Se connecterPengkhianatan berlapis dari suami, sahabat, serta putrinya sendiri membuat Diana bertekad menutup hatinya dan menata ulang hidupnya sendirian. Namun, rencananya harus porak-poranda saat bocah dari masa lalunya mendadak muncul kembali sebagai seorang pria dewasa yang selalu siap pasang badan untuknya.
Voir plus“Aku … mau ikut Papa Harsa dan Mama Naura saja. Mama Diana suka larang ini itu. Aku nggak suka!”
Diana menahan napas mendengar ucapan itu meluncur dari bibir putrinya. Matanya mulai memerah, tak berkedip memandang video rekaman yang disetorkan oleh pihak pengacara Harsa, suami Diana, di sidang perceraian mereka.
Di sana ia melihat Harsa, suaminya, bersama Laura, putri mereka, dan sosok yang disebut Mama Naura. Yang mana adalah sahabat Diana sendiri.
Namun, wanita itu pulalah yang menjadi selingkuhan suaminya.
Dalam video itu, Diana menyaksikan putrinya memeluk Naura, sementara Harsa mengelus kepala Laura. Tampak seperti keluarga bahagia–seakan yang ada di sana bukan suami dan putri Diana, melainkan milik Naura.
Meski begitu, Diana tidak ingin menyerah mendapatkan hak asuh putrinya.
“Yang Mulia, putri saya baru berusia 4 tahun,” ucap Diana dengan suara bergetar. “Ia masih di bawah umur dan belum bisa mengambil keputusan. Bagaimanapun, saya ibunya. Saya yang selama ini merawat dan membesarkannya, jadi–”
“Laura adalah putri kandung saya dengan Naura, Yang Mulia.”
Sepasang mata Diana membelalak. Kepalanya sontak menoleh pada Harsa yang mengatakan kalimat itu dengan tenang.
Pria itu menatap Diana dengan senyum tipis. “Oleh karena itu, saya tidak yakin Diana akan mengasuh Laura dengan benar, apabila tidak ada saya bersama mereka. Ia bukan ibu kandung Laura dan selama lima tahun, saya cukup paham bagaimana karakter asli wanita ini.”
Tangan Diana mencengkeram tepian meja di hadapannya. Kepalanya terasa pusing.
Memang benar, Laura bukan putri kandungnya. Anak itu adalah anak yang diadopsi oleh suaminya di tahun kedua pernikahan mereka.
“Tapi,” ucap Diana. “Tapi, saya–”
“Yang Mulia, saya melampirkan dokumen hasil tes DNA yang menunjukkan kalau anak ini, anak biologis dari klien saya.” Pengacara Harsa tiba-tiba berucap.
Air mata Diana menetes, merasakan sesak di dada. Rasanya seperti dikhianati dua kali oleh orang-orang yang selama ini menjadi tumpuan hidupnya.
Saat matanya terbuka, ia menoleh pada Harsa yang tengah menatapnya dengan senyum kemenangan.
“Jadi … kamu membuatku membesarkan putrimu dan selingkuhanmu?” ucap Diana. Suaranya nyaris habis karena menahan sumbatan di tenggorokannya. “Kalau kamu memang mencintai dia dan ingin berkeluarga dengannya, kenapa menikahiku?”
“Jangan bersikap seakan-akan kamu korban di sini, Di,” balas Harsa. Pria itu menggeleng-gelengkan kepalanya. “Waktu itu, kamu menginginkanku, kan? Makanya kamu menyatakan cinta lebih dulu? Orang kecil sepertiku bisa apa?”
“Kamu–”
“Aku tidak punya pilihan lain.” Harsa mengangkat bahu. “Lagipula, toh apa kurangnya aku selama ini, Di? Aku tetap jadi suamimu, serta jadi ayah yang baik. Aku bahkan mengembangkan bisnismu sampai sukses.”
“Andai saja kamu tidak berulah dan mengajukan gugatan cerai, aku tetap bisa bersikap seperti biasa,” lanjut Harsa. “Tapi tidak. Selalu kamu dan egomu.”
