Dating My Neighbor

Dating My Neighbor

last updateTerakhir Diperbarui : 2023-08-09
Oleh:  LudylynTamat
Bahasa: English
goodnovel16goodnovel
10
1 Peringkat. 1 Ulasan
87Bab
4.6KDibaca
Baca
Tambahkan

Share:  

Lapor
Ringkasan
Katalog
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi

"Oh my goodness! This is exactly what I've been saying!" Mikan said, annoyed. "Why do you still refuse to break up with that Jiro? What does he have?" "M, it's normal for lovers to have disagreements," I replied calmly. "K, he's always the one causing issues. Aren't you tired of it?" Selena asked me. I shook my head. "I understand him, girls. Sometimes I'm moody too. Maybe his temper just flared up at the wrong time." I've been defending Jiro to them since we started dating in my second year of high school, and now we're in our fourth year of college. We had another argument recently, and I've been apologizing to him since the other day, even though I didn't know what I did wrong. But he hasn't been answering any of my texts or calls. So tonight, even though I didn't want to go with them to the Spade Club, I had no choice because they dragged me along. I just hope Jiro doesn't find out about this because he doesn't like it when I go clubbing without him. It might make him even angrier. "I think there's nothing we can do about Kylie. She's head over heels for Jiro," Ariana said. Ariana isn't this quiet usually when she's drunk. They all laughed while I forced a smile. Go ahead, laugh at me, but when you fall in love, I'll be rolling on the floor laughing. "Alright, cheers to Kylie's love madness," Mikan raised her shot glass, and A and S followed suit, while I watched them. I just sighed. "Hey! K, don't be a killjoy. Come on, raise your shot glass!" Selena shouted at me because the music was loud in the Spade Club. It was already ten in the evening.

Lihat lebih banyak

Bab 1

Beginning

3 Oktober 2016

Setelah diremas, botol air mineral itu dilempar ke tong sampah. Adra berdecak kesal karena lemparannya meleset, alhasil dia harus memungutnya lagi lalu menggunakan cara yang benar. Sungguh melelahkan, seharian kesana kemari melamar pekerjaan, namun tak ada hasil. Beberapa wawancaranya hari ini sungguh menguras emosi dan tenaga. Bukan tanpa persiapan, justru sudah jauh-jauh hari Adra mempersiapkan diri. Mungkin nasib memang belum berpihak padanya. Jujur saja dia lelah, dalam menganggur dan mencari pekerjaan. Rasanya ingin sesaat saja dia bisa melupakan semua masalah dan melihat ombak di pantai.

Seperti biasa, suasana sore hari alun-alun Majalengka selalu ramai. Banyak muda mudi yang hilir mudik di trotoar. Beberapa penjual jajanan pun mulai berdatangan. Lalu lintas yang padat di jalan Majalengka-Cikijing semakin terasa, bahkan bisa terlihat petugas parkir di tepi jalan itu tengah kewalahan. Menyadari suasana mulai ramai, Adra memutuskan untuk pulang. Dia sempat menghela napas ketika bangkit dari duduknya. Ingin mengeluh, tapi pada siapa? Adiknya? Jangan tanya pada Adra. Ia juga tak tahu adiknya itu sekarang ada di mana.

Namanya, Alia. Gadis yang baru saja lulus SMA itu terpaksa pergi dari rumah karena diusir oleh kakaknya sendiri. Bukan tanpa alasan, walau pun Adra sendiri tipikal orang yang malas. Tapi dia selalu ingin adiknya itu bisa melanjutkan pendidikan yang lebih dari pada dirinya. Dan ketika Alia menolak, maka itulah pemicu perpisahan di antara mereka. Tak usah bertanya, siapa pun pasti akan rindu jika mengalami hal yang sama.

Kehidupan Adra memang selalu terasa pahit dan sepi, apalagi jika dia mengingat masa lalu. Kedua orang tuanya sudah meninggal ketika Adra masih di bangku SMA. Jika dihitung, kira-kira sudah enam tahun berlalu. Tak mudah, dalam umur yang belum bisa dikatakan dewasa. Hanya Alia, tak ada kerabat lagi. Tapi sekarang Adra merasa dirinya sudah sebatang kara. Sendirian menikmati dunia yang semakin keras dan kejam. Menyelami lautan manusia di jalan, di trotoar, di mana pun seperti saat ini. Adra terkadang merasa aneh, kobaran api hitam selalu saja muncul di atas kepala manusia sebelum mereka berpulang.

