MasukJ'ai fixé du regard le contrat de mariage Vercetti que mon père avait poussé vers moi sur la table. Sans hésiter, j'ai inscrit le nom de ma demi-sœur, Demi, et je l'ai repoussé vers lui. Mon père s'est figé. Puis ses yeux se sont illuminés d'une excitation ridicule, comme s'il venait de gagner au loto. « Comment as-tu pu laisser ta sœur bénéficier d'une telle opportunité ? » Dans ma vie antérieure, mon mariage était une plaisanterie pour tout mon entourage. J'étais la petite sorcière aux cheveux roux et indomptable qui osait entrer dans l'orbite de Cassian Vercetti, l'héritier et chef de la famille criminelle Vercetti. Je n'ai jamais été parfaite ni obéissante. Il aimait les robes de déesse. Je portais des minijupes et dansais sur les tables. Il exigeait une intimité missionnaire, traditionnelle et ordonnée. Je voulais grimper sur lui, le chevaucher, me perdre complètement. Lors d'un gala, les femmes de la haute société se sont moquées de mes cheveux, de ma robe, de ma « sauvagerie ». Je pensais qu'il ferait au moins semblant de me défendre. Il ne l'a pas fait. « Pardonnez-lui. Elle n'est pas... correctement dressée. » Dressée. Il parlait de moi comme si j'étais un chien. J'ai passé toute ma vie à étouffer sous ses règles, à me plier de force pour m'adapter à ce qu'il voulait, jusqu'à la nuit où notre maison a pris feu. Quand j'ai rouvert les yeux, j'étais revenue au moment où j'avais appris le mariage arrangé. J'ai regardé le contrat devant moi. Cette fois-ci ? Je pensais que les garçons de la boîte de nuit me convenaient mieux. Mais dès que Cassian a réalisé que la mariée n'était pas moi, il a brisé toutes les règles qu'il avait toujours suivies.
Lihat lebih banyakSeorang gadis mengenakan piyama bergambar Keropi melayangkan pandangan pada sosok di hadapannya. Bintang Arganta Yudha, laki-laki berusia 32 tahun, tepatnya tiga belas tahun lebih tua dari sang gadis duduk terpekur dengan ekspresi wajah seperti biasanya, datar, tenang, dan misterius.
Gadis tomboy, tapi tetap cantik dengan rambut panjangnya bernama Chandragitha Nara menggenggam secarik kertas. Ini adalah malam pertamanya di Purwokerto, kota kelahiran laki-laki yang baru kemarin resmi menjadi suaminya sekaligus tempatnya menimba ilmu di bangku universitas. Tentu atmosfer terasa sedemikian aneh dan asing untuknya. Kemarin dia memang sudah tidur sekamar dengan suaminya. Tapi dalam rumah itu masih ada orang tua dan kerabatnya. Dan statusnya masih "perawan" karena laki-laki yang biasa dipanggil Argan belum menjamahnya. Nara berharap laki-laki itu tak akan pernah menyentuhnya. Lidahnya serasa kelu. Namun, dia sudah yakin untuk membacakan poin-poin yang harus dipatuhi Argan selama mereka menikah. Nara terpaksa mengiyakan perjodohan orang tua masing-masing setelah dia terganjal kasus hukum dan terancam kehilangan segalanya. Gadis bengal itu digiring ke kantor polisi karena kedapatan bergabung dalam pesta narkoba di salah satu night club. Nara bukan pemakai, apalagi pengedar, tapi keberadaannya di situ memaksanya untuk ikut diamankan. Dari hasil pemeriksaan urine, hasilnya negatif. Tentu saja, karena ia tak pernah mengonsumsi narkoba. Namun, seperti pepatah bahwa seseorang dinilai dari siapa sahabatnya, nama baik gadis itu ikut tercoreng. Orang tua sang gadis merasa kecolongan. Dia percaya anak gadis mereka bisa menjaga diri. Kendati berat hati melepas putri bungsunya kuliah di perantauan, tapi mereka tak bisa menahan langkah sang putri yang akan berjuang meraih masa depan. Kepercayaan mereka justru dikhianati. Ayah dan ibu Nara marah besar. Dia bersyukur memiliki sahabat lama yang tengah mencari istri untuk anaknya yang berstatus duda dengan satu anak laki-laki berusia delapan tahun. Istri