“Harsa!”
Hakim mengetuk palu sekali, mencoba meredam suasana yang mulai memanas di ruang persidangan.
“Sidang akan diskors selama 10 menit. Tenangkan diri kalian.” Hakim memberikan titah.
Tubuh Diana merosot di kursi, sementara dadanya naik turun. Matanya terpejam.
Sekuat tenaga, ia mencoba menenangkan dirinya, meski dirinya terus-menerus dihantam fakta yang memporak-porandakan hati dan otaknya.
Ia kehilangan keluarga. Selama ini ia hidup dalam tipuan, lelaki yang menjadi suaminya bukanlah miliknya–begitu juga putri yang selama ini ia besarkan. Diana tidak melihat harapan untuk merengkuh keduanya lagi.
Akan tetapi, masih ada yang bisa ia perjuangkan. Dan ia tidak ingin membiarkan satu hal ini lepas dari tangannya.
Sepasang mata Diana terbuka.
"Sidang dilanjutkan. Selanjutnya majelis akan memeriksa bukti dan saksi terkait tuntutan pembagian harta bersama."
Pengacara Harsa meminta pembagian harta, dan menuntut penuh hak pengelolaan perusahaan dan seluruh cabang toko. Seperti yang disebutkan Harsa tadi, pria itu berhasil mengembangkan perusahaan furniture selama bertahun-tahun hingga mencapai titik kejayaan.
Namun, bisnis itu sendiri dimodali dan didirikan oleh Diana.
“Perusahaan berdiri sebelum adanya pernikahan. Sehingga tidak masuk harta bersama. Selain itu, jauh sebelum terjadi gugatan di pengadilan. Klien saya sudah mematenkan merek dagang, nama brand, logo, dan seluruh desain di toko atas nama pribadinya.”
Diana menatap wajah Harsa yang mendadak pucat.
Pengacara Diana melanjutkan ucapannya. “Dengan adanya dokumen sah ini. Tergugat, tidak memiliki hak sepeserpun atas saham perusahaan mulai detik ini.”
Harsa sontak berdiri. “Tidak mungkin!” tukasnya. “Saya yang membesarkan perusahaan itu! Saat kami menikah, itu masih bisnis kecil!”
Diana tidak mengatakan apa pun, bahkan hingga sidang berakhir dengan peresmian gugatan cerai dari Diana.
Ah, ia kini resmi menyandang status janda.
Wanita itu kemudian berdiri dan melangkah pergi.
“Diana!”
Meski ia mendengar suara Harsa memanggil namanya, ia tidak menoleh. Langkahnya tetap ia usahakan tegap saat menyusuri koridor.
Namun, tiba-tiba pria itu mencekal pergelangan tangannya dan menariknya hingga nyaris terjatuh.
“Tuli, ya? Aku memanggilmu!” Harsa membentak. “Apa maksudmu mematenkan semuanya atas nama pribadi? Kamu tidak berhak!”
“Secara resmi, aku berhak,” ucap Diana. “Aku pemilik sahnya.”
“Aku yang mengembangkan bisnis itu! Kamu pikir kamu punya otak buat pimpin perusahaan?” balas Harsa. “Kamu tidak tahu apa-apa soal bisnis!”
“Lalu?” Diana menarik tangannya dari cengkeraman Harsa. “Kalau kamu tidak mau dipimpin oleh pemilik seperti ini, silakan ajukan surat pengunduran diri, Harsa.”
Mata Harsa membelalak sempurna.
“Kurang ajar!”
Tangan Harsa terangkat hendak melayangkan pukulan pada Diana.
Namun, sebelum pukulan itu mendarat di pipi Diana, sebuah tangan sudah lebih dulu menahannya.
Fokus Diana beralih pada sosok itu. “Anda…”
Diana menoleh ke depan sana, wajahnya tersorot lampu mobil, sosok Rowan berdiri tegak dengan satu tangan di dalam saku celananya. Tatapan pria itu lurus mengunci mobil Arsen. Meski jarak mereka terpisah beberapa meter, ketegangan di wajah Rowan terasa begitu nyata.“Iya,” jawab Diana pelan, berusaha mengontrol suaranya agar tetap terdengar biasa saja. “Nggak apa-apa, Sen. Kamu langsung pulang saja. Ini sudah larut malam.”Arsen tidak langsung melajukan mobilnya. Pria itu menatap Rowan sejenak, lalu kembali melirik Diana. Kerutan di dahinya menandakan rasa penasaran yang besar, namun ia memilih untuk tidak mendesak lebih jauh. Arsen tahu batasannya.“Kamu yakin nggak apa-apa? Perlu aku temani sampai masuk rumah?” tawar Arsen lembut.Diana menggeleng sambil melepaskan sabuk pengamannya. “Nggak usah, Sen. Aku bisa sendiri. Makasih banyak ya buat hari ini.”“Sama-sama. Istirahatlah, Diana.” Arsen tersenyum tipis.Diana membuka pintu mobil lalu turun. Begitu kakinya menapak di tanah, suara
Mohon maaf otor baru update. Belum lama ini otor sakit dan baru pulih. Di satu sisi kucing kesayangan otor juga sakit terkena flutd, jadi otor tidak punya kesempatan untuk update sama sekali. Di saat otor sakit, otor juga sibuk merawat kucing otor.Sekarang kucing kesayangan otor sudah meninggal dan tidak sakit lagi.Terima kasih, sudah mau menunggu Diana dan Rowan.
Diana buru-buru mengalihkan pandangan matanya. Saat Rowan menatapnya lebih lekat.“Bukan apa-apa,” jawab Diana cepat sambil merapikan brosur di meja stan Livora. “Aku baru menyadari kalau gedung pameran kali ini dibuat lebih megah.”Saat Arsen menatap ke arah tempat Rowan berdiri, pria itu sudah berbalik pergi bersama Davian. Arsen kembali menatap Diana dengan dahi berkerut. Ia tahu Diana bohong. Rasa cemas di mata wanita itu tidak bisa disembunyikan.Arsen menyadari kalau hubungan Diana dan Rowan tidak biasa, pria itu bukan pria biasa yang hanya sekadar bertetangga dengan Diana. Pria itu menyadari sesuatu, tetapi ia lebih menyembunyikan kebenaran itu di hatinya.“Diana,” Arsen melangkah mendekat, suaranya melembut. “Kamu nggak usah merasa berutang budi sama Pak Rowan. Tanpa gertakan dia tadi, produk Livora tetap yang terbaik. Kita bisa cari investor lain tanpa bantuan dia.”Diana menoleh pada Arsen, lalu perlahan senyuman tercipta di wajahnya. Diana mengangguk seraya tersenyum.“Tent
Diana mengepalkan tangannya. Ia tahu ucapan Adam saat ini membawa dampak besar untuk kedepannya. Ucapan itu pria itu seketika membuat suasana mendadak tegang dan ucapan Adam membuat beberapa pengunjung yang mendengar ucapannya mendadak ragu.Di tengah ketegangan itu, suara langkah kaki terdengar mendekat. Sosok Rowan kembali muncul, namun kali ini ia tidak bersama rombongan direksinya. Pria itu hanya berdua bersama Davian.Langkah pria itu berhenti tepat di depan Adam. Kehadirannya yang tiba-tiba membuat Adam seketika tersentak kaget. Ekspresi pria itu mendadak berubah menjadi sangat ramah."Ah, Pak Rowan! Suatu kehormatan bisa bertemu Anda di sini," sapa Adam buru-buru membungkuk hormat.Rowan tidak membalas sapaan itu. Sepasang mata dinginnya menatap Adam dengan tajam, membuat pria paruh baya itu mendadak berkeringat dingin.Rowan kemudian mengalihkan pandangannya pada kereta bayi buatan Diana, lalu menyentuh penutup otomatisnya dengan gerakan perlahan. Diana yang melihat itu terteg






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
commentaires