INICIAR SESIÓNDetective Casie Blackwood thought she'd left her supernatural past behind when she joined the police force ten years ago, fleeing the shame of public mate rejection and family abandonment. Now, ritualistic murders are forcing her back into a world she desperately wanted to forget. Three human victims have been discovered with surgical precision wounds and ancient symbols carved into their palms—markings that point to forbidden blood magic from before the supernatural communities established peaceful coexistence. When Casie finds a note written in the old pack language reading "The Hunt Begins," she realizes someone is deliberately targeting humans to harvest their primal fear, threatening to expose the entire supernatural world. Partnered with Detective Rick O'Connor, who remains unaware of her true nature, Casie must navigate the investigation while concealing her enhanced senses and knowledge of the supernatural. The wounds aren't from blades—they're fang marks. The positioning isn't random—it's ritualistic. And the killer's scent carries a terror that suggests they're being hunted by something even more dangerous. Forced to break ten years of silence, Casie contacts her estranged brother Elias, learning the symbols are ancient binding marks used to channel supernatural energy across factional boundaries. The killer needs seven sacrifices total to complete a ritual that will shatter the barriers between the human and supernatural worlds. With three victims already claimed and only four days until the next lunar cycle, time is running out. As federal agents circle and media attention intensifies, Casie must choose between maintaining her carefully constructed human life and embracing the supernatural heritage she rejected. The investigation isn't just about stopping a killer—it's about preventing an all-out war that could destroy both worlds she's sworn to protect.
Ver másSuara gemercik air mengalun indah di telinga. Menggetarkan hati yang merindukan ketenangan jiwa. Aroma air hujan juga ikut menyapa. Membuat mata indah itu akhirnya terbuka. Lengkap dengan senyuman manis di muka.
Shana menyukai ketenangan. Dia juga menyukai aroma hujan. Di saat seperti ini dia bisa bekerja dengan nyaman. Namun sayang, seseorang tiba-tiba datang menghancurkan. "Sayang?" sapa seorang pria yang datang dengan napas terengah. Shana hanya meliriknya sekilas. Dia membenarkan letak kacamatanya dan kembali fokus pada laptop yang menyala. Pemandangan yang jauh lebih menarik. "Aku minta maaf." Lagi. Entah sudah berapa kali Shana mendengar kalimat itu keluar dari mulut kekasihnya. Sudah berkali-kali juga dia memaafkannya. Namun untuk kali ini, jangan harap ia akan diam saja. Gadis itu tidak akan memberikan maafnya secara cuma-cuma. "Jangan diemin aku, dong." Pria itu mulai memohon. "Alasan kamu telat kali ini apa lagi?" tanya Shana tanpa menatap pria di hadapannya. "Aku habis meeting sama produser," jelas Dito. Shana mengalihkan pandangannya dari laptop. Dia menatap kekasihnya dengan lekat. Mencoba menemukan celah kebohongan. Namun hanya wajah sedih yang ia tangkap. Bukannya kasihan, Shana malah mendengkus keras. Sepertinya Dito juga cocok menjadi seorang aktor. "Tanpa Kiki?" Shana menaikkan sebelah alisnya. Perubahan raut wajah Dito membuktikan kebohongannya. Shana tersenyum masam. "Asisten kamu itu di rumah, lagi maraton nonton N*****x. Dan setau aku, kamu juga belum ada proyek film baru." "Maaf." Kalimat itu lagi. "Sayang, maaf kalau aku bohong." Dito terlihat frustrasi. "Oke, aku