Jangan tanya kenapa Adra bisa melihatnya. Dia sendiri membenci hal itu, selalu saja menjadi mimpi buruk. Itulah alasan Adra sampai saat ini menjadi pribadi yang susah menempatkan diri, baik di lingkungan atau pun di masyarakat. Teman? Tentu saja tak punya. Bagi Adra, sebuah hubungan dengan orang lain hanya akan menjadi beban pikiran. Dia tak ingin ketakutan ketika memikirkan kematian temannya. Sebenarnya Adra hanya tak ingin merasa kehilangan seperti yang sudah-sudah.

Sebuah mata yang bisa melihat tanda kematian seseorang. Adra menyebutnya mata kutukan.

Langkah Adra terhenti. Matanya menatap langit yang suram, pertanda hujan atau sekedar simpati langit. Di depannya adalah sebuah perempatan jalan yang selalu ramai seperti saat ini. Di sisi selatan ada Jalan Babakan dan di sisi utara ada Jalan Pertanian. Dan saat ini lampu merah yang ia tunggu terasa lebih lama. Dia ingin menyebrang ke arah Jalan Babakan untuk pulang ke rumah.

Karena bosan menunggu, Adra mengedarkan padangannya ke sekitar. Di belokan Jalan Majalengka-Cikijing ke Jalan Pertanian, dia melihat sebuah toko bunga. Sangat asing, karena toko itu memang baru buka beberapa hari yang lalu. Adra setiap hari melewati jalur perempatan itu, tapi baru kali ini dia melihatnya. Karena tertarik dan penasaran maka Adra pun berlari menyebrang. Tepat saat dia sampai di depan toko, lampu hijau menyala dari arah Jalan Majalengka-Cikijing. Suara bising kendaraan memenuhi pendengaran Adra, membuat telinganya berdengung sesaat.

Mata Adra terbuka lebar, dia merasa waktu seperti melambat saat melihat beberapa bunga dan tanaman hias. Hujan yang tiba-tiba turun sempat mengguyur tubuhnya sebelum dia memasuki toko bunga itu.

Kling...

Suara lonceng kecil yang terpasang di pintu menggema di dalam ruangan toko.

“Selamat datang,” suara seorang wanita membuat Adra sedikit terkejut.

Wanita itu berjalan mendekat pada Adra yang masih berdiri di dekat pintu. Air hujan di wajah Adra menetes ke lantai, tatapan mereka bertemu sejenak. Wanita itu sempat tersenyum lalu kini tampak kebingungan. Adra sendiri masih terpaku dengan apa yang dia lihat di atas kepala wanita itu. Sebuah kobaran api hitam kecil mengambang di atas kepalanya. Tanda bahwa maut sebentar lagi akan datang menjemput.

Adra tersadar dan mengabaikan segala perasaan yang sempat hinggap. Sebenarnya dia sudah terbiasa dan tak lagi merasa takut. Hanya saja terkadang dia teringat kematian orang tuanya, hal itu menjadi alasan utama atas rasa takut Adra. Trauma mendalam pernah dia alami, walau pun sudah pulih. Namun terkadang kenangan selalu bisa merasuk lebih dalam, membuat luka lama kembali terasa.

“Ada yang bisa saya bantu?” tanya wanita itu ramah.

“Ada bunga mawar merah, aku ingin membelinya satu tangkai saja,” jawab Adra.

“Silahkan tunggu di meja pelanggan, saya akan menyiapkannya.”

Wanita itu tersenyum sambil menunjukan tempat duduk pelanggan. Adra melihat sisi ruangan itu, tampak sebuah satu set sofa panjang dan meja kaca yang elegan. Penataan ruang yang sungguh menganggumkan, karena jika dilihat sebenarnya tak luas, tapi entah mengapa Adra merasa sedang berada di taman bunga yang sangat luas. Semua sisi ruangan terhiasi oleh bunga warna-warni dan tanaman hias. Aroma dari beberapa bunga pun bisa tercium samar-samar. Menenangkan, membuat Adra tanpa sadar terduduk menikmati suasana.

