LOGIN"Bughhh!"
Tasya mendorong Fanny ke dinding toilet dengan kasar. Mereka saat ini sedang ada di toilet wanita. Tasya berserta dua temannya memojokkan Fanny, Mila dan Raya. Mereka sengaja menyeret Fanny ke dalam toilet agar tidak dilihat oleh guru. "Sreeet …." "Akhhh ... Tasya, tolong lepaskan. Kepala aku sakit," pinta Fanny mencoba melepaskan rambutnya dari tangan Tasya. Tasya menjambak rambut Fanny dengan keras. Dia tidak peduli jika Fanny mengaduh kesakitan. Bahkan tangan Tasya satu lagi ikut menekan pipi Fanny dengan keras. "Dengar ya kutu buku. Awas saja kalau kamu tidak datang malam jum'at nanti. Aku pastikan, kamu bakalan lebih sengsara dari sekarang," ancam Tasya melotot tajam. Fanny tidak berani menjawab. Fanny ingin sekali memilih tidak datang. Tapi itu bukan jawaban yang bisa membuat Tasya puas. Jadi Fanny hanya bisa menangis ketakutan dan kesakitan tanpa suara. "Kamu dengar tidak!" bentak Tasya lebih keras di depan muka Fanny. "Iya … iya… aku de… de ... dengar," jawab Fanny gagap dengan suara kecil. Fanny bahkan sudah meneteskan air mata. Seluruh tubuhnya juga gemetaran. Fanny tahu jika tidak akan ada orang yang akan menolongnya. Percuma saja jika dia melawan. Melawan hanya akan membuat Tasya semakin bertindak kasar. Tasya melepaskan jambakan karena Fanny menyetujui perkataannya. Tasya puas dengan jawaban Fanny. Fanny memang hal yang mudah untuk diurus menurut Tasya. Tasya tidak lupa membersihkan tangan karena menyentuh rambut Fanny yang membuatnya jijik. "Jangan hanya dengar saja, datang juga," kata Mila menendang tong sampah di samping Fanny. Fanny terkejut dengan suara tong sampah yang menghantam dinding toilet. Sampah itu berhamburan dari tempatnya. "Awas aja kalau tidak datang," tambah Raya sambil menekan-nekan kepala Fanny dengan jari telunjuk. Fanny kembali diam menunduk. Dia tidak berani menatap mata mereka. Fanny hanya berharap jika mereka segera pergi dan meninggalkan dia sendiri. "Girls, ayo cabut," ajak Tasya. Mereka bertiga tertawa puas melihat Fanny yang sengsara. Mereka keluar dari toilet berangkulan ria. Mereka jadi lapar setelah menyiksa Fanny. Langkah mereka segera menuju ke kantin, tidak jadi ke kelas. Fanny menghapus air matanya. Sudut bibir ikut terluka karena ulah Tasya. Fanny mencoba menyentuh bibir yang terluka. Dia mendesis kesakitan saat tangannya tanpa sengaja mengenai luka. "Cekrek!" Fanny segera melihat ke sekeliling saat mendengar bunyi kamera. Di dalam kamar mandi hanya dia sendiri, tidak ada siapapun di sekitarnya. Fanny jadi parno sendiri. Belakangan ini Dia sering mendengar suara kamera di sekitarnya. Dengan buru-buru dia segera keluar dari toilet. *** "Kamu baik-baik saja Fanny?" tanya Ricko setelah melihat Fanny keluar dari kamar mandi. "Aku baik baik saja," jawab Fanny mencoba bersikap seperti biasa tanpa masalah. Fanny tidak mau jika Ricko mengkhawatirkannya. Hanya Ricko yang membuat sekolah Fanny sedikit berwarna. Ricko sering menghibur Fanny disaat dia kesulitan. Fanny tidak tahu akan jadi seperti apa jika tidak ada Ricko di sisinya. "Whosss …." Tiba-tiba Fanny merasa merinding. Dia merasakan ada aura dingin mendekati tubuhnya. Fanny mencoba mencari sumber aura tersebut tapi dia tidak merasakan ada hal yang aneh. Oleh karena dia langsung teringat kembali ucapan nek Rumbi. "Ayo kita pergi dari sini," ajak Fanny meraih tangan Ricko. Ricko mengikuti langkah Fanny dari belakang tanpa menolak gandengan tangan Fanny. Tanpa Fanny sadari, ada sebuah senyuman seringai di belakang tubuhnya. Fanny tetap berjalan lurus tanpa menoleh ke arah belakang sedikitpun. *** "Gimana? apa semuanya sudah siap?" tanya Farhan menatap pekerjaan teman-temannya. Malam ini adalah malam jum'at, malam yang mereka tunggu-tunggu. Mereka sudah tidak sabar uji nyali akan segera dilakukan. Mereka dari jam enam sore sudah ada di sekolah. Mereka ingin menyiapkan semua perlengkapan uji nyali ritual pemanggil semaksimal mungkin. Saat ini mereka sudah ada di lantai tiga. Mereka akan melakukan ritual pemanggil di ruang aula yang berada di lantai tiga. Ruangan aula sudah dikosongkan dari semua bangku-bangku dan perlengkapan lainnya. Semua barang itu ditata di sekeliling ruangan supaya tidak mengganggu kegiatan mereka. Vicky sudah membuat pola mantra dan menyusun tujuh belas lilin. Lilin-lilin tersebut melingkari pola mantra. Tujuh belas lilin menunjukkan usia korban saat kebakaran. Karena pada saat kejadian kebakaran yang meninggal rata-rata sekitar tujuh belas tahun. Mereka tidak lupa menyiapkan sebuah tiang di tengah-tengah pola mantra. Tiang tersebut berfungsi untuk mengikat Fanny. Vicky sengaja mengikat Fanny agar arwah yang memasuki tubuh Fanny nanti tidak bisa berontak dan kabur. Vicky sudah memikirkan semuanya dengan matang. "Semua perlengkapan sudah selesai. Sekarang kita hanya perlu menunggu Fanny datang sebagai tumbal atau media penyambung," ujar Vicky menepuk tangan menghilangkan debu di tangannya. "Bagus kalau begitu. Aku sudah tidak sabar lagi memulai permainan ini. Pokoknya malam ini kita bersenang-senang" kata Farhan bersemangat. "Yoi bro," jawab Coki dan Doni kompak. Tasya, Mila dan Raya hanya memperhatikan pekerjaan mereka berempat. Mereka tidak mau mengotori tangan mereka yang baru dicat. Mereka lebih memilih membicarakan hal seputar kecantikan. Apalagi tugas mereka hanya mengurus kedatangan Fanny. Bersambung ....Hal pertama yang Farhan lihat adalah kondisi Adam dengan punggung yang menyentuh lantai. Dengan kedua kaki yang berada di atas kepalanya. Ternyata Adam baik-baik saja. Hanya saja posisi dia yang sangat membingungkan. "Kamu tidak apa-apa, Adam?" tanya Farhan. "Aku baik-baik saja. Tadi aku hanya kaget," sahut Adam. Adam segera bangkit dari lantai. Dia memegang pinggangnya yang terasa sakit karena terjatuh. Punggungnya juga tidak kalah sakit terbentur keras dengan lantai. "Ahhh .… Kita ada di mana?" tanya Adam yang masih merintih kesakitan. Farhan terdiam. Dia juga bingung mereka ada di mana. Farhan mencoba melihat ke sekitar. Kemudian mata Farhan kembali terkejut dengan melihat sosok tubuh Sonya terikat di kursi yang bersimbah darah. "Sonya!" teriak Farhan. Farhan dengan sekuat tenaga menarik tangannya yang berada di balik tembok. Sehingga menyebabkan Abian, Mila dan Raya juga ikut tertarik ke dalam balik tembok. "Huwaaa …," teriak mereka bertiga kaget. Karena tiba-tiba tertari
"Salah satu dari kita pasti bukan pelakunya. Yang mengambil botol itu pasti orang lain," tebak Adam. "Terus, siapa yang mengambilnya?" tanya Abian dan Farhan. "Yang mengambil botol itu pasti pak Agus," jawab Naura tiba-tiba ikut nimbrung. Naura, Mila dan Raya tiba di depan mereka bertiga. Mereka masih setia memapah Naura berjalan. "Apa yang terjadi sama kaki kamu Naura?" tanya Abian mendekati Naura. Farhan dan Adam juga ikut mendekati mereka. Mereka membantu memapah Naura. Dari wajah Mila dan Raya, mereka terlihat sangat kelelahan. Mereka membiarkan Naura untuk duduk supaya Naura lebih nyaman. Tubuh keduanya sudah tidak kuat memapah Naura. "Yang membuat kaki aku seperti ini adalah pak Agus," sahut Naura. "Pak Agus? Tidak mungkin itu pak Agus. Pak Agus kan orang baik," bantah Adam. "Aku tidak mungkin bohong. Buat apa juga aku berbohong. Kita sedang dalam kondisi yang bisa diajak bercanda," ucap Naura berdecak kesal dikira berbohong.. Adam, Farhan dan Abian terdiam. Mereka masi
Farhan terus berjalan tanpa menoleh ke belakang. Dia berjalan menatap ke depan, kiri dan kanan. Dia dengan serius melihat sekeliling berharap tidak bertemu Fanny. "Kalian jika melihat yang lain kabarin aku ya," ujar Farhan. "...." Tidak ada satupun suara yang menjawab. Hanya ada bunyi daun yang bergesekan. "Kalian dengar aku tidak?" tanya Farhan tanpa menoleh ke belakang. "Tasya, Mila, Raya, kalau aku tanya jawab do … wah!" teriak Farhan setelah berbalik. Farhan tersandung dengan sebuah dahan pohon. Dia sampai terjatuh terduduk. Pantatnya duluan yang menghantam lantai. Sekarang pantatnya berdenyut kesakitan. "Ah, sial. Kalian kenapa …." Farhan tidak lagi melanjutkan kalimatnya. Ketika dia menoleh ke arah belakang, dia tidak melihat lagi satupun temannya. Dia tinggal sendiri. Farhan dengan cepat bangkit berdiri. Dia menepuk sekilas tangan dan bagian belakang celana yang kotor. "Tasya! Mila! Raya!" teriak Farhan menggema. "Kalian dimana? Kalian jangan menakuti aku!"
