LOGINShanum Yasmin Khan tahu dia hanya anak angkat. Sejak Rohan Sharma, ayah angkatnya, nekat memungut Shanum tanpa izin Parvati, hidupnya tak pernah sama. Parvati, ibu angkatnya, menatap Shanum dengan benci. Terutama setelah Rohan meninggal dunia dalam kecelakaan tragis, hanya karena berbalik arah untuk mengambil barang Shanum yang tertinggal. _"Kau pembawa sial,"_ bisik Parvati setiap malam. Dan Shanum percaya itu. Bertahun kemudian, Shanum akhirnya merasakan bahagia. Dia bertemu Dave Matthews, laki laki hangat yang menerimanya apa adanya. Yang berjanji akan menghapus semua luka Shanum dan menjadikannya istri. Sampai Milea, kakak angkatnya, mengaku. Milea mencintai Dave. Milea juga sekarat karena leukimia stadium akhir. Dan Parvati memberi pilihan yang kejam: _"Tebus dosamu, Shanum. Berikan Dave pada Milea. Biar dia bahagia di sisa umurnya. Atau kau keluar dari keluarga ini tanpa nama."_ Di antara janji suci pernikahan dan permintaan terakhir seorang kakak yang sekarat, Shanum harus memilih. Bahkan ketika Dave menggenggam tangannya erat dan berkata, _"Aku tidak mau. Aku memilihmu."_ *Haruskah Shanum kembali mengorbankan cintanya? Demi menebus kematian Papa Rohan yang tidak akan pernah bisa dia bayar?*
View MoreKediaman Sharma
Di kediaman keluarga Sharma, Rohan sedang bersiap berangkat ke Bandung untuk meninjau pekerjaannya. "Selamat pagi, Sayang," sapa Rohan. "Pagi, Mas. Mas jadi pergi ke Bandung?" tanya Parvati. "Jadi, Sayang. Sepertinya proyek di sana harus aku periksa lagi. Ini tempat wisata, jadi aku harus pastikan semuanya aman dan nyaman, termasuk semua karyawannya." "Jangan lama-lama ya, Mas. Pasti aku sama Lea merindukanmu." "Iya, Sayang. Kamu tenang saja, ini tidak akan lama." Tak lama kemudian, datanglah Milea Rubby Sharma, anak cantik dan lucu berusia 7 tahun. "Papah! Aku mau ikut!" seru Milea sambil menghampiri sang papa. Rohan langsung memeluk putri kesayangannya itu. "Sayang, Papah mau bekerja, bukan piknik. Nanti jika di perusahaan ada acara family gathering, baru kita berangkat bersama!" "Yah... Aku masih mau bermain sama Papah," rengek Milea. Rohan tersenyum. "Nanti kita bisa bermain sepuasnya, Sayang. Tapi Papah harus menyelesaikan tugas Papah dulu, ya?" "Iya, Pah. Papah janji, ya?" "Papah janji, Sayang. Kamu di sini baik-baik ya sama Mamah." "Iya, Pah. Nanti pulang dari Bandung, buatin aku adik ya, Pah!" celetuk Milea polos. Rohan seketika melirik istrinya dengan senyum simpul. Parvati yang sedikit tersipu langsung menimpali, "Sayang, kita sarapan dulu yuk. Nanti Papah terlambat." Parvati mengajak putrinya untuk sarapan bersama sebelum suaminya bertolak ke Bandung. "Iya, Mah." Rohan, Milea, dan Parvati pun sarapan bersama. Suasana terasa begitu indah saat Rohan melihat istri dan anaknya tampak bahagia. Dalam hati, Rohan berencana akan mengajak mereka ke Bandung setelah proyeknya selesai nanti. "Sayang, Papah berangkat dulu ya. Jadi anak yang baik dan pintar," pamit Rohan. "Iya, Pah. Cepat pulang ya, Pah. Aku selalu menunggu Papah!" "Iya, Sayang. Mah, aku berangkat dulu ya." "Iya, Pah. Kabari Mamah jika sudah sampai ya, Pah." "Iya, Sayang." "Dadah, Papah!" Milea melambaikan tangan saat Rohan mulai melajukan mobil meninggalkan kediaman mereka. Sepanjang perjalanan, Rohan sibuk merencanakan sesuatu untuk proyek terbarunya. Namun