Masuk"Saya tidak butuh sekretaris fresh graduated non-experience. Yang bahkan pengalaman berorganisasi pun tidak ada. Saya butuh fresh graduated cerdas dan cekatan, bukan fresh graduated yang berotak kosong dan manja seperti Saudari." Rasanya Kalla ingin mencabik-cabik muka CEO ganteng, tapi sombong itu. Puluhan kali ikut interview, baru kali ini dirinya merasa direndahkan. Tolak mah, tolak aja. Nggak usah ngatai orang! "Kakak Cantik, Mau enggak jadi mamaku?" Lagi galau-galaunya karena tak kunjung mendapat pekerjaan, Kalla malah bertemu, Kael—bocah 4 tahun yang tiba-tiba memintanya jadi mama. What the hell! Siapa bocah itu? Namun siapa sangka melalui bocah itu, Kalla bisa mendapatkan tawaran pekerjaan dengan gaji yang menggiurkan. Tapi .... "Apa kamu mau jadi nanny-nya, Kael?"
Lihat lebih banyak"Maaf, Anda tidak lolos. Silahkan keluar."
Sebuah kalimat yang mulai akrab dengan Kalla, tapi ternyata masih saja terdengar menyakitkan. Gadis 23 tahun itu membuang napas kasar, sambil melempar tatapan sebal sebelum berjalan keluar dari ruangan interview dengan perasaan luar biasa dongkol.
Kalla menarik napas panjang dan menguatkan diri sekali lagi ketika ingat ucapan CEO perusahaan yang baru saja meng-interview-nya. Begitu blak-blakan dan menyentil hingga dia tidak bisa lagi menahan emosi.
"Memang dia pikir dirinya siapa? Jangan mentang-mentang CEO jadi seenaknya ngatain orang. Hah!"
Gadis itu melamar sebagai sekretaris CEO, menyesuaikan bidang perkuliahannya yang lulus satu tahun lalu. Baginya bisa sampai ke tahap interview adalah hal yang membanggakan di perusahaan besar sekelas Ganesha Group.
Terlebih ketika melihat tampang CEO-nya secara langsung begitu masuk ruang interview. Dia jadi tahu definisi tampan yang sesungguhnya. Nyaris semua kesempurnaan ada pada pria dengan potongan rambut curly back side, tapi agak panjang itu.
Kalla tidak menyangka jika CEO Ganesha Group jenis CEO wanna be yang sering dia lihat di dracin-dracin pendek kesukaannya. Seketika kepalanya berimajinasi liar, mengundang kikikan kecil tak tahu malu.
Mata Kalla sampai tak berkedip saat melihat pria itu melempar senyum tipis padanya. Dadanya pun tanpa bisa dicegah langsung berdebar kencang. Bahkan dia sempat terserang grogi ketika dua interviewer lain menanyainya, sebelum akhirnya CEO tampan itu mengeluarkan suara yang mematikan.
"Saya tidak butuh sekretaris fresh graduated non experience. Yang bahkan pengalaman berorganisasi pun tidak ada. Saya butuh fresh graduated cerdas dan cekatan, bukan fresh graduated yang berotak kosong dan manja seperti saudari."
Padat, jelas, dan nyelekit.
Pangkal alis Kalla kontan menyatu mendengar ucapan bernada sinis itu. Senyum yang dia kembangkan sejak masuk ruang interview perlahan raib.
Dia tidak percaya ada manusia bertampang malaikat tapi mulutnya pedas seperti setan. Otak kosong dan manja, pria itu bilang? Hah!
Darimana pria itu bisa menyimpulkan seperti itu hanya dengan interview singkat begini?
Selama ikut beberapa wawancara kerja, baru kali ini Kalla mendapat hinaan secara langsung seperti ini. Hatinya jelas tidak terima.
Persetan dengan muka tampan dan pekerjaan! Dia mendongak, menatap lurus wajah malaikat iblis itu. Lalu, ucapan yang seharusnya tidak terlontar pun meluncur dari mulutnya.
"Mungkin saya berotak kosong, tapi setidaknya saya punya attitude dan manner yang bahkan seorang CEO seperti Anda tidak punya."
Kalla puas ketika melihat wajah tampan itu berubah kecut. Pria itu pasti tidak menyangka bahwa gadis cukup punya nyali untuk menyerang balik.
"Saya memang butuh kerjaan. Tapi sepertinya saya terlalu berharga untuk menjadi sekretaris CEO akhlakless seperti Anda," lanjut Kalla lantang tanpa peduli resiko yang akan dia dapat. Toh sudah pasti dirinya tidak lolos.
Wajah para interviewer di depannya terlihat syok. Sementara CEO arogan itu tampak merah padam. Lantas kalimat penolakan atas dirinya pun meluncur.
It's OK! Everything's gonna be OK!
Kalla menarik napas panjang, lalu berjalan dengan langkah tegar keluar dari gedung jangkung itu. Dia tidak mau terlihat lemah dan ingin mereka tahu bahwa pekerjaan bukan hanya ada di Ganesha.
Namun ketika jaraknya makin jauh dari gedung itu, ketegaran itu pun perlahan menghilang. Wajah Kalla berubah lusuh dan kehilangan semangat. Dia berjalan dengan bahu meluruh. Sejak hari ini, total sudah ada 20 perusahaan—dari yang bergengsi hingga biasa saja—menolak dirinya.
Sampai Kalla bingung sendiri, sebenarnya apa yang ada pada dirinya? Kenapa bisa memiliki nasib sesial ini?
Perlukah dia mandi kembang tujuh rupa untuk buang sial? Sejak dirinya lulus setahun lalu belum ada satu pun lamarannya yang sukses menembus salah satu perusahaan. Mentok sampai interview saja.
Kalla makin nelangsa saat teringat ibunya. Ibu punya harapan besar padanya, tapi dia selalu mengecewakan. Kalla malu di usia dewasa begini masih saja menjadi beban keluarga.
Masih berada di area yang dikelilingi gedung apartemen dan perkantoran, Kalla menyeret langkah menuju sebuah taman bermain anak yang jadi salah satu fasilitas dari kawasan elit kota ini.
Taman itu sedang sepi dan dia memutuskan duduk di salah satu ayunan yang ada di sana.
Sambil memikirkan langkah selanjutnya, dia mengemut lolipop cokelat yang senantiasa ada di dalam tas.
Kepalanya dia sandarkan di tali ayunan seraya bergoyang pelan. Meski masih ada sedikit tersisa rasa kesal pada CEO sialan itu, hidup tetap harus berjalan kan?
PLUK!
Sebuah bola yang datang entah dari mana mengenai kakinya lalu berhenti tepat di bawahnya. Kalla berhenti berayun dan mengambil bola warna-warni itu. Tatapnya lantas bergulir guna mencari pemilik bola tersebut. Dan tidak jauh dari tempatnya dia melihat seorang anak laki-laki berusia sekitar tiga atau empat tahunan tengah memandanginya.
Anak laki-laki bermata bulat dengan pipi kemerahan yang menggemaskan. Kulitnya putih dan rambutnya tebal. Baru seupil saja garis ketampanannya sudah kelihatan. Dia benar-benar lucu.
"Halo," sapa Kalla memasang wajah ceria. "Ini bola kamu?" tanyanya tersenyum.
Anak itu terus memandanginya selama beberapa saat sebelum akhirnya mengangguk.
Kalla mengacungkan bola itu padanya. "Ini ambil," katanya ramah berusaha tidak membuat anak itu takut. Karena sepertinya anak itu sedang bersikap waspada.
Melihat tidak ada reaksi dari anak tersebut, Kalla celingukan, mencari keberadaan seseorang. Bisa saja anak itu datang bersama orang tuanya. Namun, matanya yang mengedar tidak menemukan siapa pun selain dirinya dan anak itu.
Kalla kembali tersenyum. "Kamu sendiri?"
Anak itu kembali mengangguk tapi masih berdiri di tempat sambil memandangi Kalla.
"Mama sama papa kamu mana?"
Kali ini anak itu menggeleng. Sama sekali tidak mengeluarkan suara. Bikin Kalla bingung. Wanita 23 tahun itu berinisiatif mengambil lolipop di tasnya. Lalu mengacungkan benda itu.
"Kamu mau ini?"
Kini tatapan si anak beralih ke lolipop tersebut. Menatap beberapa saat lalu mengangguk malu-malu. Dan Foilaah! Tanpa diperintah anak itu mendekat dengan sendirinya.
Dia mengambil lolipop dari tangan Kalla. "Terima kasih, Onti Cantik," katanya dengan suara yang sangat sopan.
Tak pelak hal itu membuat senyum Kalla mengembang cerah. Anak itu menyebutnya cantik! Anak kecil selalu berkata jujur kan? Mendadak mood Kalla naik seketika hanya mendengar pujian tulus dan ucapan terima kasih dari anak menggemaskan itu.
"Jangan panggil Onti dong. Kakak aja, ya," ucapnya terdengar tak tahu malu. Tapi anak itu mengangguk dan menurut.
"Kakak Cantik."
Ah, dipuji bocil saja Kalla sudah bahagia. Dia lantas membantu anak itu membuka bungkus lolipop. Dan keduanya berakhir duduk bersampingan di atas ayunan.
"Nama kamu siapa?" tanya Kalla saat melihat wajah anak itu yang berubah ceria.
"Kael."
Kalla mengulum senyum. "Nama kita hampir mirip."
Anak itu menoleh, mata bulatnya berbinar indah. "Nama kakak siapa?"
"Namaku Kalla. Kael dan Kalla, mirip kan?"
Kael mengangguk, lalu kembali mengemut lolipopnya. Sepertinya dia bahagia sekali makan loli, seperti baru pertama kali makan.
"Kael, kamu ke sini sendiri?" Saat anak itu mengangguk, Kalla bertanya lagi. "Papa mama kamu mana?"
"Papa kerja, Mama nggak tau."
'Papa kerja' bisa Kalla pahami, tapi kalau 'mama nggak tau' dia kurang paham maksudnya.
"Rumah kamu di mana?" tanya Kalla lagi. Orang tuanya cukup ceroboh juga membiarkan anak sekecil Kael berkeliaran sendirian.
Tanpa Kalla duga, Kael menunjuk salah gedung tinggi yang ada di kawasan itu. Peak Apartemen?!
Wow, ternyata anak itu putra orang tajir. Bisa-bisanya anak balita sultan berkeliaran sendirian di sini tanpa pengawasan. Bagaimana
kalau ada yang menculik? Orang tuanya benar-benar teledor.
"Kakak Cantik, Mau enggak jadi mamaku?"
Eh?!
Tiga tahun hidup di Jepang membuat Kalla familiar dengan semua oleh-oleh yang dibawa kakak iparnya. Terlebih dari anak tercintanya. Dari Tokyo Banana sampai Omamori ada. Bahkan Kael memberinya omamori khusus dengan harapan bisa cepat punya adik. “Kamu yakin mau punya adik? Bukannya kamu sama adik-adikmu nggak suka? Kamu bilang mereka mengganggu,” cibir Reyga pada sang putra. Seraya menatap para keponakannya yang masih kecil-kecil. Kael melirik Kyoka yang sedang bermain boneka baru favoritnya. Boneka yang Kael dapat dari permainan capit atas permintaan putri Raven itu saat di Jepang sana. Bocah ganteng itu meringis. “Punya adik nggak seburuk itu kok, Pa.”“Aku brother udah bestie!” sambar Kyoka dengan Bahasa Indonesia yang cukup amburadul. Sampai-sampai semua yang ada di sana dibuat tertawa. Balita itu sedang berusaha belajar Bahasa Indonesia. Kalla dan Reyga sontak saling pandang dan melempar senyum penuh arti. Sesuai kesepakatan, mereka akan memberitahukan kabar baik itu saat ber
“Dia baik-baik aja?” tanya Reyga seraya memeluk sang istri dari belakang. Tangannya mengusap lembut perut wanita itu. “Dek, kamu di dalam juga baik kan? Jangan nakal ya. Kasian mama kamu.”Kalla terkekeh kecil dengan mata terpejam. Kantuk yang menyerang membuat wanita itu cuma bisa menepuk pelan punggung tangan suaminya. Seperti wabah, kantuk yang Kalla rasakan menulari Reyga. Pria itu menguap lebar, lalu ikut memejamkan mata. Jika biasanya ada ronde kedua dan seterusnya, kali ini dia harus lebih bisa menahan diri demi sang babies. Keduanya bangun ketika sore menjelang. Tepat dengan jadwal yang mereka janjikan pada Kael. Saat membuka pintu wardrope milik Reyga, Kalla agak terperangah. Tangannya meraih pakaian yang digantung secara rapi di sana.Itu adalah salah satu pakaian miliknya yang dulu sengaja ditinggal di unit. Untuk beberapa alasan, sebagai nanny-nya Kael, kadang Kalla terpaksa menginap. Tidak menyangka ternyata pakaian itu masih tersimpan dengan baik di sana. Bahkan Reyga
