INICIAR SESIÓN— Killian, te amo. — Lo sé. — Sabes lo que quiero oír... — Duerme, Amara. Aquella noche, incluso sin escuchar un “yo también te amo”, Amara Castellari aún lo tenía todo: riqueza, familia, amor… Creía firmemente que su padre, acusado de fraude comercial, era inocente y que todos superarían aquella crisis para avanzar hacia un futuro más brillante. Pero en el tribunal, el testimonio de su marido, Killian Navarro, lo destruyó todo: — Testifico que el señor Samuel Castellari participó en actividades ilegales de fraude. Su padre fue encarcelado, su madre huyó, sus bienes fueron confiscados y su matrimonio fue anulado por la fuerza… Después de todo, su riqueza siempre fue de él. Después de todo, su familia era culpable: su padre había destruido la empresa del abuelo de Killian con métodos despreciables. Después de todo, su amor no era más que un espejismo; su marido nunca la amó. En un abrir y cerrar de ojos, cayó del paraíso al infierno. La vida de lujo fue reemplazada por deudas, un apartamento húmedo y dos trabajos agotadores. Aun así, incluso en el infierno, se negó a rendirse. Pero el infierno no era el final de su caída: Estaba embarazada… y él estaba comprometido con una heredera multimillonaria. Cuando Killian descubre el embarazo, impone un contrato frío: ella tendrá al hijo, y él pagará por ello. Sin romance. Sin reconciliación. Solo posesión. Ahora, atrapada en una mansión dorada, Amara se ha convertido en la amante secreta de su exmarido. Pero los secretos, como los amores mal enterrados, siempre salen a la luz. Y cuando eso ocurra… nadie saldrá ileso.
Ver más"Capek, selalu itu alasan kamu! lihat! tak ada satu sudut pun yang bersih dari kotoran!" em*siku benar-benar tersulut. Berharap pulang cepat bisa istirahat, nyatanya rumah kotor, mainan berserakan seperti kapal pecah. Anak-anak ribut sahut sahutan. Tak ada kedamaian. Sementara, Tari, istriku enak-enakan tidur sambil meny*sui Abrar, anak kami yang bungsu. Dan beralasan badan tak enak, capek, lelah dan entah apalagi, membuatku muak.
"Aku sudah merapikan rumah, Mas. Tapi, berantakan lagi,"ujarnya beralasan. "Maaf ya, Mas. Aku akan segera merapikannya. Kamu tunggu disini, aku juga akan segera buatkan teh manis hangat, ya. Tolong pegang Abrar sebentar." Tari menyerahkan bayi mungil kami dan segera berlalu. Daster kusam dan wajah tak terawat yang menjadi ciri khas perempuan itu pun menghilang dalam pandangan.
Aku berdecak kesal. Namun, tak bisa menolak. Rasa haus dan pusing sudah menyatu. Kalau tidak segera dituntaskan, emosiku bisa makin membara.
Tak lama terdengar suara Tari memerintah dua anak kami masuk ke kamar mandi. Tadi, dua bocah laki-laki itu main kotor kotoran di depan rumah. Teras yang berkeramik putih penuh noda tanah yang mereka aduk dengan air lalu menjadikan arena bermain mobil-mobilan. Kotor sekali.
Abrar tidur pulas dalam dekapanku. Dengan sangat hati-hati aku meletakkan di atas kasur.
"Ammar! itu mainan Abang!" pekikan Alif membuat Abrar terkejut dan kembali menangis. Aku menghela nafas panjang. Dan kembali mengendongnya agar diam.
"Alif, Ammar, jangan main air, Sayang. Hayuk, biar Mama mandikan." suara lembut Tari membuat tawa dua anak laki-laki itu makin riuh.
"Abang, nanti kita main lagi, ya," seru Ammar diantara suara gemericik air.
"Udah ya, Sayang. Papa sudah pulang. Mainnya besok lagi. Mama mau membersihkan rumah, sementara kalian masuk kamar, main gambar gambaran dulu, ya," lembut suara Tari.
"Ga mau, Ma. Ammar mau main mobil mobilan lagi. Besok Abang kan sekolah, Ammar ga bisa main!"
"Setelah Abang pulang sekolah, Ammar bisa main lagi,oke?" Kali ini Tari terdengar lebih tegas.
Akhirnya perdebatan mereka selesai seiring dua anak Laki-laki keluar dari kamar mandi menggunakan handuk.
"Alif bantu Ammar memakai baju, ya." seru Tari yang kembali ke dapur. Sangat riweuh sekali di rumah ini. Belum juga Tari memberikan segelas teh hangat untukku. Ammar yang berusia tiga tahun menaburkan bedak bayi sepanjang lantai diruang tengah. Mengabaikan teriakanku yang berusaha menghentikan.