tiba-tiba... "Tiiiiinnnn!!" Seorang anak kecil seumuran putrinya menyeberang dengan terburu-buru. Anak itu jatuh tergeletak tepat di depan mobilnya. "Hei, keluar! Anda harus bertanggung jawab!" teriak seseorang dari luar. Rohan pun segera keluar dari mobil dengan panik. "Iya, Pak, saya akan bertanggung jawab!" Tak lama, datanglah Karan, sahabat Shanum. Rupanya shanum terburu-buru menyeberang karena takut dimarahi ibunya yang berprofesi sebagai wanita malam. "Sa, kamu baik-baik saja?" tanya Karan khawatir. "Permisi, Dek. Saya harus membawa adik ini ke rumah sakit!" potong Rohan yang segera menggendong Shanum menuju rumah sakit terdekat. "Om, saya boleh ikut ya? Kasihan Shanum tinggal sendiri di saat ibunya bekerja," pinta Karan. "Baik, kamu boleh ikut. Bapak-bapak dan Ibu-ibu semuanya, saya permisi!" pamit Rohan kepada warga sekitar. "Iya, tolong Pak. Anak itu yatim, jika Anda berkenan, angkatlah dia menjadi anak Anda!" seru seorang bapak tua menghampiri Rohan. Kalimat itu terngiang di telinga Rohan. Ia seketika teringat pada Milea yang sangat menginginkan seorang adik. "Saya akan memikirkannya, Pak. Saya permisi!" Rohan pun segera melaju menuju rumah sakit terdekat. Untuk urusan proyek di Bandung, sementara ini ia serahkan kepada Davin, asisten kepercayaannya. Begitu sampai, Rohan langsung menggendong Shanum masuk ke dalam. "Suster, tolong! Adik ini kritis!" teriak Rohan panik. "Langsung dibawa ke IGD saja, Pak," instruksi suster dengan sigap. "Baik." Shanum langsung ditangani oleh dokter ahli, sementara Rohan dan Karan menunggu dengan cemas di depan ruang IGD. Tak lama kemudian, dokter keluar. "Bagaimana keadaannya, Dokter?" tanya Rohan cepat. "Keadaannya sudah stabil, Pak. Bapak bisa melihatnya ke dalam." "Syukurlah. Apa ada hal yang serius, Dokter?" "Secara fisik tidak ada, cuma..." Dokter menggantung kalimatnya. "Cuma apa, Dokter?" "Cuma, adik ini terlihat seperti kurang gizi." Rohan tertegun. Ia memandangi Shanum dari balik kaca; tubuh anak itu memang terlihat sangat kurus, sangat kontras jika dibandingkan dengan anak-anak seusianya. "Apa sekarang kamu merasa lebih baik, Nak?" tanya Rohan lembut. "Sudah, Om. Sasa merasa lebih baik. Maaf tadi Sasa menyeberang sembarangan," jawab Shanum pelan. Rohan tersenyum tipis. "Tidak apa-apa, Nak. Lain kali jangan lakukan hal seperti tadi lagi, ya." "Iya, Om." "Kamu di rumah tinggal bersama siapa?" tanya Rohan kemudian. "Sasa tinggal bersama Ibu, Om. Tapi Ibu jarang ada di rumah," Syahnum menundukkan kepalanya, menyembunyikan kesedihan. "Kamu tidak perlu khawatir, Sa. Aku selalu setia menjaga kamu," potong Karan memberikan semangat kepada sahabatnya. "Iya, Karan. Apa tadi kamu melihat Ibuku pergi setelah mengejarku?" "Iya... Ibumu pergi setelah tahu kamu terserempet mobil." "Mungkin Ibu benar-benar menginginkanku tiada." Shanum berusaha menahan air matanya agar tidak jatuh. Rohan yang mendengarkan percakapan Shanum dan Karan merasa sangat iba. Hatinya teriris melihat anak sekecil itu merasa tidak diinginkan. Tak lama kemudian, datang petugas kantin rumah sakit yang membawa banyak makanan. "Permisi, izin masuk ya, Pak. Ini pesanan Pak Rohan." "Terima kasih banyak, Mas. Ini uangnya." "Sama-sama, Pak. Jika ada yang kurang, Bapak bisa hubungi via telepon "Siap, Mas." Shanum dan Karan yang melihat banyak makanan di meja pun menahan perut mereka karena lapar. "Kenapa kalian diam saja? Ayo makan!" ujar Rohan. Ia sengaja memesan banyak makanan untuk Shanum dan Karan. "Ini semua buat kita, Om?" Shanum bertanya. "Iya. Maaf, tadi saya tidak bermaksud menguping. Kalian belum makan dari pagi, kan?" "Iya, Om. Maaf Sasa merepotkan!" "Kamu tidak merepotkan saya. Saya teringat anak perempuan saya jika melihatmu, Nak." "Om memiliki anak perempuan?" tanya Shanum. "Iya, dia sepantaran denganmu. Putri saya berumur tujuh tahun." "Pasti putri Om cantik dan baik." "Terima kasih, Nak. Milea memang cantik dan baik. Dia mengharapkan seorang adik perempuan yang lucu." "Semoga keinginan putri Om terkabul." "Terima kasih doanya, Nak. Tapi itu tidak mungkin. Menurut prediksi dokter, istri saya tidak mungkin mengandung lagi karena pernah mengalami kecelakaan waktu itu yang menyebabkan rahimnya terbentur keras." "Maafkan Sasa, Om. Sasa tidak tahu." "Tidak apa-apa, Nak. Ayo dimakan keburu dingin. Karan, ayo makan bersama." "Iya, Om." Shanum dan Karan pun makan dengan lahap. "Om tidak makan?" Karan bertanya. "Om sudah makan. Sekarang dihabiskan, ya, makanannya!" "Ini tidak mungkin habis, Om. Boleh tidak jika saya membawa sedikit untuk di rumah?" Karan meminta izin. "Saya juga ya, Om. Sasa baru pertama makan makanan yang enak seperti ini!" Mendengar itu, hati Rohan merasa tersentuh. Selama ini dirinya tidak pernah memakan makanan sisa; jika tidak habis, pasti akan langsung dibuang. Saat melihat Shanum dan Karan, Rohan merasa dirinya kurang bersyukur. "Boleh, Nak. Kalian boleh membungkus semua makanan ini." "Yeay! Terima kasih, Om." "Sama-sama." Shanum dan Karan terlihat senang. "Om, saya mau pulang. Saya tidak mau merepotkan Om lagi. Semoga kebaikan Om dibalas oleh Yang Maha Kuasa." "Baiklah, Om akan mengurus semuanya agar Shanum bisa cepat pulang!" "Iya, Om." Rohan pun mengurus administrasi untuk Shanum, sedangkan Shanum dan Karan menunggu. "Ayok, Om antarkan kalian pulang." "Terima kasih, Om, kita jalan kaki saja. Supaya lebih cepat, kami lewat gang tikus, Om," jawab Shanum. "Kamu yakin, Shanum? Apa kondisi kamu baik-baik saja?" Rohan ingin memastikan. "Saya baik, Om." "Ya sudah, hati-hati di jalan, ya. Ini kartu nama Om. Jika kamu perlu sesuatu, bisa hubungi Om selama Om berada di Bandung!" "Baik, Om. Terima kasih untuk semuanya dan makanannya." "Sama-sama, Nak." Shanum pulang bersama Karan, sahabatnya, melewati gang tikus agar cepat sampai. Sementara itu, Rohan pergi menuju hotel terdekat—tempat tinggal sementaranya selama menjalankan proyekMobil Rohan berhenti di halaman rumah mewah bergaya klasik. “Kediaman Sharma” terukir di gerbang besi.“Pah... kok kasurnya gede banget?” Milea celingak-celinguk pas masuk kamar. Ranjang _king size_ dengan seprai warna pastel udah rapi.“Sengaja, Sayang. Biar kepake lama. Sampai kalian gede,” Rohan senyum, naruh tas Milea di kursi.“Tapi... Sasa tidur di sini kan, Pah? Bareng aku?” Milea nengok ke Shanum yang masih berdiri kaku di pintu.“Iya, Sayang. Sasa, sini Nak,” Rohan melambai.“Iya, Om,” Shanum melangkah pelan, takut salah injak karpet mahal.“Sekarang kamu tidur di sini, sama Lea kakak kamu. Jangan sungkan ya. Besok Om daftarin kamu sekolah,” Rohan jongkok, sejajarin tinggi Shanum.Mata Shanum langsung berkaca. “Iya, Om... makasih banyak, Om. Sasa udah didaftarin sekolah”“Sama-sama, Sayang. Kamu bakal satu sekolah sama Kak Lea,” Rohan usap kepala Shanum.Milea yang denger langsung loncat kecil di kasur. “Yang bener, Pah? Sasa satu sekolah sama aku?”“Iya, Lea Sayang. Kamu keb
