Chapter: BAB 121Mobil melaju membelah jalanan kota menuju rumah sakit. Di kursi belakang, Nathan masih menyandarkan kepalanya di bahu Loraine, sementara jemarinya menggenggam tangan sang istri seolah-olah perempuan itu satu-satunya obat yang bisa menyembuhkan penyakitnya.“Sayang, kepalaku masih terasa berat,” keluh Nathan pelan.Loraine menoleh, lalu mengusap rambut suaminya dengan lembut. “Sebentar lagi kita sampai. Nanti ayah akan memeriksamu, jadi bersabarlah.”Nathan mengangkat wajahnya sedikit. “Kau akan terus menemaniku, kan?”“Tentu saja.”“Jangan pergi ke mana-mana.”Loraine terkekeh. “Aku ini istrimu. Memangnya aku mau pergi ke mana?”“Bagus.” Nathan kembali menyandarkan kepalanya di bahu Loraine. “Kalau begitu, aku bisa tenang.”Di kursi pengemudi, Jackson nyaris menggigit lidahnya sendiri demi menahan komentar. Ia sudah mengenal Nathan selama bertahun-tahun, tetapi belum pernah sekalipun melihat pria itu bersikap seperti anak kecil yang takut ditinggal ibunya.“Pria ini benar-benar sudah
Terakhir Diperbarui: 2026-10-26
Chapter: BAB 120“Apa sebaiknya kita panggil ambulans saja?”Ucapan Loraine membuat Nathan terdiam sejenak di dalam kamar mandi. Beberapa detik kemudian, pintu kamar mandi terbuka. Ia keluar dengan wajah yang masih sedikit pucat, lalu menatap Loraine dan Jackson bergantian.“Ambulans?” tanyanya. Loraine langsung berdiri. “Apa yang kau rasakan?”Nathan menghela napas. “Tidak perlu sampai ambulans.”Jackson yang sejak tadi terlihat cemas langsung mendekat. “Tapi Anda muntah dan sekarang wajah Anda juga pucat.”“Aku hanya merasa tidak enak badan.”“Justru itu—”“Jackson.”Jackson langsung diam.Nathan berjalan menuju mejanya lalu duduk di kursi. “Reschedule semua jadwalku hari ini.”Jackson mengangguk. “Baik.”“Dan jangan masukkan rapat apa pun.”“Baik, Pak.”Nathan kemudian menatap Loraine. “Kau tetap di sini.”Loraine mengerutkan kening. “Apa ada yang bisa kubantu?”“Aku tidak ingin sendirian.”Jackson yang berdiri di samping mereka langsung menatap langit-langit.“Ya Tuhan,” batinnya. Ia mulai meras
Terakhir Diperbarui: 2026-10-22
Chapter: BAB 119Loraine akhirnya kembali bekerja. Pagi itu, ia duduk di meja kerjanya yang berada tepat di luar ruangan Nathan. Di seberangnya, Jackson sudah sibuk memeriksa beberapa dokumen yang menumpuk. “Selamat datang kembali di dunia kerja,” ucap Jackson tanpa mengalihkan pandangan dari layar komputernya. Loraine tertawa kecil. “Terima kasih.” “Bagaimana rasanya kembali?” “Lumayan.” Jackson meliriknya. “Tidak merasa ingin kembali libur?” “Kalau bisa, tentu saja.” Jackson mengangguk setuju. “Jawaban yang sangat jujur.” Loraine baru saja membuka salah satu dokumen ketika pintu ruangan Nathan terbuka. “Bu Loraine.” Loraine langsung menoleh. “Ya, Pak?” “Bisa masuk sebentar?” “Baik.” Loraine bangkit dari kursinya dan membawa sebuah map sebelum masuk ke ruangan Nathan. Jackson memperhatikan pintu yang kembali tertutup. Ia kemudian melihat jam. Lima belas menit telah berlalu. Jackson kembali menatap pintu itu. “Mentang-mentang sudah resmi menikah, sekarang terang-terangan berduaan,” gerut
