MasukSemoga syuka🎀💅
Salsa menatap kartu ATM di tangannya, lalu beralih menatap wajah tegas Keiron. Di tengah rasa sakit di pipinya dan rasa bersalahnya, ada sebuah perasaan hangat yang aneh kembali merayap di dadanya. Ini pertama kalinya dalam hidup, ada seseorang yang begitu marah karena dirinya disakiti. Dia juga seseorang yang melindunginya dengan cara yang begitu ekstrem, seolah-olah dirinya adalah sesuatu yang sangat berharga. "Paham, Salsa?" ulang Keiron, memastikan. Salsa perlahan mengangguk kecil. "I-iya... paham, Keiron." Keiron menghela napas panjang, bersandar pada jok mobilnya sambil menatap lurus ke depan. Amarahnya perlahan mereda, digantikan oleh rasa protektif yang semakin menebal di dalam hatinya untuk gadis sederhana yang duduk di sampingnya ini.Keiron menyalakan mesin mobil yang sempat mati. Suara deru mesin sport itu kembali memecah jalan di pinggir taman kota. Namun, alih-alih melajukan mobilnya kembali ke arah gang kontrakan Salsa, Keiron justru memutar arah menuju jalan p
"Salsa? Siapa Salsa?" Puk! Siti menepuk lengan suaminya gemas dari atas pelana kuda. "Pasangannya Keiron loh, Mas. Anak sulungmu. Masa lupa sih." Kieran memejamkan mata sejenak, memijat pangkal hidungnya yang mendadak terasa pening. Aura Alpha yang tadi sempat memancar tajam seketika mengendur karena teguran sang istri. "Baru juga sehari," gumam Kieran pelan. Ia mengembuskan napas berat, lalu kembali menempelkan ponsel ke telinganya. "Kirim lokasi sekarang. Hubungi Keiron dan katakan padanya pacarnya sedang dalam bahaya." Sementara itu, di sebuah gang yang berjarak dua blok dari rumah kosnya, Salsa terduduk di atas aspal yang dingin. Kerudung pashminanya sudah berantakan. Air mata mengalir deras, membasahi pipinya yang kini menyisakan bekas kemerahan akibat tamparan kasar. Di depannya, seorang pria bertubuh kurus dengan wajah berantakan tertawa puas sambil mengacung-acungkan sebuah kartu ATM. Dia adalah Rian, kakak kandung Salsa yang selama ini menjadi benalu dalam hidupny
Kieran melangkah mendekat, lalu dengan gerakan yang sangat hati-hati, ia mengambil Baby Maya dari dekapan kaku Keiron. Setelah bayi perempuan itu berpindah ke lengannya, aura dingin dan mengintimidasi yang tadi sempat membuat Keiron dan Victor tegang, seketika menguap tanpa bekas. Ketegangan kedua putra tertua Kingsley itu langsung berubah menjadi helaan napas lega. "Hai, putri Papi paling cantik," bisik Kieran. Suaranya melembut drastis, berbanding terbalik dengan suaranya saat bicara pada kedua putranya yang sedang bisik-bisik itu. "Abubu... maa..." gumam Baby Maya pelan. Ia menggeliat nyaman di dada bidang sang ayah. Baby Maya memang sudah mulai merespons dengan bahasa bayi karena sedang berada di fase banyak mengoceh. Kieran benar-benar langsung berganti wajah jika sudah berada di dekat Siti dan putri bungsunya. Kerutan tegas di dahinya hilang, digantikan oleh senyuman tulus seorang ayah yang sedang kasmaran pada bayinya sendiri. Ia terus menciumi wajah gembul Maya yang w
"Gak usah sokap deh lu," ujar Keiron ketus, langsung menyikut lengan Victor yang tiba-tiba datang dan menepuk bahunya. Victor hanya memegangi tulang rusuknya yang sedikit ngilu akibat sikutan maut sang kakak, sambil tertawa lebar. Di antara semua bersaudara Kingsley, Victor memang yang paling jahil dan hobi memancing emosi kakak tertuanya. "Galak amat, Bang," ujar Victor, merapikan setelan jasnya yang sedikit bergeser. Matanya melirik ke arah Salsa yang masih menggendong Baby Maya di kejauhan. "Btw, lu udah nemu pujaan hati ternyata. Sampai heboh tuh di bawah." Keiron mendengus kasar, memalingkan wajahnya. "Gak usah lebay lu." "Halah, gengsi mulu dipelihara. Itu kemeja lu ganti baru, kan? Berarti bener gosip si Fera nyiram anggur dan lu pasang badan buat Salsa. So sweet bener," Victor menaik-turunkan alisnya, sengaja memprovokasi. Keiron tidak membalas. Alih-alih meladeni adiknya yang berisik, ia memilih melangkah pergi menjauh, mencari tempat yang lebih tenang di sudut bangk
Suasana resepsi pernikahan Julian Kingsley yang megah berubah drastis dalam hitungan detik. Area prasmanan yang tadinya tenang kini mendadak hening, membuat beberapa tamu undangan menoleh karena penasaran. Salsa, yang masih merasa canggung di tengah kerumunan elite itu, duduk di sisi Keiron sambil mendengarkan pria itu menjelaskan teknis evaluasi desain untuk launching produk selanjutnya. Tiba-tiba, bayangan seseorang berdiri menjulang di hadapan mereka. "Keiron? Aku nggak nyangka kamu bakal datang ke sini, apalagi bawa... siapa?" Suara itu terdengar merdu, namun sarat dengan nada sinis yang tajam. Seorang wanita bergaun backless berwarna merah menyala berdiri di sana. Namanya Fera, seorang model papan atas yang sempat digosipkan memiliki hubungan spesial dengan Keiron di masa lalu. Wajahnya cantik, bak porselen yang sempurna, namun sorot matanya yang menatap Salsa penuh dengan api kebencian. "Mungkin karyawannya," sahut temannya. Tidak sopan memang. Fera dan teman-teman sosialit
"Launching dulu," ujar Keiron saat ditanya Salsa. Salsa bertanya apakah mereka akan kondangan dulu atau lauching. Tapi Keiron langsung membalas 'launching' dulu. Salsa terheran dengan bosnya itu. Acara bahagia milik adiknya, tapi ia malah masih sibuk kerja. Padahal acara lauching-nya sudah bisa diserahkan ke bawahannya termasuk Salsa-tim desain. "Bapak gak ke sana dulu?" tanya Salsa sambil merapihkan letak berkas di tangannya. Mereka sedang berjalan menuju tempat acara launching. "Gak ada waktu. Kita rampungkan dulu acara launching yang hanya setengah hari ini." "O--oke, Pak," sahut Salsa pasrah. Ia mengikuti langkah Keiron yang begitu lebar. Selama setengah hari ke depan, Salsa menyaksikan sisi lain dari Keiron. Keiron bukan lagi pria yang berusaha mendekatinya atau bos yang kaku di ruang rapat. Dia adalah seorang komandan perang. Keiron mengawasi setiap sudut venue, mengecek pencahayaan, memastikan display produk terlihat sempurna, hingga menegur staf jika ada satu bro
"Kamu cantik banget malam ini," ujar Poppy. Siti sedang menikmati dessert bersama Poppy, Tiffany, Clara dan Stella. Sementara para pria terlihat di sudut berbeda, sedang sibuk membicarakan hal lain. Tiffany juga sibuk bicara dengan Clara, dan Siti yang awalnya diam, tiba-tiba diajak bicara ole
Siti dengan lunglai masuk ke dalam mobil di jok belakang. Saking fokusnya pada dunianya sendiri, Siti tak menyadari kalo di sebelahnya ada Kieran yang sedang menatapnya. "Kamu abis ditampar?" tanyanya. Siti berjingkat kaget, "Bapak?!" "Ck, Bapak lagi..." kesal Kieran. Ia tak suka Siti mem
Siti mendapat tatapan menusuk dari para wali murid di sana. Bagaimana tidak, para ibu-ibu sudah berdandan cantik demi bertemu si Duda Hot bernama Kieran. Tiba-tiba si target kegenitan mereka malah diwakili oleh seorang gadis muda yang manis. Mereka tentu kesal, ingin sekali mengusirnya. Namun dar
"Dua bulan lagi, Siti dsn Victor akan wisuda. Otomatis orang tua Siti akan ke Jakarta. Untuk menghenat waktu, aku akan mengundang mereka ke sini agar bisa membicarakan soal pernikahan kami." Semuanya tak bisa berkata apa-apa, bahkan Siti. Ketiga putranya juga mungkin sudah lelah, dan tau kalau kep







