maaf, Nona?""Kakimu. Kau terlihat kesulitan berjalan."Laks melirik kakinya sendiri, lalu tersenyum kecil."Oh, hanya sedikit terkilir. Tidak apa-apa.""Kau tetap bekerja dalam keadaan seperti itu?""Masih bisa berjalan, kok, Nona."Haira mengamatinya beberapa saat."Sepertinya kau sangat membutuhkan uang."Laks sedikit mengernyit mendengar ucapan tersebut."Semua orang bekerja untuk mendapatkan uang, bukan?"Haira tersenyum tipis."Benar juga."Laks kembali merapikan hidangan di m






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.