LOGINSelama lima tahun, Miranda rela memeras keringat menjadi TKW dan buruh cuci demi membiayai kuliah Bayu, suaminya. Namun, di hari kelulusan, Bayu justru memeluk wanita lain dan menghina Miranda sebagai pembantunya di depan teman-temannya. Di titik terhancurnya, Miranda mencari Rolan. Seorang pria dingin, berkuasa, sekaligus pemilik firma hukum raksasa yang merupakan majikan tempat Miranda bekerja sebagai buruh cuci harian. Rolan siap merebut kembali setiap yang yang dikeluarkan dan harga diri Miranda yang telah diinjak-injak lewat jalur hukum. Namun, di balik dinginnya ruang sidang, Miranda tidak pernah menyangka jika dirinya justru terperangkap dalam gairah mantan majikan yang begitu posesif melindunginya. Saat Bayu merangkak memohon untuk kembali, apakah mereka bisa kembali bersatu?
View More“Tuan, hari ini suami saya wisuda. Tugas saya mendukung cita-citanya udah selesai, dulu dia janji mau bahagiakan saya kalo udah sarjana. Saya izin berhenti kerja,” ucap Miranda dengan kepala tertunduk.
“Loh, itu kan masih lama prosesnya, Mira. Ijazah juga ga langsung keluar, belum lagi cari kerja. Kerja lah di sini sementara, kamu sama suamimu mau makan apa nanti,” tolak Rolan. Miranda bersikeras bahwa tabungannya cukup untuk menghidupi mereka berdua selama enam bulan ke depan. Rolan tidak bisa menahannya lagi, lalu mengabulkan permintaan Miranda. “Padahal kamu rajin, jujur, bertanggung jawab. Pakaian saya semua rapi dan bersih, saya juga sering liat kamu baca buku saya yang ada di meja santai sana.” “Oh … suamimu jurusan hukum, kan? Nanti aku bantu deh kerja di tempat aku,” sambung Roland. “Serius, Tuan? Waduh … ngerepotin jadinya, terima kasih, Tuan,” sahut Miranda dengan wajah berbinar. Kini Miranda sudah mengganti pakaiannya, wanita itu sengaja mengenakan pakaian terbaik yang dia miliki, kemudian memesan ojek untuk membeli buket bunga segar yang berada tidak jauh dari kediaman Rolan. “Kalo naik ojek lagi, jalannya lumayan jauh. Bunga ini bisa layu. Kalo naik mobil ongkosnya mahal juga, empat puluh enam ribu,” gumam Miranda. Miranda akhirnya memilih memesan mobil melalui sebuah aplikasi, sepanjang jalan bibirnya dihiasi senyum membayangkan betapa bahagia suaminya nanti saat melihat dirinya membawa bunga yang menurutnya mahal. Miranda kini sudah tiba pada sebuah perguruan tinggi negeri yang terkenal, dia menarik napas dalam. Dirinya begitu gugup hendak bertemu suaminya, jantungnya berdebar kencang karena rasa bahagia. Usai merapikan pakaiannya yang sederhana tersebut, kakinya terayun menyusuri lorong mengikuti petunjuk arah yang tertera di dinding. Sepatu lusuh dengan sol bagian bawah yang tipis tidak membuatnya rendah diri, dalam benaknya dia hanya ingin bertemu Bayu dan memeluknya erat. Tumitnya bahkan merasakan lantai keramik yang dia pijak, tetapi itu semua tidak dia pedulikan. Beberapa pasang mata yang mengenakan toga menatapnya dengan pandangan merendahkan, Miranda membalas dengan anggukan kecil dan tersenyum tulus sebagai sikap ramah. Langkah kakinya terhenti seketika tatkala melihat suaminya sedang bergurau mesra dengan seorang wanita cantik. Bahkan keduanya begitu akrab, dikelilingi beberapa lelaki yang memuji Bayu, suaminya. Wanita itu tampak begitu cantik mengenakan kebaya brokat biru muda dengan desain modern, dengan rok satin hitam yang memperindah penampilannya. Penampilan itu sungguh berbanding terbalik dengan Miranda yang mengenakan kemeja merah tua dan celana kulot hitam yang dia kenakan. Tangan wanita itu begitu santai menggelayut di lengan jas Bayu, sementara Bayu membalasnya dengan usapan lembut di punggung tangan sang wanita. Senyum Bayu begitu merekah dan tampak begitu bahagia, sebuah senyuman yang sudah bertahun-tahun tidak pernah Miranda lihat di rumah kontrakan mereka yang sempit. ‘Oh, mungkin Bayu lagi cari orang dalam buat nanti lamar kerja. Makanya dia sengaja akrab begitu, cari kerja itu kan ga gampang, jadi butuh dekingan,’ pikir Miranda menepis pikiran buruknya. Miranda kemudian kembali akan mengayunkan langkahnya, dia mengurungkan ketika melihat Bayu mencium kening wanita yang bergelayut manja di lengannya. Suara tawa pun berderai dari mereka yang berada di depan Bayu. Miranda merasa kepalanya membesar, tangannya meremas tangkai buket bunga dengan hidung kembang kempis. Wanita itu merasa kedua bola matanya memanas, dadanya terasa begitu sesak, seolah oksigen tidak lagi cukup untuknya saat ini. "Bayu … selamat atas wisudanya," ucap Miranda dengan suara bergetar. Miranda memeluk buket bunga segar di pelukannya begitu berat, bibirnya dipaksakan tersenyum menutupi hatinya yang luka. Mendengar suara yang begitu familiar, tawa Bayu langsung terhenti. Bayu menoleh perlahan dan melihat sosok Miranda yang berdiri dengan pakaian terbaiknya, yang di mata orang-orang kampus tetap terlihat sangat lusuh, wajah tampan Bayu seketika berubah. Ketakutan statusnya terbongkar, rasa malu dan kemarahan tergambar begitu jelas dari tatapan matanya. "Eh, Bayu. Siapa ini? Saudara kamu dari kampung?" tanya salah satu teman pria Bayu sambil memandang Miranda dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan tatapan merendahkan. Wanita cantik di sebelah Bayu turut menoleh, menaikkan sebelah alisnya yang diukir rapi. Menatap penampilan Miranda dengan wajah heran. "Iya, Sayang. Siapa dia? Kok penampilannya ... kumuh gitu? Mau kasih bunga ke kamu juga?" tanya Leni, wanita yang bersama Bayu. Miranda menahan napas, bibirnya tetap mengukir senyum. Jantungnya berdetak kencang bak genderang perang, menanti jawaban dari bibir pria yang selama lima tahun ini dia hidupi dengan peluh dan air mata. Berharap lelaki yang sudah menjadi suaminya selama lima tahun itu, mengakui keberadaannya sebagai istri yang setia dan mendukung menggapai cita-citanya. Bayu berdeham sebelum menjawab, kemudian berdiri di depan Miranda dengan begitu angkuh. Wanita itu menyodorkan buket bunga, lalu Bayu menarik buket bunga dengan kasar, dan menatap Miranda dengan tatapan dingin. Miranda tersenyum, dia menarik napas lega dan bangga kepada suaminya yang akan mengenalkan dirinya kepada teman-teman suaminya. "Dia itu bukan siapa-siapa, Leni," ucap Bayu dengan suara keras, seolah-olah memastikan seluruh temannya mendengar dengan jelas, "dia ... dia ini pembantu di rumah ibuku di kampung. Disuruh Ibu periksa papan bunga yang dipesan buat foto wisuda nanti, eh …, malah ikut-ikutan ke tempat wisudaku sambil bawa bunga." Seketika senyum menghilang dari wajah Miranda, kini dia merasa bahwa bumi di bawah kaki Miranda rasanya runtuh seketika dan dia terperosok ke dalam lubang dalam yang tidak berujung. Lantai keramik yang dingin yang menembus sol sepatu lusuhnya kini bisa dia rasakan dengan jelas. “Oh … pembantu. Pantesan kumal begitu, mana mungkin anak orang kaya punya kenalan begini,” celetuk Leni. “Pembantu … anak orang kaya …,” gumam Miranda sambil menatap suaminya. Bibir Miranda bergetar dengan tubuh yang terasa lemas, tubuhnya sedikit terhuyung ke belakang. Bahkan sekadar menelan ludah di tenggorokannya saja begitu sulit, tatapannya nanar melihat sekelompok orang yang kini menatapnya dengan sinis. Hatinya semakin sakit, seolah diremas dari dalam tatkala melihat Bayu menghempaskan buket bunga yang dia beli dengan rasa cinta. Lelaki itu menginjak-injak bunga itu sambil menghina bahwa bunga itu begitu kampungan dan murahan, Miranda menahan kaki suaminya agar tidak menghancurkan buket bunga yang dia beli dengan uang yang susah payah dia cari. Namun, Bayu malah menginjak tangannya dan menendang tangan Miranda yang menghalangi buket bunga itu. Miranda menggelengkan kepalanya, tangisnya pun pecah dan meratapi bunga yang kini sudah hancur. Sementara Bayu berdiri dengan sombong, mengenakan jas yang dibeli dari upah mencuci. “Bayu ... kau berani menyebutku pembantu?” tanya Miranda sambil menarik lengan Bayu dengan hentakan kasar dan mata yang memerah menahan amarah.Tepuk tangan riuh bertumpah ruah di dalam aula. Penjelasan Miranda yang gamblang, tanpa istilah kaku yang membingungkan, benar-benar memberikan pemahaman hukum yang mudah dicerna.Dari barisan belakang, Rolan berdiri bersandar di pintu keluar. Dia menatap istrinya dengan senyum tipis penuh rasa bangga. Miranda bukan lagi sosok yang bisa ditindas, melainkan wanita tangguh yang menjadi pelindung bagi sesamanya.Setelah acara selesai dan para peserta berangsur pulang, Miranda berjalan menghampiri Rolan."Bagaimana, Sayang? Bahasanya tidak terlalu membosankan, kan?" tanya Miranda sambil tersenyum lelah tapi puas.Rolan merangkul bahu Miranda, mengecup dahi istrinya dengan hangat. "Sempurna, Sayang. Luar biasa, mudah dipahami. Materi tadi benar-benar bikin orang sadar hukum tanpa harus pusing baca kitab undang-undang," jawab Rolan.Rolan lalu menggandeng tangan Miranda menuju mobil. “Adhyasta gimana? Udah dijemput, kan?” tanya Miranda.“Sudah, lagi di rumah sama Bi Minah,” jawab Rolan.S
“Iiish, genit. Belom juga sehari, nanti tunggu dua bulan,” balas Miranda sambil menepuk punggung tangan suaminya.“Hahaha, aku becanda, Sayang. Tapi … serius, aku udah ga kuat. Di luar itu semua, aku bersyukur kamu dan anak kita selamat, sehat,” sahut Rolan."Terima kasih ya, Sayang. Tidak pernah membiarkan aku menyerah di masa-masa paling terpuruk." ucap Miranda tulus.Rolan tersenyum manis, memajukan wajahnya untuk mengecup bibir Miranda dengan lembut."Aku yang harus terima kasih pada kamu, Miranda. Kamu mengajarkan aku artinya bertahan dan berjuang yang sebenarnya. Dulu aku pikir aku bisa melindungi segalanya dengan kekuatan dan posisiku, tapi ternyata keteguhan hatimulah yang menyelamatkan keluarga kita," sahut Rolan jujur.Tiga tahun berlalu sejak kehadiran Adhyasta, melengkapi kebahagiaan Rolan dan Miranda. Rumah dua lantai mereka kini selalu ramai dengan suara langkah kaki mungil dan ocehan bocah tiga tahun itu. Di taman belakang, Adhyasta sedang asyik menendang bola plastik
Tanpa terasa bulan demi bulan berlalu, membawa perubahan besar di kediaman Rolan dan Miranda. Proses pemulihan itu tidak terjadi dalam semalam, melainkan lewat kesabaran luar biasa dari Rolan yang tidak pernah absen mendampingi, serta kehangatan rumah tangga Aris dan Sari yang selalu menjadi tempatnya bersandar.Miranda kini berdiri di atas kakinya sendiri dengan cara yang jauh lebih matang. Dia kembali berpraktik di dunia hukum, bukan lagi sebagai wanita yang dibayangi ketakutan, melainkan pengacara yang disegani. Setiap melangkah ke dalam ruang sidang, aura ketenangan dan ketegasannya terpancar jelas. Pengalaman pahit di masa lalu tidak membuatnya terpuruk, melainkan menempa cara berpikirnya menjadi lebih tajam dan bijaksana dalam membela hak-hak orang lain.Sore itu, suasana di kantor firma hukum Rolan tampak tenang. Rolan baru saja menyelesaikan penandatanganan dokumen analisis kasus ketika pintu ruang kerjanya terbuka. Miranda melangkah masuk mengenakan gaun hamil krem lembut y
Aris yang baru selesai menerima telepon dari markas kepolisian melangkah mendekati mereka berdua.“Davian sudah dipindahkan ke penjara dengan hukuman seumur hidup, dan Bayu baru saja dijebloskan ke sel tahanan Polda malam ini,” terang Aris dengan nada lega.“Proses hukum kita selesai. Mereka berdua mendapatkan hukuman paling maksimal tanpa ampun,” imbuh Aris lagi.Miranda menatap salinan berkas itu sejenak. Tidak ada lagi raut histeris atau ketakutan liar di wajahnya, dengan jemari tangannya yang lain, dia mengelus lembut perutnya yang terlindung di balik pakaian hangat.Bayangan buruk dan rasa terintimidasi yang selama ini menghantuinya perlahan terkikis, berganti dengan perasaan aman di tengah perlindungan orang-orang yang mencintainya.Rolan mengecup samping kepala Miranda dengan kelembutan mendalam, berbisik pelan tepat di telinganya."Keadilan sudah berdiri untukmu dan anak kita, Sayang. Tidak akan ada lagi yang bisa menyentuh atau menyakitimu,” bisik Rolan.Miranda mengangguk pe












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.