PASUTRI MAGANG

PASUTRI MAGANG

last updateLast Updated : 2025-12-15
By:  Upik abu Completed
Language: Bahasa_indonesia
goodnovel18goodnovel
10
1 rating. 1 review
60Chapters
1.1Kviews
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

Saat akad hendak berlangsung, calon istri Athar tiba-tiba menghilang tanpa jejak. Di tengah kepanikan dan rasa malu, sang ayah memutuskan menggantikan mempelai dengan gadis asing yang bahkan yang tak dikenal Athar. Pernikahan tetap berjalan demi kehormatan keluarga, namun sejak hari itu, Athar harus menerima takdir dan menemukan makna cinta dari pernikahan yang tak pernah ia rencanakan.

View More

Chapter 1

PASUTRI MAGANG

Bab 1. BANGKIT DARI KUBUR

Blar…!!!

Kilat menyambar, membelah langit malam di atas Gunung Salak. Suara guruh yang menyusul terdengar seperti raungan binatang buas yang terluka. Hujan badai turun tanpa ampun, menghantam pepohonan dan menyapu permukaan tanah lereng gunung yang curam. 

Di area datar dekat puncak, sisa-sisa perkemahan terlihat menyedihkan. Tenda-tenda yang sobek, botol plastik kosong, dan sisa kayu bakar basah berserakan, merusak kesakralan hutan yang biasanya hening.

Tujuh hari telah berlalu sejak rombongan siswa dari sebuah sekolah swasta elite asal Jakarta mendirikan tenda di sana. Tujuh hari pula pencarian besar-besaran dilakukan. Tim SAR gabungan, polisi, dan tentara telah menyisir setiap jengkal tanah, menembus semak berduri dan jurang terjal. 

Sepatu laras panjang mereka telah meninggalkan ribuan jejak di atas lumpur, namun hasilnya nihil. Dewangkara Atmaja, pewaris generasi ketiga dari keluarga konglomerat Atmaja, hilang tanpa jejak.

Malam ini, pencarian resmi dihentikan. Keluarga konglomerat itu telah mengerahkan seluruh sumber daya, menyewa pelacak profesional dan anjing pemburu, namun alam seolah telah menelan pemuda itu hidup-hidup.

Kini, hanya beberapa petugas jaga yang tersisa di pos-pos bawah, berlindung dari angin Halimun yang menusuk tulang, menyisakan misteri yang belum terpecahkan di atas gunung.

Blar…!!!

Jauh di sisi lain gunung, di kedalaman hutan lindung yang nyaris tak pernah diinjak manusia, sebuah anomali terjadi. Kilat menyambar sebuah pohon besar, menerangi gundukan tanah merah yang masih baru. Tanah itu tampak tidak wajar di tengah hamparan dedaunan busuk.

Pohon besar itu hancur terkena sambaran petir, daun dan ranting serta dahannya menjadi serpihan yang bertebaran di sekeliling tanah merah yang tersibak. Seberkas cahaya masuk kedalam tanah tak jauh dari pohon besar yang tersambar petir. 

Tiba-tiba, tanah merah itu bergetar. Sebuah ledakan tumpul terdengar dari bawah tanah, meredam suara hujan. Gumpalan lumpur dan batu terlempar ke udara. Dari lubang yang menganga, sepasang tangan terjulur keluar. 

Tangan itu pucat, berlumuran lumpur kental dan darah yang telah menghitam. Jari-jarinya mencengkeram tepi lubang dengan kekuatan yang luar biasa, mengoyak akar rumput.

Sesosok tubuh perlahan merangkak naik. Napasnya tersengal, menghirup udara basah bercampur aroma ozon dan tanah. Pemuda itu berlutut di atas lumpur. Rambutnya lepek menempel di dahi, wajahnya tertutup kerak tanah. 

Namun, saat ia membuka mata, sepasang netra itu tidak memancarkan ketakutan orang mati. Matanya berkilat tajam, jernih dan sedingin es, menembus tirai hujan.

"Di mana ini?" Suaranya serak, tenggorokannya terasa kering meski hujan mengguyur tubuhnya.

Ia menunduk, menatap telapak tangannya sendiri. Jari-jarinya mengepal dan membuka. "Ini bukan tubuh asliku. Terlalu lemah. Garis meridiannya sempit dan otot-ototnya kaku."

Pemuda itu mengusap wajahnya, membersihkan lumpur yang menutupi mata dan hidungnya. Ingatan terakhirnya adalah benturan energi spiritual yang sangat dahsyat. Formasi teleportasi yang koyak telah menghancurkan raga aslinya, namun entah bagaimana, jiwanya selamat dan ditarik masuk ke dalam wadah baru ini. Wadah seorang pemuda fana yang baru saja mati.

"Sialan. Formasi itu melempar jiwaku ke tempat antah berantah. Aku harus menstabilkan sisa energi Prana di meridian ini sebelum organ dalamnya membusuk," batinnya cepat.