jujur. Aku habis dari rumah Jodi tadi. Dia galau habis diputusin Tesa." "Terus, kalau yang semalam nggak dateng alasannya apa?" "Ah, untuk semalam!" Dito teringat dan mengeluarkan sesuatu dari tas yang ia bawa. Sebuah kotak berwarna merah yang indah. "Selamat ulang tahun, Sayang." Shana menerima kotak itu tanpa ekspresi. Tidak ada rasa senang di hatinya saat menerima hadiah dari kekasihnya. Jujur, Shana tidak berharap apa-apa lagi dari Dito. Pria itu sudah terlalu banyak mengecewakannya. "Kamu tau aku nggak butuh hadiah, Dito." Dito menarik tangan Shana dan menggenggamnya erat. "Aku tau, Sayang. Aku benar-benar minta maaf nggak bisa dateng semalam." "Karena Jodi lagi?" Dito meringis, "Ya, dia mabuk dan bikin ulah. Aku harus jemput dia." "Aku masak makanan kesukaan kamu semalam." Shana meletakkan hadiah pemberian Dito. Tidak berniat untuk membukanya. "Dan aku harus buang semuanya." "Sayang—" "Kemarin hari ulang tahun aku, Dito. Bisa-bisanya kamu nggak ada di samping aku?" Dito menunduk dalam, tak lupa dengan wajah sedihnya. Sekali lagi, Shana tidak akan tertipu lagi. Kesabarannya sudah benar-benar habis. Semalam adalah momen penting dalam hidupnya. Dia berulang tahun yang ke-26. Bukan pesta besar karena Shana hanya mengundang Kakaknya dan Dito untuk makan malam di apartemennya. Namun pria yang seharusnya ada di momen penting itu mendadak hilang tanpa kabar. Shana harus menahan malu di depan Erina, Kakaknya. Sampai sekarang pun Shana masih kesal dibuatnya. "Bisa kamu maafin aku? Aku nggak mau kita bertengkar, Shana." "Kamu yang mulai." Shana mendengkus. "Aku sudah minta maaf." Dito masih menggenggam tangan Shana. "Hari ini aku free. Kamu mau apa? Belanja?" "Aku mau kamu pergi." Shana menarik tangannya cepat. "Sayang, jangan gini, dong." "Aku lagi nggak mau ngapa-ngapain, Dito. Aku masih kesel sama kamu. Mending kamu pergi. Aku harus lanjut nulis lagi." Dito menarik napas dalam dan menghembuskannya kasar. "Oke, aku pergi." Dito mengangkat tangannya pasrah. "Telepon aku kalau kamu sudah nggak marah." Shana menatap kepergian Dito dengan datar. Setelah pria itu pergi, dia kembali mendapatkan ketenangan. Entah kenapa melihat Dito hanya membuatnya kesal. Pria itu sudah banyak melakukan kesalahan yang membuat Shana mulai muak. "Mbak Shana, kopinya, Mbak." Shana tersenyum tipis. "Kok lama, Yu?" Ayu, salah satu karyawan di kafe itu meringis. "Takut ganggu Mbak Shana sama Mas Dito. Kayaknya lagi tegang." Shana tersenyum tipis. "Biasa lah." "Oh, iya." Ayu mengeluarkan sesuatu dari kantong apron-nya. "Selamat ulang tahun, Mbak." Berbeda saat bersama Dito tadi, Shana menerima kado Ayu dengan senyuman manis. "Makasih, Yu. Kok repot-repot, sih?" "Nggak repot sama sekali, Mbak." "Aku buka, boleh?" tanya Shana. Mendapat izin dari Ayu, akhirnya Shana membuka kado itu. Matanya membulat melihat earbuds yang Ayu beri. "Yu, ini kan mahal?" Shana merasa tidak enak. "Nggak ada apa-apanya sama kebaikan Mbak Shana selama ini. Lagian ini yang versi murah." Ayu tertawa. "Suaranya jernih, kok. Aku sendiri juga pake. Mbak Shana harus mengikuti perkembangan teknologi. Jangan pake yang kabel terus." Shana tertawa dan mengangguk mantap. "Makasih, ya. Pasti aku pake." "Biar Mbak Shana juga bisa konsentrasi nulis kalau lagi rame. Atau bisa dipake pas Mas Dito lagi mohon-mohon minta maaf kayak tadi." Celetukan Ayu kembali membuat Shana tertawa. "Sekali lagi, makasih, ya." "Sama-sama, Mbak. Kalau gitu aku kerja lagi." Begitu Ayu pergi, Shana tidak bisa kembali fokus pada laptopnya. Sekarang berganti