Terakhir Diperbarui: 2026-09-22
Chapter: BAB 118Beberapa hari berlalu setelah keluarga Kimberly menerima konsekuensi atas apa yang mereka lakukan.Untuk pertama kalinya setelah minggu-minggu yang berat, Nathan dan Loraine benar-benar terasa tenang.Pagi itu, Loraine berdiri di depan meja makan sambil memperhatikan Nathan yang masih membaca sesuatu di tablet.“Bukankah kau bilang sudah tidak mau membuka pekerjaan saat sarapan?”Nathan mengangkat wajah. “Aku tidak sedang bekerja.”Loraine menunjuk layar di tangannya. “Lalu itu apa?”Nathan melihat tabletnya sendiri sebelum tersenyum santai. “Laporan.”“Laporan itu pekerjaan.”“Ini hanya lima menit.”Loraine menarik napas panjang lalu mengambil tablet tersebut dari tangannya.“Nathan.”“Loraine.”“Sudah.”Nathan menatap istrinya yang dengan tenang meletakkan tablet itu jauh dari jangkauannya. “Kau sekarang mulai mengatur ya.”“Apa tak boleh?”Nathan tertawa kecil. “Baiklah. Aku menyerah.”Loraine kembali duduk di hadapannya. “Bagus.”Nathan memperhatikannya beberapa detik sebelum berk
Terakhir Diperbarui: 2026-09-21
Chapter: BAB 117Pagi itu, sebelum ayah Kimberly sempat melakukan apa pun terhadap bukti yang masih tersisa, suara ketukan keras terdengar dari pintu rumahnya.Pria itu baru saja turun dari tangga ketika beberapa orang berseragam berdiri di hadapannya dengan surat perintah penangkapan. Wajahnya seketika berubah saat salah satu penyidik menyebut namanya dan mengatakan bahwa ia diperiksa atas dugaan keterlibatan dalam rekayasa kecelakaan bus dua puluh tahun lalu.“Apa maksud kalian?” tanyanya dengan suara berat.“Kami memiliki cukup bukti untuk membawa Anda ke kantor kepolisian.”Pria itu sempat mencoba membantah, tetapi tidak ada lagi ruang untuk berkelit. Kesaksian mantan pekerja bengkel, catatan pembayaran, dokumen perusahaan, serta pengakuan Kimberly telah membentuk rangkaian bukti yang tidak mudah dipatahkan.Untuk pertama kalinya setelah dua puluh tahun, pria yang selama ini bersembunyi di balik nama besar keluarganya akhirnya dibawa pergi dengan tangan terikat. Dan kali ini, tidak ada seorang pun
Terakhir Diperbarui: 2026-09-20
Chapter: BAB 116Pagi berikutnya, suasana di rumah utama keluarga Green terasa jauh lebih berat daripada biasanya.Tidak ada percakapan santai seperti hari-hari sebelumnya. Para anggota keluarga yang mengetahui Kimberly sedang diperiksa polisi memilih diam, sementara August sejak pagi belum kembali ke rumah setelah meninggalkan kantor kepolisian tempat istrinya menjalani pemeriksaan lanjutan.~Di tempat lain di ruang keluarga West, Nathan duduk bersama Loraine, Clara, Daniel, Adrian, dan Daisy. Tidak seorang pun berbicara sampai suara pintu terbuka.Jackson masuk sambil membawa sebuah map tebal di tangannya.Nathan langsung menatapnya. “Bagaimana?”Jackson berjalan mendekat dan meletakkan map tersebut di atas meja. “Kami menemukan bukti terakhir yang kami butuhkan.”Adrian yang sejak tadi diam langsung mengangkat wajah. “Bukti apa?”Jackson membuka map itu perlahan. “Mantan pekerja bengkel yang saya ceritakan sebelumnya akhirnya memberikan keterangan lengkap. Setelah melihat kembali salinan surat pem
