Mag-log inDemi melunasi utang turun-temurun keluarganya, Nismara Kalingga dipaksa menggantikan sang nyonya yang hamil berisiko untuk melayani suaminya di ranjang selama dua tahun dengan janji kebebasan. - Namun, ketika sang tuan justru memperlakukannya dengan kelembutan yang tak pernah ia bayangkan, Nismara terjebak di antara janji kebebasan, rahasia kelam keluarga Sasmita dengan keluarganya, dan cinta terlarang yang mengancam menghancurkan segalanya. - "Biarkan aku mengajarimu bagaimana rasanya disentuh tanpa ketakutan." — Satria
view more“Kamu putri sulung keluarga Kalingga yang menjadi pelayan seumur hidup di keluarga Sasmita?”
Nismara Kalingga mengangguk pelan menghadap Prameswari, “Benar, Ndoro Ayu. Saya Nismara Kalingga.”
Prameswari Sasmita adalah istri dari Satria Sasmita, juragan perkebunan berdarah biru paling berkuasa dan terkaya di Desa Tirtawening—sebuah wilayah subur yang kaya akan hasil bumi.
“Berdiri!” perintah Prameswari seraya memberi isyarat dengan kibatan tangannya.
Nismara menurut tanpa bantahan. Jemari lentik Prameswari bergerak naik, menyentuh dagu, merambat ke garis rahang, tulang selangka, dada, hingga membelai permukaan kulit Nismara.
Sentuhan itu teliti dan penuh kalkulasi, persis seperti seorang tuan yang sedang menilai kualitas barang dagangan.
“Lumayan,” ucap Prameswari lagi.
Sementara itu, Nismara hanya bisa terpaku. Ia tak mengerti mengapa Prameswari memandangi dan meraba tubuhnya dengan cara serendah ini.
Sejak awal, Nismara melangkah ke rumah besar ini hanya untuk melunasi utang-utang keluarganya yang turun-temurun kepada keluarga Sasmita.
Sudah tiga generasi keluarganya mengabdi pada trah kaya tersebut, dan kini tiba gilirannya.
Nismara sendiri tidak pernah tahu berapa pasti besarnya utang yang menumpuk itu. Yang ia tahu, keluarganya terikat pengabdian mutlak turun-temurun tanpa bantahan, hanya berpatokan pada selembar surat wasiat di atas kertas usang yang kian menguning.
“Bude kamu sudah menjelaskan apa tugasmu di sini?” tanya Prameswari.
“Sudah, Ndoro Ayu... melayani Ndoro Ayu Prameswari selama masa kehamilan,” jawab Nismara halus.
“Dan selama aku nifas!” Jari-jari Prameswari mendongakkan dagu Nismara dengan sedikit penekanan. “Karena selain melayaniku, kamu juga harus melayani suamiku.”
“Saya mengerti, Ndoro Ayu.”
“Bagus... kamu cepat paham. Tapi, apa kamu tahu bagaimana cara melayani pria di ranjang?”
Kedua mata Nismara membelalak. Ia menggeleng cepat, napasnya bahkan tertahan. “Mak—maksud Ndoro Ayu?”
“Kamu tahu kan, keluarga kami ini punya tradisi khusus untuk para pria yang istrinya sedang hamil?” Prameswari menghela napas.
Nismara mengangkat wajah dengan bingung.
Prameswari bangkit dan melangkah mendekatinya. “Seorang pria di keluarga kami dibolehkan mengambil madu saat istrinya mengandung demi menjaga trah dan mencegah perselingkuhan. Jadi aku menunjukmu untuk posisi itu.”
Mata Nismara kembali membelalak.
Sejak datang ke rumah besar ini, Nismara hanya berniat melunasi utang keluarganya kepada keluarga Sasmita. Sudah tiga generasi keluarganya terikat pengabdian kepada trah kaya itu, berpegang pada selembar surat wasiat tua yang mewajibkan mereka terus mengabdi.
Namun, ia tak pernah menyangka tugasnya kali ini akan sejauh ini.
Bruk!
Nismara langsung berlutut di bawah kaki Prameswari. “Ndoro Ayu... saya bersedia melakukan apa saja, tapi mohon ... jangan …”
Prameswari membungkuk, menatap tajam mata Nismara yang bergetar.
“Lakukan pekerjaan ini selama dua tahun. Setelah aku pulih dan bisa kembali melayani suamiku, kamu akan kubebaskan dan seluruh utang keluargamu kuanggap lunas.”