“Apartemen?” Kening Kalla berkerut samar saat SUV milik Reyga memasuki kawasan apartemennya di Sudirman. Sudah lama sekali dia tidak berkunjung ke apartemen ini. “Kamu nggak kangen tempat ini?” tanya Reyga sesaat setelah dirinya memarkirkan mobil di basement. “Tempat ini banyak kenangan kita.” “Aku pikir kamu udah menjualnya.” “Belum aku jual. Belum ada tawaran yang bagus.” Reyga membuka tangan. Meminta Kalla menggenggamnya. Keduanya lantas berjalan ke lift yang langsung menghubungkan ke lantai unitnya berada. “Kenapa tiba-tiba kamu bawa aku ke sini?” “Nggak apa-apa. Aku mau kasih tau si kembar kalau cinta mama papanya berawal dari sini.” Pria itu mendekat dan berbisik tepat ke telinga Kalla. “Di sini juga tempat pertama kali kita bercinta.” Spontan Kalla mendorong wajah suaminya menjauh. Matanya memelotot sebal. “Apaan sih?” Namun Reyga malah terkekeh. Dia menowel pipi istrinya yang memerah. Tepat saat itu, pintu lift terbuka. Dengan tak sabar Reyga menarik tangan Kalla
Ibu langsung memeluk Kalla saat diberitahu tentang kehamilan putrinya. Wanita paruh baya itu bahkan sampai meneteskan air mata. Akhirnya impian memiliki cucu akan terwujud. “Ibu tahu, kata dokter bayinya kembar. Ada dua janin di perut Kalla, Bu.”Untuk kedua kalinya ibu dibuat terkejut dengan kabar dari putrinya itu. “Beneran? Jadi ibu mau punya cucu kembar?” rasa haru kontan menyeruak. Hatinya bukan berbunga-bunga lagi, tapi seperti melambung ke atas awan. Ibu mengucapkan syukurnya sambil memeluk sang putri sekali lagi. “Ibu jangan sebarin ini ke teman-teman ibu dulu ya. Biar mereka tahu nanti saja waktu syukuran empat bulanan.” Kalla tersenyum ketika ibu sepakat. Tapi sebagai wujud rasa syukur, ibu berniat masak makanan lezat hari ini untuk makan malam. Kalla tentu tidak melarangnya. “Biar Kalla bantu, Bu.” “Nggak usah. Kamu istirahat aja. Uhm, telepon Moya suruh dia makan malam sama kita,” sahut ibu segera menuju dapur. Dia mengangkat tangan, mewanti-wanti putrinya agar tidak
“Kamu terlalu keras nggak sih, Rey, sama mama?”“Biasa aja.” Sikap tak acuh lelaki itu membuat Kalla menghela napas. “Kamu masih marah sama mama?” “Nggak. Cuma…kalau mama udah bertingkah berlebihan, aku males. Seperti yang nggak pernah berbuat salah aja,” sahut Reyga, sambil membelokkan kemudi me
SEBELUM ITU… Gebrakan meja membuat Ninda terlonjak kaget. Tangannya mengusap dada, nyaris saja jantungnya meloncat keluar. Kali ini John benar-benar murka. Nasib Ninda mungkin di ujung tanduk. Tapi tidak. Dia tidak akan membiarkan itu terjadi. “Tidak berguna!” bentak John, kesal bukan main. “Pe
Reyga tidak mengindahkan surat panggilan mediasi. Hanya pengacaranya yang datang mewakili. Dia percaya semua akan berjalan sesuai harapannya. Yang pasti apa yang Ninda lakukan hanya buang-buang waktu saja. Pun ketika sidang pembacaan gugatan, Reyga kembali tidak menampakkan batang hidungnya. Di si
Untuk pertama kalinya Kalla duduk berdua dengan Diyani di salah satu restoran yang berada di bilangan Senayan. Dua mertua dan menantu itu bersatu hanya untuk menunggu kedatangan biang kerok yang sudah berani mengusik keluarga mereka. Oke, itu terdengar berlebihan. Hehe. Tepatnya Diyani memaksa K






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Peringkat
Ulasan-ulasanLebih banyak