Share

Bab 6

last update Last Updated: 2025-10-17 19:16:27

Fanny dan Ricko memasuki ruang aula. Mereka melihat keadaan ruang aula yang sudah berubah. Di dalam ruang aula, mereka hanya melihat mereka bertujuh. Mereka saling pandang dengan keanehan di depan mata. Mereka jadi takut untuk masuk lebih ke dalam. Mereka memilih berdiri di depan pintu masuk.

"Syukur deh kamu sudah di sini," ujar Farhan melembut.

Farhan memberikan kode pada Tasya untuk membawa Fanny. Tasya yang mengerti kode Farhan segera mendekati Fanny dan Ricko. Sedangkan Mila dan Raya mengikuti Tasya dari belakang.

Fanny yang sudah ada firasat buruk bersembunyi di belakang Ricko. Namun langkah yang diambil Fanny lebih lambat dari Tasya. Tasya segera memegang tangan dan menyeret Fanny dari Ricko. Ricko sebagai teman Fanny ikut memegang tangan Fanny satu lagi. Ricko mencium bau yang tidak beres.

"Apa apan ini?" tanya Fanny tidak terima.

"Kamu ikut aja. Tidak usah banyak tanya," sahut Tasya menyentak tangan Fanny.

“Aaa ....” Fanny hampir saja terjatuh jika tidak dipegang sama Ricko dengan erat.

"Tasya kamu mau bawa Fanny kemana?" cegah Ricko.

Coki dan Doni tanpa disuruh segera menahan tubuh Ricko. Mereka mengapit kedua tangan Ricko di antara mereka. Mau tidak mau Ricko harus melepaskan tangan Fanny dengan terpaksa.

"Kamu di sini saja. Diam dan lihat apa yang akan kami lakukan," ujar Doni memainkan alisnya.

Ricko memberontak ingin menolong Fanny. Ricko tidak rela Fanny diseret begitu kasar. Dia ingin menyusul dan menyelamatkan Fanny.

"Bisa diam nggak sih. Atau kamu mau tangan kamu ini kami patahkan," ancam Coki saat Ricko yang tidak mau diam.

Ricko yang ketakutan memilih diam. Doni dan Coki tidak pernah bermain sama ucapan mereka. Ricko tahu batasan diri untuk melawan.

Tasya, Mila dan Raya menarik Fanny ke arah tiang yang sudah mereka siapkan. Mereka mencoba mengikat Fanny di tiang yang terus saja memberontak. Mereka sedikit kesulitan mengikat Fanny.

"Lepas, lepaskan aku. Apa mau kalian?" tanya Fanny panik terus melawan.

"Kamu diam saja. Jika kamu diam, kamu bakalan baik-baik saja," sahut Mila dengan mengikat tangan kanan Fanny.

"Tidak! aku tidak mau, lepaskan aku!" teriak Fanny tidak terima.

"Plakkk!"

Tasya menampar wajah Fanny dengan keras. Kemudian Tasya mengangkat wajah Fanny dengan tangan kirinya yang memiliki kuku panjang. Kuku Tasya kembali menancap di wajah Fanny. Fanny hanya bisa meringis kesakitan karena tubuhnya sudah selesai diikat dengan kuat oleh Raya dan Mila.

"Dengar ya culun, lebih baik kamu nurut sama kita-kita. Selama kamu menjadi anak baik, maka kami akan memperlakukanmu dengan baik juga," kata Tasya menepuk pipi Fanny dengan tangan yang satu lagi.

"Tidak! Aku tidak mau diikat di sini. Tolong lepaskan aku. Aku mau pulang saja," pinta Fanny memohon.

Farhan mendekati mereka berempat karena suara Fanny terlalu berisik. Farhan sangat terganggu dengan suara Fanny. Tasya segera menggeser satu langkah saat Farhan hampir berada di sampingnya. Dia memberikan ruang untuk Farhan. Farhan tanpa basa basi menarik rambut Fanny dengan kuat.

"Dengar ya, siapapun tidak boleh pulang malam ini sampai acaranya selesai," kata Farhan tajam dan mengintimidasi.

"Tapi, kenapa aku harus diikat begini?" tanya Fanny tidak mengerti.

Fanny sekarang sudah menangis. Dia tidak bisa membohongi firasatnya. Dia bisa merasakan hal buruk akan segera menimpanya. Fanny berharap agar Farhan mau membebaskannya.

"Kamu mau tau kenapa kamu diikat?" tanya Farhan balik dengan berbisik di telinga Fanny.

Fanny menggeleng kepala sebagai jawaban. Jika Fanny sudah tahu, mana mungkin dia berani bertanya. Dia pasti akan mencari cara agar tidak datang.

"Arggg!"

Fanny mengerang kesakitan karena Farhan semakin menarik rambutnya dengan keras. Wajah Fanny sudah menghadap langit-langit aula akibat ulah Farhan. Kemudian Farhan semakin mendekatkan bibirnya ke telinga Fanny.