Bagas, manager kafe yang menghampirinya. "Gimana, Mbak? Mau diganti susunya?" tanya Bagas. Shana menepuk keningnya pelan. "Gue lupa tanya." Bagas berdecak. "Stok tinggal sedikit, loh, Mbak. Udah harus pesen lagi. Mau pake yang lama atau baru? Salesnya udah tanyain terus." "Nanti gue tanyain Mbak Erina dulu." "Pake yang baru aja, Mbak. Harganya oke, tuh." Shana menggeleng. "Rasa juga penting, Gas." "Ya udah, nanti tanyain Chef Erina. Jangan sampe lupa." Shana mengangguk. Meskipun dia adalah pemilik kafe, tetapi dia tidak begitu paham dengan pemilihan produk untuk makanan. Oleh, karena itu dia harus bertanya pada Erina, Kakaknya yang merupakan seorang koki. Begitu Bagas pergi, Shana benar-benar bebas. Dia kembali fokus pada laptopnya dan mulai berkonsentrasi. Butuh beberapa menit untuknya mengembalikan suasana hati. Beruntung Shana bisa melakukannya. Jika tidak bisa, dapat dipastikan dia tidak akan menghasilkan apa-apa hari ini. Menjadi penulis memang terdengar mudah, tetapi percaya lah. Masalah utamanya adalah pada diri sendiri. Jika keadaan diri sendiri tidak baik, maka jangan harap tulisan yang dihasilkan akan menarik. "Breaking News." "Pemirsa, baru saja kami menerima informasi dari lapangan bahwa Haryadi Atmadjiwo, Hakim yang menangani kasus Korupsi Proyek Benasaka terlibat kecelakaan beruntun. Kecelakaan tersebut menewaskan dirinya, beserta supir pribadinya. Hingga saat ini, informasi yang kami dapat korban meninggal dunia sebanyak dua orang dan delapan orang lainnya mengalami luka-luka. Para korban akan—" Gerakan jari tangan Shana di atas laptop terhenti. Dengan cepat dia menatap televisi yang tersedia di ruang kerjanya. Berita kecelakaan itu membuatnya seketika terdiam. Rasa terkejut itu membuatnya tak bisa berkata-kata. "Haryadi," gumam Shana. "Dia meninggal," lanjutnya dengan tangan bergetar. *** Semua tampak tergesa. Akibat dari berita menggemparkan yang ada. Sesak di dada semakin terasa. Ketika rasa bersalah mulai menerpa. Langkah kaki Ndaru tampak begitu lebar. Sesekali dia melirik jam tangan untuk memastikan. Gilang, asisten pribadinya berkata jika pesawat pribadi telah tiba. Bertujuan untuk membawanya ke Ibu kota. Seharusnya pesawat itu datang untuk mengantar Arya menemuinya. Namun siapa sangka justru Ndaru yang harus datang ke pemakamannya. Haryadi Djanu Atmadjiwo, hakim yang dikenal publik karena banyak menangani kasus besar itu adalah kakaknya. Ia meninggal saat perjalanan ke bandara. Yang ingin menemuinya karena masalah yang tak seberapa. Ndaru benar-benar menyesal. Namun dalam keadaan seperti ini dia tidak bisa tumbang. Meski matanya memerah karena tangisan, dia harus tetap tegar. Beruntung kacamata hitam berhasil menutupi semuanya. "Pak Ndaru?" panggil Gilang. "Sudah siap semuanya?" "Sudah, Pak. Tapi kita harus lewat pintu lain. Wartawan lokal sudah ramai ingin meliput Bapak." "Kalau gitu kita lewat pintu lain." "Ikuti saya, Pak." Gilang pun berjalan lebih dulu, ditemani dua petugas bandara yang mengantarnya. Tidak sulit untuknya mendapatkan keistimewaan. Hanya dengan menyebut nama Handaru Gama Atmadjiwo maka semua akan tersedia dalam sekali jentikan. Begitu berhasil masuk ke dalam pesawat, Ndaru melepas kacamatanya. Tangan kanannya bergerak untuk memijat keningnya serta tangan kiri yang melepas dua kancing teratas kemejanya. Rasanya begitu sesak. Membuatnya tak kuasa kembali meneteskan air mata. "Pak Ndaru bisa istirahat selama perjalanan," ucap Gilang. "Bagaimana saya bisa istirahat, Lang? Kakak saya meninggal." Ndaru menarik napas dalam. "Dan itu karena