LOGINSeorang wanita yang mendapat pengkhianatan dari orang yang begitu ia cintai. Menyadari jika cinta dan sikap hangat yang diperlihatkan oleh Kekasihnya hannyalah kebohongan untuk menutupi tujuan lainnya. "Aku, Renata Aditama, akan membuat mereka membayar atas perbuatan buruk yang telah mereka lakukan padaku. " Yang tidak disangka, saat misi balas dendamnya ini ia justru dipertemukan oleh sosok pria luar biasa dengan kekuatan yang begitu besar. Seorang pria yang akan membantunya dengan tenang dan terukur. Seorang pria yang akan menjadi 'rumah' yang mengisi kembali ruang hatinya yang hancur. "Dalam hidup ini, hanya kau satu-satunya wanita yang ada dalam hidupku. "
View More“Sayang ... pelan sedikit!” Suara lembut dan menggoda tiba – tiba terdengar dari ruangan samping, tatkala Renata mulai siuman dari pingsannya.
“Ah ... sayang! Bagaimana bisa kamu tampak begitu menggoda seperti ini?! Kamu benar – benar luar biasa, sayang.” suara seorang pria dengan nafas sedikit tertahanan kembali menyapa indera pendengaran Renata. Saat membuka matanya, Renata merasa kepalanya seperti dihantam oleh sesuatu. Terasa sakit tapi juga menekan. Pandangannya berbayang saat melihat ke sekitar. Butuh waktu beberapa saat untuk bisa menormalkan penglihatannya. Saat ia tersadar, rupanya ia berada di ruangan yang tidak asing. Ruangan yang beberapa hari lalu ia pesan atas namanya. Ruangan yang akan ia gunakan untuk menghabiskan waktu bersama tunangan sekaligus orang yang paling berarti dalam hidupnya. Hanya saja, saat ia melihat ke segala sudut yang sunyi itu, ia sedikit mengernyitkan kening. Matanya yang sejernih air melihat ke semua arah, mencari sosok yang seharusnya ada di sana. Bersamanya. Sayangnya, tidak peduli seberapa ia berusaha mencari, sosok itu tidak juga ia temukan. Saat ia bertanya – tanya kemana sosok yang seharusnya ada itu berada, telinganya kembali menangkap pembicaraan dua orang dari luar. Membuat Renata kaku di tempatnya. Ia bahkan belum sempat merespon apa yang saat ini terjadi tetapi telinganya kembali mendengar percakapan dari dua orang yang berada di luar ruangan itu. “Sayang, bagaimana jika Renata terbangun dari pingsannya?’’ Meski kalimatnya terdengar khawatir, tapi siapapun yang mendengar nadanya akan merasa jika perempuan itu sangat menikmati momen saat ini. “Jangan khawatir. Dia tidak akan bangun sampai besok pagi. Aku sudah memberikan obat bius dosis tinggi untuknya. Akan lebih bagus jika dia tidak bangun selamanya.” Hati Renata berdesir saat mendengar percakapan dua orang itu. Ia berpikir jika dirinya mungkin saja mabuk hingga berhalusinasi mendengar suara – suara yang tidak seharusnya ada. Hanya saja derit ranjang dari ruangan samping tidak juga berhenti dan justru semakin terdengar intens. Diiringi suara geraman dan desahan yang saling menyahut satu sama lain. Renata sendiri masih termangu di tempatnya. Kepalanya berdengung hingga ia tidak tahu harus memroses semua ini seperti apa. Tentu saja ia sangat mengenali suara dua orang yang tengah bercumbu itu. Satunya adalah suara yang dimiliki oleh orang yang paling ia benci dalam hidup, satunya lagi adalah suara milik orang yang sangat ia cintai selama ini. Pria itu adalah Julian, tunangannya, sekaligus orang yang begitu berarti dalam hidupnya. Sementara perempuan yang tengah bercumbu dengan tunangannya itu adalah Juwita. Wanita yang ia benci. “Tidak mungkin ...” gumam Renata pelan. Meski sudah mendengar percakapan dua orang itu Renata masih ingin memastikan sesuatu. Dengan begitu, ia tetap menyeret tubuhnya yang masih sangat lemah untuk keluar dan melihat sendiri apa yang terjadi di sana. Memanfaatkan celah pintu yang terbuka, Renata bisa melihat aktivitas