"Cukup! Alif, Ammar masuk kamar!" suaraku naik beberapa oktaf. Alif yang sedang memegang mainan terdiam. Begitu juga dengan Ammar. Dengan kepala tertunduk berjalan ke arah kamarnya. Tari tergopoh-gopoh datang dari dapur dengan segelas teh ditangan.
"Alif, Ammar, masuk kamar nanti Mama bantu, ya." Suara Tari terdengar bergetar. Dengan tergesa pintu kamar anak-anak dia tutup dan berjalan ke arahku.
"Mas, tolong ya, Mas. Kalau kamu berharap rumah ini menjadi syurga ternyaman, jangan percikan api dalam ingatan anak-anakku. Aku tak ikhlas kamu membentak mereka. Aku yang mengandung dan aku juga yang melahirkan!" Seru Tari setelah menaruh teh yang dia buat di atas meja. Dengan kasar perempuan itu meraih Abrar dari tanganku. Aku terdiam. Tak menyangka Tari akan semarah itu.
"Aku capek, Dek!" Selaku tak terima. Tari menoleh, tatapannya begitu tajam.
"Kamu kira aku ga capek? Tolong ingat, aku di rumah bukan sebagai ratu, tapi ..." kalimat Tari menggantung. Perempuan itu kemudian meninggalkanku tanpa melanjutkan ucapannya. Aneh.
Sejak kejadian itu, Tari tak menghiraukanku. Meski, dia tetap memenuhi semua kebutuhan suaminya ini, begitu juga saat makan. Dia hanya sibuk dengan Alif dan Ammar yang tak henti-hentinya membuat ulah malam itu. Berlama lama seperti ini tak nyaman juga.
"Dek, Mas minta maaf," lirihku sambil memijat kaki Tari yang sudah terlebih dulu merebahkan diri di sampingku.
"Sayang, Maafkan, Mas. Mas, janji akan lebih mengendalikan diri, dan menahan emosi," ujarku lagi.
Tubuh Tari menggeliat, lalu berbalik mengarah padaku.
"Kamu boleh marah padaku, Mas. Tapi, jangan pernah membentak anak-anak. Aku tak ridho!"ketusnya.
"Iya, Mas janji akan berubah." Aku men g*cup punggung tangan Tari. Wajah juteknya mulai melunak, seiring senyum yang terukir di bibirnya.
***
Keesokan harinya, pagi pagi sekali aku sudah berangkat ke kantor. Anak-anak masih di kamar. Sehingga, hanya Abrar yang sempat aku cium sebelum berangkat.
"Mas, aku boleh ga, ambil pembantu?" Lirih Tari tampak ragu-ragu.
Aku menghela nafas panjang. Sayang banget uang yang aku kumpulkan susah payah hanya untuk membayar pembantu. Kalau semua pekerjaan dikerjakan oleh orang lain, Tari keenakan dong ga ngapa-ngapain.
"Sabar dulu, ya, Dek. Mas akan usahakan,"sahutku. Hanya alasan untuk menyelamatkan diri sesaat.
Tari mengangguk lalu tersenyum. "Maafkan aku, Mas. Bukannya aku tak menerima semua pekerjaan yang menjadi tanggung jawabku. Tapi, aku juga ingin sekedar memiliki waktu untuk diriku sendiri."
Aku melirik jam tangan. Masih setengah enam, sebenarnya masih ada waktu untuk bicara. Tapi, aku malas mendengar keluhan Tari yang setiap hari selalu sama. Dan berakhir dengan meminta seorang ART yang akan membantunya.
"Dek, aku sudah telat. Nanti kita bicarakan lagi, ya." Tanpa menunggu jawaban Tari, aku segera berlalu menaiki motor dan pergi. Bisa-bisa pagiku mendadak ambyar jika mendengar semua keluhannya.
***
Hari ini aku sengaja pulang telat. Berharap anak-anak sudah rapi dan menunggu waktu untuk tidur saja. Suasana sudah mulai gelap. Dari kejauhan rumahku sudah terlihat terang dengan nyala lampu. Aku memarkirkan motor di teras seperti biasa. Tak lama pintu terbuka.
"Eh, Nak Arsen sudah pulang." Aku sedikit tersentak melihat perempuan yang membukakan pintu, bukan istriku.
"Tari sedang mandi." ujarnya lagi seakan paham apa yang aku pikirkan. Lalu berjalan mendahului.
"Seharusnya kalian ini punya pembantu. Memiliki tiga anak lelaki yang sedang butuh perhatian dari ibunya itu tak gampang. Apalagi, semua pekerjaan di rumah ini, Tari sendiri yang mengerjakan. Setidaknya, ada tukang masak atau tukang cuci yang sedikit meringankan beban Tari. Walau tidak menginap, itu sudah cukup membantunya."
Degh.
Baru pulang kerja aku sudah diceramahi
begini. Pasti Tari mengadu yang tidak tidak. Awas kamu, Tari.
