Share

Bab 250

Author: Belinda
"Pak Kepala Desa ... uum ...." Aldrian belum pernah merasa semalu ini. "Aku ... aku ada urusan di perusahaan. Aku pamit dulu ...."

Mengatakan lebih dari itu hanya akan terkesan sedang berusaha menutupi sesuatu dan membuat keadaan makin canggung ....

Namun, setelah berjalan sampai beberapa langkah, Aldrian tiba-tiba berbalik dan memanggil, "Pak Kepala Desa ...."

Kepala Desa tersenyum dan menyahut, "Pak Aldrian, ada yang bisa kubantu?"

"Kamu tahu ...." Aldrian kesulitan berbicara. Itu adalah neneknya sendiri, tetapi dia malah bertanya ke orang lain ke mana neneknya pergi. Namun, jika tidak bertanya, sepertinya tidak ada seorang pun yang bisa memberinya jawaban. "Um ... apa Nenek pergi ke suatu tempat?"

Kepala Desa menggeleng tanpa daya. "Aku nggak tahu. Dia sudah pergi berhari-hari! Entah ke mana dia. Kamu juga ...."

Kepala Desa ingin bertanya "kamu juga tidak tahu?", tetapi sudah jelas bahwa Aldrian tidak tahu. Jika tahu, untuk apa Aldrian bertanya padanya? Dia segera menghentikan uc
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Dilema Pernikahan bersama Presdir Dingin   Bab 264

    Kyna bangun sangat pagi setiap hari. Ketika Aldrian mengirim pesan itu, dia sudah bangun dan sedang dalam perjalanan untuk melakukan rehabilitasinya. Pesan itu berisi hal serius. Terlepas dari apa yang terjadi di antara dirinya dan Aldrian, dia tidak boleh menunda urusan studio.Kyna mengira studio Xavier yang mengirim pakaian itu ke rumah, supaya dia bisa mencoba dan mengonfirmasinya. Jadi, dia membalas pesan Aldrian. [ Kamu nggak perlu kasih tanggapan apa-apa. Aku akan mengurusnya. ]Saat menggulir ke bawah, Kyna menemukan bahwa asisten Vier Studio telah mengiriminya pesan. Akan tetapi, pesan itu terkubur di bagian bawah daftar pesannya. Setiap hari, dia terlalu sibuk untuk mengecek satu per satu pesan masuk sehingga melewatkannya. Dia segera membalas. [ Maaf, aku lagi nggak ada di dalam negeri akhir-akhir ini, jadi pesannya kelewatan. Nggak ada masalah dengan pakaiannya. Aku sudah terima. Langsung potong saja semua biayanya dari kartu keanggotaanku. ]Vier Studio beroperasi dengan

  • Dilema Pernikahan bersama Presdir Dingin   Bab 263

    "Anak gadis? Naif?" cibir Xavier."Apa maksudmu? Kamu mau diskriminasi perempuan berdasarkan usia?" Anara akhirnya menemukan kesalahan Xavier dan kembali meninggikan suaranya.Xavier tersenyum sinis. "Sebagai desainer yang kompeten, usia cuma nilai tambah di mataku. Kecantikan yang terbentuk seiring waktu nggak kalah sama kecantikan di masa muda. Aku tetap bisa buat wanita berusia 90 tahun terlihat cantik dan elegan." Xavier terkekeh lagi sebelum menambahkan, "Pak Aldrian, sebaiknya kamu bawa pulang anak gadismu itu. Ucapanku biasanya kurang enak didengar. Jadi, pergilah sebelum aku bicara terlalu kasar." Penekanan yang disengaja pada kata "anak gadis" sudah merupakan sindiran.Bagi Aldrian yang pada dasarnya memiliki harga diri tinggi, sikap Xavier termasuk penghinaan serius. Namun, karena Anara menarik-narik pakaiannya dari belakang, dia memaksakan senyum."Pak Xavier, maafkan kata-kataku yang kurang pantas. Tapi baik itu pelanggan tetap atau pelanggan baru, semuanya pasti punya ya

