MasukKyna menyahut dalam hati, 'Mimpi sana!'Namun, Aldrian juga hanya sekadar berbasa-basi, bukan benar-benar ingin Kyna mengemas barangnya. Setelah masuk ke kamar, dia pergi ke kamar mandi untuk mandi. Seusai mandi, dia keluar dan mengemas barang-barangnya. Setelah selesai, dia masih berdiri tanpa pergi.Kyna ingin menelepon neneknya, tetapi tidak bisa karena Aldrian belum pergi. Dia mau tak mau mendesak, "Cepat pergi sana!""Bisa nggak kamu lembut dikit?" Aldrian berjalan ke belakang Kyna.Kyna sedang duduk di depan meja rias dan melepas ikatan rambutnya. Tiba-tiba, Aldrian mengulurkan tangan dan membantunya melepas ikat rambutnya. Kemudian, Aldrian membungkuk dan memeluknya dari belakang. Di cermin, wajah Aldrian sangat dekat dengan wajahnya.Sekarang, Kyna benar-benar tidak suka Aldrian berada dekat dengannya. Setiap kali Aldrian mendekat, dia akan teringat aroma Anara dan itu membuatnya merasa sangat tidak nyaman. Namun, baru saja dia bergerak sedikit, pelukan Aldrian sudah mengencang
Kyna menunjuk ke ruang makan. Ada deretan toples kaca berisi anggur bayberry berwarna merah cerah."Kalau begitu ... makanlah anggur ini." Aldrian bertanya, "Ngomong-ngomong, Nenek sudah pergi begitu lama. Dia belum pulang juga? Kapan kita akan menjemputnya?"Kebetulan, Kyna juga hendak mengungkit tentang topik ini. "Nenek akan langsung ke bandara besok. Nanti, aku ....""Kyna," sela Aldrian.Kyna menatap Aldrian dengan bingung. Aldrian duduk di samping Kyna. Apa yang tidak dia katakan selama makan akhirnya tetap harus dikatakan."Umm ...." Aldrian merasa ragu saat bertanya, "Menurutmu, bisa nggak kita ganti waktu ke Yuncesta?""Ubah waktu?" Kyna melirik Aldrian dari samping."Ya ...." Aldrian tersenyum dan berujar, "Gimana kalau undur seminggu? Kali ini, aku ambil cuti dua minggu. Kita bisa pergi ke Yuncesta seminggu lagi.""Jadi? Apa yang akan kamu lakukan minggu ini?" Kyna menambah dalam hati, 'Pergi ke pulau bersama Anara?'Tebakan Kyna benar.Aldrian menjawab dengan ragu, "Begini
"Kan ada aku. Lagian, pelayan juga bisa bantu kupas kepiting," ujar Aldrian."Pokoknya, aku mau makan nasi telur kepiting! Kalau kamu pengen makan kepiting, ya pesan saja sendiri." Jarang-jarang Kyna bersikap begitu keras kepala, terutama mengingat dia sudah mengikuti selera makan Aldrian selama lima tahun.Aldrian sedikit terkejut. Reaksi Kyna ini agak di luar dugaan. Dulu, tanggapan Kyna adalah, "Kamu mau makan apa? Oke, terserah kamu saja. Aku bisa makan apa saja."Namun, Aldrian tetap tertawa. "Cuma nasi telur kepiting kok, kita bukannya nggak mampu beli. Buat apa kamu begitu serius?"Aldrian menutup buku menu dan berkata kepada pelayan, "Itu saja pesanannya. Tambahkan seporsi sayuran yang kalian rekomendasi."Kyna menggunakan ungkapan yang pernah digunakan Aldrian untuk menggambarkan situasi saat ini. Orang yang tiba-tiba bersikap baik pasti ada maunya. Aldrian yang mendadak mengajaknya makan berdua dan membiarkannya memesan makanan kemungkinan besar adalah upaya untuk mengambil h
"Nyonya, ini terlalu banyak," ucap Sani dengan tergesa-gesa. Dia tidak berani menerimanya."Sudah seharusnya." Kyna berujar, "Kamu nggak akan bisa bekerja selama dua atau tiga bulan karena cederamu. Ini kompensasi atas waktu kerjamu yang terbuang. Kalau sudah punya rencana baru kelak, kamu tetap boleh kasih tahu aku. Meski nggak ada di Kota Hatam, aku akan berusaha sebaik mungkin untuk membantu."Tidak lama setelah Kyna tiba di rumah sakit, Aldrian pun menelepon. Dia langsung bertanya di mana Kyna berada."Aku ada di rumah sakit untuk kunjungi Bi Sani. Kamu ada di rumah?" Kyna khawatir Aldrian mungkin sudah melihat surat kesepakatan cerai itu. "Ya, aku nggak melihatmu waktu sampai di rumah. Jam berapa kamu mau pulang? Aku akan menjemputmu.""Oh, aku akan segera pulang." Kyna merasa Aldrian seharusnya belum menemukan surat kesepakatan cerai itu."Kalau begitu, tunggu aku. Aku akan menjemputmu. Aku akan segera sampai.""Oke." Kyna memang sudah berencana untuk meninggalkan rumah sakit. J
Kyna menjawab panggilan itu. Aldrian sepertinya sedang rapat. Terdengar suara orang berbicara, tetapi orang itu seperti sedang berjalan menuju ke luar. "Kyna, aku sudah lihat tiketnya. Kita terbang ke Kundari dulu besok siang?""Iya, kita nginap saja dulu satu malam di Kundari. Nanti, kita baru sewa mobil untuk mulai melakukan perjalanan keliling Yuncesta," jawab Kyna dengan serius, seolah-olah dia sudah merencanakan semuanya."Oke." Aldrian setuju. "Keluarkan aku dari daftar hitam WhatsApp-mu. Kalau nggak, akan merepotkan kalau mau berbagi sesuatu ke kamu.""Oh, oke." Kyna baru menyadari bahwa Aldrian hanya bisa menelepon dan mengirim SMS kepadanya.Seseorang berjalan melewati Aldrian sambil menggoda, "Wah, siapa yang berani blokir presdir kita?"Terdengar tawa Aldrian dan "Stevan, jangan ketawain aku lagi. Aku nggak sengaja buat istriku marah."Stevan adalah seseorang yang tidak dikenal Kyna. Dia tertawa terbahak-bahak dan menyahut, "Pantas saja! Memang cuma Nyonya yang bisa buat pr
Kyna tidak mengerti apa yang dipikirkan Aldrian. Bagaimana mungkin pria itu merasa bahwa dia dan Anara bisa berlibur bersama?"Aldrian, aku punya pertanyaan untukmu," kata Kyna sambil tersenyum pada Aldrian. "Gimana pembagian kamarnya kalau kita berempat pergi berlibur?"Aldrian pun dibuat bingung dengan pertanyaan itu."Apa aku dan Nenek sekamar, sedangkan kamu dan Anara sekamar?" tanya Kyna lagi.Ekspresi Aldrian langsung berubah. "Apa yang kamu bicarakan! Memangnya kita begitu miskin sampai nggak mampu sewa tiga kamar?"Kyna tersenyum tipis. "Kamu bukannya nggak pernah begitu sebelumnya. Waktu di ibu kota, bukannya aku tinggal sendiri di sebuah kamar, sedangkan kamu pergi bareng Anara?""Itu ...." Aldrian tergagap."Itu apa?" Kyna tertawa dan berujar, "Karena kamu sudah janji ke Anara untuk nggak berhubungan intim denganku?""Heh ...." Aldrian tertawa dingin, lalu berkomentar, "Sudah kutahu kamu masih belum lupakan hal itu."Aldrian berguling dan menindih Kyna. "Bukannya ini yang ka