sang duda meninggal dunia tiga tahun yang lalu. Yang membuat semua terasa seperti kebetulan yang manis adalah sang duda bekerja sebagai dosen di universitas tempat Nara kuliah, hanya saja mereka beda fakultas. Berharap anak gadis ada yang menjaga dengan baik selama kuliah di Purwokerto, maka orang tua sang gadis mengusulkan pada sahabat lama mereka untuk menjodohkan anak-anak mereka. Gayung bersambut. Sahabat lama mereka bersedia melamar Nara untuk putra sulungnya. Orang tua sang gadis bersyukur dan lega karena sang anak mendapatkan seorang suami yang religius dan insya Allah bisa membimbingnya dengan baik. Mereka sudah lelah menyaksikan gaya hidup anak gadisnya yang cenderung liar, suka clubbing, dan seenaknya. Nara tak bisa menolak karena ia tak mau mengecewakan orang tuanya kedua kali, begitu juga dengan Argan yang tak bisa menolak permintaan orang tuanya. Ia memang sempat berpikir, Nara terlalu muda untuknya. Namun, ia berharap Nara bisa mengisi kekosongan hati Sakha akan kerinduan pada sosok ibu. Ibunya meninggal saat Sakha berusia lima tahun. Meski anak itu lebih pantas dikatakan sebagai adik Nara, dibanding anak tirinya. Nara mengembuskan napas pelan. "Pak, saya akan membacakan poin-poin yang harus Bapak patuhi." Argan terdiam. Ia mendengar ucapan gadis yang di matanya seperti anak kecil itu dengan seksama. Sungguh ia tak menyangka, saat ini gadis yang berusia tiga belas tahun lebih muda darinya telah sah menjadi istrinya. "Poin pertama, jangan sentuh saya sebelum saya wisuda. Saya tidak mau hamil sebelum lulus." Laki-laki gagah dan berwibawa itu cukup tersentak mendengar penuturan istrinya. Nara melirik suaminya sepintas. Ia akui ketampanan wajah Argan begitu menawan. Namun, ia tak mau terpikat. Seleranya bukan laki-laki yang jauh lebih tua darinya, meski dia tampak baby face sekalipun. "Poin kedua, jangan menganggap pernikahan ini nyata. Jangan menganggap saya sebagai istri, sebenar-benarnya istri. Saya pun tak akan menganggap Bapak sebagai suami. Poin ketiga, jangan membebani saya dengan pekerjaan rumah tangga, saya tak suka." Nara menghela napas sejenak. "Poin keempat, Bapak bebas berpacaran dengan wanita lain yang Bapak cintai dan saya juga berhak jatuh cinta pada laki-laki lain, yang lebih muda dari Bapak tentunya. Poin kelima, Bapak jangan melarang saya bergaul dengan teman-teman dan beraktivitas di luar rumah, saya juga nggak akan melarang Bapak. Poin keenam, izinkan saya untuk menjadi diri saya sendiri. Poin ketujuh, kita akan tidur seranjang, tapi tolong jangan macam-macam sama saya." Nara menghela napas. Ada rasa lega yang seolah menjalar ke seluruh bagian tubuhnya. Argan membisu, tak merespons apapun. Bisa saja ia mentahkan semua yang disebutkan Nara. Saat ini Nara sudah sah menjadi istrinya. Ada serangkaian kewajiban dan hak sebagai istri yang harus ia jalankan. Namun, Argan cukup memahami. Nara hanyalah gadis 19 tahun yang masih labil. Ia bisa membaca kondisi psikis Nara tengah berantakan, hancur lebur tak berbentuk. Siapa pun akan tertekan dengan pernikahan yang tak diinginkan. Dia bisa melihat gadis itu begitu tertekan di balik pembawaannya yang terkesan sangar dan kuat. Ia putuskan untuk membiarkan Nara berbuat seenaknya mengaturnya. Paling tidak sampai kondisi psikisnya membaik. "Boleh aku meminta sesuatu juga darimu?" Argan menatap wajah polos dan cute Nara begitu menelisik. Nara sedikit salah tingkah. Ia berharap Argan tak meminta sesuatu yang aneh darinya, apalagi meminta haknya. Nara sama sekali belum siap dan mungkin tak akan siap sampai beberapa tahun ke depan. "Boleh, asal jangan macam-macam," tukas Nara. "Aku nggak minta banyak. Cukup sayangi anakku. Minimal bacakan cerita sebelum dia tidur dan kecup keningnya. Itu saja." Argan menatapnya datar. Ia beranjak dan melangkah menuju kamar. Nara tercenung. Ia tidak begitu menyukai anak kecil. Dan sekarang ia harus terbiasa dengan kehadiran Sakha dalam kehidupannya. Nara beranjak dan berjalan menuju kamar Sakha. Nara membuka sedikit pintu kamar dan melirik sang anak yang sudah terpejam. Nara memasuki kamar Sakha yang bernuansa serba biru. Ia menutupkan selimut ke tubuh Sakha dan mengecup kening anak itu. Sakha di matanya adalah sosok anak pendiam dan tertutup. Saat pernikahan kemarin, ia terlihat datar dan lebih banyak menghampiri neneknya. Nara menduga, jauh di lubuk hati Sakha, ia tak pernah menyetujui pernikahan ayahnya dan dirinya. Nara melirik selembar kertas yang tergeletak di meja belajar Sakha. Nara memerhatikan baik-baik gambar yang tercetak di kertas itu. Ada laki-laki dewasa, perempuan dewasa, dan seorang anak laki-laki di tengah-tengah. Di bawah gambar masing-masing karakter ada tulisan yang menunjukkan siapa saja orang yang ada dalam gambar. Ayah-Sakha- Ibu. Nara juga membaca satu kalimat berbunyi 'I miss you Ibu...' Mendadak Nara tercekat. Seorang ibu tak akan pernah tergantikan di hati sang anak. Dengan hanya membaca sebaris kalimat itu, Nara bisa merasakan kerinduan Sakha yang menggila akan sosok ibunya. Hatinya bergerimis. Belum reda kesedihannya karena pernikahan yang tak diharapkan ini, muncul kesedihan lain karena sang anak yang begitu merindukan sosok ibunya dan belum bisa menerimanya sebagai bagian dari keluarganya.La fumée s'est répandue dans la nuit lorsque Lorenzo s'est avancé avec un cigare à moitié consumé pendu à ses lèvres. Il a sifflé doucement, amusé. « Bien, bien, voilà que je fais du vrai travail de mafieux maintenant. »Cassian a sorti son arme, la pointant directement sur Lorenzo. « Tu oses t'approcher d'elle sans ma permission ? »Je me suis immédiatement placée devant Lorenzo pour le protéger. « Si tu m'as jamais aimée, laisse-moi partir avec lui ! »Cassian s'est figé, l'incrédulité et le désespoir s'entremêlant dans son regard.« Tu me défies toujours, Aria. » a-t-il murmuré.C'était drôle, autrefois, il m'avait arrachée à ce club comme un trophée, et maintenant, il regardait un autre homme faire la même chose.« Oui. » ai-je répondu d'une voix ferme. « Nous sommes comme le feu et la glace, Cassian, deux mondes qui ne peuvent jamais se rencontrer. »« Ton refus de vérifier les images de vidéosurveillance, de confirmer quoi que ce soit avec moi... m'obligeant à présenter mes
Cassian a tendu la main et m'a attrapée.Sa voix était basse, rauque, tremblante d'un désespoir qu'il ne pouvait plus cacher.« Aria, viens vivre avec moi. Je te promets qu'il n'y aura plus de règles, plus de restrictions, plus d'obligation d'aller te confesser. Je ne te ferai plus de mal. Je vais changer. Je peux tout changer. »J'ai retiré ma main, calme comme une eau tranquille.« Cassian, tes promesses n'ont jamais rien valu. »Il a serré les mâchoires et m'a de nouveau saisi le poignet.« Aria. Ne fais pas ça. »À ce moment-là, une autre main a agrippé ma taille.Il m'a tirée contre sa poitrine, la voix nonchalante, pleine de moquerie.« Vercetti, n'étais-tu pas celui qui prônait toujours la maîtrise de soi ? La conduite d'un gentleman ? Poser les mains sur une dame comme ça... ce n'est pas très élégant, n'est-ce pas ? »Cassian s'est figé.Il a regardé fixement la main de Lorenzo sur ma taille.La façon dont je m'appuyais naturellement contre lui.La façon dont mon corps s'ajusta
