LOGIN"Menikahlah denganku, Siti." Lamaran pernikahan itu datang dari Kieran--ayah musuh Siti. Ini berawal dari candaan sang musuh yang ingin menjadikannya ibu tiri. Namun ternyata lamaran tersebut menjadi solusi untuk masalah keluarganya. Siti terpaksa menerima lamaran itu demi memperjuangkan hak keluarganya. Penolakan tentu terjadi di antara ke-4 anak Kieran. Ia dibully, dilecehkan, bahkan diancam dibunuh. Meski begitu ikatan perjanjian membuatnya tak bisa menyerah di tengah jalan. Ia harus bisa membuat ke-4 anak itu menjadi penerus yang layak. Lalu apakah Siti bisa memenuhi misi tersebut, atau menyerah?
View More"Kakak... kakak cinta! Ayok boleh ditap-tap dulu layarnya. Yang masih bergabung di sesi live aku jangan ragu buat tanya-tanya, mau di-spill etalase berapanya. Nanti aku jelasin, dan yang mau langsung payment bakal aku kasih voucher diskon spesial 12.12.!"
Bunyi lonceng live streaming pun terdengar di studio itu. Siti dengan semangat menjelaskan produk yang sedang ia jual pada calon pembeli online. "Kalo yang mau minta rekomendasi ukuran, warna, dan lain-lain, boleh sini mau direkomendasiin etalase berapa. Komen aja BB sama TB-nya yah." Siti bekerja di salah satu perusahaan besar. Di mana perusahaan tersebut adalah perusahaan cabang dari King Corp yakni Haul Fashion. Perusahaan itu adalah milik salah satu orang terkaya di dunia. Siti sendiri merupakan mahasiswa akhir yang tinggal menunggu jadwal Sidang. Ia bekerja di dua studio di tempat yang sama sebagai Host Live. Di mana durasi live masing-masing studio empat jam. Menjalani kuliah di Ibukota membuatnya harus bekerja juga, demi bisa menghidupi dirinya sendiri dan keluarganya. Beasiswa setengah yang ia dapat cukup meringankan bebannnya. Namun sebagai anak sulung dari keluarga pas-pasan, ia merasa berkewajiban membantu orang tuanya. Ayahnya sudah meninggal dan ibunya bekerja untuk. mereka, tapi hanya cukup untuk biaya hidup dan biaya sekolah. Kedua adik-adiknya tidak bisa jajan kalau tidak ia yang mengirim uang. Bagi banyak orang, mungkin hidupnya cukup menderita dan tak adil. Namun bagi Siti sendiri, ia tidak selalu menyalahkan ibunya. Ada banyak spektrum dalam hidup yang membuatnya sekuat sekarang--tempaan hidup salah satunya. Lalu manusia, tidak akan lepas dari ujian. Kalaupun Siti tidak diuji dengan ekonomi dan lahir dari keluarga yang kekurangan. Mungkin ia akan diuji dengan perkara yang lain. Itu alami, selama kita masih bernapas. Saat Siti sedang fokus live, tiba-tiba pintu dibuka oleh seorang admin live streaming. Wajahnya terlihat ceria sekali. "OMG, Sayangku, Siti! Liat, kamu dapet penjualan terbanyak lagi!" pekiknya bahagia. Perempuan berkacamata dan berhijab panjang itu menunjukkan iPad berisi data penjualan di tiga hari terakhir. Siti yang kaget pun tetap profesional menatap kamera, tapi ia juga tetap menanggapi sang admin dengan ramah. "Makasih, Kak. Ini juga karena Kak Febi yang kasih produk paling gacor di tiga hari terakhir," balas Siti rendah hati. Febi menepuk pundaknya dan berkata. "Aih, masih aja merendah. Padahal kamu emang bagus juga live-nya." Siti hanya tertawa ringan, lalu siap-siap pergantian shift dengan rekannya. Setelah keluar dari ruangan, ia dan sang admin berjalan bersama. Febi terus mengoceh tentang betapa senangnya ia karena pujian dari atasan selama Siti bekerja di sana. Siti pun tetap merendah, bahwa penjualan naik didukung oleh banyak pihak, tak hanya dirinya saja. Namun saat mereka berjalan beriringan, seorang pemuda yang begitu Siti kenal menghadang langkahnya. "Yo! Ada Mbak Siti di sini, halo!" sapanya sok asik. Pemuda bermata biru dengan rambut agak gondrong itu memiliki tato di leher dan punggung tangan kirinya. Di kantor pun pakaiannya tidak rapih. Siti hanya memutar bola matanya. Lelah rasanya kalau harus menanggapi pemuda nakal satu itu. "Mau ke mana? Mau jual gorengan pasti ... mau dong pisang gorengnya sepuluh ribu, hahaha!" Ingin rasanya Siti menempeleng kepala pemuda itu. Sayangnya ia tak bisa melakukannya, sebab pemuda itu adalah putra kedua dari pemilik perusahaan. Anak orang kaya memang jarang ada yang beres. Mungkin terlalu dipermudah hidupnya, membuat mereka lupa untuk napak tanah. Victor adalah teman seangkatan Siti yang paling populer. Sayangnya ia harus terlibat dengannya dalam beberapa kesempatan, sehingga Anak Papi itu mengganggunya. Alasan Victor mengganggunya sederhana, ia memang pembully dan tertarik dengannya yang memiliki nama Siti. Padahal dari segi penampilan, Siti cukup modis dan tidak cupu. Ia stylish dan pandai