LOGINSaat akad hendak berlangsung, calon istri Athar tiba-tiba menghilang tanpa jejak. Di tengah kepanikan dan rasa malu, sang ayah memutuskan menggantikan mempelai dengan gadis asing yang bahkan yang tak dikenal Athar. Pernikahan tetap berjalan demi kehormatan keluarga, namun sejak hari itu, Athar harus menerima takdir dan menemukan makna cinta dari pernikahan yang tak pernah ia rencanakan.
View MoreBab 1. BANGKIT DARI KUBUR
Blar…!!! Kilat menyambar, membelah langit malam di atas Gunung Salak. Suara guruh yang menyusul terdengar seperti raungan binatang buas yang terluka. Hujan badai turun tanpa ampun, menghantam pepohonan dan menyapu permukaan tanah lereng gunung yang curam. Di area datar dekat puncak, sisa-sisa perkemahan terlihat menyedihkan. Tenda-tenda yang sobek, botol plastik kosong, dan sisa kayu bakar basah berserakan, merusak kesakralan hutan yang biasanya hening. Tujuh hari telah berlalu sejak rombongan siswa dari sebuah sekolah swasta elite asal Jakarta mendirikan tenda di sana. Tujuh hari pula pencarian besar-besaran dilakukan. Tim SAR gabungan, polisi, dan tentara telah menyisir setiap jengkal tanah, menembus semak berduri dan jurang terjal. Sepatu laras panjang mereka telah meninggalkan ribuan jejak di atas lumpur, namun hasilnya nihil. Dewangkara Atmaja, pewaris generasi ketiga dari keluarga konglomerat Atmaja, hilang tanpa jejak. Malam ini, pencarian resmi dihentikan. Keluarga konglomerat itu telah mengerahkan seluruh sumber daya, menyewa pelacak profesional dan anjing pemburu, namun alam seolah telah menelan pemuda itu hidup-hidup. Kini, hanya beberapa petugas jaga yang tersisa di pos-pos bawah, berlindung dari angin Halimun yang menusuk tulang, menyisakan misteri yang belum terpecahkan di atas gunung. Blar…!!! Jauh di sisi lain gunung, di kedalaman hutan lindung yang nyaris tak pernah diinjak manusia, sebuah anomali terjadi. Kilat menyambar sebuah pohon besar, menerangi gundukan tanah merah yang masih baru. Tanah itu tampak tidak wajar di tengah hamparan dedaunan busuk. Pohon besar itu hancur terkena sambaran petir, daun dan ranting serta dahannya menjadi serpihan yang bertebaran di sekeliling tanah merah yang tersibak. Seberkas cahaya masuk kedalam tanah tak jauh dari pohon besar yang tersambar petir. Tiba-tiba, tanah merah itu bergetar. Sebuah ledakan tumpul terdengar dari bawah tanah, meredam suara hujan. Gumpalan lumpur dan batu terlempar ke udara. Dari lubang yang menganga, sepasang tangan terjulur keluar. Tangan itu pucat, berlumuran lumpur kental dan darah yang telah menghitam. Jari-jarinya mencengkeram tepi lubang dengan kekuatan yang luar biasa, mengoyak akar rumput. Sesosok tubuh perlahan merangkak naik. Napasnya tersengal, menghirup udara basah bercampur aroma ozon dan tanah. Pemuda itu berlutut di atas lumpur. Rambutnya lepek menempel di dahi, wajahnya tertutup kerak tanah. Namun, saat ia membuka mata, sepasang netra itu tidak memancarkan ketakutan orang mati. Matanya berkilat tajam, jernih dan sedingin es, menembus tirai hujan. "Di mana ini?" Suaranya serak, tenggorokannya terasa kering meski hujan mengguyur tubuhnya. Ia menunduk, menatap telapak tangannya sendiri. Jari-jarinya mengepal dan membuka. "Ini bukan tubuh asliku. Terlalu lemah. Garis meridiannya sempit