Mag-log inBeberapa berkas cahaya senter menyapu ke arah Rayford. Cahaya itu menerangi kabut yang menyelimuti hutan, sekaligus menerangi gadis yang berjalan paling depan.Dia mengenakan jaket gunung, rambutnya diikat ekor kuda tinggi. Wajahnya terciprat sedikit lumpur, tetapi sama sekali tidak terlihat berantakan. Dia justru tampak seperti peri hutan yang tersesat ke dalam rimba.Dialah yang pertama menemukan Rayford."Ada orang di sana!" Allea berseru pelan sambil mempercepat langkah menghampiri. Sorot senternya jatuh ke wajah Rayford yang penuh lumpur. "Pak? Kamu nggak apa-apa?"Rayford ingin menjawab. Namun, lambungnya kembali berkontraksi hebat hingga dia hanya mampu mengerang pelan dan meringkuk makin erat.Gadis itu segera berjongkok. Dia mengamati keadaan Rayford dengan saksama, lalu menyentuh dahinya yang dingin. "Bagian mana yang sakit?"Rayford menjawab dengan susah payah, "Lambung ...."Gadis itu segera membuka kotak P3K kecil miliknya. Dengan bantuan cahaya senter, dia menemukan obat
"Ayo." Rayford seolah tidak menyadari kecanggungan kecil yang dirasakan Allea. Dia menggenggam tangan Allea dan mengajaknya keluar dari hotel.Di tengah perjalanan, Rayford tiba-tiba berkata, "Lima tahun berlalu, Kota Redina sudah banyak berubah.""Kamu pernah ke Kota Redina lima tahun lalu?" tanya Allea."Ya." Tatapan Rayford tampak jauh ke depan."Waktu itu aku membuat kesalahan besar pertama dalam hidupku saat mengambil keputusan. Suasana hatiku sangat buruk, jadi aku datang ke Kota Redina untuk menenangkan diri. Tapi di tengah perjalanan penyakit maagku kambuh, sementara aku nggak membawa obat maag. Bukan kenangan yang menyenangkan."Malam terasa begitu tenang. Jalan berbatu di kawasan kota tua Kota Redina memantulkan cahaya lampu, sementara aroma lembut kue memenuhi udara."Lima tahun lalu?" Allea menoleh ke arahnya dengan sedikit terkejut. "Kebetulan sekali, aku juga datang ke Kota Redina lima tahun lalu. Jurusan kami mengadakan kegiatan melukis lanskap di lahan basah di pinggira
"Sebenarnya bukan murni karena urusan pekerjaan. Yang paling utama, Lucky dan Snow benar-benar terlalu aktif.""Sehari setelah kamu pergi, Snow hampir saja merobohkan ruang kerjaku. Lucky juga ikut buat keributan. Aku benar-benar kewalahan mengurus mereka sendirian."Dia berhenti sesaat, lalu menatap Allea. "Jadi kubawa saja mereka ke sini. Kalau ada kamu, mereka jadi lebih tenang."Alasan itu terdengar masuk akal. Seorang presdir yang setiap hari disibukkan dengan urusan perusahaan dibuat kewalahan oleh dua hewan peliharaan, sampai harus datang mencari sang pemilik yang bisa menenangkan mereka.Meski sedikit memalukan, penjelasan itu masih terdengar logis. Sedangkan soal dia berbohong dengan mengatakan datang untuk urusan pekerjaan ... mungkin itu hanya harga diri seorang pria.Dia tidak ingin mengakui bahwa dirinya tidak sanggup menghadapi dua hewan peliharaan.Allea menatap ekspresi Rayford yang jarang sekali memperlihatkan sisi lemahnya. Kemudian, dia melirik dua hewan berbulu di l
Sebenarnya Rayford hanya merindukan Allea. Dia tidak ingin Axel punya terlalu banyak waktu berduaan dengan Allea. Hanya itu.Pagi berlalu dengan cepat. Rayford membawa Lucky dan Snow ke taman bermain dalam ruangan khusus hewan peliharaan yang disediakan hotel.Lucky bermain sampai kegirangan. Dia berlari ke sana kemari di antara kolam bola dan perosotan.Sementara Snow duduk dengan anggun di menara panjat kucing, memandangi Lucky yang berlarian di bawah dengan tatapan meremehkan. Sesekali dia mengulurkan kaki, menepuk bola mainan yang menggelinding ke arahnya.Rayford duduk di kursi istirahat di samping, memperhatikan mereka. Sesekali dia melempar bola untuk Lucky, lalu memberi sepotong camilan daging kepada Snow.Sore harinya, dia membawa dua hewan itu ke ruang perawatan hewan khusus hotel. Mereka dimandikan dan dikeringkan, bulu mereka disisir, kuku mereka dipotong. Suasana kembali sibuk bukan main.Saat kedua hewan itu sudah selesai, dan Rayford sendiri juga sudah berganti pakaian y
Allea baru saja bangun tidur dan sedang bersiap turun untuk sarapan. Sambil berjalan ke luar pintu, dia mengirim pesan suara kepada Bella."Aku penasaran apa sarapan prasmanan di sini ada susu kedelai dan roti isi goreng. Di rumah aku sudah terbiasa makan itu ...."Akibat berjalan sambil melihat ponsel, dia langsung menabrak seseorang.Allea terkejut dan buru-buru mendongak. Tatapannya langsung bertemu dengan mata Rayford. Matanya membelalak. "Pak Rayford?"Dia sampai mengira dirinya belum benar-benar sadar. Dia mengedipkan mata beberapa kali, tetapi sosok itu masih ada."Kenapa kamu ada di sini?"Tatapan Allea berpindah ke kotak makanan di tangan Rayford, lalu ke Snow yang berada dalam pelukannya, kemudian ke Lucky yang berdiri di dekat kakinya. Setelah itu, dia melihat Axel yang berdiri sedikit di belakang Rayford."Pak Axel?" Allea makin bingung. "Kenapa kalian semua ada di sini?"Melihat ekspresi Allea yang begitu linglung, senyuman tipis melintas di mata Rayford. Dia mengangkat ta
Rayford mematikan laptopnya, lalu menyandarkan tubuh di kursi dan memejamkan mata. Sepertinya ... latar belakang Allea jauh lebih rumit daripada yang dia bayangkan.Namun, karena dia sudah berjanji, dia pasti akan menyelidikinya sampai tuntas. Siapa pun orang tua kandung Allea, apa pun rahasia yang tersembunyi di balik semua itu, dia akan tetap melindungi Allea sebaik mungkin.Hanya saja, untuk saat ini dia harus pergi ke Kota Redina lebih dulu. Setidaknya dia harus terlebih dahulu mengatasi ancaman dari rival cintanya itu.Rayford mengambil ponselnya, lalu mengirim sebuah pesan.[ Lanjutkan penyelidikan. Berapa pun biayanya bukan masalah. Aku ingin daftar seluruh staf Panti Asuhan Sunshine yang pernah merawat Allea 25 tahun lalu beserta keberadaan mereka saat ini. ][ Selidiki juga apakah saat itu pernah ada orang dengan identitas khusus yang datang ke panti asuhan, atau apakah pernah ada donasi maupun bantuan yang asal-usulnya nggak jelas. Perluas penyelidikan ke kota-kota sekitar da
"Ke mana?" tanya Allea."Pilih cincin."Satu jam kemudian, mobil mereka berhenti di depan butik perhiasan mewah paling bergengsi di Kota Suraka. Seorang staf segera menyambut mereka dan mengantar keduanya ke ruang VIP di lantai paling atas."Silakan duduk. Sesuai instruksi Pak Rayford, semuanya suda
Allea mengangkat pandangannya dan melihat bahwa orang yang berdiri di depannya adalah Rayzel.Rayzel mengenakan setelan jas mahal yang dijahit khusus. Rambutnya tersisir rapi tanpa cela, tetapi dasinya tampak ditarik longgar. Ada kegelisahan yang tidak mampu dia sembunyikan di matanya."Allea." Dia
"Lagi pula, dulu cincin itu dibuat sesuai ukuran jariku. Aku juga yang memilih modelnya."Wajah Giselle langsung memucat. Dia menatap punggung Allea yang semakin menjauh. Tangannya mengepal erat. Cincin berlian yang ukurannya tidak pas itu menekan telapak tangannya hingga terasa sakit.Rayzel. Posis
"Aku nggak gila."Allea menatap permukaan danau. Beberapa angsa sedang berenang santai di atas air. "Dia memberiku syarat yang sangat menguntungkan. Kenapa aku harus menolaknya?""Tapi, dia itu ayah angkat Rayzel. Meski bukan ayah kandung, tetap saja secara status dia adalah ayahnya. Kalian ini ...







