LOGIN[Khusus dewasa] Belum lama bekerja jadi pembantu di rumah keluarga kaya raya itu, Binar malah menyaksikan tuannya memuaskan diri sendiri di kamar. Tak lama setelahnya, Binar juga kepergok menguping pertengkaran tuan dan istrinya. Tuannya pun murka! "Ini perasaanku saja," kata sang tuan majikan dengan wajah dinginnya, "atau kamu memang hobi mengintip, Binar?" Dalam kebetulan-kebetulan yang mempermainkannya, Binar pun semakin terjerat ke dalam hubungan terlarang antara majikan dan pembantu.
View MoreAura di ruang rapat siang ini begitu tegang. Bhaga duduk di kepala meja, mendengarkan presentasi dari tim marketing. Angka-angka bergulir, grafik naik turun, membuat Bhaga berulang kali geram karena kinerja karyawannya yang menurun.Suara tegas dan tajamnya terdengar jelas di seluruh ruangan, membuat semua yang di sana merasa sedang diberikan peringatan keras, padahal Bhaga hanya mengulas semua hasil kerja mereka.Semua punggung tegak dan tak ada yang berani mengeluarkan suara.Hingga ponsel Bhaga bergetar, dan dia terdiam sesaat. Awalnya dia tidak menggubris, tapi getaran kedua dan ketiga datang lagi. Dengan berat hati, dia meminta maaf dan akhirnya membuka ponselnya.Sekilas, Bhaga mengernyit saat melihat notifikasi dari pop up di layar depan, Nurma mengirimkan banyak file. Rasa penasaran, membuat jarinya bergerak membuka pesan tersebut.Dia tersentak kecil, dan jantungnya seperti berhenti sesaat.Foto.Binar sedang tertawa. Tertawa lepas, dengan mata yang berbinar. Dan di dekatnya,
Bhaga baru saja menyelesaikan simpul dasinya. Dari belakang, Binar muncul dengan Ardan bergandengan tangan. Binar baru saja selesai memandikan Ardan, meski belum mengenakan seragam sekolah."Papa udah mau berangkat?" tanya Ardan, matanya yang bulat menatap Bhaga.Bhaga berbalik, tersenyum. Dia mengacak rambut Ardan pelan. "Iya, Nak. Ada rapat penting. Nanti malam papa sepertinya pulang terlambat ya.""Bawain mainan ya, Pah?""Ardan," Binar menegur lembut, "mainannya masih banyak, bahkan masih ada yang belum dibuka."Bhaga tertawa kecil. "Enggak apa-apa. Ardan mau apa?"Ardan berpikir serius, jari telunjuk di dagu. "Mau buku gambar baru aja, deh, Pah."Kembali, Bhaga terkekeh. “Kalau buku nanti beli sendiri ya, ditemani Bunda.”Dengan penuh semangat, Ardan mengangguk. “Oke, Papa.” Dia lalu merentangkan tangannya, meminta dipeluk, dan tanpa diminta dua kali, Bhaga langsung memeluknya dengan sayang.Binar tersenyum melihat interaksi mereka. Bhaga menatapnya, lalu mendekat. Tangannya mer
Binar berdiri di depan cermin, merapikan ujung blus warna peach yang dipilihnya dengan hati-hati. Terlalu formal? Tidak. Terlalu santai? Mungkin. Dia menghela nafas, frustasi.Nurma bilang ini hanya makan malam keluarga kecil. Tapi kenapa dadanya deg-degan?Ponselnya bergetar."Sayang, aku sudah dekat rumah." Suara Bhaga di seberang terdengar lelah tapi hangat.Binar tersenyum. “Oke. Hati-hati ya. Sampai ketemu di acara makan malam keluarga.”Hening sejenak. “Makan malam? Makan malam apa?”“Ibumu yang mengadakan. Aku juga baru diberitahu.”“Mami?""Iya. Katanya cuma keluarga dekat. Aku kira kau sudah tahu."Bhaga menghela napas. "Baiklah, nanti aku akan menemanimu?""Iya. Tapi kayanya aku juga enggak akan lama kok.”Bhaga diam, lalu berkata, "Oke. Nanti kabari aku lagi.”Binar tersenyum dan mengangguk meski tahu kalau Bhaga tak melihatnya. Lalu keluar dan berjalan menuju rumah utama.Beberapa kali, Binar terlihat menarik napas dalam dan membuangnya perlahan, menikmati udara malam yang
Di balik sebuah etalase makanan dekat pintu masuk supermarket, Nurma berhenti. Matanya membelalak.Tidak salah lagi. Itu Binar. Dengan kantong belanjaan berantakan di kedua tangan, dan di depannya, seorang pria sedang membantunya memunguti barang-barang yang jatuh. Pria yang baru saja ditemuinya minggu lalu.Nurma bersembunyi, tapi matanya tidak berkedip. Dia melihat bagaimana pria itu menatap Binar. Bukan tatapan biasa. Tatapan penuh arti.Lalu, Binar terlihat gugup. Wajahnya memerah. Dia tersenyum canggung, menunduk, dan terlihat sangat menghormati pria itu.Nurma tersenyum tipis. Bibirnya melengkung, dan matanya tetap tajam memperhatikan.Dia terus mengamati hingga Binar pergi, melangkah cepat meninggalkan supermarket dengan kantong-kantong belanjaannya. Dan pria itu masih berdiri, mematung. Menatap ke arah punggung Binar dengan wajah yang tak bisa diartikan.Ini kesempatan.Nurma menarik napas dalam, lalu melangkah keluar dari persembunyiannya. Dia berjalan mendekat, memasang eksp












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Ratings
reviewsMore