Terakhir Diperbarui: 2026-09-19
Chapter: BAB 185Beberapa tahun telah berlalu sejak malam ketika dua kehidupan berakhir di dekat Teluk Mati.Hutan tempat Lycander pernah tinggal masih sama. Pohon-pohon tinggi masih berdiri mengelilingi wilayah itu, sungai kecil masih mengalir di antara bebatuan, dan angin malam masih membawa aroma tanah basah yang sama seperti dahulu.Namun bagi Robert, tidak ada satu pun yang benar-benar terasa sama. Ia berdiri di depan sebuah cermin kecil di dalam rumahnya. Di lehernya tergantung sebuah kalung sederhana dengan satu Mutiara Merah di tengahnya.Robert menyentuh mutiara itu perlahan. Benda tersebut masih terlihat sama seperti ketika pertama kali ia memungutnya dari tanah. Merah pekat, halus, dan memantulkan cahaya dengan cara yang aneh ketika terkena sinar bulan."Sudah lama sekali..." Robert tersenyum tipis. "Seharusnya aku sudah terbiasa."Namun ia tahu dirinya berbohong. Ia masih mengingat hari ketika pertama kali membuat kalung itu. Tangannya gemetar ketika memasukkan Mutiara Merah ke dalam tali,
Terakhir Diperbarui: 2026-08-23
Chapter: BAB 184Pintu ruangan Alpha terbuka menjelang dini hari, Robert masuk dengan langkah berat. Alpha yang masih berada di dalam ruangan langsung mengangkat wajah. Ia hanya perlu melihat ekspresi Robert untuk mengetahui bahwa sesuatu telah terjadi.“Robert.”Robert berhenti beberapa langkah di hadapannya. Alpha menatapnya cukup lama. “Kau tak melapor tadi malam, apa terjadi sesuatu?”Robert tidak langsung menjawab. Keheningan itu sudah cukup memberi jawaban. Alpha perlahan berdiri.“Jawab aku.”Robert menundukkan kepala. “Lycander telah tiada.”Ruangan mendadak terasa sunyi. Alpha tidak bergerak. Tatapannya tetap tertuju kepada Robert, tetapi untuk beberapa detik seolah-olah ia tidak benar-benar mendengar kalimat tersebut.“...Bagaimana?”“Anak panah menembus jantungnya.” Robert menarik napas. “Dia sempat kembali sadar sebelum meninggal.”Mata Alpha sedikit berubah. “Dia kembali?”Robert mengangguk. “Untuk beberapa saat.”Alpha menundukkan pandangan. “Apakah dia mengatakan sesuatu?”Robert terdia
Terakhir Diperbarui: 2026-08-23
Chapter: BAB 183Malam semakin sunyi setelah napas Maris benar-benar berhenti. Robert masih berlutut di samping tubuhnya dan Lycander, sementara beberapa mutiara merah berserakan di atas pasir di antara mereka. Ia menatap mutiara yang masih berada di telapak tangannya. Benda itu terasa hangat, seolah baru saja terlepas dari tubuh Maris beberapa saat lalu. “Ini bukan mutiara biasa...” Robert perlahan mengangkatnya mendekati cahaya bulan. Permukaannya memantulkan cahaya kemerahan yang lembut, begitu berbeda dari mutiara hitam yang pernah ia lihat sebelumnya. Ia kembali teringat pada cerita tentang air mata duyung yang dapat berubah menjadi mutiara hitam ketika lahir dari kebahagiaan murni. Namun yang ada di hadapannya sekarang berwarna merah. “Air mata kebahagiaan menghasilkan mutiara hitam...” gumam Robert. “Lalu apa yang menghasilkan warna ini?” Tidak ada jawaban. Robert menatap Maris. Wajah duyung itu masih terlihat tenang meski beberapa saat sebelumnya tubuhnya dipenuhi rasa sakit. Bahkan sete