Après le festival de musique, je me suis rendue au casino.La nuit s'étendait comme de l'encre sur le ciel, et le casino brillait d'un éclat doré, formant un labyrinthe tissé d'argent, de désir et d'ambition. Les dés s'entrechoquaient, l'air autour des tables de blackjack aspirait des bouffées d'air comme s'il pouvait avaler des âmes, et le choc des jetons résonnait comme un faible tambour de la mort omniprésent.À une énorme table de baccarat, la foule se pressait plus que partout ailleurs.Je portais une robe de velours noir, fendue jusqu'à la taille, les lumières traçant chaque courbe, attirant les regards comme des papillons de nuit vers la flamme.Encore une partie de cartes. J'ai posé mon menton sur ma paume, tapotant paresseusement la table de mes doigts, à moitié endormie, ne prenant même pas la peine de jeter un coup d'œil aux cartes inférieures.Le croupier a dégluti, la voix tremblante : « Le joueur gagne. »Une montagne de jetons a été poussée vers moi.Des murmures ont par
Cassian ne s'est même pas donné la peine de prendre un manteau.Il a dévalé l'escalier en marbre, les mâchoires serrées, les yeux rougis par une nuit blanche. Sa voiture l'attendait déjà dehors, prête à l'emmener directement à l'aérodrome privé de Vercetti.Il s'est glissé rapidement sur la banquette arrière, et juste au moment où la voiture allait démarrer, Demi s'est jetée devant elle, les mains plaquées contre le capot, le mascara coulant sur ses joues.« Don, s'il te plaît ! » a-t-elle sangloté, la voix brisée. « J'ai attendu pendant des jours. Arrête... arrête de faire du mal à la famille Vale. Ne nous punis plus... »La vitre s'est baissée.Demi a retenu son souffle, l'espoir renaissant pour la première fois depuis des jours.« Don », a-t-elle murmuré, esquissant un sourire tremblant, « tu as finalement changé d'avis, n'est-ce pas ? Je peux parler à ma sœur. Je peux la ramener à... »Il ne l'a même pas regardée.Sa voix était comme une lame traînant lentement sur de l'acier.« Va
À demi inconsciente, je me suis sentie soulevée dans les bras de Cassian.« Pose-moi par terre. » Ma voix était faible, mais ferme.Le ton de Cassian ne laissait place à aucune discussion. « Ne fais pas la difficile. »Il ne m'a pas laissé le temps de résister et m'a simplement poussée dans la voitu
C'était Demi.Ses joues étaient encore rouges après avoir dansé, mais ses yeux... brillaient de la satisfaction suffisante d'une vainqueuse.« Tu te caches ici parce que tu as été blessée dans tes sentiments, ma sœur ? »Elle ne prenait même pas la peine de masquer la jubilation dans sa voix.« Soyo
Les yeux de Cassian étaient remplis de déception.« Vous êtes toutes les deux des filles de la famille Vale, et tu n'arrives toujours pas à apprendre la discipline et les bonnes manières que ta sœur possède ? »Il a poussé un soupir lent et épuisé.« Laisse tomber. Je ne t'en tiendrai pas rigueur po
Mon père m'a regardée écrire le nom de Demi Vale sur le contrat de mariage.Il s'est figé pendant une demi-seconde, puis m'a arraché les papiers des mains et les a pliés délicatement, comme s'il craignait que je change d'avis.« Depuis mon enfance jusqu'à aujourd'hui, tu as dépensé cinq millions pou












Bienvenue dans Goodnovel monde de fiction. Si vous aimez ce roman, ou si vous êtes un idéaliste espérant explorer un monde parfait, et que vous souhaitez également devenir un auteur de roman original en ligne pour augmenter vos revenus, vous pouvez rejoindre notre famille pour lire ou créer différents types de livres, tels que le roman d'amour, la lecture épique, le roman de loup-garou, le roman fantastique, le roman historique et ainsi de suite. Si vous êtes un lecteur, vous pouvez choisir des romans de haute qualité ici. Si vous êtes un auteur, vous pouvez obtenir plus d'inspiration des autres pour créer des œuvres plus brillantes. De plus, vos œuvres sur notre plateforme attireront plus d'attention et gagneront plus d'adimiration des lecteurs.