  • Dilema Pernikahan bersama Presdir Dingin   Bab 262

    "Apa?" Anara langsung murka. "Kyna? Mana mungkin dia mampu beli pakaian kalian! Apa kalian tahu orang di balik Kyna itu Aldrian? Tanpa Aldrian, dia bukan siapa-siapa!" Asisten itu tersenyum. "Tentu saja, kami tahu Bu Kyna adalah istri Pak Aldrian." Anara menjadi makin sombong. "Kalau tahu, kamu masih nggak izinkan Aldrian pesan pakaian? Kamu tahu Aldrian itu siapa? Dia itu pengusaha yang lagi naik daun di Kota Hatam, presdir termuda dan berprestasi sebuah perusahaan go public. Kalau mau, dia bisa beli seluruh toko kalian." Asisten itu mengangguk sambil tersenyum. "Aku tahu.""Kalau tahu, kenapa kamu masih bersikap seperti ini? Apa kamu nggak mau berbisnis lagi?" tanya Anara dengan nada yang makin arogan dan semena-mena.Asisten itu menatap Aldrian, lalu menatap Anara. "Tentu saja kami tahu siapa Pak Aldrian. Kami juga tahu Bu Kyna dan Pak Aldrian adalah suami istri. Jadi, kalau boleh tahu, kamu itu siapa?" "Aku ...." Senyum puas Anara belum hilang. Ketika mendengar kalimat itu, sen

  • Dilema Pernikahan bersama Presdir Dingin   Bab 261 

    Di ujung telepon, Anara melihat Aldrian mengakhiri panggilan dan buru-buru bertanya, "Ada apa?""Nggak apa-apa, Bi Sani bilang mau berhenti kerja," jawab Aldrian sambil menyimpan ponselnya.Anara menghela napas lega. Namun, memangnya kenapa meskipun pembantu itu mengatakan yang sebenarnya? Dia berani melakukannya karena tidak takut. Di depan Aldrian, bahkan Kyna juga tidak bisa dibandingkan dengannya, apalagi seorang pembantu. Lagi pula, dia sudah hampir membunuh Kyna, tetapi Aldrian masih membelanya.Memikirkan hal ini, Anara pun tersenyum berseri-seri. Pada saat yang sama, dia mengeluarkan gaun Kyna yang berkilau itu."Wow, gaun ini cakep banget! Apa ini untukku?" serunya dengan takjub."Itu ...." Aldrian meliriknya dan menjawab, "Itu milik Kyna.""Kyna ...." Anara segera memutar otak dan berujar, "Aldri, kebetulan ada sebuah acara amal yang harus kuhadiri sebentar lagi. William dan Naldo akan bawa aku pergi. Nggak ada gaun yang bisa kupakai. Boleh nggak aku pinjam yang ini?" Aldria

  • Dilema Pernikahan bersama Presdir Dingin   Bab 260 

    Melihat Aldrian, Sani makin tak bisa menahan air matanya.Aldrian tidak tahu apa yang sudah terjadi dan melihat ke sekeliling rumah. "Nara? Kok kamu ada di sini?" Anara sudah menurunkan kakinya dari meja kopi. Dia memanggil "Aldri" dengan suara yang manja, lalu merentangkan kedua tangannya dan menerjang ke arah Aldrian."Aldri, sudah lama aku nggak berjumpa denganmu! Aku rindu banget sama kamu .... Semua orang merindukanmu. Tapi kamu mengabaikanku, jadi aku cuma bisa datang menemuimu." Aldrian melihat Anara yang berlari ke arahnya bagaikan seekor burung kecil, lalu menyahut dengan suara lembut sambil tersenyum, "Bukannya sudah kubilang aku ada urusan lain selama beberapa hari terakhir?""Huh! Pokoknya, kamu sudah melupakan kami." Anara memasang tampang cemberut dan bertingkah manja di hadapan Aldrian. Melihat Aldrian menjinjing beberapa kantong besar, dia berseru, "Wow, Aldri, banyak sekali pakaian!""Emm." Aldrian masuk ke rumah dan meletakkan pakaian-pakaian itu.Sementara itu, San

  • Dilema Pernikahan bersama Presdir Dingin   Bab 259 

    Melody akhirnya ketakutan. Dia tidak ingin kembali ke pedesaan. Jika dia kembali, ayahnya akan memukulinya dan ibunya sampai mati. Dia ingin bersekolah, belajar keterampilan, menghasilkan banyak uang, dan merawat ibunya dengan baik ....Melody diam-diam meneteskan air mata dan mulai memijat kaki Anara. Namun, dia belum pernah memijat orang sebelumnya, juga tidak tahu caranya. Terlebih lagi, luka bakar di dadanya sangat menyakitkan.Melody sangat ketakutan dan berusaha keras menahan air matanya. Dia sudah berusaha keras menggigit bibirnya erat-erat, tetapi air mata itu terus mengalir di wajahnya. Beberapa tetes air mata itu jatuh di kaki Anara karena dia tidak sempat menyekanya. Kemudian, tanpa peringatan, dia ditendang dengan kuat di dada, tepat di tempat kulitnya terbakar."Ah!" seru Melody dengan kesakitan."Air matamu yang kotor sudah menetes di kakiku!" Anara berseru, "Dasar jalang! Kamu dan ibumu sama-sama jalang!" Melody merasakan sakit yang menusuk di dadanya, tetapi tidak bera

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status