POV AmaraLa madrugada aún no había terminado cuando desperté. En realidad… ni siquiera había dormido. Mi cuerpo estaba demasiado caliente, mi mente demasiado ruidosa, mi piel todavía ardiendo donde habían pasado sus manos.Estaba acostada al lado de Killian.El hombre que destruyó a mi familia. El hombre que me arruinó. El hombre cuyo nombre todavía resonaba entre mis labios unas horas atrás… mientras yo temblaba atrapada entre sus brazos.Aquella habitación parecía más pequeña, sofocante, como si las paredes supieran lo que habíamos hecho y nos estuvieran juzgando.Lo primero que sentí fue su olor en mi piel. Lo segundo fue su brazo pesado alrededor de mi cintura, como si mi cuerpo perteneciera al suyo, como si aquella noche no hubiera sido un error colosal, sino una vieja costumbre volviendo a la vida.Tragué saliva. Despacio, milímetro a milímetro, me deslicé fuera de su contacto.El cuerpo de Killian se movió inmediatamente. El brazo que antes me sujetaba cayó sobre el colchón, l
POV AmaraNo hubo ni un segundo de vacilación.En cuanto la cerradura encajó, sus manos volvieron a mi rostro y su boca encontró la mía con una furia que me dejó sin aliento. Era un beso de posesión, de hambre acumulada, de años de distancia y secretos reduciéndose a polvo. Le respondí de la misma manera, hundiendo las manos en su cabello mojado, atrayéndolo más hacia mí, queriendo borrar cualquier centímetro que nos separara.Él gimió bajo, un sonido gutural que vibró contra mis labios y descendió directamente hasta mi centro, ya caliente y palpitante. Sus manos bajaron de mi rostro, rozando el lateral de mi cuello, sobre mis hombros, hasta los tirantes de mi camisón. Con un tirón brusco, me lo quitó y la tela cayó a mis pies en un susurro húmedo.El aire frío de la habitación golpeó mi piel desnuda, pero fue rápidamente sustituido por el calor abrasador de su cuerpo. Apoyó la frente contra la mía, jadeante, con los ojos ardiendo en la penumbra mientras me miraba.— Por el resto de m
POV AmaraSu boca todavía está caliente sobre la mía. Su respiración todavía está atrapada en mi piel. Su tacto todavía está donde no debería estar. Y por eso me levanto tan rápido. Casi tropiezo. Casi tiro la silla. Casi… vuelvo a sus brazos.Pero me doy la vuelta y camino hacia la puerta del área exterior, como si el suelo estuviera ardiendo. Como si yo estuviera ardiendo. Y lo estoy.Me paso una mano por el rostro, desesperada.— Esto no puede pasar… — me susurro a mí misma.O creo que es para mí. Porque cuando me giro, él viene detrás. Mojado. Respirando con fuerza. Determinado. Killian siempre viene detrás cuando no debería.— Amara. — su voz es una advertencia. — Para.— No. — digo, entrando en la casa. — No hagas esto.Él me sigue. Siempre me sigue. A cada paso, siento el peso de lo que acaba de pasar aplastándome. El suelo frío de la sala, el silencio de la mansión... todo parece rodearnos.Subo el primer escalón de la escalera. Él sube justo detrás.— No sirve de nada negarlo
POV KillianElla dice que yo lo controlo todo. Dice que lo invado todo. Dice que decidí su destino hace años. Y cada una de sus palabras es un corte. Merecido. Cruel. Verdadero.Cuando termina, solo queda la noche entera entre nosotros. Pesada. Densa. Cortante. Podría reaccionar con rabia. Con orgullo. Con frialdad.Pero cuando la miro… veo a la mujer que un día dormía con la cabeza sobre mi pecho. A la mujer a la que casi amé, pero no pude. A la mujer que está llevando a mi hijo en su vientre.Intento continuar con voz firme:— Amara… no tienes que hacerlo todo sola.Pero ella retrocede, cansada, exhausta, dejando de luchar solo porque ya no tiene fuerzas.— Yo solo quería… un segundo para respirar. Solo eso.Y mientras habla… su vientre se mueve. No es sutil. No es suave. Es fuerte. Visible.Una patada. Una patada de mi hijo. El aire desaparece de mi pecho.— Oye… — digo, casi sin voz.Ella lleva la mano hasta su vientre, sorprendida, como si fuera la primera vez. Pero no lo es. E


















Bienvenido a Goodnovel mundo de ficción. Si te gusta esta novela, o eres un idealista con la esperanza de explorar un mundo perfecto y convertirte en un autor de novelas originales en online para aumentar los ingresos, puedes unirte a nuestra familia para leer o crear varios tipos de libros, como la novela romántica, la novela épica, la novela de hombres lobo, la novela de fantasía, la novela de historia , etc. Si eres un lector, puedes selecionar las novelas de alta calidad aquí. Si eres un autor, puedes insipirarte para crear obras más brillantes, además, tus obras en nuestra plataforma llamarán más la atención y ganarán más los lectores.