MasukDemi menutupi sebuah rahasia besar, Savana, seorang wanita yatim piatu, dijadikan tameng dalam sebuah pernikahan dingin yang penuh pengkhianatan. Tak tahan terus diabaikan dan disakiti, Savana nekat membalas rasa sakitnya dengan menjalin hubungan terlarang bersama seorang pria muda misterius. Di saat yang sama, ia diam-diam bekerja sebagai cleaning service di Rumah Sakit Harapan demi mengumpulkan modal untuk lepas dari cengkeraman sang suami. Namun, dunia Savana seketika jungkir balik saat mengetahui pria simpanannya ternyata adalah dr. Hanggara, Direktur Utama berdarah dingin sekaligus pemilik rumah sakit tempatnya bekerja. Terjebak dalam intrik kekuasaan dan utang budi yang mengikat, Savana kini berada di bawah kendali penuh sang Direktur yang mengintimidasi. Di balik sikap dingin dan obsesi sang Direktur yang menolak melepaskannya, tersimpan rahasia masa lalu yang tak pernah Savana duga. Sanggupkah Savana meraih kebebasannya, atau ia justru akan tenggelam dalam jerat sang bos besar yang diam-diam telah mengincarnya sejak lama?
Lihat lebih banyak"Kamu lebih membuatku bergairah ketimbang istriku, Alex."
Suara bariton yang sangat familier itu mengalun dari balik pintu kayu ruang kerja pribadi yang sedikit terbuka. Savana mematung di lorong rumahnya yang remang. Jantungnya berdegup kencang, memukul dadanya dengan rasa sakit yang teramat sangat. Melalui celah sempit itu, netranya menangkap siluet sang suami, Bara, yang sedang memeluk erat seorang pria muda berseragam perawat dari belakang. Tangan Bara bergerak berani di pinggang pria bernama Alex itu, menyalurkan hasrat yang tidak pernah sekalipun ditunjukkannya pada Savana selama tiga tahun pernikahan mereka. Ini bukan kali pertama ia memergoki Bara membawa pacar pria sesama jenisnya itu ke rumah. Setiap kali Savana pulang larut atau berpura-pura tidur, rumah megah ini selalu berubah menjadi tempat persinggahan rahasia bagi suaminya. Memang sejak awal, pernikahan ini hanyalah sebuah panggung sandiwara yang dipaksakan. Savana adalah seorang anak yatim piatu yang tidak memiliki siapa-siapa lagi di dunia ini. Ketika kedua orang tuanya meninggal dalam kecelakaan tragis beberapa tahun lalu, orang tua Bara yang merupakan sahabat karib mendiang ayahnya, mengulurkan tangan dengan menjodohkannya bersama Bara. Perjodohan itu murni didasari rasa sayang. Savana pun menerimanya dengan lapang dada, apalagi ia juga sudah berteman dengan Bara sejak kecil sehingga merasa tidak masalah untuk menikah dengannya. Tapi, hal itu ternyata bermasalah bagi Bara. Di depan yang lain, Bara memang bertingkah menjadi suami yang manis dan penuh kasih sayang. Tapi, begitu pintu rumah ditutup dan mereka hanya berdua, Bara berubah menjadi asing, dingin, dan tidak pernah sudi menyentuh helai rambut Savana sekalipun. Savana awalnya tidak mengetahui penyebab Bara sampai bersikap seperti itu. Hingga suatu hari, dia memergoki Bara bergumul dengan pacar lelakinya seperti sekarang. Suaminya ternyata adalah penyuka sesama jenis. Karena itu, dia bersikap dingin ke Savana karena wanita itu dianggap sebagai pengganggu hubungannya. Dan malam ini, menyaksikan Bara yang kembali bermain api di rumah mereka sendiri membuat tekad Savana semakin bulat. Ia harus menceraikan pria itu dan pergi sejauh mungkin dari sini. Merasa tidak sanggup lagi berlama-lama di sana, Savana melangkah mundur dengan sangat perlahan. Ia membalikkan tubuh dan bergegas keluar dari rumah, membiarkan pintu utama tertutup rapat di belakangnya. Kakinya membawa Savana menyusuri trotoar jalanan malam yang begitu sepi. Savana mengeluarkan ponsel dari saku jaketnya. Jarinya yang masih bergetar membuka ruang obrolan dengan sebuah nomor tanpa nama yang sudah disimpannya sejak beberapa bulan lalu. [Temui aku di hotel tempat biasa. Sekarang.] ketik Savana. Hanya dalam hitungan detik, layar ponselnya berkedip menampilkan balasan singkat yang langsung membuat dadanya berdesir aneh. [Baik, Nyonya.] * Taksi yang dipesan Savana tiba tidak lama kemudian. Perjalanan memakan waktu sekitar dua puluh menit sebelum kendaraan itu berhenti di depan sebuah hotel butik yang tersembunyi dan bernuansa sangat privat. Savana melangkah masuk, melewati lobi dengan kepala tertunduk, lalu menaiki lift menuju lantai empat. Langkah kakinya terasa berat sekaligus terburu-buru saat menyusuri lorong berkarpet tebal. Begitu sampai di depan pintu kamar 402, ia menarik napas dalam-dalam untuk menenangkan gemuruh di dadanya, lalu mengetuk pintu kayu tebal itu dengan ritme yang pelan namun pasti. Tok... Tok... Detik berikutnya, pintu langsung terbuka dari dalam. Seorang laki-laki bertubuh tinggi tegap kini berdiri tegak di ambang pintu, menghalangi cahaya lampu kamar yang tak terlalu terang. Rahangnya tegas menawan dengan pahatan wajah yang begitu sempurna, ditambah dengan sepasang mata elang yang menatap tajam, langsung memberikan kesan intimidasi yang kuat. Dua kancing teratas kemejanya sengaja dibiarkan terbuka, menampilkan cetakan dada bidang yang kokoh. Laki-laki itu menurunkan pandangannya, menatap lekat tepat pada manik mata Savana yang sedikit berembun. Sudut bibirnya terangkat tipis, membentuk sebuah senyuman miring yang begitu misterius namun sarat akan daya pikat. Ia memajukan tubuhnya satu langkah, mengikis jarak di antara mereka hingga aroma parfum maskulin yang pekat dan mahal langsung mengurung indra penciuman Savana, membuatnya mendadak sulit bernapas. "Apa suami Anda berbuat ulah lagi hingga membuat Anda mendatangi saya malam-malam begini, Nyonya?" bisik laki-laki itu dengan suara dalam yang berat dan serak.Sore harinya.Begitu jam kerjanya selesai, Savana buru-buru pulang. Ia tak mau jika Bara sampai di rumah lebih dulu daripada dirinya, karena pria itu pasti akan mencari alasan untuk mengomelinya.Dengan mengendarai bus kota, ia akhirnya sampai di area kompleks perumahan. Langkah kakinya tergesa-gesa menyusuri jalanan menuju rumah.Namun, sayangnya dugaan Savana salah. Bara ternyata sudah lebih dulu sampai di rumah; mobil sedan hitam suaminya itu sudah bertengger rapi di halaman.Savana menarik napas panjang, menguatkan hatinya sebelum memutar gagang pintu utama. Ia masuk ke dalam rumah yang sepi lalu melangkah menuju kamar. Ternyata Bara sedang berada di dalam kamar, baru saja selesai berbenah usai melepaskan jas dokternya.Sesuai dugaan Savana, begitu melihat presensinya di ambang pintu, Bara langsung menyambutnya dengan omelan pedas."Jam segini baru pulang?!" celetuk Bara dengan suara meninggi, matanya menatap tajam Savana dari atas sampai bawah. "Kamu ini mengabaikan kewajibanmu s
Usai keluar dari ruangan Hanggara, Savana langsung menuju ke toilet. Tangannya yang gemetar perlahan memutar kunci pintu kamar mandi di ujung lorong lantai atas. Begitu engsel terkunci rapat, tubuh mungilnya langsung merosot di balik pintu. Ia menyandarkan punggungnya, menarik napas dalam-dalam untuk menata detak jantungnya yang berantakan bagai dihantam badai.Pikiran Savana riuh luar biasa. Otaknya rasanya enggan berkompromi untuk mencerna rentetan kejadian gila yang bertubi-tubi menimpanya dalam kurun waktu kurang dari satu jam.Bagaimana mungkin pria muda misterius yang selama beberapa bulan ini menjadi tempat pelariannya, pria yang hanya ia temui di keremangan kamar hotel, ternyata adalah dr. Hanggara Maheswara? Pria itu bukan sekadar dokter spesialis, melainkan Direktur Utama sekaligus pemilik rumah sakit raksasa ini!Tak hanya itu, bayangan saat ia meringkuk ketakutan di bawah meja kerja Hanggara, mendengar Bara menjelek-jelekkan dirinya tanpa ampun, kembali memicu denyut perih
Mata Savana membelalak sempurna. Deru napas hangat Hanggara yang membelai kulit lehernya membuat seluruh syarafnya menegang seketika. Lengan kokoh pria itu di pinggangnya mengunci pergerakannya dengan begitu absolut, menghapus batas di antara mereka hingga aroma maskulin Hanggara mengurung kesadarannya."Dokter Hanggara... jangan," bisik Savana terbata-bata, suaranya nyaris tenggelam oleh pacuan jantungnya sendiri. Matanya melirik cemas ke arah pintu jati yang baru saja dilewati Bara."Ini di ruangan Anda, tolong lepas!"Namun, bukannya mengendurkan pelukan, Hanggara justru bertindak kian agresif. Pria itu menyeringai tipis, lalu mendesak tubuh mungil Savana hingga terimpit di antara kemeja bidangnya dan tepi meja kerja jati yang tebal."Melepasmu?" bisik Hanggara dengan suara bariton rendah yang sarat akan dominasi. "Setelah saya menyelamatkan rahasiamu dari suamimu sendiri?"Jemari lentik Hanggara yang hangat merayap perlahan turun ke pinggul Savana, lalu membelai paha mulusnya dar
"Savana?" Hanggara mengulang nama itu dengan suara baritonnya yang berat dan tenang. "Ya, seingat saya pihak administrasi memang melaporkan ada karyawan cleaning service baru yang bernama Savana hari ini." Mata Savana membelalak sempurna di balik kegelapan. Ia syok setengah mati. Tubuhnya mendadak kaku dan ia hampir saja memekik saking tidak percaya dengan jawaban yang keluar dari mulut Hanggara. Pria itu benar-benar gila! Bagaimana bisa dia justru membenarkan pertanyaan Bara secara blak-blakan? Bara yang mendengar jawaban dari sang Direktur Utama langsung mencondongkan tubuhnya ke depan meja. Wajahnya tampak menggebu-gebu dengan sorot mata yang dipenuhi kecemasan sekaligus rasa penasaran yang besar. "A-apakah nama panjangnya Savana Anindya, Dok?" tanya Bara dengan nada memburu. Mendengar nama lengkap yang diucapkan Bara, Hanggara perlahan mengerutkan alisnya. Sorot wajahnya berubah dingin dan kaku. Aura intimidasi yang sangat pekat langsung menguar dari tubuh Hanggara, memenuhi






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Ulasan-ulasan