menggunakan make-up. Namun hanya dengan namanya, banyak yang mengolok terutama Victor. Meski begitu, Siti bangga dengan nama itu, Siti Dahayu. Namanya estetik dan bermakna indah, artinya.wanita mulia yang cantik jelita. Sebenarnya panggilan kecilnya Ayu, tapi semenjak sekolah ia dipanggil Siti sampai sekarang. "Selamat untuk penjualan terbanyaknya. Gak nyangka, Mbak Siti jago jualan juga. Oh iya, kan basically penjual gorengan. Hahaha!" Orang-orang di belakang Victor ikut terkekeh mendengarnya. Mereka adalah atasan devisi pemasaran di Haul Fashion. Siti menghela napas malas, dan mencoba berjalan melewatinya. Namun gerakan itu langsung ditahan oleh Victor dengan menghadangnya. "Tunggu dulu dong. Buru-buru amat, mau ke mana?" "Mau ganti Studio," jawabnya kesal. "Siti, yang sopan kalau bicara sama Tuan Muda." Siti hanya diam ditegur begitu oleh atasannya-manajer pemasaran. "Gak perlu begitu, santai aja. Kita kan teman seangkatan, ya gak, Siti?" balas Victor dengan wajah mengejek. Victor sedang ditugaskan oleh ayahnya untuk belajar memegang cabang fashion, di mana ia juga memiliki passion di bidang tersebut. Namun yang tidak ayahnya ketahui selain bekerja, Victor juga mengganggu karyawan terbaik devisi pemasaran. Siti terus diam di tempatnya, tak mau ribut. Sementara itu Febi terlihat panas dingin, terlalu takut jika Siti mendapat masalah dengan sikap dinginnya itu. "Boleh saya langsung masuk studio, Tuan Muda?" tanya Siti berusaha menajan diri. "No! Belum saatnya. Jawab pertanyaan gue dulu, lo mau gak jadi Mami tiri gue? Soalnya lu kayak Mak Lampir kalo lagi marah. Haha!" "Najis banget gue punya anak berandal kayak lo, minggir!" balas Siti akhirnya. Ia tak tahan lagi dibully terus oleh tuan muda satu itu. Sementara orang yang ada di sana terlihat tegang, Siti terlalu berani. "Oh ya? Ayolah... Papi gue ganteng dan awet muda untuk usianya yang udah tua." Victor menyeringai dengan tangannya yang mengurung Siti di samping tembok. "Lo kira gue sinting kayak lo apa?!" balas Siti lebih keras. Ia berusaha melewati Victor yang terus menghadangnya, tapi tak berhasil. "Minggir!" "Lo boleh pergi asal lo setuju jadi Mami tiri gue, ayo bilang!" ujar Victor lagi. "Gak! Apaan sih anjir! Lo kalo sinting gak usah ganggu gue kerja. Ini udah waktunya gue nge-live lagi, minggir!" "Nanti ah, gue kan udah bilang. Gue bakal biarin lo pergi kalo lu mau jadi Mami gue." "Gak, awas!" "Ayolah, gue--" Perdebatan itu terhenti saat sebuah suara menarik atensi semua orang. "Victor. Bukan seperti itu caranya melamar seorang gadis untuk jadi Mami kamu.""Mas, ada apa sih?" tanya Siti. "Buru-buru banget, kakiku sakit!" keluhnya. Saking cepatnya Kieran dan Victor berjalan, ia sampai kuwalahan. Ia memakai sepatu hak tinggi yang secara otomatis membuatnya menopang berat badannya hanya pada tungkaknya. Jadi, ia merasa sakit pada aktivitas seperti setengah berlari saat ini. Kieran meski panik, ia segera berhenti dan langsung menggendonh istrinya ala bridal style. Kemudian berjalan kembali menuju pintu keluar melalui jalur red carpet yang kini sudah agak sepi dari jurnalis karena sebagian besar sudah masuk ke dalam gedung. Hanya ada beberapa paparazi yang masih bertahan di sana, berharap mendapatkan foto terakhir. Sepertinya hari itu, keberuntungan berpihak pada paparazi karena saat mereka dilarang masuk, mereka malah mendapat bahan berita emas. Ketiga anggota keluarga Kingsley yang pulang dengan terburu-buru itu. Mereka seperti Cinderella yang harus pulang sebelum jam dua belas malam. Awalnya semua tampak normal, sorotan flash ka
"Victor, Papi udah mati-matian jaga pola makan Mami kamu. Kamu malah nyeret dia ke tempat jajanan kayak gitu!" Victor hanya diam bersandar pada sandaran kursi mobil. Sementara Siti memegang tangan sang suami. "Mas, sebenernya aku punya kesempatan buat nolak kok. Tapi kan aku juga mau ke sana," bela Siti. Kini mereka ada di mobil van menuju ke pesta. Mobil Victor dibuat kempes bannya oleh sang ayah gara-gara kejadian tadi. Alhasil ia ikut di mobil ayahnya menuju tempat pesta. "Iya kamu juga salah, Yang. Aku khawatir sama kalian berdua," tegas Kieran. "Paham gak?" "Sama kalian berdua, maksudnya aku sama Mami, Pih?" tanya Victor tiba-tiba. Siti dan Kieran langsung menatapnya. "Becanda terus ya, kamu Vic!" ujar Kieran seolah ingin meninju anaknya. Siti pun langsung menengahi. "Tadi aku juga sempet mikir gitu." "Isi otak kalian sama atau gimana?" balas Kieran tambah kesal. Siti merasa ikut diomeli, tapi Victor yang menahan tawanya malah memilih pura-pura tidur.
