Share

Dilema

Author: Agus Irawan
last update Last Updated: 2025-05-31 20:47:14

“Aku Edmond Albert,” katanya dengan suara penuh wibawa. “Ayah dari Felia… dan juga ayah kandungmu.”

Hana berdiri terpaku di hadapan makam ibunya. Dia sama sekali Dilema harus percaya pada dua orang yang ada di hadapannya atau ibunya yang telah meninggal.

Ia mengenggam surat peninggalan ibunya, yang ditulis dengan tinta yang sudah sedikit luntur karena air mata. Surat yang membuatnya menangis semalaman, bukan karena kecewa—tetapi karena kasih seorang ibu yang tak pernah berubah hingga akhir.

“Hana... percayalah padanya, dia benar-benar Ayah kandungmu." sapa Mira dengan nada lembut, nyaris seperti angin yang menampar halus di pipi yang sedang luka.

Hana berbalik. “Tante Mira… aku masih bingung dengan semua ini, tapi aku rasa ini tidak mungkin!”

Mira mengamati wajah Hana yang sembab. “Aku datang bukan hanya untuk mengucapkan belasungkawa... tapi juga karena aku merasa punya tanggung jawab untuk mengungkapkan sesuatu.”

Hana diam. Ia belum pulih dari duka, namun tetap memberikan kese
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Dari Tunangan Pura-pura, Jadi Istri Kesayangan sang Tuan   Kisah yang Beda

    Felia kini telah menerima kalau putrinya lebih memilih Hana, kini ia sadar kalau sekuat apapun ia ingin merebut perhatian Abian kembali padanya sudah tidak mungkin. Devan berdiri dan tersenyum, "Jika kamu pergi dari keluarga kami, pergilah Felia. Om akan merawat putrimu... layaknya keluarga kami sendiri." Felia tersenyum masam, "Saya pasti akan pergi, dan takkan lagi mengganggu hidup Hana dengan Abian, Om. Tapi... bagaimana dengan Alena? Dia pasti akan merindukan aku?" Felia mengusap air yang mengalir di pipinya, "Bagaimana pun aku ini ibu kandungnya?""Kamu tenang saja, kami akan rawat anakmu dengan baik." Seloroh Tania yang turut menghampiri, "Bagaimana pun Alena sudah menjadi bagian keluarga Adiyasa, lihatlah Alena sangat bahagia bersama Abian, dan Hana."Felia menatap ke arah putrinya, Alena. Ia tersenyum melihat keharmonisan Abian, Hana dan Alena yang tengah mengobrol dengan santai di ruang keluarga.Felia menarik nafasnya dalam-dalam, berusaha menahan rasa sedihnya. Karena ki

  • Dari Tunangan Pura-pura, Jadi Istri Kesayangan sang Tuan   Keraguan dan Penerimaan

    Devan berdiri di hadapan ketiganya dengan sikap keras kepala khasnya. Suasana hangat yang semula menyelimuti ruangan itu kini berubah menjadi dingin dan tegang. Hanya suara jam dinding yang berdetak pelan di antara diam yang menyesakkan. Felia menunduk, sementara tangannya mengepal di pangkuannya, ia berusaha menahan air mata, dan ia tidak datang untuk berdebat atau menuntut apa pun. Ia hanya ingin melihat anaknya, dan barangkali… mendapatkan sedikit rasa maaf dari keluarga yang pernah begitu hancurkan. "Om, aku mengerti keraguan Om. Dan aku tidak berharap semua orang langsung memaafkan aku. Tapi yang bisa aku lakukan sekarang hanyalah membuktikan lewat tindakan… bukan kata-kata," ujarnya lirih, penuh ketulusan. Tania menyentuh lengan Devan dengan lembut, mencoba menenangkan. "Devan, lihat dia. Dia datang dengan tulus, bukan dengan tuntutan atau drama. Kamu selalu mengajarkan kita tentang keluarga—sekarang buktikan bahwa kita memang keluarga yang bisa memberi kesempatan kedua, mem

  • Dari Tunangan Pura-pura, Jadi Istri Kesayangan sang Tuan   Akhirnya Semua Berbeda

    Felia melangkah masuk ke dalam rumah keluarga Adiyaksa, untuk menemui putrinya Alena yang kini di asuh oleh Hana dan Abian. "Permisi," ucap Felia masih berdiri di ambang pintu, kemudian Hana yang sedari tadi berada di ruang tamu menoleh ia telah kembali dari rumah amannya di luar kota bersama Abian. "Felia, silakan masuk," sambut Hana dengan ramah, "Silakan, duduk." Kemudian Felia duduk tepat di samping Hana, ia mengedarkan pandangannya ke sekeliling, "Di mana Alena?" "Mmmm... dia masih berada di kamarnya Fel, hari inikan libur sekolah, sepertinya Alena masih tidur." Hana segera bangkit untuk membangunkan putri angkatnya itu. Karena merasa tidak enak, Felia melarang Hana untuk memanggil putrinya itu, "Tidak, jangan Han aku tidak mau mengganggu hari liburnya. Kalau begitu aku pamit saja ya..." "Loh, kok buru-buru Fel. Mainlah sebentar di sini, mungkin Alena akan merasa senang kalau kamu bermain dengannya," Hana melarang Felia untuk pergi. Beberapa saat kemudian Alena tu

  • Dari Tunangan Pura-pura, Jadi Istri Kesayangan sang Tuan   Kenyataan Telah diketahui

    Sore itu Hana menelpon suaminya, Abian. Ia tampak bingung antara harus keluar sendiri atau diam-diam tanpa pengawalan, ia diliputi rasa gelisah setelah beberapa kali mendapat terror dari orang yang sama sekali tidak dikenalnya. 'Halo Bi... kamu masih di mana?' tanyanya melalui panggilan seluler. Di seberang sana Abian menjawab, ia baru saja bertemu dengan Raka Supradja. 'Iya Hana... ada apa sayang? Apa ada masalah?' 'Bi, aku mau keluar sebentar boleh?' 'Mau ke mana? Nanti di antar sopir ya... bodyguard juga akan ikut mengawal kamu, aku masih di jalan ini kejebak macet.' 'Ya sudah baik, aku di antar sopir dan bodyguard saja... kamu jangan khawatirkan aku ya, bye sayang...' Hana lantas mengakhiri panggilan itu, dan bersiap pergi. Alena pun ikut bersamanya karena ia akan bertemu Felia, bukan orang lain. Sore menjelang malam, Hana keluar dari vilanya di antar sopir pribadi dan dibelakang satu mobil seorang bodyguard yang di sewa Abian untuk pengamanan. Satu jam perjalanan

  • Dari Tunangan Pura-pura, Jadi Istri Kesayangan sang Tuan   Mencari Bukti

    Di ruang tengah, suara detik jam terdengar begitu jelas sunyi yang menegangkan ketika dua pria itu berhadapan. Abian berdiri tegak, mengenakan kemeja hitam tanpa jas, menatap pria paruh baya yang kini duduk di hadapannya. Tatapan mereka saling bertaut, tatapan keduanya seperti ingin saling mendominasi berusaha saling menundukkan.Raka Surapradja meneguk teh yang disediakan, lalu tersenyum samar."Aku tidak datang untuk menimbulkan kerusuhan," ucapnya perlahan. "Hanya ingin memastikan bahwa keluarga Adiyaksa membayar lunas dosa-dosa masa lalu mereka."Abian menyipitkan mata. “Dosa siapa? Ayahku? Kakekku? Atau kau hanya menutupi kegilaanmu sendiri dengan menyebut ‘balas dendam’?”Raka tidak langsung menjawab. Ia mengeluarkan selembar foto lama dari dalam sakunya, memperlihatkan wajah-wajah yang pernah bersama dalam satu masa Calista, Mira, dan seorang pria muda yang diyakini sebagai ayah Hana."Calista mencintai orang yang salah, Abian. Dan aku hanya memperjuangkan kebenaran yang tak p

  • Dari Tunangan Pura-pura, Jadi Istri Kesayangan sang Tuan   Penjaga Untuk Hana

    Rumah keluarga Adiyaksa dijaga ketat sejak pagi. Petugas keamanan dari perusahaan dikerahkan atas perintah Devan sendiri. Setelah paket ancaman diterima malam sebelumnya, Abian tidak ingin mengambil risiko sedikit pun. Apalagi saat ini Hana sedang ada di rumah. Hana duduk dengan Alena di pangkuannya. Anak itu masih belum mengerti apa yang sedang terjadi, hanya merasakan ketegangan di sekitar orang-orang dewasa yang berada di lingkungan tempat tinggalnya. Abian berdiri sambil berbicara di telepon dengan suara tertekan. “Saya ingin semua keamanan diperketat apalagi keamanan untuk Hana, dan putri saya Alena. Kalian harus cari Raka Surapradja. Cari juga semua properti atas nama itu dalam dua puluh tahun terakhir.” Ia menutup telepon, kemudian menatap Hana. “Kita akan bawa anak-anak ke vila aman yang sudah disiapkan. Ini mungkin hanya gertakan, tapi aku tak mau ambil risiko.” Hana menggenggam tangannya. “Aku tidak akan lari, Bi. Tapi aku juga tak akan biarkan orang gila itu menyentuh a

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status