Terakhir Diperbarui: 2026-08-21
Chapter: BAB 182Teriakan Maris masih menggema di sepanjang pantai. Tubuh Lycander tetap berada dalam pelukannya, tidak lagi memberikan respons apa pun meski Maris terus memanggil namanya.“Lycander!”Maris mengguncang tubuhnya perlahan, seolah berharap pria itu hanya sedang tertidur. Namun tidak ada gerakan sedikit pun, bahkan napas yang tadi masih tersisa kini benar-benar telah berhenti.“Bangun...”Suaranya pecah. “Aku tahu kau masih bisa mendengarku.”Maris menundukkan wajahnya ke dada Lycander. Ia tidak peduli bahwa tidak ada lagi detak jantung yang bisa dirasakan di sana.“Kau tak boleh pergi.”Robert berdiri beberapa langkah dari mereka. Ia ingin menghampiri Maris, tetapi kakinya terasa berat, seolah dirinya sendiri tidak tahu apa yang harus dilakukan setelah melihat Lycander menghembuskan napas terakhir.“Maris...”Maris tidak menjawab. Ia justru memeluk Lycander semakin erat.“Aku sudah bilang...” bisi
Terakhir Diperbarui: 2026-08-20
Chapter: BAB 181Tubuh Lycander terhuyung setelah anak panah menembus dadanya. Bulu-bulu yang menutupi tubuhnya perlahan menghilang, cakar di ujung jarinya memendek, dan taring yang memenuhi mulutnya kembali menjadi gigi manusia.Dalam beberapa detik, sosok makhluk buas itu benar-benar lenyap, yang tersisa hanyalah Lycander. Tubuhnya akhirnya roboh ke atas pasir. Anak panah masih tertancap di dadanya, darah perlahan merembes dari luka yang berada tepat di atas jantungnya.“Lycander!”Maris berusaha keluar dari air secepat yang ia mampu. Begitu tubuh bagian atasnya mencapai pasir, ia langsung meraih permukaan pasir dengan kedua tangannya dan menarik tubuhnya maju.Ekor duyungnya terseret berat di atas pasir, sementara setiap gerakan membuat tubuhnya semakin kehilangan tenaga. Namun Maris tidak berhenti, ia terus merangkak hanya dengan mengandalkan kedua lengannya menuju tubuh Lycander yang tergeletak beberapa langkah di depannya.“Lycander...”Sua
Terakhir Diperbarui: 2026-08-20
Chapter: BAB 180Lycander bergerak perlahan ke arah Maris. Setiap langkahnya meninggalkan jejak dalam pasir, sementara tubuhnya yang telah sepenuhnya berubah menjadi makhluk buas peemanen membuat sosoknya nyaris tidak lagi menyerupai Lycander yang selama ini dikenal Maris.Maris masih berada di tempatnya. Ia melihat makhluk itu mendekat, tetapi bukannya mundur, justru tatapannya tetap tertuju pada mata Lycander yang dipenuhi keganasan.“Maris! Menjauh!”Suara Robert terdengar keras dari belakang.Maris tidak bergeming.“Maris!” Robert kembali berteriak. “Jangan dekati dia!”Maris menggigit bibirnya. Tubuhnya memang gemetar, tetapi ia tetap berada di tempat yang sama.Maris mengenal tatapan itu. Tatapan yang pernah ia lihat sebelumnya. Tatapan Lycander yang sedang berusaha melawan sesuatu di dalam dirinya.“Lycander...”Makhluk buas itu berhenti, hanya sesaat. Kepalanya terangkat sedikit ketika mendengar nama tersebut. Namun beberapa detik kemudian, geraman rendah kembali keluar dari tenggorokannya.Ma
Terakhir Diperbarui: 2026-08-20