"Waseeek, anjay! Ganteng banget gue," puji Victor pada dirinya sendiri. Ia sedang berkaca di depan kaca butik saat mencoba setelan, sambil merapihkan beberapa detail di lengannya. Jujur saja, bagi Siti anak Kieran tidak ada yang tidak tampan. Tapi Victor membuatnya ilfil karena terlalu percaya diri. "Dih, narsis!" balas Siti. "Halah gak usah sok jual mahal, Mi. Gue ganteng kan?" godanya mendekati Siti. Siti yang sedang melihat-lihat setelah pun mendelik ke arahnya. "Gak usah narsis deh. Itu buruan diambil, sekalian tuh yang lo pake bayar langsung." "Lo yang bayar ya," ujar Victor. "Lah kan lebih kaya elu, aneh!" "Kan prinsipnya kalo ada orang tua, orang tua yang bayarin," balas Victor. "Gue bukan orang tua elo, by the way." Victor lansung tersenyum miring. "Gue bilangin Papi loh, katanya gue bukan anak lo." Siti langsung panik, dan akhirnya menyerah dengan mulut ember Victor yang menyebalkan itu. "Serah lo deh sana! Nih," ujar Siti menyodorkan kartu hitam mi
"Lupa?" "Ya mungkinnkarena terlalu sibuk sama masalah yang datang bertubi-tubi," balas Siti lembut. Kieran menatap Siti dengan tatapan yang sangat dalam. Ia merasa beruntung. Siti tidak hanya menjadi istrinya, tapi menjadi perekat bagi kepingan-kepingan keluarganya yang selama ini retak dan dingin. "Terima kasih, Sayang," ucap Kieran tulus. Ia mencium kening Siti, lalu ikut bersandar di sofa. Kieran belajar pelajaran penting dari Siti, bahwa kekuatan terbesar seorang Kingsley bukan terletak pada seberapa banyak musuh yang ia taklukkan, melainkan pada seberapa hangat rumah yang ia bangun untuk orang-orang yang ia cintai. ••• Pagi harinya, Siti yang sedang menyesap susu kehamilannya di meja makan. "Sayang, nanti malam ada acara jamuan resmi. Aku sudah memesan gaun dan beberapa perhiasan tambahan di mall. Bisa minta tolong ambilkan?" Siti heran, "Bukannya bisa dianter?" Kieran mengusap belakang kepalanya canggung. "Sebenernya aku sengaja gak bilang suruh anter karena re
Benar kata Kieran, saat malam tiba sehabis makan malam, ia menggandeng Siti untuk naik ke kamar. Hal itu langsung menjadi perhatian keempat anaknya. Namun, itu baru permulaan, karena hal yang lebih "gong" lagi adalah adegan keesokan harinya. Keesokan harinya, saat Siti sedang mengambil sesuatu di
"Siti," panggil Kieran halus. "Hem?" balas Siti yang terbangun. "Sayang," gumam Kieran lagi. Saat Siti membuka matanya, betapa terkejutnya ia karena wajah Kieran begitu dekat. Belum sempat ia mengatakan sesuatu, Kieran sudah lebih dulu menciumnya dan melakukan france kiss. Siti tentu saj
Siti turun ke lantai dasar untuk makan malam bersama keluarga barunya. Saat ia turun, sebenarnya masih harus mengkondisikan langkahnya agar terlihat normal. Namun keempat anaknya sekarang, ternyata bisa melihat ada perbedaan pada langkah kakinya. Semua langsung menatap ke arahnya, termasuk Kieran
Akad Nikah segera dimulai, Siti menunggu dengan harapan semuanya lancar sampai selesai. Kieran di luar sana, sudah siap menggenggam tangan Yudha--paman Siti dari pihak ayah. Keluarga dekat Kieran pun ikut meramaikan, juga beberapa sahabatnya dari Inggris yang bisa datang. Acara pernikahan itu






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviewsMore