LOGIN[Khusus dewasa] Belum lama bekerja jadi pembantu di rumah keluarga kaya raya itu, Binar malah menyaksikan tuannya memuaskan diri sendiri di kamar. Tak lama setelahnya, Binar juga kepergok menguping pertengkaran tuan dan istrinya. Tuannya pun murka! "Ini perasaanku saja," kata sang tuan majikan dengan wajah dinginnya, "atau kamu memang hobi mengintip, Binar?" Dalam kebetulan-kebetulan yang mempermainkannya, Binar pun semakin terjerat ke dalam hubungan terlarang antara majikan dan pembantu.
View MoreBaru tiga minggu bekerja sebagai seorang pelayan, Binar malah memergoki tuannya sedang menuntaskan hasratnya seorang diri.
Hari itu, Binar yang biasanya hanya mengurusi lantai bawah, mendadak terpaksa mengantarkan sarapan ke kamar majikannya yang berada di lantai dua. Hal tersebut terjadi karena pelayan lainnya sedang sangat sibuk.
Biasanya, sarapan akan disiapkan di meja makan. Nyonya Celia akan duduk dengan wajah malas, sementara Tuan Bhaga sibuk membaca tablet dengan dahi mengernyit.
Tetapi, sudah dua malam ini nyonya rumah tidak pulang.
“Duh, Tuan marah enggak ya kalau aku yang antar?” Binar bergumam sendiri, terlebih saat matanya sudah bisa melihat pintu kamar utama yang terbuka sedikit.
Dia membasahi tenggorokan dengan susah payah dan menghela napas. “Ayo, Binar. Kamu bisa.”
Namun, langkah Binar yang tadinya mantap, perlahan memelan ketika mendengar suara rintihan dari dalam kamar. Dia mengernyit. “Apa tuan sakit ya?”
Dia meletakkan nampan di meja terdekat dan kembali berjalan cepat. Tangannya membuka pintu dengan terburu-buru. “Tuan, ada apa—”
Seketika, napas Binar tertahan, matanya melotot, dan tubuhnya membeku saat melihat pemandangan di dalam kamar.
Di atas tempat tidur, Baju Bhaga tersingkap ke atas, memperlihatkan otot perut yang terbentuk indah. Celananya melorot sampai paha dan kepalanya menengadah ke atas dengan mata terpejam.
Tangannya bergerak naik turun di antara kedua pahanya, dan dia melenguh penuh kenikmatan.
Melihat bibir pria itu terbuka dan mendesahkan uap panas, Binar tanpa sadar menggigit bibirnya sendiri. Tanpa berkedip, Binar memperhatikan tangan tuannya yang sedang memuaskan dirinya sendiri!
“T-Tuan…”
Saat suara terkesiap Binar terdengar, Bhaga menoleh dengan cepat. Dia terkejut setengah mati. Menunduk sesaat sebelum menarik apa pun di dekatnya untuk menutupi tubuh.
"KELUAR!" suara Bhaga meninggi, penuh malu dan amarah.
Sontak, Binar berbalik, tubuhnya gemetar. Tapi ada yang mengusik dadanya, mata yang sedang marah itu kelihatan kesepian.
Lupa akan sarapan yang belum diantar, Binar berlari turun. Dadanya saat ini berdebar cepat dan pikirannya berisik.
Apa itu barusan?! Kenapa tuan sampai melakukan hal seperti itu? Kenapa tidak menunggu nyonya pulang?
Sampai di lantai bawah, Binar cepat berjalan menuju dapur. Memikirkan apa yang dia lihat tadi, mendadak dia kembali menggigit bibir dan menyandarkan tubuhnya pada dinding di samping lemari es.
“Aku bakal dipecat enggak ya?” Binar mengerjap. “Kalau dipecat, aku tinggal di mana?”
Pikiran Binar kembali pada masa kecilnya. Dia ditinggalkan oleh orang tua yang bercerai pada usia sepuluh tahun. Ayahnya pergi meninggalkan hutang, sedangkan ibunya yang tak tahan harus banting tulang akhirnya menikah lagi dengan pejabat desa dan melupakannya.
Sejak saat itu, Binar tinggal bersama neneknya. Dia sibuk sekolah dan berjualan kue basah yang akan dititipkan ke warung saat berangkat sekolah dan diambil saat pulang. Lalu saat lulus SMA, neneknya sakit keras, akhirnya berpulang di usia Binar yang ke dua puluh tahun.
Selama bertahun-tahun, dengan usaha jualan kue basah, Binar hanya mampu membayar bunga dari hutang ayahnya, dan tak bisa berkutik saat rumahnya disita penagih hutang. Hingga salah satu tetangga jauhnya, mengajak untuk ikut bekerja di rumah ini.
Tapi, baru tiga minggu bekerja, Binar justru membuat majikannya marah dengan menyaksikan adegan pribadinya.
Bayangan ekspresi tuannya tadi masih terbayang dan membuatnya gelisah.
"Binar! Kamu melamun lagi? Ini sarapan Tuan Bhaga, kenapa belum diantar?!" Maryam, kepala pelayan, menghampiri Binar dengan tatapan tajam.
“Ma-maaf, Bu. Saya lupa.” Dia membasahi tenggorokan dengan susah payah.
Tangannya yang memegang nampan berkeringat. Mengantar sarapan berarti harus bertatap muka dengan Tuan Bhaga lagi. Aduh, bagaimana ini, pikirnya.
"Lupa? Dasar anak baru. Cepat bawa ke kamarnya! Tuan sudah menunggu!" hardik Maryam.
Binar melirik ke arah ruang makan. Perutnya tiba-tiba mules. Dia tidak bisa. Tidak sekarang.
"Bu, em ... boleh... boleh saya minta tolong?" pintanya, suara bergetar takut. "Saya janji akan melakukan tugas apa pun. Saya... saya mules." Itu bohong, dan dari raut wajah Maryam, Binar tahu wanita itu tak percaya sepenuhnya.
Maryam mendengus, kesal tapi juga iba melihat wajah pucat Binar. “Dasar. Baiklah. Tapi sebagai gantinya, kau urus Ardan.”
Mendengar nama Ardan, beban di pundak Binar terasa sedikit lebih ringan.
Ardan. Anak Tuan Bhaga dan Nyonya Celia. Di rumah seluas dan semegah ini, bocah lima tahun itu adalah satu-satunya penghuni yang tidak membuatnya merasa terancam. Justru, dialah yang membuatnya betah.
Sayangnya anak itu justru yang paling kesepian. Binar pertama kali bertemu Ardan di taman belakang. Saat itu Ardan sedang main sendiri.
“Kenapa main sendiri, Tuan Muda?”
Ardan tak menoleh, tetap melanjutkan bermain, dan menjawab dengan malas. “Tidak ada yang mau main denganku.”
Binar tersenyum. “Kalau begitu saya temani ya?” tawarnya.
Ardan menoleh. “Benar?”
“Iya. Kapanpun Tuan Muda mau main, panggil saya saja. Oke?”
Suasana hati Binar sudah lebih baik setelah menghabiskan banyak waktu bersama Ardan. Ternyata, di balik sikap pendiam, Ardan adalah anak yang cerdas dan haus perhatian. Kemarin mereka melakukan banyak hal, mulai dari menggambar, main tebak-tebakan, dan bermain puzzle.
Untuk pertama kalinya, Binar mendengar suara tawa Ardan yang begitu hangat.
Keesokan harinya, sejak bangun tidur tadi, Ardan sudah mencari Binar. Kini mereka sedang di taman samping rumah.
“Ayo, Tuan Muda. Suap lagi, biar makin kuat,” bujuk Binar sambil menyuapi makan Ardan.
Ardan membuka lebar mulut, tapi matanya tidak lepas dari mainan barunya. Sebuah bola kristal berisi salju yang bisa berputar dan menyala dengan boneka kecil menari di dalamnya. Di sekelilingnya mainan lain berserakan, tapi Ardan tak peduli.
"Nanti saljunya turun banyak ya, Kak Bin? Seperti di TV," celetuk Ardan dengan mulut penuh.
"Bisa saja, asalkan Tuan Muda habiskan makannya dulu," jawab Binar sambil tersenyum.
Ardan mengangguk antusias dan mengunyah dengan lahap. Saat akan menyuap suapan terakhir, tangannya yang memegang bola kristal terlepas. Bola itu lepas dari tangannya, memantul di karpet tebal, dan menggelinding dengan cepat lalu melewati ruang keluarga.
"Yah!" seru Ardan, wajahnya berubah cemas.
"Jangan khawatir, Kakak ambilkan," tenang Binar. Dia meletakkan piring dan beranjak dari sana.
Dia mengikuti lintasan bola kristal itu yang ternyata berhenti persis di depan pintu ruang kerja Tuan Bhaga yang sedikit terbuka. Saat dia membungkuk untuk mengambilnya, suara itu tiba-tiba mengoyak kesunyian rumah yang biasanya hening.
Suara itu bukan desahan Tuan Bhaga seperti pagi itu, bukan juga teriakan Ardan yang ceria. Suara itu adalah perempuan yang dipenuhi amarah.
“BRENGSEK KAMU, BHAGA!”
Prang!
Diikuti suara barang-barang yang dilemparkan dan pecah.
Mobil meluncur pelan di jalan sepi selepas kawasan SCBD. Lampu-lampu kota berpendar buram di balik kaca film gelap, meninggalkan garis-garis kuning dan merah yang terus bergerak. Di dalam, keheningan terasa begitu berat. Binar terus menatap ponsel di tangannya. Layar masih menyala, menyorot satu foto yang diambil dari jarak cukup jauh. Bhaga berdiri gagah di tengah, dengan jas hitam berkerah satin, ekspresi datar. Di samping kirinya, Binar berdiri anggun mengenakan gaun hijau navy, tersenyum tipis yang tidak sampai ke mata. Sedangkan, beberapa langkah di belakang mereka, Celia dengan gaun merah tua menyala, rambut tersanggul sempurna, menatap punggung keduanya dengan senyum sinis yang kental. Foto itu tertangkap kamera dengan angle yang sangat pas untuk jadi bahan omongan semua orang. Masing-masing tidak saling memandang. Tapi ketiganya ada di satu ruangan yang sama, dan memperlihatkan ekspresi yang bisa membuat semua orang melontarkan pernyataan pribadi tanpa perlu susah payah
"Mas, aku mau bicara soal Celia."Binar yang baru keluar dari dapur langsung menghampiri dan duduk di seberang pria itu dengan wajah yang serius. Tangannya saling meremat di atas meja makan dan menatap penuh harap.Bhaga mengangkat wajah dari cangkir kopinya. Melirik sekilas pada Binar dan kembali fokus pada pekerjaannya. "Tidak ada yang perlu dibicarakan.""Ada." Binar berpindah, dia duduk di kursi samping Bhaga, tanpa menunggu dipersilakan. "Ardan sudah mulai mengerti, Mas. Entah kapan, dia akan mulai mencari tahu sendiri. Dan kalau kita tidak menyiapkan jawabannya, dia akan dapat jawaban yang besar kemungkinannya salah."Bhaga diam. Cangkir kopi di tangannya terus dipegangnya.Binar melanjutkan, "Aku tidak bilang kamu harus percaya Celia seratus persen. Tapi melarang mereka tidak bertemu sama sekali itu bukan untuk melindungi Ardan. Itu menghilangkan sesuatu yang seharusnya menjadi bagian dari dirinya."Dia berhenti sejenak."Bagian yang suatu saat akan dia pertanyakan. Dan kita ti
