LOGINFanny adalah gadis cupu yang tidak pandai bersosialisasi menjadi korban bullying di sekolah. Suatu malam, Fanny dijadikan tumbal ritual pemanggil arwah oleh Farhan, sang penguasa sekolah sekaligus anak kepala sekolah. Namun, sayangnya ritual pemanggil itu berujung pada kegagalan. Tubuh Fanny yang menjadi sasaran tumbal pun akhirnya dikuasai oleh arwah yang memiliki dendam atas kematiannya. Tidak sampai disitu saja, ternyata arwah tersebut menggunakan tubuh Fanny untuk membantu gadis itu membalas bullyan teman-temannya. Satu per satu siswa yang terjebak di dalam lingkaran teror dan banyak yang menuju ke ambang kematian. Jika satu-satunya jalan untuk hidup adalah bertahan hingga matahari terbit, bisakah mereka menghadapinya? Saat hidup di ambang kematian, apa yang bisa mereka lakukan?
View MoreBeberapa hari kemudian, Farhan, Abian, Doni, Coki, Raya, Mila dan Naura mengunjungi Fanny di rumah sakit. Fanny masih terbaring di rumah sakit. Sudah beberapa hari dia sama sekali belum sadarkan diri. Mereka setiap hari secara bergantian mengunjungi Fanny di rumah sakit. Tidak ada yang mengunjungi Fanny selain mereka. Pengobatan Fanny sepenuhnya ditanggung oleh keluarga Farhan. Kali ini Mila dan Raya membawa sebuah buket bunga yang sangat indah kepada Fanny. Mereka ingin ruangan rawat Fanny bisa segar. Setelah mereka tiba di kamar rawat Fanny, Mila dan Raya segera menata bunga itu di atas meja. Mereka terus menunggu Fanny sampai sadar. "Tumben kalian telat," ujar Vicky yang berada di dalam ruangan Fanny. Selama Fanny dirawat, Vicky yang menjaga dia sepenuhnya. Itu merupakan bentuk pertanggungjawaban Vicky yang telah membuat Fanny seperti itu. Orang tua Vicky sempat marah saat tahu anaknya hampir mencelakai orang. Untung saja Vicky mau melakukan apa saja agar orang tuanya memaafk
Nek Rumbi menatap ke sekeliling tempat mereka berdiri. Dia merasakan ada aura lain di sekitar mereka. Aura yang cukup lemah, seperti tanda minta pertolongan. Dia berjalan di sana dengan langkah yang tidak menentu. "Ada apa Nek?" tanya Farhan yang menyadari tingkah aneh nek Rumbi. "Di sini ada aura lain," sahut nek Rumbi tanpa melihat Farhan. "Maksud, nek Rumbi?" Nek Rumbi tidak lagi menjawab pertanyaan Farhan. Kakinya telah menginjak sebuah keramik yang kosong. Dia mengangkat kakinya dan mengetuk pada keramik itu. "Tuk … tuk … tuk …." "Ada apa Nek?" lanjut pak polisi bertanya melihat gelagat nek Rumbi. "Sepertinya itu berasal dari sini. Kalian, tolong bongkar di bawah keramik ini," suruh nek Rumbi. "Apa yang kalian tunggu. Cepat bongkar keramik ini," suruh pak polisi lagi ketika anak buahnya dan para pemadam kebakaran tidak bergerak. "Siap, Pak!" Mereka membongkar tempat yang ditunjukkan oleh nek Rumbi. Mereka segera membongkar plastik itu. Benar saja, setelah di bongkar mer
"Jadi pak Agus ini benar-benar sudah meninggal?" tanya pak polisi supaya bisa membuat laporan baru. "Iya, dia sudah meninggal. Saya sudah tiga puluh tahun bertemu dengan dia di sekitar sekolah. Hal itu bertepatan dengan dia menghilang. Kemungkinan mayatnya tidak ditemukan oleh siapapun." "Jadi tubuhnya juga masih ada di sekolah," gumam pak polisi mendengar perkataan nek Rumbi. "Tapi kenapa kami bisa melihatnya di siang hari, nek. Sedangkan Vicky tidak pernah melihatnya sama sekali?" ucap Farhan. "Itu karena jiwanya yang sangat kuat. Dia bisa menunjukkan wujudnya kepada siapapun. Mungkin dia tidak mau menampakan diri di depan Vicky karena Vicky bisa mengetahui jati dirinya. Maka nya, dia hanya menampakan diri pada kalian. Jika dia bertemu dengan saya, dia juga akan langsung menghilang," jawab nek Rumbi. "Jadi apa dia masih berada di sekolah, nek?" tanya Vicky. "Saya juga tidak tahu lebih tepatnya. Tapi kemarin saya hanya melihat Laras saja yang kabur." "Nek Rumbi yakin?" "Say
"Tunggu! Sepertinya ada yang kurang," ucap Coki merasa ada yang ganjil. "Apanya yang kurang?" tanya Doni. "Entahlah, aku juga tidak tahu. Sepertinya ada yang kurang saja," sahut Coki. "Kamu jangan menambah masalah," kata Farhan tidak suka. "Aku tidak bohong. Kita seperti melupakan sesuatu!" teriak Coki tidak terima. "Apa yang kalian ributkan?" tanya nek Rumbi bangkit dari tempat duduknya. "Tidak tahu tuh, Nek. Coki hanya bicara ngawur," sahut Doni. "Aku tidak berbicara dengan ngawur. Kalian saja yang yang tidak percaya sama aku," bantah Coki. "Sudah kamu diam saja. Jangan banyak omong lagi," ucap Doni mengapit leher Coki dengan kedua tangannya. "Apa yang kamu lakukan. Lepas Doni. Ini sakit," teriak Coki memukul lengan Doni. "Kamu memang tidak bisa diam ya," gumam Doni menggoyangkan leher Coki tanpa melepaskan tangannya. "Lepas! Kamu itu seperti psikopat tahu," teriak Coki kewalahan melawan Doni. Seketika Doni berhenti menggoyangkan leher Coki. Tidak hanya Doni, Farhan
Riska masuk ke dalam gudang. Hatinya sangat tidak karuan. Dia menyerahkan gadis kecil itu kepada pak Yanto. Mereka semua ikut masuk ke dalam gudang. Langkah Riska semakin pelan melihat kondisi suami yang terus membujuk Laras. Dengan tubuh yang terluka parah. Air matanya mengalir tanpa bisa ditahan.
"Berani-beraninya kamu ingin menjebakku. Kamu memang pria brengsek," umpat Laras. "Laras, cukup Laras," ucap pak Bayu lemah. Suara pak Bayu terdengar cukup keras ke telinga Laras. Laras menatap ke arah pak Bayu, satu-satunya lelaki yang tidak pernah menyakitinya selama dia sekolah. "Bayu," uca
Kembali ke beberapa menit yang lalu, di lokasi pak Bayu dan yang lainnya yang sedang mogok. Mereka saat ini berada di tengah jalan. Tidak ada satupun mobil yang lewat karena jam sudah menunjukkan pukul satu dini hari. "Bagaimana dengan mobilnya?" tanya pak Bayu menghampiri Coki dan Doni yang seda
Setelah perubahan selesai, Laras menggerakkan tangannya untuk melemparkan sebuah kotak sampah yang ada di sekitarnya ke arah Farhan, Abian dan Vicky. Mereka bertiga dengan reflek menghindar dengan Vicky menimpa tubuh Abian. Vicky tersandung sama kakinya sendiri. Sedangkan Farhan melompat ke arah s
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.