Tasya menghindar sendiri kali ini. Dia sudah bisa menguasai tubuhnya. Dengan cepat Tasya berlari ke arah seberang meja. Meja yang menjadi penghalang antara dia dan pak Agus. "Nak, jangan takut. Bapak tidak akan melukai kamu," ujar pak Agus dengan senyum ramah. Senyum itu membuat Tasya merinding disko. Seluruh bulu di tubuhnya ikut berdiri. Siapa juga yang percaya dengan perkataan pak Agus. Tidak sesuai antara perkataan sama tindakan. "Bapak gila ya! Siapa yang mau percaya sama Bapak!" teriak Tasya dengan keras. "Bapak tidak gila kok, Nak. Bapak baik-baik saja. Ayo ke sini! Temani Bapak bermain ya," ajak pak Agus dengan menggerakan tangan. "Whusss …." Tongkat kembali diayunkan. "Bapak pikir aku bodoh. Awas saja ya, Pak. Jika aku lepas dari sini, aku akan pastikan Bapak menyesal seumur hidup!" kata Tasya dengan mengancam dan menekan rasa takut. Tasya tidak akan pernah mengampuni pak Agus. Pak Agus sudah berniat melukainya. Jika dia bertemu Farhan, Tasya akan melaporkan sem
Di dalam memori, Doni melihat jika ada seorang gadis yang sangat ingin berteman dengan suatu kelompok. Tetapi kelompok itu malah mengerjai gadis itu sehingga gadis itu mendapatkan hukuman dari pihak sekolah, yaitu dikeluarkan dari sekolah. Dia meminta pertanggung jawab sama teman-temannya itu. Tapi teman-teman itu malah bilang kalau mereka hanya mengerjai dia saja. Kemudian mereka menyuruh gadis itu pergi begitu saja Gadis itu tidak mau pergi dan tetap minta pertanggung jawaban. Dia mengancam akan melapor kepada sekolah jika perbuatan yang dia lakukan itu mereka yang suruh. Kelompok itu yang tergantung dengan suaranya, mereka mengurung gadis itu di sebuah ruangan yang ada di gudang sebagai pelajaran. Mereka kembali tertawa puas saat mendengar teriakan gadis itu yang terkurung di gudang. Mereka melanjutkan kegiatan mereka sambil merokok. Tidak sengaja salah satu diantara mereka membuang puntung rokok ke sembarang arah. Puntung rokok itu mengenai kain bekas yang kering. Tanpa mereka
Coki, Doni dan Mahmud sudah menunggu terlalu lama di ruang penyimpanan. Mereka mulai bosan bersembunyi. Sejak insiden Wati tenggelam, mereka terlalu takut pergi ke tempat lain. "Apa sebaiknya kita keluar saja?" tanya Coki sangat jenuh. "Tapi bagaimana dengan keadaan di luar?" tanya Mahmud takut. "Kalau kita hanya menunggu di sini saja, kita juga belum tentu selamat," sambung Coki. "Ya, aku setuju sama Coki. Kita juga bisa mencari kawan kita yang lain. Siapa tahu kita ada kesempatan keluar dari sekolah," sahut Doni. "Lebih baik kita segera mencari yang lain daripada kita menunggu di sini tanpa kejelasan," ucap Coki setuju dengan ide Doni. Mahmud tidak punya pilihan lain dia juga ikut. Dia tidak mau jika tinggal sendiri. Terlalu menakutkan ditinggal sendiri daripada berkeliling. Mereka bertiga akhirnya memutuskan untuk mencari yang lain. Mereka keluar dari sana dengan cara menyelinap dan hati-hati. Mereka berjalan pelan-pelan supaya tidak bertemu dengan Fanny atau hantu l







