Masuk“Minggir, Pak, Saya tidak punya waktu untuk melayani orang asing yang menghalangi jalan saya,” sahut Miranda dengan suara yang tenang dan dingin.Tatapan mata Miranda yang semula lembut kini menjadi tajam, menatap lurus ke mata mantan suaminya tanpa ada sedikit pun rasa takut.Bayu merasakan dadanya bergemuruh hebat karena amarah, dia tidak terima melihat wanita yang biasanya lemah, selalu memohon belas kasihannya kini menatapnya dengan pandangan merendahkan seperti itu.“Jangan berlagak sombong kamu, Mira! Kamu ke sini pasti mau mengacaukan wawancara kerjaku, kan? Dasar murahan!” sergah Bayu dengan wajah penuh amarah.“Sadar diri, Mbak, blazer mewah itu nabrak banget di badan mbaknya. Itu kalo blazernya bisa ngomong, pasti udah menjerit gak mau dipake sama babu.”“Oh, mana pengawalmu kemarin? Baya berapa dia ke Mbak buat sekali celup? Jangan-jangan gratis, kan situ murahan,” ejek Leni.“Mira, biar kamu dandan, pake baju mahal, itu gak akan bisa mengubah asal-usulmu yang cuma lulusan
“Besok?” tanya Miranda heran.“Aku dengar dia akan wawancara besok di salah satu perusahaanku. Kau dan aku akan hadir secara langsung di sana sebagai pewawancara,” jawab Rolan dingin.“Tuan, dia pasti buat keributan. Aku malu,” sahut Miranda.“Untuk apa malu? Kau bekerja sebagai asisten dan dia sedang wawancara demi tidak menganggur. Jika otaknya pintar, dia akan menahan diri dan ini balas dendam kecil,” balas Rolan.Miranda merasa perkataan Rolan ada benarnya, posisi Bayu besok sebagai pengangguran yang sedang wawancara, sedangkan dirinya adalah karyawan tetap Rolan di firma hukumnya.‘Balas dendam pertama, kau hina aku sebagai babu, bukan? Kali ini akan kutunjukkan, bahwa aku memang menjadi babu juga, tapi posisiku asisten pribadi,’ pikir Miranda.“Oh, aku hampir lupa. Pertemuan nanti malam diundur, kau bisa pulang lebih awal untuk istirahat,” ungkap Rolan.“Baik, Tuan,” sahut Miranda.Rolan kembali ke ruangannya dengan senyum di bibirnya, tidak ada pertemuan nanti malam, dia hanya
“Pak Manajer! Anda ini sudah tua tapi buta, ya, ada kesalahan di sini!" teriak Leni dengan suara nyaring.Wanita itu tidak peduli lagi dengan etika di dalam mall, membuat beberapa pengunjung mall menghentikan langkah dn menonton keributan tersebut. "Anda mau saja ditipu oleh akting pelayan kampung ini! Dia itu cuma babu! Pasti itu uang haram atau entah mencuri kartu itu dari mana untuk pamer di sini! Bagaimana bisa Anda malah memberikan baju gratis untuk wanita murahan seperti dia,” sambung Leni."Benar! Saya ini seorang sarjana hukum, saya juga tau kalo dia tidak punya kapasitas untuk memiliki uang sebanyak itu! Tindakan Anda ini sangat tidak profesional dan merugikan pelanggan lain seperti kami!" seru Bayu tidak mau kalah.Danu yang sudah habis kesabarannya, juga takut posisinya terus terancam oleh hasutan kedua orang ini, langsung membalikkan tubuhnya dengan wajah merah."Security! Pengawal!" teriak Danu lantang.Empat orang petugas keamanan mall bertubuh besar langsung masuk ke d
Bayu beralih menatap Rika si kasir dengan tujuan memprovokasi, agar Miranda diusir dari sana usai mereka puas menghina."Mbak Kasir, saya sarankan jangan lanjutkan pembayarannya. Dia ini cuma babu, buruh cuci. Kerja serabutan, gak punya uang sepeser pun. Paling-paling kartu yang dia bawa itu hasil mencuri atau hasil belas kasihan dari lelaki hidung belang!" seru Bayu mulai menghasut.Mendengar hasutan Bayu, Rika si kasir langsung menarik kembali tangannya dari mesin EDC."Masuk akal sih. Maaf, Mbak, silakan keluar dari butik ini. Kami gak mau reputasi butik kami rusak karena melayani wanita seperti Anda," ucap Rika ketus.Leni tertawa terpingkal-pingkal melihat Miranda yang terpojok, dengan sikap angkuh, Leni melangkah maju dan menepuk bahu meja kasir."Mbak Kasir tenang saja, dia mana mungkin bisa bayar jas seharga puluhan juta.”“Hei, Mira ... kalo kamu benar-benar bisa bayar jas itu, aku rela jilat semua lantai mall ini dengan lidahku sendiri!" tantang Leni penuh percaya diri, yaki
Bayu melangkah mendekat, menatap Miranda dengan pandangan menghina. Sebuah kesempatan untuk menghina Miranda yang sudah membuatnya diusir dari rumah sewa, juga menuntut cerai serta tuntutan mengganti kerugian materi dan fisik senilai 350 juta.Lelaki itu merasa bahwa gelar sarjana hukum, yang baru dia sandang hampir satu bulan ini, membuat dirinya merasa berada di atas angin. Terlebih kini Leni di sisinya, yang akan mendukungnya secara penuh karena sangat mencintai dirinya.“Iya, Sayang. Kok dia bisa ada di sini? Apa dia mau beliin jas buat manga barunya? Eh … tapi babu emangnya punya duit cukup buat beli jas di sini? Ga ada yang murah, loh,” ejek Bayu dengan sikap pongah.Leni tertawa kecil, Bayu menghampiri Miranda dan berdiri tepat di sisinya dengan posisi berlawanan arah.Bayu meletakkan tangannya di bahu Miranda, lalu sedikit mendekatkan wajahnya ke telinga wanita itu."Oh, jadi ini alasan kamu kabur dari kontrakan kumuh? Hebat ya kamu, Mira. Belum sebulan kita pisah, kamu sudah
[Selamat, ya. Maaf aku sibuk.] Miranda mengakhiri panggilannya.Roland mendengar percakapan itu, melihat dari reaksi Miranda, dia yakin bahwa yang baru saja menghubungi asistennya itu pastilah Bayu.“Bernostalgia? Pasti kau berdebar-debar dan rindu lelaki itu, kerjakan semua berkas hingga selesai. Aku mau dalam waktu satu uam berkas gugatanmu sudah rapi dan ada di mejaku,” celetuk Rolan dengan nada ketus dan wajah masam.“Baik, Tuan,” sahut Miranda sopan.Miranda melipat keningnya heran, Rolan tiba-tiba datang ke mejanya dan sikapnya ketus. Wanita itu berpikir, apakah gerangan kesalahan yang sudah dia perbuat? Sehingga atasannya menjadi marah.‘Perasaan aku ga ada salah, kok Tuan malah judes begitu? Apa ada masalah? Sudahlah, aku kerjakan aja dulu tugas ini,’ pikir Miranda.Miranda mengerjakan tugasnya dengan teliti, di balik meja kerjanya, Rolan duduk tegak dengan wajah kesal. Tatapan matanya terfokus kepada selembar dokumen di depannya, tetapi pikirannya terusik.Rolan teringat awa