“Adik baru, Pah?” Milea natap Shanum, matanya besar, kepalanya masih diperban. Suaranya lirih tapi jelas.“Iya, Sayang. Nggak apa-apa ya Sasa jadi adik angkat kamu? Dia bakal tinggal sama kita,” Rohan jawab hati-hati. Dia takut. Takut Milea nolak. Takut Shanum patah hati lagi.Milea diem sebentar. Napas semua orang di ruangan itu kayak ketahan. Terus... bibir kecil itu senyum.“Nggak apa-apa, Pah. Aku seneng! Akhirnya punya adik. Usianya juga beda dikit sama aku!” Milea tepuk tangan pelan.Rohan lega setengah mati. “Makasih, Sayang. Kamu mau nerima Sasa. Sasa, sini Nak,” panggilnya lembut.“Iya, Om,” Shanum maju ragu, terus duduk di pinggir ranjang, deket Rohan sama Milea.Parvati yang berdiri di belakang Rohan maksa senyum. Tapi matanya nggak bohong. Ada yang nggak rela di sana.“Mah, sini!” Rohan lambaikan tangan.“Iya, Mas,” Parvati jawab ke Rohan, bukan ke Milea. Dia melangkah, duduk di sisi Milea yang lain. Senyumnya tipis banget.“Pah, Lea pengen pulang hari ini juga. Lea mau ma
Setelah Shanum angguk, mau ikut Rohan, suasana warung Baba Lian hening. Cuma ada suara kipas angin butut sama isak Shanum yang nahan. Rohan jongkok, sejajarin mata sama Shanum. Tangannya masih megang bahu kecil itu. Hangat. “Kamu mau menjadi putri angkat Om, Nak? Om janji jaga kamu. Sekolahkan kamu. Nggak ada yang boleh bentak kamu lagi,” suara Rohan pelan, tapi tegas. Matanya tulus. Shanum natap Rohan. Lama. Di mata Om itu, dia nggak liat kasihan. Dia liat... rumah. “Iya, Om... Sasa ingin memiliki keluarga utuh... keluarga yang nggak nyakitin... boleh ya, Om?” suaranya pecah. Air mata jatoh lagi. Rohan tersenyum. Lega. Dia berdiri, ngadep Rianti yang lagi ngitung duit sejuta sambil udut. “Baik. Untuk Anda, Ibu... siapa namanya?” Rohan nanya datar. Profesional. Rianti nengok, nyengir. “Mau apa lu? Gak penting banget nanya-nanya nama gue! Mau kenalan? Telat, Om!” Ketus. Asap rokok dihembusin ke muka Rohan. Baba Lian naik darah. “Heh, Rianti! Harusnya lu sedih anak kandung lu ma
Sepanjang perjalanan ke RS Harapan Bunda Jakarta, Parvati nggak berhenti nangis. Pelukannya ke tubuh kecil Milea erat, kayak takut lepas sedetik aja anaknya ilang. Baju Parvati udah basah, bukan keringat. Darah. “Bu, kita udah sampai UGD,” sopir relawan, Mas Ditya, ngerem pelan di depan IGD. Suaranya hati-hati, takut. Parvati ngangkat kepala. Mata bengkak, napas ngos-ngosan. “Terima kasih, Pak... terima kasih banyak... tolong anak saya, Pak...” “Sama-sama, Bu. Biar saya yang gendong adeknya ya. Ibu keliatan gemetar. Bahaya jatuh,” Ditya turun, buka pintu belakang. Nggak tega liat Parvati. “Iya, Pak... sekali lagi terima kasih...” Parvati nyerahin Milea. Tangannya lemes kayak nggak ada tulang. Kaki sempoyongan ngikutin Ditya lari ke UGD. “Ya Tuhan... selamatkan putriku... selamatkan Milea... ambil aja nyawaku, asal anakku selamat... aku janji jadi ibu yang lebih baik...” Parvati komat-kamit, air mata banjir. Lututnya jatuh di depan pintu IGD. Di depan UGD, suster sama dokter lang






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.