Janji itu membuat Nismara terdiam. Dua tahun pengorbanan berarti setelahnya ia bisa hidup bebas, menikah, memiliki anak, dan memastikan keturunannya tak lagi terikat pada keluarga Sasmita.
“Mau atau tidak?” Prameswari mencengkeram dagu Nismara, memaksanya menatap lurus.
Nismara memejamkan mata sejenak. Jika itu satu-satunya cara memutus perbudakan turun-temurun keluarganya, ia tak punya pilihan. Perlahan, ia mengangguk.
“Bagus, tapi ada satu hal lagi,” ujar Prameswari, suaranya menajam. “Di depan suamiku, jangan pernah bersuara, mengeluh, apalagi mencoba mengajaknya bicara.”
Nismara mengerutkan dahi. “Bisu, Ndoro Ayu?”
“Iya. Pria itu mudah luluh dengan suara atau rengekan wanita. Aku tidak mau kamu memanfaatkan kesempatan ini untuk merayu suamiku. Paham?”
“P–paham, Ndro,” jawab Nismara lirih.
“Setiap selesai melakukan tugasmu, laporkan padaku apa saja yang suamiku lakukan dan katakan padamu.” Prameswari melempar sebuah buku tebal ke hadapan Nismara. “Ini buku panduan di ranjang. Pelajari baik-baik dan layani suamiku dengan memuaskan!”
Dengan tangan gemetar, Nismara menyentuh buku tersebut. “Ndoro Ayu... bagaimana kalau Ndoro Den menolak?”
“Dia sudah tahu dan menyetujuinya! Cukup kerjakan tugasmu dengan benar!”
Kata-kata Prameswari masih terngiang di kepala Nismara. Kini, gadis itu telah mengganti pakaiannya dengan gaun tidur pemberian sang nyonya besar.
Pakaian tipis yang sukses membuat bulu kuduk Nismara berdiri meremang. Udara malam yang berhembus dingin seolah tanpa penghalang menyapa hampir setiap inci kulit tubuhnya yang terekspos.
Dengan jemari bergetar dan dada berdebar kencang, Nismara mengetuk pintu kamar utama beberapa kali. Buku panduan di ranjang terdekap erat di dadanya, menjadi satu-satunya 'pelindung' rapuh yang ia miliki saat ini.
“Masuk.” Suara berat dan dalam bergaung dari dalam.
Nismara mendorong pintu kayu yang berat itu dengan ragu. Di sana, tepat di dekat jendela kamar yang tinggi dan terbuka separuh, sosok itu berdiri.
Satria Luhur Sasmita.
Pria itu memegang segelas minuman di tangannya. Tampilannya begitu mengintimidasi sekaligus memikat—bertelanjang dada, hanya terbalut celana hitam longgar berbahan sutra yang jatuh pas di pinggangnya.
Tubuhnya gagah, tinggi menjulang hampir dua meter dengan guratan otot yang tegas dan paras tampan yang teramat tajam.
Aura pria matang berdarah biru memancar begitu pekat, membuat Nismara serta-merta menunduk dalam, tak berani menatapnya lebih lama. Napasnya tertahan, lututnya makin gemetar.
Satria memutar tubuhnya perlahan, memindai sosok gadis muda yang berdiri kaku di ambang pintu.
“Kamu pelayan yang dikirim istriku?” tanya Satria datar, suara seraknya mengalun dingin namun penuh penekanan.
Nismara teringat akan peringatan keras Prameswari. Gadis itu tidak berani membuka suara sama sekali. Ia hanya bisa menunduk lebih dalam dan mengangguk perlahan sebagai jawaban.
Satria menyesap minumannya santai, lalu meletakkan gelas itu di atas meja. Langkah kakinya yang tenang namun mantap terdengar mendekat.
“Mendekatlah,” perintah Satria tegas. “Aku ingin lihat bagaimana cara perempuan yang dikirim istriku melayaniku.”