"Dengar baik-baik. Malam ini, aku dan teman-teman aku ingin melakukan ritual pemanggil arwah kebakaran tiga puluh tahun yang lalu."

Fanny menggeleng ketakutan. Fanny takut terhadap hal yang berbau ghaib. Fanny sering merasakan mereka yang mendekatinya. Dia sudah cukup trauma terhadap hal tersebut. Sekarang Farhan semakin menakutinya.

"Dan tugas kamu di sini itu sebagai tumbalnya. Atau bisa dibilang, tubuh kamu nanti akan dirasuki sama arwah gentayangan itu," bisik Farhan tersenyum jahat.

Fanny semakin menangis ketakutan. Dia hanya bisa menangis tanpa bisa meminta tolong kepada siapapun. Usahanya untuk berontak tidak menghasilkan hasil sedikitpun.

Farhan melepaskan jambakan pada rambut Fanny. Farhan rasa sudah cukup memberi peringatan buat Fanny. Dia meninggalkan Fanny dan berjalan mendekati Vicky yang sudah duduk di depan Fanny yang diikat di tengah pola mantra.

"Bagaimana? Apa kamu sudah siap?" tanya Farhan.

"Semuanya sudah beres," jawab Vicky bangga.

"Tidak! Tidak! Tidak! Aku tidak mau, lepaskan aku!" teriak Fanny kembali.

Fanny mencoba menggerakkan tangan dan tubuhnya kembali secara kasar. Dia mencoba meloloskan diri. Mana mungkin dia akan tinggal diam diperalat seperti boneka.

"Mau kamu teriak sampai bisu tidak akan ada yang menolong kamu. Dan kamu juga tidak akan bisa melepaskan diri dari ikatan kami," kata Tasya memutari Fanny sekilas.

Bersambung ....

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Dendam Arwah Bully   Bab 70. Tamat

    Beberapa hari kemudian, Farhan, Abian, Doni, Coki, Raya, Mila dan Naura mengunjungi Fanny di rumah sakit. Fanny masih terbaring di rumah sakit. Sudah beberapa hari dia sama sekali belum sadarkan diri. Mereka setiap hari secara bergantian mengunjungi Fanny di rumah sakit. Tidak ada yang mengunjungi Fanny selain mereka. Pengobatan Fanny sepenuhnya ditanggung oleh keluarga Farhan. Kali ini Mila dan Raya membawa sebuah buket bunga yang sangat indah kepada Fanny. Mereka ingin ruangan rawat Fanny bisa segar. Setelah mereka tiba di kamar rawat Fanny, Mila dan Raya segera menata bunga itu di atas meja. Mereka terus menunggu Fanny sampai sadar. "Tumben kalian telat," ujar Vicky yang berada di dalam ruangan Fanny. Selama Fanny dirawat, Vicky yang menjaga dia sepenuhnya. Itu merupakan bentuk pertanggungjawaban Vicky yang telah membuat Fanny seperti itu. Orang tua Vicky sempat marah saat tahu anaknya hampir mencelakai orang. Untung saja Vicky mau melakukan apa saja agar orang tuanya memaafk

  • Dendam Arwah Bully   Bab 69. Perpisahan

    Nek Rumbi menatap ke sekeliling tempat mereka berdiri. Dia merasakan ada aura lain di sekitar mereka. Aura yang cukup lemah, seperti tanda minta pertolongan. Dia berjalan di sana dengan langkah yang tidak menentu. "Ada apa Nek?" tanya Farhan yang menyadari tingkah aneh nek Rumbi. "Di sini ada aura lain," sahut nek Rumbi tanpa melihat Farhan. "Maksud, nek Rumbi?" Nek Rumbi tidak lagi menjawab pertanyaan Farhan. Kakinya telah menginjak sebuah keramik yang kosong. Dia mengangkat kakinya dan mengetuk pada keramik itu. "Tuk … tuk … tuk …." "Ada apa Nek?" lanjut pak polisi bertanya melihat gelagat nek Rumbi. "Sepertinya itu berasal dari sini. Kalian, tolong bongkar di bawah keramik ini," suruh nek Rumbi. "Apa yang kalian tunggu. Cepat bongkar keramik ini," suruh pak polisi lagi ketika anak buahnya dan para pemadam kebakaran tidak bergerak. "Siap, Pak!" Mereka membongkar tempat yang ditunjukkan oleh nek Rumbi. Mereka segera membongkar plastik itu. Benar saja, setelah di bongkar mer

  • Dendam Arwah Bully   Bab 68. Keberadaan Laras dan Pak Agus.