“Maaf,” ucap wanita itu sesaat kemudian, “ini bunga mawar anda, dan selagi menunggu hujan reda silahkan nikmati kopi anda.”

Adra terkejut melihat wanita itu membawakan secangkir kopi hitam yang masih mengepulkan uap. Entah kenapa, dia menerimanya begitu saja. Lalu meletakannya di atas meja bersama mawar merah yang dia pesan. Wanita itu tersenyum lagi, kali ini mulai terasa berbeda. Hati Adra sedikit tersentuh, bagaimana bisa orang baik selalu berpulang lebih awal. Kenapa? Adra selalu tak menemukan jawabannya. Lalu kini apa lagi? Seorang wanita cantik pemilik toko bunga bersikap sangat baik. Untuk apa jika maut akan segera menjeput? Adra hanya pelanggan, dia tak ingin diperlakukan seperti ini. Hatinya menolak. Bukan, lebih tepatnya pemikiran Adra tak bisa menerimanya secara gamblang, karena selama ini dia selalu tertutup dan menjauh. Lari seperti pengecut, mengabaikan semua orang kecuali adiknya. Tak peduli apa pun yang dia lihat, selagi bukan urusannya maka Adra hanya akan acuh.

“Sejak kapan kamu suka mawar merah?” tanya wanita itu seraya mengabil tempat duduk di depan Adra.

“Hah!” Adra terkejut, sadar dari lamunannya.

Wanita itu tertawa ringan ketika melihat wajah Adra yang tampak kebingungan.

“Kenalin, aku Ilya, pemilik toko bunga ini.”

Tangan Ilya terulur. Adra menyambutnya dengan ragu, namun ada sebuah kehangatan yang terasa di sana. Merasuk, mengetuk pintu hati Adra yang selama ini tertutup rapat.

“Adra. Makasih buat kopinya.”

Ilya mengangguk senang, lalu dengan malu-malu menarik kembali tangannya. Di luar hujan semakin deras, bahkan hawa dingin sampai menyelinap masuk ke ruang toko. Adra cemas saat melihatnya melalui jendela kaca. Sepertinya berteduh memang pilihan terbaik, lagi pula dia tak punya alasan untuk cepat-cepat pulang. Lebih baik bertahan dari pada kehujanan. Bertahan? Tentu saja bertahan dengan perasaan tak menentu bersama Ilya yang memiliki tanda kematian.

“Mawar sama kopinya gratis, masih hari promosi soalnya.”

Adra menatap mata Ilya, melihat api hitam mengambang di atas kepalanya. Lalu mata Adra meredup, seakan dia bersedih untuk Ilya. Memang benar, tapi pikirannya selalu menolak. Prinsipnya adalah ketidak pedulian. Kecuali adiknya, siapa pun itu, Adra tak peduli, karena sebenarnya takdir memang sudah ada yang menggariskan.

“Suka mawar merah?” tanya Ilya pelan.

“Tidak,” jawab Adra sedikit tegas.

“Buat orang lain kah?”

Adra mengambil sepucuk mawar merah yang sudah terbalut rapi dengan plastik transparan. Dia melepas plastik dan pita merah yang terikat di tangkainya.

“Mawar merah, aku selalu memberikannya pada orang yang berkesan, tapi tak ingin kukenal,” ucap Adra sambil mencium bunga itu.

Ilya mulai terlihat serius. Matanya menatap wajah Adra begitu dalam, mencoba mencari penjelasan kalimat yang tak jelas tadi. Namun tentu saja Ilya tak akan mengerti, karena yang tahu hanyalah Adra.

***

Tampilkan Lebih Banyak
Bab Selanjutnya
Unduh

Bab terbaru

Bab Lainnya

To Readers

Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.

Ulasan-ulasan

iambest
iambest
I am always making an honest review in all books that I read. The story is good. But, it really needs an extreme proofread. There are so many repeated chapters, jumping to far next chapters and back again to previous one. Sequence and flow of the story doesn't match most of the times.
2026-06-13 22:24:48
0
0
87 Bab
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status