LOGINSesudah memutus sambungan telepon itu, kuletakkan kembali perangkat ponsel tersebut ke atas permukaan rata dasbor mobil. Rasa cemas mengenai hitungan kemungkinan terjadinya perampokan di tengah jalan layang ini benar-benar mengisi penuh isi kepalaku.Rombongan konvoi dua kendaraan kami memang sedang memuat puluhan keping batangan logam emas murni yang bernilai angka miliaran.Tepat di posisi kursi sampingku, Shella langsung menoleh ke arah kaca belakang mobil kami secara sangat cepat. Raut lapisan kulit wajah perempuan dewasa itu terlihat memancarkan rasa cemas melihat aksi kejar-kejaran kendaraan yang mulai terjadi. Matanya terus mengawasi pergerakan perputaran roda mobil SUV hitam di belakang aspal sana tanpa berani menutup kelopak matanya.“Mobil warna hitam itu makin menambah kecepatan putaran mesin bannya buat terus mengejar laju kendaraan kita, Rafli. Jarak bodi bemper depan mobil tinggi mereka makin dekat sekali sama bagian plat nomor logam di belakang kendaraan van Ko Ahiong.”
Aku dan Ko Ahiong lalu menarik daun besinya dan mengunci kembali pintu kontainer tersebut rapat-rapat memakai sistem penggunaan gembok digital canggih berteknologi sidik jari itu.Cahaya pancaran terik dari matahari siang perlahan mulai terlihat mencondongkan posisi letaknya menuju arah batas warna langit di wilayah barat pelabuhan laut ini.Kami berempat telah berhasil menuntaskan semua tahapan proses kegiatan pemindahan wujud barang kloter tahap awal ini dengan hasil capaian sangat aman.Kami segera berpisah dan meninggalkan area daratan sektor barat pelabuhan tersebut menggunakan letak kursi kemudi kendaraan roda empat masing-masing menuju ke aspal jalan raya ibu kota.“Kamu tolong bawa putaran ban mobil sedan ini dengan cara sedikit hati-hati aja di permukaan aspal jalan raya rute arah pulang ya, Rafli. Otot kaki paha aku ngerasa lumayan sangat pegal sehabis menahan beban tubuh berdiri sangat lama di ruang lantai logam kontainer pelabuhan tadi,” keluh Shella dari area ruang posisi
“Oke deh, aku paham sama letak tingkat bahayanya sekarang. Berarti cuma kita berempat doang di dalam ruangan kontainer ini yang dapat akses informasi kerahasiaan buku jurnal ini ya, Pak?” ucap Shella memberikan persetujuan suara akhirnya siang ini.“Tepat sekali pemahaman pikiran kamu itu, Shella. Jangan sampai ada satu pihak orang pun yang berani membicarakan masalah koordinat pulau ini di area luar batas ruangan kontainer baja ini,” pesan Pak Sanjaya dengan raut otot wajah yang amat sangat serius menatap mata kami bertiga.Urusan penentuan prosedur keamanan kerahasiaan nyawa Bapak Hermawan akhirnya telah mendapatkan sebuah wujud jalan keluar yang jelas. Fokus perundingan lisan kami berempat kemudian beralih kembali kepada wujud keberadaan tumpukan harta fisik di dalam susunan rak brankas raksasa itu.“Terus ini tumpukan batangan koin emas sama ikatan sisa uang tunai asingnya mau kita pindahkan ke luar pelabuhan pakai cara transportasi kayak gimana, Ko Ahiong? Jumlah berat logam emas
“Pak Sanjaya, tolong Bapak mendekat ke titik mari dan bantu kami berdua membaca letak deretan data koordinat angka aneh ini sekarang juga,” pintaku sambil memutar posisi badanku menghadap lurus ke arah wujud tubuh sang pengacara senior.Pak Sanjaya langsung melangkah maju dan melihat bentuk deretan angka rahasia tersebut dari balik lapisan lensa kacamata bacanya. Beliau mengamati susunan kode sandi angka itu selama hitungan beberapa puluh detik lamanya dalam kondisi bagian mulut terdiam merapat.“Ini adalah sebuah wujud barisan titik koordinat geografis untuk penentuan lokasi sebuah wilayah daratan pulau, Rafli. Saya sangat mengenali jenis susunan format kode angka sistem pelayaran laut ini,” jawab Pak Sanjaya memberikan sebuah tindakan pencerahan kepada jalan kebingungan otak kami berdua.“Bapak beneran tahu letak posisi pasti dari kordinat angka itu mengarah lurus ke arah wilayah perairan mana di peta dunia?” tanyaku menuntut pemberian jawaban yang berukuran lebih spesifik dari mulu
“Tulisan Papa secara rinci nyebutin kalau ancaman tindak pembunuhan itu dirancang langsung sama sekumpulan rekan bisnis Nyonya Alika,” jawab Shella membacakan fakta kejadian mengerikan tersebut dari dalam jurnal kulit hitamnya.“Berarti rekan bisnis komplotan Nyonya Alika beneran sudah punya niat niat jahat buat mencelakakan laju napas Bapak Hermawan sejak awal mula,” komentar Ko Ahiong yang sedari tadi ikut mendengarkan obrolan dari arah belakang posisi tubuhku.“Iya, Ko Ahiong. Susunan rencana jahat ini sepertinya sudah mereka atur sangat rapi jauh sebelum jadwal penerbangan lepas landas pesawat Papa ke wilayah luar kota.”“Tulisan kalimat di kertas itu nyebutin skenario wujud jalan keluar buat nyelamatin tubuh Papa kamu secara spesifik nggak, Shella?” tanyaku menunjuk barisan tinta bawah di halaman kertas tersebut memakai jari tanganku.“Iya, Rafli. Tulisan Papa di baris kalimat pojok bawah ini secara eksplisit menyebutkan sebuah skenario untuk memalsukan peristiwa kematian fisikny
“Kamu tolong kumpulin semua tumpukan uang kertas asing ini ke dalam tas milik Ko Ahiong sekarang juga ya, Shella,” suruhku sambil menyodorkan beberapa ikat uang Euro ke telapak tangannya.“Iya, Rafli. Aku masukin uang kertasnya pelan-pelan biar lembarannya nggak robek pas dibawa jalan pulang nanti,” jawab Shella sambil menerima wujud benda finansial tersebut.Shella mulai menata ikatan uang Dolar Amerika dan Euro itu ke dalam tas jinjing Ko Ahiong dengan sangat rapi. Pandangan matanya tiba-tiba teralihkan menuju area rak paling atas di dalam brankas baja ini. Dia langsung menemukan sebuah benda berwujud persegi panjang yang posisinya agak tersembunyi di sudut gelap sana.“Eh, ada sebuah buku tebal tertinggal sendirian di bagian rak paling atas brankas logam ini, Rafli,” lapor Shella sambil menunjuk lurus ke arah lokasi barang tersebut.“Biar aku saja yang mengambil benda itu dari atas sana, Shella. Posisi letak rak atas itu lumayan tinggi buat ukuran jangkauan tangan kamu,” tawarku un