Ia bangkit berdiri. Udara dingin membekukan kulitnya. Tinggi tubuh ini lumayan, bahunya cukup tegap, namun kondisinya sangat mengenaskan. Tanpa membuang waktu, ia memusatkan energi di kakinya. Dengan satu tolakan ringan, tubuhnya melesat ke atas, seringan kapas yang tertiup angin. Kakinya menjejak batang pohon, berayun dari satu dahan ke dahan lain, menembus lebatnya hutan Halimun di tengah badai.

Suara gemuruh air memandu arahnya. Beberapa menit kemudian, ia tiba di tepi sungai yang arusnya sedang mengamuk. Air berwarna kecoklatan membawa ranting dan dahan patah. Tanpa ragu, pemuda itu melompat dari dahan pohon setinggi sepuluh meter.

Byur…!!

Tubuhnya menghantam air, namun ia tidak terbawa arus. Kedua kakinya menancap kuat di dasar sungai yang berbatu. Ia berdiri layaknya pilar baja di tengah derasnya air. Tangannya mulai menggosok kotoran, lumpur, dan darah yang mengering di kulitnya.

Saat membersihkan diri, jari-jarinya meraba bagian dada dan perut pakaiannya. Ada beberapa lubang sobekan dengan tepi yang rapi. Ia menunduk, mengamati luka-luka itu. Luka tusuk. Dagingnya sudah mulai menyatu kembali berkat sisa energi spiritual yang ia bawa, namun rasa ngilunya masih terasa.

"Pakaian ini penuh bekas tusukan mematikan. Pemilik asli tubuh ini mati dibunuh. Bukan kecelakaan," gumamnya, menarik kesimpulan dengan cepat.

Ia melepaskan kemeja dan celananya yang sudah compang-camping. Dari saku celana yang basah, ia menemukan sebuah benda berbentuk kotak pipih terbuat dari kulit. Sebuah dompet. Ia membukanya, melihat beberapa kartu plastik dan lembaran kertas beraneka warna.

"Benda aneh. Mungkin ini tanda pengenal di dunia ini. Akan kusimpan."

Pikirannya terhubung ke ruang penyimpanan spiritual di dalam jiwanya. Ruang itu masih utuh. Dalam sekejap, dompet itu menghilang dari tangannya. Ia melempar sisa pakaian kotornya ke sungai, membiarkannya terbawa arus, lalu melompat naik ke tepian berbatu.

Kondisinya masih terlalu lemah untuk terus bergerak. Ia berjalan mendekati sebuah pohon beringin raksasa dengan akar gantung yang lebat. Menggunakan sisa Prana di tubuhnya, ia menempelkan telapak tangan ke tanah. Elemen bumi merespons panggilannya. Tanah liat perlahan bergerak naik, memadat, dan melengkung membentuk sebuah gubuk kecil berbentuk setengah lingkaran yang melindunginya dari hujan dan angin.

Ia melangkah masuk. Ruangan itu kering. Ia mengumpulkan beberapa ranting yang berserakan di sekitar pohon induk. Ranting-ranting basah itu ia tumpuk di tengah gubuk. Ia menjentikkan jari. Sebuah percikan api spiritual berwarna kemerahan meluncur dari ujung telunjuknya, menyentuh kayu basah. 

Dalam hitungan detik, kayu itu mengering dan terbakar terang, memancarkan hawa panas yang nyaman ke seluruh penjuru gubuk tanah. Pemuda itu duduk bersila, memejamkan mata, dan mulai menyerap energi murni dari alam untuk memulihkan tubuh barunya.

Semalaman pemuda ini didik bersemedi memulihkan energinya dan memperbaiki sel-sel tubuh baru yang sudah mulai rusak tertimbun tanah selama tujuh hari.

Dengan kemampuannya, sel-sel tubuh yang rusak perlahan mulai diremajakan dan kembali seperti sebelum membusuk. Pemulihan semenakjuban ini tidak mungkin bisa dilakukan oleh manusia di zaman modern seperti sekarang.

Akan tetapi bagi jiwa yang memasuki tubuh rusak ini, bukanlah hal yang mustahil untuk meremajakan anggota tubuh yang rusak.

Angin badai bertiup sangat kencang di hutan Halimun, petir tidak mau kalah terus menyambar-nyambar dari langit yang hitam, menerangi lebatnya hutan dan menerangi gubuk tanah dimana pemuda itu sedang duduk bersemedi memulihkan energinya.

Derasnya hujan dan dinginnya udara di hutan Halimun tidak mampu menggoyahkan anak manusia yang sedang duduk bersemedi. 

Api terus membakar setumpuk ranting kecil didalam gubuk tanah, menghangatkan suhu udara didalamnya. Pemuda itu terlihat seperti patung dengan mata terpejam, nafasnya terdengar sangat halus dan panjang. Begitu fokusnya dalam bermeditasi , hingga melupakan angin badai yang masih berlangsung diluar gubuk tanahnya.

l

Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

reviews

Ratu As
Ratu As
Next, Kak ... ayok Aylin semangat magangnya, biar jd istri tetap. ......
2025-11-12 07:51:52
1
1
60 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status