saya." "Bukan salah Bapak." Ndaru memilih untuk menyandarkan kepalanya. Dia merasakan pesawat sudah mulai terbang. Matanya terpejam erat untuk mengenyahkan rasa pusing yang melayang. Jujur, sudah hampir dua hari dia tidak memejamkan mata. "Gimana Mas Juna nanti?" Seketika Ndaru teringat dengan anaknya yang terbaring di rumah sakit. "Setelah diperbolehkan pulang, Mas Juna akan menyusul Bapak ke Jakarta bersama Suster Nur." "Pastikan semua aman, Lang. Saya nggak mau mereka dikejar wartawan juga." "Pasti, Pak." Gilang bergerak memberikan selimut. "Sekarang Pak Ndaru istirahat. Jangan sampai Bapak tumbang di pemakaman Pak Arya." *** Malam ini, suasana hati Shana terlihat baik. Dia seolah lupa dengan kekesalannya pada Dito siang tadi. Bahkan dia tidak mengingat nama pria itu sama sekali. Sambil bersenandung, Shana masih berkutat di dapur. Dia menganggukkan kepala mengikuti irama musik yang keluar dari earbuds yang ia pakai. Ternyata kado pemberian Ayu sangat berguna. Bahkan Shana sudah mulai menikmatinya. Tepukan pada bahu mengejutkan Shana. Dia berbalik dan menghela napas lega. Ternyata Erina yang berada di belakangnya. "Lo ngapain di rumah gue?" tanya Erina bingung. Gadis itu baru saja pulang dari syuting menjadi juri di salah satu acara memasak. Lalu ia menemukan adiknya membuat kekacauan di dapur rumahnya. Shana melepas earbuds-nya dan tersenyum manis. "Gue lagi nyoba resep baru." Mata Erina menyipit. "Tumben." Shana berjalan ke meja makan yang sudah tersedia beberapa masakan. "Gue masakin makan malem. Lo pasti capek." Keanehan Shana semakin membuat Erina curiga. Dia masih mengingat jelas wajah adiknya yang tertekuk karena ulah kekasih bodohnya semalam. Namun lihat sekarang, wajahnya tampak berseri-seri. "Ada sesuatu?" tanya Erina masih ingin mengulik. "Lo nggak liat berita, Mbak?" "Berita?" "Haryadi meninggal." Erina sekarang paham. Dia menatap adiknya dengan satu tangan yang bertumpu pada pinggang. "Lo nggak lagi ngerayain kematiannya Haryadi, kan?" Shana mengedikkan bahunya pelan. "Emang nggak boleh, ya?" "Oke, kita rayain malem ini." Lalu yang terjadi dua gadis itu terlihat seperti psikopat sekarang. Yang berbahagia di atas duka seseorang. *** TBC"Compromised but operational," Casie answered before Rick could speak, leaning toward the phone. "The First Luna... intervened. Where are you?""Half a mile east of our separation point." Nathaniel's voice was tight, controlled, but Casie could feel his tension through their bond. "The constructs disengaged suddenly. Now I know why.""Valeria?" Rick asked, his free hand unconsciously moving to his weapon.A beat of silence stretched through the connection. "Taken. I tracked them for a quarter mile before they used some kind of portal. Magic signature was Order-specific."Casie's stomach clenched. "Are you injured?""Nothing significant." Through their bond, she felt the lie, not serious injuries, perhaps, but Nathaniel was hurting, the psychic backlash from engaging the constructs having taken its toll."We know where the ritual will take place," Rick said, his tactical mind already moving forward. "St. Augustine's Cathedral in the warehouse district.""Makes sense," Nathaniel replied