dan otot-ototnya kaku." Pemuda itu mengusap wajahnya, membersihkan lumpur yang menutupi mata dan hidungnya. Ingatan terakhirnya adalah benturan energi spiritual yang sangat dahsyat. Formasi teleportasi yang koyak telah menghancurkan raga aslinya, namun entah bagaimana, jiwanya selamat dan ditarik masuk ke dalam wadah baru ini. Wadah seorang pemuda fana yang baru saja mati. "Sialan. Formasi itu melempar jiwaku ke tempat antah berantah. Aku harus menstabilkan sisa energi Prana di meridian ini sebelum organ dalamnya membusuk," batinnya cepat. Ia bangkit berdiri. Udara dingin membekukan kulitnya. Tinggi tubuh ini lumayan, bahunya cukup tegap, namun kondisinya sangat mengenaskan. Tanpa membuang waktu, ia memusatkan energi di kakinya. Dengan satu tolakan ringan, tubuhnya melesat ke atas, seringan kapas yang tertiup angin. Kakinya menjejak batang pohon, berayun dari satu dahan ke dahan lain, menembus lebatnya hutan Halimun di tengah badai. Suara gemuruh air memandu arahnya. Beberapa menit kemudian, ia tiba di tepi sungai yang arusnya sedang mengamuk. Air berwarna kecoklatan membawa ranting dan dahan patah. Tanpa ragu, pemuda itu melompat dari dahan pohon setinggi sepuluh meter. Byur…!! Tubuhnya menghantam air, namun ia tidak terbawa arus. Kedua kakinya menancap kuat di dasar sungai yang berbatu. Ia berdiri layaknya pilar baja di tengah derasnya air. Tangannya mulai menggosok kotoran, lumpur, dan darah yang mengering di kulitnya. Saat membersihkan diri, jari-jarinya meraba bagian dada dan perut pakaiannya. Ada beberapa lubang sobekan dengan tepi yang rapi. Ia menunduk, mengamati luka-luka itu. Luka tusuk. Dagingnya sudah mulai menyatu kembali berkat sisa energi spiritual yang ia bawa, namun rasa ngilunya masih terasa. "Pakaian ini penuh bekas tusukan mematikan. Pemilik asli tubuh ini mati dibunuh. Bukan kecelakaan," gumamnya, menarik kesimpulan dengan cepat. Ia melepaskan kemeja dan celananya yang sudah compang-camping. Dari saku celana yang basah, ia menemukan sebuah benda berbentuk kotak pipih terbuat dari kulit. Sebuah dompet. Ia membukanya, melihat beberapa kartu plastik dan lembaran kertas beraneka warna. "Benda aneh. Mungkin ini tanda pengenal di dunia ini. Akan kusimpan." Pikirannya terhubung ke ruang penyimpanan spiritual di dalam jiwanya. Ruang itu masih utuh. Dalam sekejap, dompet itu menghilang dari tangannya. Ia melempar sisa pakaian kotornya ke sungai, membiarkannya terbawa arus, lalu melompat naik ke tepian berbatu. Kondisinya masih terlalu lemah untuk terus bergerak. Ia berjalan mendekati sebuah pohon beringin raksasa dengan akar gantung yang lebat. Menggunakan sisa Prana di tubuhnya, ia menempelkan telapak tangan ke tanah. Elemen bumi merespons panggilannya. Tanah liat perlahan bergerak naik, memadat, dan melengkung membentuk sebuah gubuk kecil berbentuk setengah lingkaran yang melindunginya dari hujan dan angin. Ia melangkah masuk. Ruangan itu kering. Ia mengumpulkan beberapa ranting yang berserakan di sekitar pohon induk. Ranting-ranting basah itu ia tumpuk di tengah gubuk. Ia menjentikkan jari. Sebuah percikan api spiritual berwarna kemerahan meluncur dari ujung telunjuknya, menyentuh kayu basah. Dalam hitungan detik, kayu itu mengering dan terbakar terang, memancarkan hawa panas yang