yang dilakukan dua orang di sana. Mereka tengah bergumul dan menikmati momen intim mereka tanpa peduli sekitar. Mata Renata melebar, air mata terjatuh begitu saja sementara mulutnya terkunci rapat. Pemandangan yang terpampang di depannya ini bagaikan pukulan telak baginya. ‘Buugh’ kedua kaki Renata lemas hingga membuatnya jatuh ke lantai. Mungkin karena kedua orang di depannya itu asik dengan dunia mereka, mereka bahkan tidak menyadari suara benturan yang terdengar. Dengan pelan Renata menyenderkan tubuhnya yang lemah ke balik dinding. Matanya kosong tapi ia merasa hatinya seperti dicabik – cabik. Merasa seluruh dunianya gelap. Ia tidak pernah menyangka bahkan dalam mimpi terburuknya, ia akan mengalami pengkhianatan dari orang yang ia percayai selama ini. Butuh waktu selama satu jam bagi dua orang di luar menyelesaikan aktivitasnya. Sementara Renata masih bersandar lemah di dinding dengan posisi yang masih sama. “Sayang, tadi sangat luar biasa. Terima kasih.” Suara Julian terdengar dengan nafas yang terdengar masih memburu. Sementara Juwita menjawab dengan nafas yang tersengal dan nada yang menggoda, “Aku bahagia jika kamu senang. Sayang ... sebenarnya sampai kapan kita akan berhubungan diam – diam seperti ini? Hatiku sakit saat melihat kamu yang harus berduaan dengan Renata.” Suara kecupan terdengar sebelum Julian menjawab, “Tenang saja. Sebentar lagi aku akan memutuskannya. Sejujurnya aku juga sudah tidak kuat jika harus terus bersikap baik dengannya. Menjengkelkan! Jika bukan karena pertunangan yang sudah dirancang itu aku tidak akan sudi bersikap baik padanya.” dengan nada mengandung rasa jijik yang terdengar jelas, Julian menjawab. Juwita pun ikut menambahkan dengan nada yang terdengar khawatir, “Meski begitu, kita perlu berhati – hati agar pemutusan pertunangan ini tidak membuat dampak negatif pada Keluarga Herlambang” “Sayang ... kamu bisa mempercayaiku. Kali ini keputusanku dan jalan yang ku ambil tidak akan salah. Aku sudah merancang semuanya untuk memutuskan pertunangan sialan ini tanpa perlu membuat Keluarga Herlambang dalam bahaya.” Dan seluruh percakapan ini sudah didengar oleh Renata. Ia bahkan sudah kembali ke ranjangnya dan merekam semuanya. Dengan tatapan dingin dan penuh dendam, Renata bergumam dalam hati, “Julian, Juwita, aku akan mengingat ini dengan baik!”Renata datang ke kantor HA tepat waktu, seperti biasa. Ia tidak mengenakan sesuatu yang mencolok, hanya setelan sederhana dengan potongan rapi yang membuat langkahnya terlihat tenang dan terukur. Sejak pengumuman Elly, sorot mata orang-orang di lobi berubah sedikit ketika melihatnya, ada yang penasaran, ada yang sekadar ingin memastikan kabar yang mereka baca pagi tadi memang benar.Renata tidak berhenti untuk membaca ekspresi mereka. Ia merasa sudah terbiasa dan tidak mempedulikan mengenai itu.Panggilan dari Julian semalam terdengar resmi, bahkan terlalu resmi baginya.“Kita perlu membicarakan beberapa penyesuaian pekerjaan,” begitu katanya.Maka ia datang, tanpa dugaan lain. Namun ketika pintu ruang kerja Julian terbuka, suasana di dalamnya tidak seperti ruang rapat yang biasanya. Tidak ada berkas terbuka, tidak ada layar presentasi, bahkan meja kerja terlihat lebih rapi dari biasanya, seolah sengaja dikosongkan.Dan di atas meja kecil dekat jendela, terdapat satu kotak beludru ge
