MasukBinar masih duduk di pangkuan Bhaga ketika pesawat mencapai ketinggian tiga puluh ribu kaki. Mesin berdengung stabil di luar, kabin gelap dengan lampu baca yang redup, dan tirai kecil di jendela setengah tertutup. Di balik pintu kokpit yang terkunci dan deretan kursi kosong di depan mereka, dunia terasa sunyi sekali. Bhaga tidak buru-buru. Jari-jarinya masih di pinggang Binar, mengusap pelan lewat kain blus tipis, naik turun merasakan kelembutan yang dirindukannya selama sepuluh hari belakangan dan itu membuat tubuhnya perlahan bergairah. Hidungnya sesekali mengendus tengkuk Binar, menikmati aroma yang membuatnya candu, sehingga napasnya terasa hangat di belakang telinga Binar.Pinggul dan tubuh Binar meliuk pelan, napasnya mengembus berat dan dia mendesis. Satu tangannya berusaha mendorong pelan dada Bhaga, menolak tapi tanpa keteguhan.“Tenang,” bisik Bhaga. “Tidak usah takut. Tidak ada yang melihat.”Binar menelan ludah. Jantungnya berdegup lebih cepat, kerinduannya membuncah, dan
Kabin pesawat itu kecil, tapi terasa luas karena sepi. Hanya ada empat kursi penumpang di bagian depan dan dua kabin tidur kecil di belakang yang dipisahkan tirai tebal. Lantai karpet abu-abu lembut menyerap suara langkah, dan lampu-lampu di langit-langit disetel temaram, menciptakan suasana yang nyaris seperti ruang tamu pribadi di atas awan.Di luar jendela bundar, langit biru terbentang luas, dengan sesekali gumpalan awan putih yang melintas di bawah sayap. Begitu pesawat lepas landas dan tanda sabuk pengaman dipadamkan, Ardan langsung menarik tangan Binar menuju kabin belakang. Jari-jari mungilnya menggenggam erat jari Binar, seperti takut jika dia melepas, Binar akan pergi lagi. Dalam dua puluh menit pertama setelah take-off, Ardan tidak berhenti mengoceh dengan tempo cepat yang membuat Binar kesulitan menyerap tiap kata. Kata-katanya keluar seperti air dari keran yang tidak bisa ditutup dan melompat dari satu topik ke topik lain tanpa jeda, tanpa urutan yang jelas. "Terus wa
Bibir Binar mencebik seperti anak kecil. Matanya berkaca, wajahnya memerah menahan emosi yang campur aduk. Dia masih terdiam di ambang pintu mobil, mengerjab tak percaya dengan apa yang terlihat di depan matanya.Di sana. Seseorang yang tak pernah dia sangka akan bertemu, berdiri dengan senyuman lebar dan wajah semringah. Berdiri merentangkan tangan sambil terus memanggil namanya, tapi kaki Binar terasa lunglai hingga tak mampu untuk melangkah mendekat, justru hampir jatuh andai dia tak berpegangan pada pintu mobil.“Binar, kamu tak apa-apa?”Pertanyaan itu keluar dengan penuh kekuatiran, tapi bukan pemilik suara yang kini berlari mendekat. Justru pria kecil dengan ransel dinosaurus yang bergerak memantul di punggungnya, sedang berlari dan menerjang Binar ke dalam pelukan. “Bunda.”Satu tangan Binar menangkap tubuh kecil kesayangannya itu dan tangan lainnya berpegangan pada pintu mobil karena limbung ketika dipeluk erat oleh Ardan dalam keadaan belum siap.Anak itu memeluk erat. Kedu
Mobil berjalan cukup kencang, meninggalkan area kampung kelahiran Binar. Beberapa kali dia menoleh ke jendela belakang, berharap ada yang mengejarnya atau apalah. Tapi tak ada sama sekali, ibunya tadi bahkan tak terlihat kuatir atau menangis meneriakkan namanya.Dia menghela napas kasar, mengangkat tangannya yang masih memegang plastik berisi bawang merah. Dengan muka tertekuk, dia mendesah berat dan mengambil tangan pria di sampingnya lalu menyerahkan plastik bawang itu dengan kasar.Pria itu hanya melirik, membuka jendela lalu melemparkan bawang itu keluar begitu saja.“Itu aku beli pakai uang ya, malah dibuang.” Dumal Binar, walau sebenarnya dia tak peduli.Binar duduk kaku di jok tengah, terapit dua pria yang badannya kaku tegap. Udara dingin dari AC mobil menusuk kulit, berbaur dengan aroma pengharum mobil setelah tak ada lagi aroma bawang. Di depan, ada sopir dan seorang pria lagi yang hanya diam menatap lurus ke jalan.Dia sebenarnya agak bingung, karena pria-pria itu tak meluk
Di kantor, Bhaga menghela napas lelah. Maryam baru saja melaporkan apa yang terjadi di rumahnya dan dia tak ingin memikirkan hal itu.Dia justru langsung meraih ponsel dan menekan nomor Binar. Jari-jarinya bergerak cepat, tak sabar ingin segera mendengar suara Binar. Begitu panggilan tersambung, dia tidak menunggu lama. Tidak ada basa-basi atau salam."Sayang?""Iya. Kamu apa kabar? Ardan gimana? Udah berangkat sekolah?" Suara Binar langsung terdengar cemas di ujung telepon."Baik. Aku dan Ardan baik, dan dia udah berangkat tadi.""Kalian ... masih marah ya sama aku?" Suara Binar memelan, terdengar sedih dan berat."Sepertinya Ardan masih belum terima," jawab Bhaga pendek. Dia memijat pangkal hidungnya. "Dia masih diam. Jarang bicara dan belum mau membahas soal kamu."Di seberang sana, Binar tidak menjawab. Bhaga hanya mendengar hembusan napasnya dan isak kecil. Sepertinya Binar sedang berusaha keras untuk tidak menangis."Maafin aku ya ..." akhirnya Binar bicara, tangisnya pecah di u
Celia kembali berkeliling, menyisir setiap sudut rumah dengan ketenangan yang mengerikan. Langkahnya teratur, matanya awas mencari setiap jejak keberadaan perempuan itu. Dalam hatinya dia terus mengumpat, ternyata Binar sudah menguasai semua sudut rumah itu bahkan sampai ke hati penghuninya.“Perempuan sialan.”Tangannya mengambil pigura di ruang makan. Di sana ada Binar dan Ardan sedang memasak bersama, Ardan memakai celemek yang terlalu besar dengan noda tepung di hidungnya. Detik berikutnya, turun dari dinding dan masuk tempat sampah.Selanjutnya, pigura di lorong bawah. Foto keluarga yang tampak formal, Bhaga, Binar, dan Ardan berpose di depan rumah ini, Ardan berdiri di tengah sambil menggandeng tangan keduanya. Bernasib sama, dilempar masuk tempat sampah.Kemudian, foto kecil di rak buku. Dengan pigura sederhana yang memperlihatkan Binar sendirian. Kelihatannya foto itu diambil oleh Ardan karena sudutnya miring ke bawah, menangkap senyum tulus Binar dari mata seorang anak kecil.