nyaman ke seluruh penjuru gubuk tanah. Pemuda itu duduk bersila, memejamkan mata, dan mulai menyerap energi murni dari alam untuk memulihkan tubuh barunya. Semalaman pemuda ini didik bersemedi memulihkan energinya dan memperbaiki sel-sel tubuh baru yang sudah mulai rusak tertimbun tanah selama tujuh hari. Dengan kemampuannya, sel-sel tubuh yang rusak perlahan mulai diremajakan dan kembali seperti sebelum membusuk. Pemulihan semenakjuban ini tidak mungkin bisa dilakukan oleh manusia di zaman modern seperti sekarang. Akan tetapi bagi jiwa yang memasuki tubuh rusak ini, bukanlah hal yang mustahil untuk meremajakan anggota tubuh yang rusak. Angin badai bertiup sangat kencang di hutan Halimun, petir tidak mau kalah terus menyambar-nyambar dari langit yang hitam, menerangi lebatnya hutan dan menerangi gubuk tanah dimana pemuda itu sedang duduk bersemedi memulihkan energinya. Derasnya hujan dan dinginnya udara di hutan Halimun tidak mampu menggoyahkan anak manusia yang sedang duduk bersemedi. Api terus membakar setumpuk ranting kecil didalam gubuk tanah, menghangatkan suhu udara didalamnya. Pemuda itu terlihat seperti patung dengan mata terpejam, nafasnya terdengar sangat halus dan panjang. Begitu fokusnya dalam bermeditasi , hingga melupakan angin badai yang masih berlangsung diluar gubuk tanahnya. lBAB, 60. 🌻 Akhir pekan itu tiba dengan hangat. Mentari bersinar lembut di langit, angin pantai menari di rambut Aylin yang dibiarkan tergerai. Athar memandangnya dari belakang kemudi, hatinya berdebar lebih kencang dari biasanya. Aylin, dengan senyum malu-malu dan pipi merona karena angin laut, tampak seperti gadis yang selalu membuatnya jatuh cinta- bukan hanya sebagai istri, tapi sebagai sahabat, teman, dan cinta sejatinya. Mereka berjalan beriringan di pasir, sepatu dilepas, kaki mereka menyentuh air yang dingin namun menyenangkan. Athar sesekali menggenggam tangan Aylin, perlahan, seolah takut memutuskan momen itu. Aylin menatapnya, matanya bersinar, dan di sana ada kepercayaan yang mendalam, sebuah rasa aman yang selama ini sulit ia temukan. "Lihat, Athar… ini indah," kata Aylin, menunjuk garis laut yang berkilau di bawah matahari. Athar tersenyum, memiringkan wajahnya mendekat, menatap mata Aylin. "Indah? Itu karena ada kamu di sini," bisiknya, hampir terdengar sebaga
BAB, 59. 🌻 Pukul sembilan pagi, ruang CEO dipenuhi cahaya hangat yang menembus jendela besar. Athar duduk di belakang mejanya, wajahnya cerah, hampir tidak seperti biasanya. Ada kelegaan yang tak bisa disembunyikan-hari ini, Aylin memilih untuk berhenti bekerja, fokus mengurus rumah tangga, dan Athar tahu itu adalah keputusan yang tepat baginya. Namun, di balik senyum itu, ada beban yang harus ia lepaskan. Gosip-gosip karyawan tentang Aylin-bahwa ia menikahi Athar demi uang sepuluh miliar-telah menyebar seperti api kecil yang siap membakar reputasi istrinya. Athar menatap sekilas ke luar jendela, menarik napas dalam, lalu berdiri. Langkahnya mantap ketika ia melangkah ke ruang pertemuan, di mana seluruh tim menunggu dengan rasa penasaran dan sedikit ketegangan. Suara Athar terdengar, tegas namun penuh emosi: "Aylin memilih untuk berhenti bekerja bukan karena alasan yang kalian dengar atau pikirkan. Semua gosip tentang uang, tentang motivasi pribadi-tidak ada yang benar." Ada he
