Calon Suamiku untuk Kakak Angkatku

Calon Suamiku untuk Kakak Angkatku

last updateLast Updated : 2026-06-12
By:  2 harapan Updated just now
Language: Bahasa_indonesia
goodnovel18goodnovel
Not enough ratings
6Chapters
6views
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

Shanum Yasmin Khan tahu dia hanya anak angkat. Sejak Rohan Sharma, ayah angkatnya, nekat memungut Shanum tanpa izin Parvati, hidupnya tak pernah sama. Parvati, ibu angkatnya, menatap Shanum dengan benci. Terutama setelah Rohan meninggal dunia dalam kecelakaan tragis, hanya karena berbalik arah untuk mengambil barang Shanum yang tertinggal. _"Kau pembawa sial,"_ bisik Parvati setiap malam. Dan Shanum percaya itu. Bertahun kemudian, Shanum akhirnya merasakan bahagia. Dia bertemu Dave Matthews, laki laki hangat yang menerimanya apa adanya. Yang berjanji akan menghapus semua luka Shanum dan menjadikannya istri. Sampai Milea, kakak angkatnya, mengaku. Milea mencintai Dave. Milea juga sekarat karena leukimia stadium akhir. Dan Parvati memberi pilihan yang kejam: _"Tebus dosamu, Shanum. Berikan Dave pada Milea. Biar dia bahagia di sisa umurnya. Atau kau keluar dari keluarga ini tanpa nama."_ Di antara janji suci pernikahan dan permintaan terakhir seorang kakak yang sekarat, Shanum harus memilih. Bahkan ketika Dave menggenggam tangannya erat dan berkata, _"Aku tidak mau. Aku memilihmu."_ *Haruskah Shanum kembali mengorbankan cintanya? Demi menebus kematian Papa Rohan yang tidak akan pernah bisa dia bayar?*

View More

Chapter 1

Bab 1. Pertemuan

Kediaman Sharma

Di kediaman keluarga Sharma, Rohan sedang bersiap berangkat ke Bandung untuk meninjau pekerjaannya.

"Selamat pagi, Sayang," sapa Rohan.

"Pagi, Mas. Mas jadi pergi ke Bandung?" tanya Parvati.

"Jadi, Sayang. Sepertinya proyek di sana harus aku periksa lagi. Ini tempat wisata, jadi aku harus pastikan semuanya aman dan nyaman, termasuk semua karyawannya."

"Jangan lama-lama ya, Mas. Pasti aku sama Lea merindukanmu."

"Iya, Sayang. Kamu tenang saja, ini tidak akan lama."

Tak lama kemudian, datanglah Milea Rubby Sharma, anak cantik dan lucu berusia 7 tahun.

"Papah! Aku mau ikut!" seru Milea sambil menghampiri sang papa. Rohan langsung memeluk putri kesayangannya itu.

"Sayang, Papah mau bekerja, bukan piknik. Nanti jika di perusahaan ada acara family gathering, baru kita berangkat bersama!"

"Yah... Aku masih mau bermain sama Papah," rengek Milea. Rohan tersenyum.

"Nanti kita bisa bermain sepuasnya, Sayang. Tapi Papah harus menyelesaikan tugas Papah dulu, ya?"

"Iya, Pah. Papah janji, ya?"

"Papah janji, Sayang. Kamu di sini baik-baik ya sama Mamah."

"Iya, Pah. Nanti pulang dari Bandung, buatin aku adik ya, Pah!" celetuk Milea polos.

Rohan seketika melirik istrinya dengan senyum simpul. Parvati yang sedikit tersipu langsung menimpali, "Sayang, kita sarapan dulu yuk. Nanti Papah terlambat."

Parvati mengajak putrinya untuk sarapan bersama sebelum suaminya bertolak ke Bandung.

"Iya, Mah."

Rohan, Milea, dan Parvati pun sarapan bersama. Suasana terasa begitu indah saat Rohan melihat istri dan anaknya tampak bahagia. Dalam hati, Rohan berencana akan mengajak mereka ke Bandung setelah proyeknya selesai nanti.

"Sayang, Papah berangkat dulu ya. Jadi anak yang baik dan pintar," pamit Rohan.

"Iya, Pah. Cepat pulang ya, Pah. Aku selalu menunggu Papah!"

"Iya, Sayang. Mah, aku berangkat dulu ya."

"Iya, Pah. Kabari Mamah jika sudah sampai ya, Pah."

"Iya, Sayang."

"Dadah, Papah!" Milea melambaikan tangan saat Rohan mulai melajukan mobil meninggalkan kediaman mereka.

Sepanjang perjalanan, Rohan sibuk merencanakan sesuatu untuk proyek terbarunya. Namun tiba-tiba...

"Tiiiiinnnn!!"

Seorang anak kecil seumuran putrinya menyeberang dengan terburu-buru. Anak itu jatuh tergeletak tepat di depan mobilnya.

"Hei, keluar! Anda harus bertanggung jawab!" teriak seseorang dari luar. Rohan pun segera keluar dari mobil dengan panik.

"Iya, Pak, saya akan bertanggung jawab!"

Tak lama, datanglah Karan, sahabat Shanum. Rupanya shanum terburu-buru menyeberang karena takut dimarahi ibunya yang berprofesi sebagai wanita malam.

"Sa, kamu baik-baik saja?" tanya Karan khawatir.

"Permisi, Dek. Saya harus membawa adik ini ke rumah sakit!" potong Rohan yang segera menggendong Shanum menuju rumah sakit terdekat.

"Om, saya boleh ikut ya? Kasihan Shanum tinggal sendiri di saat ibunya bekerja," pinta Karan.

"Baik, kamu boleh ikut. Bapak-bapak dan Ibu-ibu semuanya, saya permisi!" pamit Rohan kepada warga sekitar.

"Iya, tolong Pak. Anak itu yatim, jika Anda berkenan, angkatlah dia menjadi anak Anda!" seru seorang bapak tua menghampiri Rohan.

Kalimat itu terngiang di telinga Rohan. Ia seketika teringat pada Milea yang sangat menginginkan seorang adik.

"Saya akan memikirkannya, Pak. Saya permisi!"

Rohan pun segera melaju menuju rumah sakit terdekat. Untuk urusan proyek di Bandung, sementara ini ia serahkan kepada Davin, asisten kepercayaannya. Begitu sampai, Rohan langsung menggendong Shanum masuk ke dalam.

"Suster, tolong! Adik ini kritis!" teriak Rohan panik.

"Langsung dibawa ke IGD saja, Pak," instruksi suster dengan sigap.

"Baik."

Shanum langsung ditangani oleh dokter ahli, sementara Rohan dan Karan menunggu dengan cemas di depan ruang IGD. Tak lama kemudian, dokter keluar.

"Bagaimana keadaannya, Dokter?" tanya Rohan cepat.

"Keadaannya sudah stabil, Pak. Bapak bisa melihatnya ke dalam."

"Syukurlah. Apa ada hal yang serius, Dokter?"

"Secara fisik tidak ada, cuma..." Dokter menggantung kalimatnya.

"Cuma apa, Dokter?"

"Cuma, adik ini terlihat seperti kurang gizi."

Rohan tertegun. Ia memandangi Shanum dari balik kaca; tubuh anak itu memang terlihat sangat kurus, sangat kontras jika dibandingkan dengan anak-anak seusianya.

"Apa sekarang kamu merasa lebih baik, Nak?" tanya Rohan lembut.

"Sudah, Om. Sasa merasa lebih baik. Maaf tadi Sasa menyeberang sembarangan," jawab Shanum pelan. Rohan tersenyum tipis.

"Tidak apa-apa, Nak. Lain kali jangan lakukan hal seperti tadi lagi, ya."

"Iya, Om."

"Kamu di rumah tinggal bersama siapa?" tanya Rohan kemudian.

"Sasa tinggal bersama Ibu, Om. Tapi Ibu jarang ada di rumah," Syahnum menundukkan kepalanya, menyembunyikan kesedihan.

"Kamu tidak perlu khawatir, Sa. Aku selalu setia menjaga kamu," potong Karan memberikan semangat kepada sahabatnya.

"Iya, Karan. Apa tadi kamu melihat Ibuku pergi setelah mengejarku?"

"Iya... Ibumu pergi setelah tahu kamu terserempet mobil."

"Mungkin Ibu benar-benar menginginkanku tiada." Shanum berusaha menahan air matanya agar tidak jatuh.

Rohan yang mendengarkan percakapan Shanum dan Karan merasa sangat iba. Hatinya teriris melihat anak sekecil itu merasa tidak diinginkan. Tak lama kemudian, datang petugas kantin rumah sakit yang membawa banyak makanan.

"Permisi, izin masuk ya, Pak. Ini pesanan Pak Rohan."

"Terima kasih banyak, Mas. Ini uangnya."

"Sama-sama, Pak. Jika ada yang kurang, Bapak bisa hubungi via telepon

"Siap, Mas."

Shanum dan Karan yang melihat banyak makanan di meja pun menahan perut mereka karena lapar.

"Kenapa kalian diam saja? Ayo makan!" ujar Rohan. Ia sengaja memesan banyak makanan untuk Shanum dan Karan.

"Ini semua buat kita, Om?" Shanum bertanya.

"Iya. Maaf, tadi saya tidak bermaksud menguping. Kalian belum makan dari pagi, kan?"

"Iya, Om. Maaf Sasa merepotkan!"

"Kamu tidak merepotkan saya. Saya teringat anak perempuan saya jika melihatmu, Nak."

"Om memiliki anak perempuan?" tanya Shanum.

"Iya, dia sepantaran denganmu. Putri saya berumur tujuh tahun."

"Pasti putri Om cantik dan baik."

"Terima kasih, Nak. Milea memang cantik dan baik. Dia mengharapkan seorang adik perempuan yang lucu."

"Semoga keinginan putri Om terkabul."

"Terima kasih doanya, Nak. Tapi itu tidak mungkin. Menurut prediksi dokter, istri saya tidak mungkin mengandung lagi karena pernah mengalami kecelakaan waktu itu yang menyebabkan rahimnya terbentur keras."

"Maafkan Sasa, Om. Sasa tidak tahu."

"Tidak apa-apa, Nak. Ayo dimakan keburu dingin. Karan, ayo makan bersama."

"Iya, Om." Shanum dan Karan pun makan dengan lahap.

"Om tidak makan?" Karan bertanya.

"Om sudah makan. Sekarang dihabiskan, ya, makanannya!"

"Ini tidak mungkin habis, Om. Boleh tidak jika saya membawa sedikit untuk di rumah?" Karan meminta izin.

"Saya juga ya, Om. Sasa baru pertama makan makanan yang enak seperti ini!" Mendengar itu, hati Rohan merasa tersentuh. Selama ini dirinya tidak pernah memakan makanan sisa; jika tidak habis, pasti akan langsung dibuang. Saat melihat Shanum dan Karan, Rohan merasa dirinya kurang bersyukur.

"Boleh, Nak. Kalian boleh membungkus semua makanan ini."

"Yeay! Terima kasih, Om."

"Sama-sama." Shanum dan Karan terlihat senang.

"Om, saya mau pulang. Saya tidak mau merepotkan Om lagi. Semoga kebaikan Om dibalas oleh Yang Maha Kuasa."

"Baiklah, Om akan mengurus semuanya agar Shanum bisa cepat pulang!"

"Iya, Om." Rohan pun mengurus administrasi untuk Shanum, sedangkan Shanum dan Karan menunggu.

"Ayok, Om antarkan kalian pulang."

"Terima kasih, Om, kita jalan kaki saja. Supaya lebih cepat, kami lewat gang tikus, Om," jawab Shanum.

"Kamu yakin, Shanum? Apa kondisi kamu baik-baik saja?" Rohan ingin memastikan.

"Saya baik, Om."

"Ya sudah, hati-hati di jalan, ya. Ini kartu nama Om. Jika kamu perlu sesuatu, bisa hubungi Om selama Om berada di Bandung!"

"Baik, Om. Terima kasih untuk semuanya dan makanannya."

"Sama-sama, Nak."

Shanum pulang bersama Karan, sahabatnya, melewati gang tikus agar cepat sampai. Sementara itu, Rohan pergi menuju hotel terdekat—tempat tinggal sementaranya selama menjalankan proyek

Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

No Comments
6 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status