MasukSetelah melahirkan, Denada kehilangan bayinya ketika masih inap di rumah sakit. Bayi hasil hubungan di luar pernikahan bersama mantan kekasihnya, Tristan. Pihak rumah sakit tidak mampu menemukan sehingga Denada pun kembali ke kotanya, juga untuk menemui Tristan. Setelah mengetahui kenyataannya, Denada pergi dengan menangis di pinggir jalan. Bersamaan dengan itu, Denada bertemu dengan seorang baby sitter, sedang menggendong bayi yang menangis. Beliau tampak bingung. Setelah didatangi, ternyata bayi itu membutuhkan susu. Teringat dengan bayinya yang hilang, secara alami Denada memberikan ASI bertepatan dengan datangnya ayah dari sang bayi, Emas. Setelah selesai memberikan ASI, akhirnya Emas meminta Denada menjadi ibu susu bagi bayinya. Apakah Denada bersedia? Lalu, dapatkah Denada menemukan bayinya yang hilang?
Lihat lebih banyakSatu tahun kemudian ....Taman belakang kediaman Budiman yang asri disulap menjadi studio foto dadakan. Banyaknya bunga mawar dan lili bermekaran, menjadi latar sempurna di bawah naungan pohon flamboyan yang rindang. Seorang fotografer profesional sibuk mengarahkan gayanya."Baik, posisinya sudah bagus, Ibu Denada. Sekarang, Kakak Abram, bisa tolong berdiri di samping Mama? Sebentar saja, ya?" kata sang fotografer ramah.Abram, yang sudah hampir berusia dua tahun dan di puncak fase eksplorasinya, menggeleng dengan cepat. Kedua matanya yang bulat justru terpaku pada seekor kupu-kupu kuning yang hinggap di semak mawar."Nda mau! Upu-upu! Upu-upu cantiiik!" kata Abram berseru, lafal yang belum sempurna. Dia pun berlari kecil dengan langkah goyah, berusaha menangkap serangga bersayap itu."Abram! Sayang, sini sebentar saja sama mama. Nanti kita kejar kupu-kupunya bareng, ya? Janji," kata Denada lembut, coba menahan tawa."Nda! Mau se
Sembilan bulan berlalu seperti sebuah mimpi indah yang menjadi kenyataan, setiap harinya terasa bagai lembaran novel romantis yang ditulis khusus untuk mereka. Tidak ada lagi musim hujan yang membuat Denada gelisah menatap langit kelabu, cemas menghitung sisa beras ketika warung sepi pengunjung.Kenangan akan aroma tanah basah yang dulu identik dengan kecemasan, sekarang sudah berganti dengan hangatnya minyak esensial lavender yang selalu disiapkan Emas. Setiap malam, tanpa pernah absen, Emas akan duduk di tepi ranjang lalu mengangkat kaki Denada yang bengkak ke pangkuannya, dan memijat dengan jari yang hangat serta kuat."Sudah jadi tugas papa buat mama dan jagoan kita nyaman," bisik Emas, seolah hal itu adalah ritual paling sakral di dunia.Tidak ada lagi kekhawatiran yang menyesakkan dada ketika memikirkan biaya persalinan. Ingatan samar tentang menyisihkan uang receh di kaleng biskuit bekas terasa begitu jauh, seperti cerita dari kehidupan orang lain.
Satu bulan kemudian .... Kehidupan berjalan normal seperti biasanya tapi dengan kehangatan yang berbeda. Rumah besar itu tidak lagi terasa seperti istana yang dingin, melainkan sebuah rumah yang penuh tawa Abram, cinta yang tulus antara Emas dan Denada. Pukul 19.30. Malam itu, Emas duduk di tepi ranjang, membaca beberapa dokumen pekerjaan di tabletnya dan Denada keluar dari kamar mandi. Dia baru saja menyusui dan menidurkan Abram. Kini, Abram dijaga oleh Lina. Wanita itu berjalan dan berdiri di dekat jendela, menatap taman bawah yang remang-remang. Biasanya dia berbaring di samping suaminya. "Sayang, pembangunan restoran sudah setengah jalan, besok kita pergi ke toko furniture ya? Kita harus mempersiapkan perabot buat restoranmu," kata Emas yang masih fokus dengan layar tabletnya. "Hmm," kata Denada, singkat. Emas mengernyit, merasakan keanehan cara menjawab sang istri lalu meletakkan tablet. D
"Dulu, aku gak memberikan cincin sekali pun sebagai tanda pernikahan kita," kata Emas yang kembali berdiri di hadapan Denada.Dia membuka kotak itu, memperlihatkan sepasang cincin emas putih polos tebal yang berkilau indah, dengan dua buah permata kecil di tengahnya."Mas!" panggil Denada tercekat."Nada, dulu kita menikah karena keadaan. Sekarang, di sini, di kota cinta ini, aku mau menikahimu lagi. Bukan di atas kertas, tapi dalam hati. Cincin ini aku berikan sebagai tanda pernikahan dan sebuah janji. Janji cinta sejati tanpa batas waktu. Maukah kamu menjadi istriku selamanya dengan segenap cinta dan kejujuran, sampai maut memisahkan?" tanya Emas, suara dan tatapannya sarat akan cinta.Air mata kebahagiaan mengalir deras di pipi Denada. Dia langsung mengangguk, tidak mampu berkata hal lain lagi, "Ya ... iya, aku mau, Emas! Tentu saja aku mau!"Emas mengambil salah satu cincin yang lingkarannya lebih kecil dari satunya dengan tangan yang
Denada sangat terkejut dan mengulang kembali tapi lebih sebagai pernyataan daripada pertanyaan, "Lusa? Mas, kamu gak bercanda, kan?" "Kapan aku pernah bercanda soal hal sepenting ini, Sayang?" kata Emas, masih memasang wajah ceria, sedikit pun tidak menyadari badai kecil yang mulai
Denada yang mendengar itu hanya tersenyum dalam hati. Seperti inilah suaminya. Seorang pria yang bisa menjadi mesin dingin yang menuntut keadilan tanpa ampun, tapi di saat yang sama, dia adalah pemimpin yang tidak pernah lupa untuk memanusiakan orang-orang di sekitarnya. Rasa kagum dan bangga itu
Denada terenyak. Senyum Emas yang tadinya merekah, secara perlahan memudar melihat perubahan mimik istrinya. Denada menggeleng pelan dan tangan kirinya mencengkeram lengan Emas, seolah mencari pegangan. "Tidak bisa, Mas. Abram, gimana sama Abram?" tanya Denada, suaranya terdengar s
Denada bertanya, "Apa yang akan terjadi, Mas?""Kita akan bangun benteng yang tinggi dan kuat, sampai gak ada monster dari masa lalu yang bisa memanjatnya," kata Emas, penuh keyakinan.Dia memegang dan menggenggam erat tangan Denada lalu berbisik, "Kita pasti bisa melewatinya."Pukul 09.10.Ruang k


















Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Ulasan-ulasan