Sore itu, Julian dipanggil pulang. Bukan dengan nada marah. Bukan pula dengan perintah keras. Pesan singkat dari Abimana Herlambang hanya berisi satu kalimat: “Pulang. Kita bicara.”Di ruang kerja keluarga, suasana dingin. Abimana duduk di balik meja besar, berkas laporan terbuka di hadapannya. Julian berdiri beberapa langkah dari sana. Tidak ada basa-basi.“Saham turun lagi pagi ini,” ujar Abimana tenang.Julian terdiam.Namun Abimana tetap melanjutkan ucapannya, “Bukan karena kinerja, ini semua karena kepercayaan.”Ia mengangkat pandangan. “Kau mengira ini masih urusan pribadi?”Julian membuka mulut, lalu menutupnya kembali. Tidak ada suara yang keluar, dia terduduk dan pandangannya masih terpaku di lantai. “Kau boleh salah,” kata Abimana pelan namun tajam. “Tapi ketika kesalahanmu menyeret nama keluarga dan perusahaan, itu bukan lagi urusan perasaan.”Keheningan akhirnya jatuh di antara mereka berdua. “Aku
Juwita tidak tahan pada keadaan saat ini yang terus menerus berkembang ke arah yang menyudutkannya. Sejak pagi, namanya terus muncul di linimasa, bukan sebagai pusat pujian, melainkan sebagai bayangan yang menempel pada satu isu yang sama. “Dugaan perselingkuhan” Pertunangan yang dibatalkan. Foto lama yang kembali diangkat. Tatapan yang terlalu dekat untuk sekadar kolega.Ia tahu, diam terlalu lama akan membuat rumor semakin tumbuh liar. Maka dari itu ia memilih untuk bicara.Sebuah unggahan singkat muncul di akun resminya. Foto dirinya dengan riasan rapi, sudut wajah yang paling aman, disertai kalimat yang terdengar tenang: “Tidak semua yang terlihat adalah kebenaran. Aku berharap publik bisa lebih bijak.”Tidak menyebut nama, tidak membantah dan juga tidak menjelaskan. Namun justru di situlah letak kesalahannya.Komentar datang dengan deras.“Kalau tidak salah, kenapa tidak tegas?”“Bijak bagaimana? Foto-fot
Kantor terasa terlalu sempit bagi Julian pagi itu. Ia berdiri di depan jendela, menatap lalu lintas di bawah tanpa benar-benar melihatnya. Di tangannya, ponsel terus bergetar. Notifikasi datang beruntun. Baik dari media, rekan bisnis, kenalan lama. Tidak satu pun bertanya apakah ia baik-baik saja. Semuanya bertanya hal yang sama. ‘Kenapa dibatalkan?’Julian mengepalkan tangannya. Tidak ada jawaban yang bisa ia berikan saat ini. Pernyataan yang diumumkan itu terlalu rapi dan juga terlalu bersih. Herman Aditama memotong semua jalur klarifikasi sebelum ia sempat bergerak. Tidak menyisakan ruang untuk penjelasan, juga tidak ada celah untuk mengendalikan narasi publik. Dan ini benar – benar membuatnya terasa terhimpit. Dan yang paling membuatnya tertekan adalah kebisuan Renata saat ini. Tidak terhitung sudah berapa kali ia mencoba menghubungi Renata. Baik dari pesan yang terkirim ataupun dari panggilan. Akan tetapi, semuanya tidak kunjung direspon. Dari pesan yang tidak dibaca dan pang
Di pagi hari, di apartemen milik Julian, cahaya matahari masuk tipis dari sela tirai, jatuh di lantai yang dingin. Juwita sudah terbangun lebih dulu. Ia berbaring telentang, menatap langit-langit tanpa benar-benar melihat apa pun. Malam kali ini pun tidak memberi sepenuhnya ketenangan. Yang tersis
Mobil melaju tenang meninggalkan area studio Éclat Mode. Di kursi penumpang, Renata menyandarkan punggungnya, membiarkan kelelahan hari itu luruh sedikit demi sedikit. Lampu-lampu jalan mulai menyala, memantulkan cahaya lembut di kaca jendela. Untuk pertama kalinya sejak pemotreta
Ruang rapat Éclat Mode tidak pernah dipakai untuk keputusan ringan. Sama seperti saat ini. Saat ini, layar besar menampilkan hasil pemotretan yang baru saja mereka kerjakan. Melihatnya satu per satu. Foto Juwita muncul lebih dulu. Tampilannya terlihat tajam, dramatis, penuh kilau.
Damian membaca berita dalam keheningan.Ia berdiri di ruang kerja pribadinya yang menghadap ke taman belakang kediaman. Di luar jendela besar, lautan bunga terbentang rapi. Lapisan warna yang berkilau lembut di bawah cahaya pagi. Jalan setapak dari batu alam membelah hamparan hijau, pepo
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.