    "Jadi pak Agus ini benar-benar sudah meninggal?" tanya pak polisi supaya bisa membuat laporan baru. "Iya, dia sudah meninggal. Saya sudah tiga puluh tahun bertemu dengan dia di sekitar sekolah. Hal itu bertepatan dengan dia menghilang. Kemungkinan mayatnya tidak ditemukan oleh siapapun." "Jadi tubuhnya juga masih ada di sekolah," gumam pak polisi mendengar perkataan nek Rumbi. "Tapi kenapa kami bisa melihatnya di siang hari, nek. Sedangkan Vicky tidak pernah melihatnya sama sekali?" ucap Farhan. "Itu karena jiwanya yang sangat kuat. Dia bisa menunjukkan wujudnya kepada siapapun. Mungkin dia tidak mau menampakan diri di depan Vicky karena Vicky bisa mengetahui jati dirinya. Maka nya, dia hanya menampakan diri pada kalian. Jika dia bertemu dengan saya, dia juga akan langsung menghilang," jawab nek Rumbi. "Jadi apa dia masih berada di sekolah, nek?" tanya Vicky. "Saya juga tidak tahu lebih tepatnya. Tapi kemarin saya hanya melihat Laras saja yang kabur." "Nek Rumbi yakin?" "Say

  • Dendam Arwah Bully   Bab 67. Identitas Psikopat

    "Tunggu! Sepertinya ada yang kurang," ucap Coki merasa ada yang ganjil. "Apanya yang kurang?" tanya Doni. "Entahlah, aku juga tidak tahu. Sepertinya ada yang kurang saja," sahut Coki. "Kamu jangan menambah masalah," kata Farhan tidak suka. "Aku tidak bohong. Kita seperti melupakan sesuatu!" teriak Coki tidak terima. "Apa yang kalian ributkan?" tanya nek Rumbi bangkit dari tempat duduknya. "Tidak tahu tuh, Nek. Coki hanya bicara ngawur," sahut Doni. "Aku tidak berbicara dengan ngawur. Kalian saja yang yang tidak percaya sama aku," bantah Coki. "Sudah kamu diam saja. Jangan banyak omong lagi," ucap Doni mengapit leher Coki dengan kedua tangannya. "Apa yang kamu lakukan. Lepas Doni. Ini sakit," teriak Coki memukul lengan Doni. "Kamu memang tidak bisa diam ya," gumam Doni menggoyangkan leher Coki tanpa melepaskan tangannya. "Lepas! Kamu itu seperti psikopat tahu," teriak Coki kewalahan melawan Doni. Seketika Doni berhenti menggoyangkan leher Coki. Tidak hanya Doni, Farhan

  • Dendam Arwah Bully   Bab 66. Kata-kata Terakhir

    Riska masuk ke dalam gudang. Hatinya sangat tidak karuan. Dia menyerahkan gadis kecil itu kepada pak Yanto. Mereka semua ikut masuk ke dalam gudang. Langkah Riska semakin pelan melihat kondisi suami yang terus membujuk Laras. Dengan tubuh yang terluka parah. Air matanya mengalir tanpa bisa ditahan. Dia semakin mempercepat langkah ingin menolong pak Bayu. Abian yang melihat sang ibu mendekati sang ayah langsung mencegahnya. Dia menahan ibunya agar tidak menghampiri ayahnya yang sedang membujuk Laras. "Ibu jangan mendekati bapak dulu," larang Abian. "Tapi bapakmu, Nak. Ibu mau menolong Bapak. Apa kamu tidak lihat bapak terluka sangat parah," jawab Riska memohon. "Abian tahu Bu. Abian juga tahu kondisi bapak sekarang. Tapi kita tetap tidak boleh mendekat. Bapak sedang membujuk Laras. Laras sudah mulai tenang. Jika ibu mendekat sekarang, usaha bapak bisa gagal, Bu," pinta Abian dengan berat. "Kenapa harus bapak yang melakukannya," ucapan Riska dengan tangisan yang sudah pecah. "Itu

  • Dendam Arwah Bully   Bab 65. Janji 2

    "Berani-beraninya kamu ingin menjebakku. Kamu memang pria brengsek," umpat Laras. "Laras, cukup Laras," ucap pak Bayu lemah. Suara pak Bayu terdengar cukup keras ke telinga Laras. Laras menatap ke arah pak Bayu, satu-satunya lelaki yang tidak pernah menyakitinya selama dia sekolah. "Bayu," ucap Laras lemah melihat pak Bayu yang terluka. Laras tidak menyadari kedatangan pak Bayu karena dia kesakitan akibat kalung yang dipakai paksa oleh pak Putra. Matanya iba melihat kayu yang ada di perut pak Bayu. "Tolong hentikan Laras," mohon pak Bayu. "Aku tidak akan pernah berhenti. Aku akan membunuh mereka semua. Mereka semua harus mati." Pak Bayu mengambil kalung yang jatuh di dekat kaki pak Putra. Pak Putra masih terkejut dengan kemunculan pak Bayu dan keadaan pak Bayu. Pak Bayu sempat melihat reaksi kalung itu. Dia sudah tahu jika itu adalah kelemahan Laras. "Laras cukup." "Aku tidak akan pernah berhenti. Kamu jangan menghalangi aku," ucap Laras marah. "Laras, kamu pernah berjan

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status