Binar sedang membaca buku di kamar dengan jendela yang terbuka, mengantarkan semilir angin malam yang membawa udara dingin tipis. Dia begitu fokus hingga sedikit tersentak saat pintu terbuka dengan sedikit kasar.Dia mengernyit.Bhaga masuk dengan langkah sedikit cepat, meletakkan tas asal, dan gegas masuk ke kamar mandi. Dia bahkan tak menyapa Binar yang membuat semakin yakin kalau ada sesuatu yang terjadi.Binar menunggu. Selang beberapa menit, Bhaga keluar dengan handuk melilit di pinggang, dan lagi … dia tak menoleh ke Binar tapi langsung masuk ke ruang ganti. Melihat itu, Binar menghela napas pelan dan berdiri, berjalan menghampiri.Tangannya memasangkan kancing piyama, mengantikan tangan Bhaga. "Ada apa?" tanyanya pelan. Dia mengelus dada Bhaga pelan dan memberikan waktu.Bhaga menatap Binar, lalu mengandengnya keluar dari ruang ganti dan mengajak duduk di tepi kasur. Tapi dia tak langsung bicara. Matanya menatap Binar dengan dalam, dan jemarinya mengelus pipi Binar dengan sanga
“Aku kira dia masih membutuhkan waktu,” ucap Bhaga. Dia melirik ke arah Rudi sekilas, lalu ke amplop coklat yang baru saja diletakkan di mejanya.“Sepertinya Bu Celia sudah tidak sabar.”Bhaga memijat pangkal hidungnya. “Kita harus satu langkah di depannya. Persiapkan segalanya, Rud.”Dia mengangkat kepala dan mengangguk saat Rudi undur diri dari sana.Matahari bahkan baru saja naik, tapi kepalanya sudah seperti kepanasan. Amplop itu masih tergeletak di sana, Bhaga enggan menyentuhnya, terlebih nama firma hukum tertera di pojok kiri atas. Tanpa membukanya, dia sudah bisa mengira apa yang ada di dalam sana.Decakan kecil keluar dari bibir Bhaga. “Wanita licik itu bahkan menggunakan pengacara mahal.” Dalam benaknya, Bhaga terus bertanya, dari mana Celia mendapatkan uang sebanyak itu. Tinggal di apartemen yang lumayan mewah, tak kembali ke rumah, bahkan kini menggunakan jasa pengacara mahal.“Apa sebenarnya rencanamu, Celia?”Tangan Bhaga mengulur, mengambil amplop dan membukanya dengan
Kaki Binar seperti terpaku di samping pintu mobil. Dia tiba-tiba saja tak berani melangkah dan merasakan perasaan buruk. Dalam diam, pikirannya mencoba menerka apa yang kiranya terjadi atau ada ucapannya yang menyinggung sehingga dia mendapatkan wajah sinis itu lagi.Tidak. Jawabannya tidak. Dia ba
Suara monitor jantung berdetak stabil. Bunyinya teratur, pelan, nyaris menenangkan. Dokter berdiri di depan Bhaga, Binar, dan Nurma. “Pasien sudah melewati masa kritis,” ucapnya, “perdarahan di kepalanya sudah berhenti dengan baik. Kondisinya masih lemah, tapi stabil. Kita tinggal fokus pemulihan
Suasana kantor polisi tiba-tiba dipenuhi suara teriakan yang tak henti. Sudah hampir satu jam Celia ada di sana dan belum juga lelah untuk berhenti teriak.Karena pusing mendengar suara teriakan itu, Celia langsung dimasukkan ke dalam ruang interogasi dan hal itu membuat bibirnya langsung tertutup
Hari masih sangat pagi untuk menjenguk, tapi dengan mata yang masih sedikit bengkak dan wajah penuh beban, Hans mendatangi rumah sakit. Mengabaikan rasa pening yang mendera karena kurang tidur dan terlalu banyak yang dipikirkan.Dia tidak sendirian. Felix pengacara keluarga, menemani. Mereka menung






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Ratings
reviewsMore