BAB, 58.🌻Melody tertunduk sangat dalam, Athar menatapnya dengan tatapan rasa iba." Seperti yang kamu ketahui, kalau aku pergi karena Papah aku di kejar depkolektor waktu itu." Ucap Melody seraya mengangkat wajahnya dan menatap Athar," maaf, karena aku sudah meninggalkan kamu waktu akad." Athar tertunduk. Dulu memang Athar sangat kecewa, sangat merasa tidak bisa hidup jika tidak dengan Melody. Namun nyatanya, seiring berjalannya waktu, Aylin, gadis itu telah menyembuhkan lukanya secara perlahan." Tidak perlu ada yang di salahkan, Mel. Aku ngerti, anggap saja semuanya memang harus begini. Karena- ya...terjadi begitu saja." Athar balas menatap," aku harap, kamu bisa lebih bahagia." Melody tersenyum tulus, " aku akan pamit. Mungkin beberapa waktu ini- aku akan meninggalkan Indonesia. Ah, aku akan kerja di Taiwan bareng temen aku. Kalau begitu, sampaikan salam maafku kepada Aylin." Athar mengangguk tulus.~~~Malam itu, hujan turun tipis- hanya cukup untuk membuat udara dingin meny
BAB, 57.🌻Pipi Melody terasa panas..Suara tamparan itu masih menggema di telinganya, lebih nyaring dari detak jantungnya sendiri. Kepalanya sedikit menoleh ke samping, rambutnya jatuh menutupi wajah yang kini memucat. Ia berdiri terpaku di ruang tamu rumah yang dulu terasa hangat, kini pengap oleh bau keputusasaan." Papa tidak peduli dengan alasanmu!" hardik sang papa, napasnya tersengal. Matanya merah, bukan hanya oleh amarah, tapi juga oleh ketakutan yang terlalu lama ia pendam. " Kamu harus kembali ke Athar. Dia masih mencintaimu. Kamu bisa memperbaiki semuanya."Melody perlahan mengangkat wajahnya. Matanya berkaca-kaca, namun suaranya tetap bergetar tertahan. " Tidak, pah." Ia menggeleng pelan. " Aku tidak akan merusak hubungan Athar bersama istrinya. Aku sudah cukup menyakitinya...aku meninggalkan Athar di hari pernikahan kami. Luka itu...aku yang menorehkannya."Tangannya mengepal di sisi tubuhnya. Bayangan wajah Athar, tatapan hancur yang tak sempat ia jelaskan, kembali meng
BAB, 07. 🌻 Siang itu, matahari seperti tak mengenal ampun. Udara panas menekan kulit, membuat napas terasa berat. Namun Athar tidak peduli. Sudah hampir dua jam ia berkeliling dari satu tempat ke tempat lain, mencari seseorang yang bahkan jejaknya pun seolah menghilang begitu saja-Melody. Ia
BAB, 06. 🌻 Suasana siang di gang sempit kawasan kontrakan itu awalnya begitu biasa. Angin membawa aroma kuah seblak dari ujung jalan, suara-suara anak kecil yang bermain bola plastik bersahutan, dan di teras rumah Bu Reni, tiga ibu sedang duduk melingkar sambil menikmati seblak dan juga teh ma
BAB, 05. 🌻 Pagi itu menyapa dengan lembut- langit Jakarta berwarna biru muda, dihiasi sinar mentari yang menetes hangat di sela jendela kaca rumah besar keluarga Ardian. Suara burung gereja terdengar samar, kalah oleh gemuruh kendaraan di kejauhan. Namun di dapur yang harum oleh aroma tumisan
BAB, 04. 🌻 Aylin melangkahkan kakinya perlahan menaiki anak tangga yang menghubungkan lantai satu dengan kamar tidur milik suami dadakannya. Setiap langkah terasa berat, seperti membawa segunung keraguan dan rasa asing yang menyesakkan dada. Begitu sampai di depan pintu kamar, Aylin berhent
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews