LOGINWARNING 21+++ Demi menutupi sebuah rahasia besar, Savana, seorang wanita yatim piatu, dijadikan tameng dalam sebuah pernikahan dingin yang penuh pengkhianatan. Tak tahan terus diabaikan dan disakiti, Savana nekat membalas rasa sakitnya dengan menjalin hubungan terlarang bersama seorang pria muda misterius. Di saat yang sama, ia diam-diam bekerja sebagai cleaning service di Rumah Sakit Harapan demi mengumpulkan modal untuk lepas dari cengkeraman sang suami. Namun, dunia Savana seketika jungkir balik saat mengetahui pria simpanannya ternyata adalah dr. Hanggara, Direktur Utama berdarah dingin sekaligus pemilik rumah sakit tempatnya bekerja. Terjebak dalam intrik kekuasaan dan utang budi yang mengikat, Savana kini berada di bawah kendali penuh sang Direktur yang mengintimidasi. Di balik sikap dingin dan obsesi sang Direktur yang menolak melepaskannya, tersimpan rahasia masa lalu yang tak pernah Savana duga. Sanggupkah Savana meraih kebebasannya, atau ia justru akan tenggelam dalam jerat sang bos besar yang diam-diam telah mengincarnya sejak lama?
View More"Kamu lebih membuatku bergairah ketimbang istriku, Alex."
Suara bariton yang sangat familier itu mengalun dari balik pintu kayu ruang kerja pribadi yang sedikit terbuka. Savana mematung di lorong rumahnya yang remang. Jantungnya berdegup kencang, memukul dadanya dengan rasa sakit yang teramat sangat. Melalui celah sempit itu, netranya menangkap siluet sang suami, Bara, yang sedang memeluk erat seorang pria muda berseragam perawat dari belakang. Tangan Bara bergerak berani di pinggang pria bernama Alex itu, menyalurkan hasrat yang tidak pernah sekalipun ditunjukkannya pada Savana selama tiga tahun pernikahan mereka. Ini bukan kali pertama ia memergoki Bara membawa pacar pria sesama jenisnya itu ke rumah. Setiap kali Savana pulang larut atau berpura-pura tidur, rumah megah ini selalu berubah menjadi tempat persinggahan rahasia bagi suaminya. Memang sejak awal, pernikahan ini hanyalah sebuah panggung sandiwara yang dipaksakan. Savana adalah seorang anak yatim piatu yang tidak memiliki siapa-siapa lagi di dunia ini. Ketika kedua orang tuanya meninggal dalam kecelakaan tragis beberapa tahun lalu, orang tua Bara yang merupakan sahabat karib mendiang ayahnya, mengulurkan tangan dengan menjodohkannya bersama Bara. Perjodohan itu murni didasari rasa sayang. Savana pun menerimanya dengan lapang dada, apalagi ia juga sudah berteman dengan Bara sejak kecil sehingga merasa tidak masalah untuk menikah dengannya. Tapi, hal itu ternyata bermasalah bagi Bara. Di depan yang lain, Bara memang bertingkah menjadi suami yang manis dan penuh kasih sayang. Tapi, begitu pintu rumah ditutup dan mereka hanya berdua, Bara berubah menjadi asing, dingin, dan tidak pernah sudi menyentuh helai rambut Savana sekalipun. Savana awalnya tidak mengetahui penyebab Bara sampai bersikap seperti itu. Hingga suatu hari, dia memergoki Bara bergumul dengan pacar lelakinya seperti sekarang. Suaminya ternyata adalah penyuka sesama jenis. Karena itu, dia bersikap dingin ke Savana karena wanita itu dianggap sebagai pengganggu hubungannya. Dan malam ini, menyaksikan Bara yang kembali bermain api di rumah mereka sendiri membuat tekad Savana semakin bulat. Ia harus menceraikan pria itu dan pergi sejauh mungkin dari sini. Merasa tidak sanggup lagi berlama-lama di sana, Savana melangkah mundur dengan sangat perlahan. Ia membalikkan tubuh dan bergegas keluar dari rumah, membiarkan pintu utama tertutup rapat di belakangnya. Kakinya membawa Savana menyusuri trotoar jalanan malam yang begitu sepi. Savana mengeluarkan ponsel dari saku jaketnya. Jarinya yang masih bergetar membuka ruang obrolan dengan sebuah nomor tanpa nama yang sudah disimpannya sejak beberapa bulan lalu. [Temui aku di hotel tempat biasa. Sekarang.] ketik Savana. Hanya dalam hitungan detik, layar ponselnya berkedip menampilkan balasan singkat yang langsung membuat dadanya berdesir aneh. [Baik, Nyonya.] * Taksi yang dipesan Savana tiba tidak lama kemudian. Perjalanan memakan waktu sekitar dua puluh menit sebelum kendaraan itu berhenti di depan sebuah hotel butik yang tersembunyi dan bernuansa sangat privat. Savana melangkah masuk, melewati lobi dengan kepala tertunduk, lalu menaiki lift menuju lantai empat. Langkah kakinya terasa berat sekaligus terburu-buru saat menyusuri lorong berkarpet tebal. Begitu sampai di depan pintu kamar 402, ia menarik napas dalam-dalam untuk menenangkan gemuruh di dadanya, lalu mengetuk pintu kayu tebal itu dengan ritme yang pelan namun pasti. Tok... Tok... Detik berikutnya, pintu langsung terbuka dari dalam. Seorang laki-laki bertubuh tinggi tegap kini berdiri tegak di ambang pintu, menghalangi cahaya lampu kamar yang tak terlalu terang. Rahangnya tegas menawan dengan pahatan wajah yang begitu sempurna, ditambah dengan sepasang