LOGINMendengar adanya acara mewah yang dihadiri orang-orang kaya, Sari dan Bayu langsung bersemangat dan memaksa untuk ikut serta agar bisa melihat Miranda hancur secara langsung. Namun, Leni segera menggelengkan kepalanya dengan tegas, menjelaskan bahwa undangan acara tersebut sangat ketat dan terbatas untuk kalangan tertentu saja. Dia hanya bisa mengusahakan satu undangan tambahan untuk Bayu, karena dirinya sendiri harus mendampingi ayahnya yang merupakan rekan bisnis Rolan di acara itu.“Maaf, ya, Tante … gak bisa ikut karena kuota undangannya sangat terbatas, tapi Bayu masih bisa ikut bareng aku besok malam, aku akan minta undangan satu lagi, sebagai perwakilan perusahaan Papa,” jelas Leni mencoba memberikan pengertian kepada Sari yang tampak sangat kecewa.“Tidak apa-apa, yang penting Bayu bisa ikut dan memantau jalannya rencana kita untuk menjatuhkan wanita sialan itu,” sahut Sari akhirnya mengalah, sambil meneguk minumannya hingga kandas tanpa sisa.Setelah menyelesaikan pembayaran
Jika Miranda sibuk membaca buku untuk menaikkan kualitas diri dan pengetahuannya, Bayu malah tenggelam dengan rasa kesal di dada, lelaki itu terus saja teringat kejadian memalukan di kantor tadi sore. Juga menahan rasa lapar karena ibunya menolak membeli makanan untuk mereka berdua.Bayu mondar-mandir di dalam kamar kos mewahnya, sesekali melirik ibunya yang sedang duduk di tepi ranjang dengan wajah kesal. Setelah menimbang cukup lama, Bayu akhirnya merogoh ponsel di saku celananya, lalu menekan nomor Leni untuk memintanya datang malam itu juga sekalian memperkenalkan kekasih kayanya itu kepada ibunya.[Len, kamu bisa ke kosanku sekarang gak? Ibuku baru datang dari kampung, katanya pengen banget ketemu sama kamu,] kata Bayu dengan nada suara yang dibuat selembut mungkin melalui sambungan telepon.[Malam-malam begini, Sayang? Ya udah kamu tunggu aja, aku meluncur ke sana sekarang,] sahut Leni di seberang sana, terdengar begitu bersemangat.Tidak butuh waktu lama bagi Leni, untuk tiba
“Eeeh, babu sok menuntut segala. Emang punya uang? Hah!” sergah Sari.“Sebenarnya Ibu ini siapa sih? Sebentar bilang mantu, sebentar bilang babu. Gak jelas banget,” celetuk salah satu karyawan.“Diem kamu, dia itu babu anakku!” bentak Sari.Rolan mengepalkan tangannya kuat-kuat, suara gemeretak giginya terdengar menahan geram terhadap cacian Sari kepada Miranda.Bukan dia pengecut tidak membela Miranda, tetapi dia tahu wanita itu bisa menghadapi keributan yang terjadi. Lelaki itu akan bertindak jika keadaan di luar kendali Miranda.“Bayu, masa percobaan kamu tiga puluh hari sebelum kontrak turun. Kalo masih macam2 bikin keributan, mending ke HRD ambil upah tiga hari ini,” ancam Miranda dengan tegas.“Babu kurang ajar, berani kamu pecat anak saya, hah! Cuma kain lap di perusahan ini kok setinggi langit gayanya,” celetuk Sari.“Bahkan harimau hanya menatap burung pipit yang terlalu berisik karena menganggap dirinya elang.”“Saya kagum dengan pikiran Anda yang begitu murni, Bu Sari. Jauh
Rolan tersenyum kecil, dia menyandarkan punggungnya sambil menyilangkan kedua tangan di dada.‘Mira cerdas juga, dengan posisi itu … maka posisi Bayu ada di bawahnya. Dia manfaatkan posisi dia di perusahan ini, di kantorku dia cuma bantu sesekali,’ batin Rolan.Wajah Bayu tampak bimbang, benaknya dipenuhi oleh rasa enggan dan dadanya menahan amarah yang bergemuruh, Bayu akhirnya terpaksa menganggukkan kepalanya, menerima tawaran itu daripada harus menanggung malu menjadi pengangguran bertitel sarjana.“Baiklah, karena Anda setuju dengan posisi ini. Maka kami memberitahukan bahwa upah pokok yang Anda dapatkan adalah lima juta rupiah, tunjangan dan potongan pajak dan sebagainya akan muncul di bulan kedua.”“Masa percobaan adalah tiga puluh hari, akan dievaluasi kemudian untuk kontrak enam bulan selanjutnya,” terang pria kurus berkacamata.“Wawancara seleksi selesai, bawa surat rekomendasi ini ke ruang HRD,” kata pria gemuk, pamannya Leni.Dia berpikir bahwa dengan gaji lima juta rupiah
Bayu menatap Miranda dengan penuh amarah, merasa wanita itu tidak layak duduk di sana.“Kamu itu benar-benar gak tahu malu ya, Mira! Tempat ini adalah khusus terhormat, bukan pasar atau tempat babu bisa duduk seenaknya!” bentak Bayu sambil menunjuk wajah Miranda dengan map ijazah di tangannya, mengabaikan tata krama dasar seorang pelamar kerja. “Para bapak penguji yang terhormat, wanita yang duduk bersama Anda ini adalah pembantu saya yang melarikan diri dari rumah. Dia sama sekali tidak punya pendidikan tinggi, hanya lulusan SMA, dan tidak pantas berada di ruangan ini!” seru Bayu dengan wajah pongah.Mendengar makian yang keluar dari mulut Bayu, tiga orang pewawancara senior yang duduk di sisi kiri langsung mendelik ke arah Miranda.Bayu yang melihat reaksi tersebut seketika merasa di atas angin, menduga bahwa seluruh pewawancara terkejut dan merasa tertipu oleh kehadiran wanita yang dia sebut sebagai pembantu itu. Namun, pria itu terlalu buta oleh keangkuhan untuk menyadari kenyata
“Minggir, Pak, Saya tidak punya waktu untuk melayani orang asing yang menghalangi jalan saya,” sahut Miranda dengan suara yang tenang dan dingin.Tatapan mata Miranda yang semula lembut kini menjadi tajam, menatap lurus ke mata mantan suaminya tanpa ada sedikit pun rasa takut.Bayu merasakan dadanya bergemuruh hebat karena amarah, dia tidak terima melihat wanita yang biasanya lemah, selalu memohon belas kasihannya kini menatapnya dengan pandangan merendahkan seperti itu.“Jangan berlagak sombong kamu, Mira! Kamu ke sini pasti mau mengacaukan wawancara kerjaku, kan? Dasar murahan!” sergah Bayu dengan wajah penuh amarah.“Sadar diri, Mbak, blazer mewah itu nabrak banget di badan mbaknya. Itu kalo blazernya bisa ngomong, pasti udah menjerit gak mau dipake sama babu.”“Oh, mana pengawalmu kemarin? Baya berapa dia ke Mbak buat sekali celup? Jangan-jangan gratis, kan situ murahan,” ejek Leni.“Mira, biar kamu dandan, pake baju mahal, itu gak akan bisa mengubah asal-usulmu yang cuma lulusan