Casie nodded, already mentally cataloguing what they knew and what remained unknown. "Number of participants, security measures, ritual timeline..."A sharp crack from outside cut her off. Both of them froze, weapons instantly in hand. The sound hadn't been loud, perhaps a branch breaking under weight, but in the quiet ravine, it registered like a gunshot.Rick moved silently to the window, positioning himself to see out while remaining concealed. Casie covered the door, her breathing slowing as combat training took over. Through their bond, they coordinated without words, establishing complementary fields of fire and observation.Long seconds ticked by. The cabin's rustic interior seemed to hold its breath, dust motes suspended in the pale light filtering through grimy windows.The window to Casie's left shattered in a spray of glass. She dropped low, weapon steady despite the sudden surge of adrenaline. Rick was already moving, positioning himself against the wall adjacent to the br
The ravine widened slightly, the walls less steep as they continued downstream. Casie felt a tug through the bond. Nathaniel was extending himself, pushing his diversion further east to draw the creatures away. The distance made the sensation fainter, but she could still feel his determined focus, his calculated risk-taking."How much farther to the cabin?" she asked, scanning the ridge above them."Half mile, maybe less." Rick pointed ahead where the ravine curved sharply. "Just beyond that bend."The Tear warmed against her skin, not as a warning but as an acknowledgment. Casie took it as a positive sign, though she remained alert, her senses stretched to their limits as they moved forward."If we go after Seraphina," Rick continued, his voice low, "we need a plan for the constructs. Silver worked, but Nathaniel took psychic damage from direct contact.""The mountain ash might help," Casie suggested, then felt a pang of worry for Valeria, who now carried their only supply. "But we'l
The plan crystallized in Casie's mind. The Tear's warmth reinforced her instinctive opposition to separation, but tactically, the strategy made sense. By dividing, they could split the pursuers' focus, potentially creating an opening."Five minutes head start, then we'll draw them east," Nathaniel said, his gaze meeting Casie's with an intensity that made her breath catch despite the danger. Through their bond, she felt his absolute determination, his unwavering focus on her safety."Be careful," she managed, the inadequacy of the words burning in her throat.Rick's hand pressed against the small of her back, urging her toward the ravine path. "We need to move," he murmured, his voice low and urgent.Casie hesitated, torn between tactical necessity and the visceral wrongness of separation. The Tear pulsed against her skin, its rhythm like a warning."Valeria, take this," she said suddenly, pulling the leather pouch of mountain ash from her pocket. "If they get too close, create a barr
"Like the kids from Safe Harbor," Rick added grimly."Precisely. Though I doubt he realized the danger he was putting them in by documenting their trades."Nath
Casie felt unease ripple through both her mates. Ancient magic adapting to unprecedented circumstances was never a good sign."What exactly are they preparing for?" she asked, gesturing for Valeria to join them at the t
Maya's smile was tentative but genuine. "Your family really won't mind us staying there?""Trust me," Casie replied, thinking of her parents' reaction to suddenly acquiring supernatural refugees, "they'll be deli
Valeria's eyes fixed on Casie with uncomfortable intensity. "Because she believes the Luna's bloodline should have died out generations ago. The Blackwoods were meant to be eliminated during the last Convergence, a task she personally oversaw












Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.