ログインDegh!
Jantung Loraine berdegup lebih cepat ketika melihat sebuah sedan hitam perlahan mengurangi kecepatan lalu berhenti tak jauh dari halte."Leon?" batinnya.Tanpa sadar ia melangkah mundur satu langkah. Jemarinya menggenggam tali tas semakin erat hingga buku-buku jarinya memutih.Pintu mobil terbuka saat seorang wanita melambaikan tangan sambil tersenyum."Maaf ya, bikin kamu nunggu lama.""Belum lama kok, aku juga baru sampai.""Selamat. Mulutmu berhasil menghancurkan hidupmu sendiri,” batin Nathan. "Astaga. Apa yang baru saja kukatakan?" bisiknya dalam hati.Nathan memejamkan mata beberapa detik. Kalau saja waktu bisa diputar lima detik… mulutnya pasti sudah ia tutup rapat sebelum sempat mengucapkan kalimat memalukan itu.Ia menarik napas panjang."Sudahlah. Semoga wanita ini mau mengikuti sandiwaraku,” Nathan berharap dalam hatinya. "Kalau dia malah membantah sekarang… aku benar-benar ingin menghilang dari planet ini,” batinnya. Nathan perlahan membuka matanya. Tatapannya langsung bertemu dengan Loraine. Wanita itu masih menatapnya dengan mata membulat."...""Apa maksud Pak Nathan? Calon suami? Aku? Kapan?" batin Loraine. Berbagai pertanyaan memenuhi kepala Loraine setelah mendengar ucapan Nathan yang tak hanya membuatnya terkejut, melainkan juga membuatnya tak tahu harus merespon apa.Loraine mencoba menginga
"Sialan." Nathan langsung mematikan sambungan teleponnya begitu melihat sosok pria yang berdiri tak jauh dari pintu keluar gedung. “Pria itu lagi,” gumamnya. Leon berdiri santai dengan kedua tangan di saku celananya. Tatapannya terus mengarah ke pintu masuk kantor, seolah sedang menunggu seseorang. Nathan menghela napas panjang. "Apa dia tidak punya pekerjaan?" cibir Nathan pelan. Ia memasukkan ponselnya ke dalam saku jas. "Kalau dibiarkan begini, wanita itu pasti kesulitan untuk pulang lagi." Nathan sebenarnya enggan ikut campur. Yang diinginkannya saat ini hanya pulang, mandi, lalu tidur tanpa diganggu siapa pun. "Hari ini sudah cukup melelahkan. Besok masih ada tiga rapat. Jangan cari masalah lagi,” batinnya. Namun kedua kakinya justru melangkah menuju Leon. Dan Leon menoleh ketika mendengar langkah kaki mendekat. "Kau?" Nathan berhenti tepat di depannya. Sementara Leon hanya menatapnya datar. Kemudian Nathan membuka suara lebih dulu. "Silakan tinggalkan area ini." L
Degh! Jantung Loraine berdegup lebih cepat ketika melihat sebuah sedan hitam perlahan mengurangi kecepatan lalu berhenti tak jauh dari halte."Leon?" batinnya.Tanpa sadar ia melangkah mundur satu langkah. Jemarinya menggenggam tali tas semakin erat hingga buku-buku jarinya memutih.Pintu mobil terbuka saat seorang wanita melambaikan tangan sambil tersenyum."Maaf ya, bikin kamu nunggu lama.""Belum lama kok, aku juga baru sampai."Pria itu tertawa kecil, lalu membukakan pintu mobil untuk wanita tersebut.Mobil itu kembali melaju meninggalkan halte. Loraine akhirnya bisa menghela napas panjang."Ternyata bukan Leon..."Ia menundukkan kepala sambil tersenyum getir."Aku benar-benar tak bisa bernapas lega."Tak lama kemudian, bus yang ditunggunya datang. Loraine segera naik dan memilih duduk di dekat jendela.Sepanjang perjalanan, pandangannya hanya tertuju ke arah lua
