Masuk“Kalau begitu...” ucap Nathan. Loraine menatapnya.Nathan mengangkat alis. “Bagaimana dengan pesta pernikahan kita?”Pertanyaan itu membuat pikiran Loraine yang sebelumnya sudah mulai tenang kembali berantakan.“Pesta pernikahan,” pikirnya. “Benar. Kami baru saja membicarakan berakhirnya kontrak, lalu Pak Nathan mengungkapkan perasaannya, dan sekarang bagaimana dengan pesta pernikahan yang tinggal beberapa minggu lagi?” batinnya sangat bergejolak. Loraine menundukkan wajah.“Bagaimana dengan pesta pernikahan kita?”Pertanyaan Nathan kembali terngiang di kepalanya. Sejujurnya, Loraine sendiri tidak tahu.“Kalau menurut saya...” Loraine berhenti sejenak. “Saya akan mengikuti keputusan Anda.”Nathan mengerutkan dahi. “Mengikuti keputusanku?”Loraine mengangguk pelan.“Ya. Bagaimanapun, pesta ini awalnya diadakan karena kontrak kita.” Loraine memainkan ujung tisu di tangannya. “Jadi setelah kontraknya berakhir, saya pikir keputusan selanjutnya ada di tangan Anda.”Nathan menatapnya bebe
“Loraine, jangan menangis seperti itu. Aku benar-benar tidak tahu harus melakukan apa.” Suara Nathan terdengar panik.Loraine masih menunduk. Tangannya menggenggam tisu yang diberikan Nathan, sementara air mata terus mengalir tanpa bisa ia hentikan.Ia sendiri tidak mengerti kenapa dirinya menangis sebanyak ini. Padahal Nathan tidak mengatakan sesuatu yang menyakitkan, justru sebaliknya.Untuk pertama kalinya, pria itu mengatakan apa yang sebenarnya ia rasakan. Nathan mencintainya. Kalimat sederhana itu terus berputar di kepala Loraine. “Aku mencintaimu, Loraine.”Entah kenapa, mendengarnya langsung dari mulut Nathan membuat dadanya terasa sesak sekaligus hangat. Selama beberapa waktu terakhir, Loraine memang mulai menyadari bahwa sikap Nathan kepadanya telah berubah.Perhatian kecil yang semakin sering diberikan. Cara Nathan selalu memastikan dirinya sudah makan lalu cara pria itu memperhatikannya ketika mereka sedang berada di rumah. Ba
“Apa yang ingin Anda sampaikan?” tanya Loraine. Nathan terdiam, pertanyaan sederhana itu justru membuat seluruh keberanian yang sudah dikumpulkannya sejak tadi terasa menghilang.Ia menatap Loraine yang masih duduk di hadapannya. Wanita itu terlihat tegang. Kedua tangannya masih berada di atas pangkuan, sementara matanya menatap Nathan dengan penuh rasa penasaran.Nathan menarik napas panjang, ia sudah sampai sejauh ini. Kontrak mereka sudah berakhir. Tidak ada lagi alasan untuk menyembunyikan perasaannya di balik kesepakatan. Jika ia ingin mempertahankan wanita itu, sekarang adalah satu-satunya kesempatan untuk mengatakannya.“Ada sesuatu yang sebenarnya sudah cukup lama ingin kukatakan,” kata Nathan. Loraine menunggu.Nathan menatapnya beberapa detik sebelum akhirnya berkata, “Mungkin ini akan terdengar egois.”Loraine sedikit mengerutkan dahi. “Egois?” ulangnya. Nathan mengangguk pelan. “Karena setelah kontrak ini berakhir, seharusnya aku membiarkanmu pergi.”Jantung Loraine be
“Mengakhiri kontrak?”Nathan masih terdiam, kalimat Loraine terus berputar di kepalanya. Ia menatap wanita di hadapannya tanpa berkata apa-apa. Untuk beberapa detik, pikirannya benar-benar kosong.Lalu berbagai kemungkinan mulai bermunculan.Jika ia menyetujui permintaan Loraine, semuanya akan selesai. Tidak ada lagi alasan bagi mereka untuk tinggal bersama. Loraine bisa kembali menjalani hidupnya sendiri.“Lalu, bagaimana dengan diriku?” tanya Nathan dalam hati.Ia menundukkan wajahnya. “Tapi jika aku menolak? Aku membutuhkan alasan,” lanjutnya dalam hati.Ia ingin mengakui bahwa dirinya tidak ingin kontrak itu berakhir. Dan itu berarti harus mengakui perasaan yang bahkan sampai sekarang masih dipendamnya itu.Nathan mengepalkan tangannya di bawah meja.“Aku setuju,” suara dalam pikirannya berkata demikian. “Kalau memang dia ingin pergi, lepaskan.” Namun suaranya yang lain segera menyela. “Tidak.” Nathan menarik napas panjang. “Kalau aku mengatakan tidak, lalu apa yang akan kukataka
Dua bulan berlalu sejak Nathan pertama kali menyadari bahwa perasaannya terhadap Loraine sudah berubah. Sejak saat itu, banyak hal berubah di antara mereka. Belum ada pengakuan atau pembicaraan mengenai perasaan masing-masing. Tapi Nathan juga tidak lagi berusaha menyembunyikan perhatiannya kepada Loraine. Jika sebelumnya ia selalu mencari alasan untuk membantu wanita itu, kini ia melakukannya tanpa banyak berpikir.Loraine pun mulai terbiasa dengan kebiasaan-kebiasaan kecil dengan Nathan yang perlahan menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.~Suasana di kantor Green Group jauh lebih sibuk daripada biasanya. Hari itu merupakan hari yang sudah ditunggu-tunggu Nathan selama berbulan-bulan. Pengumuman resmi mengenai posisi barunya akhirnya disampaikan.Nathan West secara resmi dipromosikan menjadi Wakil CEO Green Group. Berita tersebut langsung menjadi bahan pembicaraan di seluruh perusahaan.Beberapa karyawan mengucapkan selamat ketika Nathan melewati lorong kantor. Bahkan beberapa
Senin pagi datang terlalu cepat bagi Nathan. Pria itu berdiri di depan cermin sambil merapikan dasinya. Tatapannya tampak serius, tetapi pikirannya justru dipenuhi satu hal yang sama sekali tidak berhubungan dengan pekerjaannya.Loraine.Nathan menghela napas. “Mulai hari ini, bersikaplah biasa.” Ia menatap pantulan dirinya sendiri.“Dia tetap sekretarisku. Aku tetap atasannya.” Nathan mengangguk seolah sedang memberikan instruksi penting kepada dirinya sendiri.“Tidak perlu memperhatikannya terus-menerus. Tidak perlu memikirkan apa yang dia lakukan. Dan yang paling penting…”Ia berhenti sejenak.“Jangan bersikap aneh.”Setelah merasa cukup yakin, Nathan mengambil jasnya lalu keluar dari kamar. Namun begitu turun ke lantai bawah, langkahnya langsung berhenti.Loraine sudah berada di meja makan. Wanita itu sedang mengobrol dengan bibi Ratna sambil sesekali melihat jam di dinding. Rambut panjangnya diikat sederhana. Pakaian kerjanya sudah rapi.Nathan terdiam.“Pagi, Pak Nathan.”Nathan