Hujan gerimis mulai membasahi dedaunan lebat di sekitar gubuk tengah hutan. Bau tanah basah beradu dengan aroma kayu lapuk dan kelembaban yang terkunci di dalam ruangan kecil itu.Di sudut ruangan yang remang-remang, Budhe Murni duduk bersimpuh di atas lantai papan. Kedua tangannya terikat kaku di belakang punggung. Tubuh tua itu gemetar, matanya yang sembab oleh air mata terus bergulir liar menatap pintu kayu yang terkunci rapat dari luar.Klek.Bunyi engsel kayu yang berderit memecah keheningan. Satria melangkah masuk dengan tenang. Ia menyapu pandangan ke sekeliling ruangan sebelum matanya tertuju lurus pada wanita tua yang makin menciut di sudut.Di belakangnya, Sastro menyusul masuk, menutup pintu kayu tersebut rapat-rapat dan berdiri kaku di dekat ambang pintu.Satria berjalan pelan, menarik sebuah kursi kayu tua yang berdebu lalu mendudukinya tepat di hadapan Budhe Murni. Ia menyilangkan kaki, menyandarkan punggungnya dengan santai. Tak ada senyum, tak ada amarah yang meledak-l
“Jadi itu memang kamu?” Bramantyo menjawab Nismara dengan pertanyaan.“Iya…aku yakin kamu tahu kalau tanda itu dariku” jawab Nismara dengan ritme yang cepat seolah takut ketahuan.Bramantyo mengangguk perlahan. Tatapannya meneliti Nismara dari kepala hingga ujung kaki, menyadari raut pucat yang masih berbekas di wajah gadis itu."Kenapa kamu melakukan ini, Nismara?" bisik Bramantyo dengan kening berkerut. "Aku kan sudah bilang... tunggu sebentar lagi. Aku akan menjemputmu secara baik-baik dengan cara yang benar."“Cara yang benar? Aku tidak tahu bagaimana cara yang benar itu? Dua puluh satu tahun aku hidup di tengah hutan dan tidak pernah bertemu manusia, menurutmu apa aku mengerti?” cecar Nismara tidak sabar dan emosional.“Nismara…Bukan itu maksudku, aku turut prihatin dengan apa yang menimpamu..” Bramantyo mencoba menenangkan.Nismara menarik napas panjang. Sikap tenang dan serba tertata yang ditunjukkan Bramantyo justru membuat Nismara semakin tidak sabar."Aku hanya butuh bantuan
Satria turun dari peraduan, melangkah menuju kamar mandi untuk mengambil selembar handuk kecil dan membasahinya dengan air hangat. Kembali ke sisi ranjang, ia menyeka lembut sisa-sisa cairan hangat miliknya yang menempel di atas kulit perut Nismara."Ndoro Den… tidak perlu, saya bisa bersihkan sendiri," bisik Nismara halus, berniat mengambil handuk itu dari tangan Satria.Satria tersenyum tipis, menahan gerakan tangan Nismara. "Kamu baru saja pulih, tidak usah banyak bergerak dulu."Ia meraih kemeja putih miliknya dari atas kursi, menyarungkannya ke tubuh Nismara lalu mengancingkannya satu per satu. Kemeja itu tampak kebesaran, menutupi paha Nismara dengan longgar."Istirahatlah," ucap Satria, mengusap puncak kepala Nismara dengan lembut. "Aku harus pergi sebentar untuk menyelesaikan satu urusan. Begitu selesai, aku akan langsung kembali ke sini."Nismara mengangguk pelan tanpa menyela.Pandangannya tertuju lurus pada punggung Satria hingga pria itu menghilang di balik pintu yang tert
Nismara mengangguk perlahan. Gerakan kepalanya begitu pelan, menunjukkan sebuah kepasrahan yang terbit sepenuh hati dari dalam dadanya.Satria menatap mata jernih itu sejenak, memastikan tak ada keraguan tersisa di sana. Dengan gerakan lambat yang hampir terasa seperti siksaan berbalut kelembutan, tangan besar Satria menyusup ke bawah hem baju longgar yang dikenakan Nismara. Ia menyingkap kain tipis itu ke atas secara perlahan, melewati perut yang masih terasa dingin, hingga terangkat penuh melewati kepalanya.Tubuh bagian atas Nismara terekspos sepenuhnya di remang cahaya pagi. Satria bergeming sejenak, mengagumi lekuk ringkih yang kini pasrah di bawah kukungannya. Tanpa memberi jeda terlalu lama untuk rasa canggung, Satria kembali menunduk, meraup bibir Nismara yang masih terasa panas dan basah.Ciuman itu lebih dalam. Di saat yang sama, telapak tangan hangat Satria merayap naik, meremas lembut payudara Nismara dengan tekanan yang terukur. Ibu jarinya mengusap melingkar di puncakn






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
RebyuMore