“A-apa ini?” ucapnya.Ia sangat terkejut hingga menutup mulutnya dengan kedua tangannya.Begitu banyak buket bunga memenuhi depan pintunya. Bahkan ada banyak tumpukan hadiah dari merk-merk terkenal. Sudah jelas bahwa ini semua ulah Leon. “Aku tak menginginkan ini semua,” ucapnya lirih sambil berderai air mata. Loraine memesan jasa kebersihan untuk membersihkan semua buket bunga beserta hadiah-hadiah itu. “Maaf, bu. Apakah anda yakin hadiah-hadiah ini juga dibuang?” tanya petugas yang datang.“Benar, pak,” jawabnya singkat. “Bukankah ini semua barang-barang mahal?” petugas itu masih tak habis pikir dengan keputusan Loraine.“Memang, tetapi saya tak menginginkan semua ini. Jadi bisakah anda segera membereskan semuanya?” ucap Loraine. “Ma-maaf…” petugas lain menyela.Loraine menoleh dan menjawab, “ya?”“Ji-jika anda berkenan, apakah saya boleh meminta ini?” tanya petugas itu ragu-ragu. Loraine menatap sekilas kardus yang ditunjuk oleh petugas itu, salah satu hadiah dari banyak tump
“Leon? Apa dia sudah tahu kalau aku di sini?” pikirnya. Pikiran itu kembali memenuhi kepala Loraine. Perawat itu berjalan mendekat ke arah Loraine dan mengatakan, “saya letakkan di sini ya?” “Tu-tunggu. Bisakah anda lihat apa isinya?” tanya Loraine ragu.Perawat mengangguk pelan dan mengeluarkan isinya. Ternyata berisi sebuah tas yang familiar bagi Loraine. “Oh! Tasku!” seru Loraine. Loraine mengulurkan tangannya perlahan. Perawat itu menyerahkan tas tersebut. Saat menerimanya Loraine mengucapkan terima kasih.Perawatan tersebut akhirnya keluar dan meninggalkan Loraine sendirian. Sementara Loraine mengecek isi tasnya masih lengkap. Dia mulai penasaran tentang pengirimnya.“Jelas bukan dari Leon. Dia tak mungkin melakukan tindakan seperti untuk sekarang, mengingat kejadian semalam. Lalu siapa?” tanyanya sendiri.“Apakah pak Nathan?” tanyanya lirih.Pertanyaan itu tetap tertinggal di pikirannya untuk beberapa saat. Loraine mengecek ponselnya, tak ada seseorang atau teman dekat yang
“SIAL!”Kata itu keluar begitu saja saat dia melihat tas milik Loraine tertinggal di dalam mobilnya. Dengan segera ia meraihnya dan membuka.“Ponselnya di dalam tas ini!” ucapnya.“Perusahaan tidak menoleransi jika karyawannya tidak masuk tanpa keterangan jelas. Wanita itu dalam masalah jika ia tak bisa menghubungi kantor karena sedang opname, kan. Apes banget nasibnya,” gumamnya. Nathan mencoba menyalakan ponsel milik Loraine itu, “bisa-bisanya ponselnya tak memakai sandi, coba ku cari kontak asisten manajer atau manajernya.”Saat membuka kontaknya, Nathan menggelengkan kepalanya. Ia benar-benar tak habis pikir, bisa-bisanya tak memiliki satu kontak tersimpan.“Apa dia dirundung dan dikucilkan di kantor? Bukankah perusahaan akan menindak tegas jika terjadi perundungan antar karyawan. Ah sudahlah,” Nathan kembali memasukkan ponsel milik Loraine ke dalam tas itu seperti semula. Ia mengeluarkan ponselnya untuk menelepon Jackson. “Halo, pak. Ada yang bisa saya bantu?” jawab Jackson.“