mata elang yang menatap tajam, langsung memberikan kesan intimidasi yang kuat. Dua kancing teratas kemejanya sengaja dibiarkan terbuka, menampilkan cetakan dada bidang yang kokoh. Laki-laki itu menurunkan pandangannya, menatap lekat tepat pada manik mata Savana yang sedikit berembun. Sudut bibirnya terangkat tipis, membentuk sebuah senyuman miring yang begitu misterius namun sarat akan daya pikat. Ia memajukan tubuhnya satu langkah, mengikis jarak di antara mereka hingga aroma parfum maskulin yang pekat dan mahal langsung mengurung indra penciuman Savana, membuatnya mendadak sulit bernapas. "Apa suami Anda berbuat ulah lagi hingga membuat Anda mendatangi saya malam-malam begini, Nyonya?" bisik laki-laki itu dengan suara dalam yang berat dan serak.Keheningan menakutkan mencengkeram seluruh sudut ruang VIP. Pertanyaan asing yang keluar dari bibir Hanggara menghantam dada Savana bagai hantaman godam yang menghancurkan seluruh harapannya dalam sekejap."H-Hanggara... kau tidak bercanda, kan?" bisik Savana dengan bibir yang bergetar hebat. Air mata baru meluncur membasahi pipinya yang kian pucat. "Ini aku, Hanggara... Aku Savana."Savana melangkah satu pijakan lebih dekat, hendak mengulurkan tangannya yang gemetar untuk meraih jemari kekar pria itu. "Aku wanita yang kau cintai, Hanggara. Kita... kita seharusnya menikah kemarin pagi...""Tunggu dulu, Savana!" sela sebuah suara nyaring yang memotong kalimat Savana secara mendadak.Dokter Karin maju melangkah dengan sigap, memotong jarak antara Savana dan ranjang pembaringan Hanggara. Wajah wanita itu dipenuhi oleh tatapan dingin dan merendahkan.Dokter Karin menoleh pada Hanggara yang masih menatap bingung seraya memegangi kepalanya yang berdenyut pening. "Dokter Hanggara, jangan den
Savana menahan napasnya. Manik matanya tak berkedip sedikit pun menatap genggaman tangannya. Gerakan di jemari Hanggara terasa kian nyata, bukan lagi sekadar halusinasi atau bunga tidur yang kerap menyiksanya."H-Hanggara...?" bisik Savana dengan suara bergetar pelan.Ia memajukan tubuhnya, mendekatkan wajahnya ke arah pembaringan. Dilihatnya kelopak mata tebal Hanggara yang terbungkus perban tipis di bagian dahi mulai bergerak-gerak. Bulu matanya yang lebat bergetar pelan, menunjukkan usaha keras dari sang dokter untuk keluar dari kegelapan koma yang membelenggunya berhari-hari."Hanggara! Kamu dengar suara aku, kan? Hanggara, buka matamu, Sayang!" seru Savana seraya mengusap pipi Hanggara yang masih pucat. Air mata kebahagiaan seketika meleleh membasahi pipinya.Melihat kelopak mata Hanggara yang makin bergerak-gerak seperti hendak terbuka, Savana langsung panik dan tergesa-gesa mencari tombol pemanggil perawat di kepala ranjang. Ia menekan tombol berwarna merah itu berulang kali de
Matahari pagi kembali menyusup melalui celah gorden ruang perawatan VIP, membiaskan pendar cahaya lembut yang menyiram sebagian tubuh tegap Hanggara di atas ranjang medis. Savana masih setia berada di sana. Ia duduk bersandar di kursi kayu samping pembaringan, jemari halusnya tak pernah melepaskan genggaman pada pergelangan tangan Hanggara yang terasa hangat.Tiba-tiba, kelopak mata Hanggara perlahan melonggar, lalu terbuka lebar. Manik mata pekat yang amat dirindukan itu berkedip perlahan sebelum sepenuhnya mengunci pandangan pada wajah Savana.Savana membeku seketika. Jantungnya berdegup kencang, seolah tak percaya dengan apa yang ada di depan matanya. "H-Hanggara...?"Hanggara menyunggingkan senyum tipis yang amat menawan. Tanpa aba-aba, tubuh tegap itu langsung bangkit dan terduduk tegak. Pria itu mengulurkan tangan kekarnya, menangkup kedua pipi Savana dengan usapan lembut yang penuh gairah."Aku merindukanmu, Savana... Sangat merindukanmu," bisik Hanggara dengan suara berat nan
Berhari-hari telah berlalu sejak insiden berdarah yang menimpa Hanggara, namun tak sedikit pun menyurutkan kesetiaan Savana. Wanita itu menolak untuk beranjak dari ruang perawatan VIP tempat calon suaminya terbaring koma. Bagi Savana, ruangan beraroma antiseptik itu kini telah menjadi dunianya.Setiap pagi, sebelum matahari sepenuhnya terbit, Savana sudah bangun. Dengan telaten dan penuh rasa kasih, ia mengelap tubuh tegap Hanggara menggunakan waslap basah berair hangat. Jemari halusnya menyapu perlahan dada bidang yang dulu kerap memeluknya erat, membersihkan setiap inci kulit pria itu dari debu dan keringat dengan kelembutan yang teramat sangat.Savana juga rutin merapikan rambut hitam Hanggara, memotong kuku-kuku jarinya dengan hati-hati, hingga mengoleskan pelembab pada bibir sang dokter yang pucat dan kering. Ia tak pernah membiarkan penampilan Hanggara tampak kusam sedikit pun.Tak hanya merawat fisiknya, Savana terus mengajak Hanggara berbicara sepanjang hari. Sembari memijat l
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviewsMore