Chapter: 373. Isi Hati ArdanGudang penyimpanan padi itu jarang sekali disambangi orang setelah musim panen usai. Dinding kayunya lembap, atap sengnya menyimpan hawa panas yang bercampur dengan bau gabah, karung beras, dan terpal biru yang sudah bertahun-tahun dipakai menutup tumpukan padi.Bu Marni mendorong pintunya sambil mengomel pelan. Sejak tadi dia mencari kain lap yang tak pernah lepas dari badannya, tapi seharian ini tak ditemukan dimana-mana hingga dia ingat kalau meninggalkan di gudang saat membersihkan terakhir kali.Namun, baru dua langkah masuk, dia mengernyit. Kakinya berhenti dan matanya memicing memastikan.Di sela-sela karung beras, ada tubuh kecil yang meringkuk memeluk kedua lututnya. Tas bergambar dinosaurus tergeletak begitu saja tak jauh dari kakinya.Bajunya kini penuh bercak tanah. Kaus kakinya sudah turun sebelah. Betis mungilnya dipenuhi bentol merah bekas gigitan nyamuk."Ya Allah ..." Bu Marni spontan menutup mulut saat mengenali bocah itu. "Ardan?"Anak itu mengangkat wajah perlahan.
Last Updated: 2026-07-14
Chapter: 372. Ardan Kabur"Kalau nanti Papa sama Bunda Binar punya bayi, Ardan sama siapa?"Pertanyaan polos itu membuat dua ibu yang sedang menyiapkan bunga melati saling berpandangan."Ya tetap sama Papa dan Bunda," jawab salah seorang tetangga sambil tersenyum."Nanti kalau sudah punya adik, Ardan harus jadi kakak yang baik.""Iya, harus mengalah sama adik."Ardan yang sejak tadi berdiri sambil memeluk dinosaurus kesayangannya hanya mengangguk pelan. Wajah cerianya perlahan berubah muram. Dia melangkah menjauh tanpa disadari siapa pun.Kalimat-kalimat itu terus berputar di kepalanya. Harus mengalah ... punya adik ... jadi kakak.Sesampainya di kamar, Ardan menutup pintu perlahan. Dia duduk di tepi ranjang sambil menerawang jauh, mengingat kembali kebersamaan mereka selama ini.Jari kecilnya meremas kaki dinosaurus, sambil membayangkan bila dirinya sudah punya adik. “Papa dan Bunda nanti sibuk sama adik,” gumamnya.Bibir mungilnya bergetar. "Aku akan sendirian."Detik berikutnya, dia meloncat turun dari ranj
Last Updated: 2026-07-13
Chapter: 371. Kebaya Atau GaunSuara Nuri memenuhi ruang tamu. Tangannya memegang selembar kain batik sogan yang baru saja dibentangkan di atas meja. “Kebaya memang tetap nomor satu.”Nurma tidak mau kalah. Dia menggeser sebuah buku katalog berisi rancangan gaun pengantin dari desainer ternama. "Kalau resepsi malam, gaun lebih elegan tidak ada tandingannya."Nuri menggeleng pelan. "Pengantin Jawa ya tetap kebaya. Kebaya pengantin juga paling bagus tiada tara.""Resepsinya modern, Bu Nuri.""Tapi akadnya itu mengikuti adat, Bu Nurma""Resepsinya itu konsepnya pesta malam."Binar yang duduk di tengah hanya mampu mengembuskan napas. Sejak matahari terbit dia sudah diminta berganti-ganti busana. Mulai dari kebaya beludru, kebaya kutu baru, gaun putih, sampai gaun berhiaskan payet yang berkilau.Dan meski berapa hari lalu sudah ada kesepakatan antar mereka, tapi perdebatan tak pernah benar-benar berhenti."Mi..."Nurma langsung menoleh. "Iya?""Aku pusing."Nuri tersenyum iba. "Istirahat dulu, Nduk."Belum sempat Binar
Last Updated: 2026-07-12
Chapter: 370. Persiapan Pernikahan“Pokoknya pesta pernikahannya harus megah!” Nurma meletakkan cangkir tehnya dengan wajah serius, tapi semua orang tahu dia hanya sedang bersemangat.Nuri yang menuang sayur lodeh menoleh. “Megah boleh, Bu. Asal adat tetap ada.”“Adat tetap ada.”“Tapi jangan sampai tamunya lebih sibuk foto daripada memperhatikan jalannya acara,” kata Djati.Makan malam di rumah sederhana itu memang selalu menyenangkan. Meja panjang dipenuhi lodeh, ayam ingkung, urap, tempe bacem, ikan wader goreng, dan sambal terasi. Semua hasil panen warga.Melihat semua masih asyik diskusi, Nuri akhirnya memilih ikut bergabung di ruang keluarga.Nurma mulai membayangkan pelaminan. “Bunga putih, lampu kristal, langit-langit penuh rangkaian bunga.”Nuri mengangguk-angguk.“Lalu tamunya sekitar seribu orang,” lanjut Nurma masih sambil membayangkan.Tangan Nuri berhenti menata meja di ruang keluarga setelah meletakan kopi. Dia mengernyit sambil menoleh pada Nurma. “Seribu?”Nurma meliriknya sekilas lalu mengangguk antus
Last Updated: 2026-07-11
Chapter: 369. Harus Segera DinikahkanBinar mendekat, dadanya hampir menyentuh dada Bhaga. Udara kopi dingin naik di antara mereka, tapi tidak ada yang peduli. Jarak semakin tipis, dan detak jantung Binar semakin cepat."Kau tahu apa yang kau lakukan?" bisik Bhaga, suaranya serak. "Kau sengaja, hm.""Memang." Binar mengangkat dagu, menantang. "Kau mau apa?"Kalimat itu adalah pemicunya.Bhaga meletakkan gelas kopi di atas meja terdekat, lalu dalam satu gerakan cepat, tangan kirinya meraih pinggang Binar, menariknya mendekat, dan tangan satunya menangkup wajah Binar. "Ini," katanya di sela ciuman, "adalah yang bisa kulakukan."Mereka berciuman di ruang tamu yang sunyi. Dengan lidah yang saling menggoda dan merayu sampai akhirnya Bhaga tak tahan lagi dan menarik Binar keluar rumah.“Masuk. Cepat!”Pintu mobil ditutup kasar. Mesin mobil menyala dan Bhaga menyetir dengan terburu-buru menuju hotel terdekat.Binar duduk di kursi penumpang dengan pipi yang masih merona, sesekali melirik Bhaga yang memegang setir dengan satu tang
Last Updated: 2026-07-09
Chapter: 368. Aku Juga Sudah Tidak TahanSemburan lumpur membuat semua orang berlari menyingkir. Dengan sigap Bhaga menghentikan laju mesin dan menit berikutnya, mesin combi berhenti meraung. Lumpur yang begitu banyak hampir menutupi seluruh badan Ardan, dan itu membuat bocah itu membeku beberapa saat. Semua orang menunggu reaksinya.Ardan justru tertawa keras. “Hore ... aku jadi petani.”Bhaga menepuk dahinya. “Maaf, Nak. Papa masih belum lancar. ““Enggak apa-apa, Pah.” Ardan mengangkat kedua tangannya. “Sekali lagi, Pah. Lumpur yang kayak tadi.”“Jangan. Badanmu akan sakit, Ardan.” Seru Binar sambil kuatir.Pak Ridwan sampai harus memegang topinya karena tertawa terlalu keras. “Belum pernah aku lihat anak minta disiram lumpur.”“Lumpurnya dingin,” jawab Ardan.Suasana sawah berubah semakin ramai.Bhaga menggeleng menolak permintaan Itu. Dia kembali melanjutkan pekerjaannya. Kali ini dia berhasil menyelesaikan satu lintasan tanpa kesalahan sedikit pun. Suara pujian dari warga terdengar membuat bibirnya berkedut karena men
Last Updated: 2026-07-07
Chapter: 47. Widya TertangkapSuara debur ombak yang memecah karang terdengar begitu menghanyutkan. Penuh ketenangan dan mematikan dalam satu saat. Sudah beberapa bulan Widya hidup tenang di pesisir pantai sana walaupun harus menekan diri dari hidup mewah, tapi tak apa. ‘Hanya beberapa tahun dan setelahnya kemewahan akan kembali padanya.’ Pikirnya.Sedari jauh hari, Widya sudah berjaga-jaga dalam menjaga hartanya. Dia sengaja menguras tenaga dan pendapatan Tami agar uangnya sendiri tak tersentuh. Meskipun suaminya tak sekaya Christian, tapi dia mendapatkan harta warisan yang tak sedikit ditambah beberapa aset yang diam-diam dia rebut dari Tami. Belum lagi hasil klaim dari asuransi, sebenarnya dia dan kedua putrinya bisa hidup dengan nyaman tanpa kekurangan.Nyatanya, dia berpura-pura mendadak miskin dan memaksa Tami untuk bekerja keras untuk menghidupi mereka tak peduli apa yang dikerjakan oleh putri sulungnya itu.Lalu kini, meski dia harus bertahan jauh dari semua orang yang terpenting adalah seluruh kekayaannya
Last Updated: 2024-04-27
Chapter: 46. Bukti terkumpulKeadaan Tami perlahan mulai membaik dan hari ini sudah diperbolehkan untuk pulang ke rumah dengan beberapa catatan dari dokter.“Ada yang mau dibeli sebelum sampe rumah, Sayang?” tanya Satria.Setelah perdebatan yang memakan waktu, Satria akhirnya berhasil membawa Tami dalam mobilnya. Dia melirik ke belakang lewat spion tengah dan terkikik saat mobil mewah warna hitam itu mengiringi. Wajah mertuanya saat ini pasti sedang cemberut dan itu membuatnya geli sekaligus puas. “Enak saja mau memonopoli istri cantikku,” batinnya.“Enggak usah deh, Mas. Aku hanya mau istirahat,” jawab Tami.Anggukan kepala diberikan Satria sebagai jawaban dan perlahan memelankan laju kendaraan karena jarak rumah mereka yang sudah tak terlalu jauh lagi.“Mau aku gendong?”Mobil mereka sudah parkir dengan sempurna di halaman rumah. Begitu juga mobil Christian, pria itu bahkan sudah turun dan menunggu di dekat pintu masuk.“Enggak usah, Mas. Aku udah sehat,” jawab Tami sambil cemberut.Satria terkekeh dan mencubit
Last Updated: 2024-04-27
Chapter: 45. Widya KaburAryo sedang menunggu perintah selanjutnya. Dia tak berani untuk melangkah lebih dulu meski sudah bisa menebak tindakan apa yang akan diambil oleh atasannya. Kembali lagi, dia bukan pria gegabah dan selalu tenang dalam kondisi apa pun.Satria ingin sekali melakukan panggilan telepon kepada Aryo. Akan tetapi, pandangan tajam yang menghunus dirinya membuat dirinya membeku. Seolah sedang terikat kencang, tubuhnya sulit digerakkan saking terpaku pada mata mertuanya.Dia berdeham.Tami meringis melihat itu. Namun tak sedikit pun keinginan untuk membantu suaminya. Mendengar Vania di kasus itu bukan sepenuhnya korban, membuat hatinya kembali perih. Pertanyaan kenapa dan kenapa terus berputar di kepalanya. Mereka bahkan tidak saling kenal. “Saya tidak akan tinggal diam jika Vania benar-benar terlibat. Mantan tunangan kamu telah merampas kebahagiaan putri saya.” Ancaman Christian memecahkan kesunyian yang tercipta.“Papi,” panggil Satria pelan. Dia menyadari kalau saat ini mertuanya itu sedang
Last Updated: 2024-04-21
Chapter: 44. Datangnya Petunjuk“Kalau memang sudah tidak ada yang mau dibahas lagi, saya tunggu laporannya segera dari masing-masing divisi.”Satria mengakhiri rapat mingguannya dengan cepat. Pikirannya sedang tidak fokus, alih-alih mengalihkan pada pekerjaan dia lebih memilih untuk menyelesaikan yang membuat kepalanya riuh belakangan ini.Langkahnya semakin cepat begitu dia keluar dari ruang rapat. Sejak pagi rencananya sudah matang dan itu hanya bisa dilakukan bila tumpukan dokumen di mejanya menghilang. Dan saat ini hal itu yang akan dilakukannya, dengan cepat.“Pak.”Satria gegas berbalik badan dengan wajah kesal. Dia bahkan belum sampai ke mejanya, pintu ruangannya baru tertutup tapi Aryo sudah berani menginterupsinya. Baru saja kemarahan hendak terlontar, tapi bibirnya langsung mengatup lagi begitu Aryo menyampaikan laporannya.“Saya menemukan alamat bengkel yang ada di video Bu Widya. Juga pria yang berbicara dengan Bu Widya kala itu.”Satria mengangkat ujung bibirnya dan mengangguk pelan. Wajah kesalnya aib
Last Updated: 2024-04-21
Chapter: 43. Ketakutan Widya“Apa katamu?” tanya Widya dengan suara tercekat.Tami mengerutkan kening. Dia tidak mengerti mengapa reaksi wanita itu menjadi sedikit berbeda, seperti sedang menahan sesuatu, atau menyembunyikan sesuatu.Karena tidak kunjung mendapatkan jawaban, Widya sedikit mendesak, “Aku tanya, tadi kamu bilang apa? Christian mencari tahu soal kecelakaan ayahmu? Buat apa?” Sebisa mungkin dirinya bersikap tenang di depan Tami, meski menahan emosi yang siap meledak.Tami yang masih bingung mengangguk pelan, kemudian dia menjawab, “Iya, Ma. Memangnya kenapa? Bukannya itu bagus?”“Buat apa mencari tahu tentang informasi orang yang sudah mati?!”Tami mengerjap kaget. Dia tidak pernah membayangkan bahwa Widya akan berteriak bahkan untuk masalah seperti ini. Jika dilihat-lihat, memang ada yang aneh dari sikap wanita itu semenjak dirinya menyebutkan tentang kasus kecelakaan ayahnya, padahal sebelumnya masih meributkan soal uang. Tami bertanya, “Mama kenapa, sih? Kenapa malah berteriak begitu?”Widya mengg
Last Updated: 2024-04-21
Chapter: 42. Mengusut Kecelakaan Ayah“Itu yang kamu mau, Nak?” tanya Christian pada putrinya.“Iya, Pi.” Tami membulatkan tekadnya untuk mengungkapkan kematian sang ayah. Dia ingin mengetahui fakta di balik tragedi naas itu.Christian terdiam sesaat, kemudian dia akhirnya memutuskan, “Iya, baiklah. Kalau memang itu yang kamu mau, Nak.”Christian merealisasikan niatnya untuk mencari tahu kebenaran di balik kecelakaan ayah Tami. Kejadian itu sudah berlalu sejak enam tahun dan tentunya itu bukan hal yang mudah untuk bisa mengungkap kasus dalam waktu singkat.Namun, bukan Christian kalau tidak bisa mewujudkan apa yang diinginkan oleh sang putri tercinta. Lelaki itu memanggil orang suruhannya untuk mengulik kasus itu, tidak peduli dengan cara dan bagaimana semuanya terungkap.“Papi akan kasih kamu kabar secepat yang Papi bisa,” kata Christian pada Tami.“Aku enggak mau bikin Papi merasa terburu-buru, jadi gunakan waktu yang Papi punya dengan perlahan.” Tami hanya tidak mau terlalu membebani lelaki itu. Dia sudah cukup membuat
Last Updated: 2024-04-19