MasukAlena selalu merasakan kesepian dalam pernikahannya. Suaminya - Tama, pria itu tak pernah peduli lagi di tahun ke 2 pernikahan mereka. Di tengah prahara panas yang mengguncang pernikahannya, Alena di buat tak berkutik dengan kehadiran Aston. Kakak Iparnya bukan hanya hadir sebagai Dokter yang menangani masalah kesehatannya, tapi kehadiran Aston menawarkan kehangatan yang tak pernah Alena dapat dari suaminya.
Lihat lebih banyakTama akhirnya memutuskan kembali ke ruang tengah sambil membawakan dua gelas jahe hangat dan cemilan untuk sang Mama. Setelah semuanya di letakan, Tama duduk di sebelah Bu Syanas untuk menanyakan kebenaran yang terjadi."Bu, di dapur ada susu ibu hamil, apa Alena hamil?" tanya Tama dengan wajah serius."Iya, Tam... Mama sebentar lagi akan punya cucu, dan kamu akan di panggil Om," kata Bu Syanas. Selama ini, yang Bu Syanas tahu: Tama hanya menikahi Dinda secara siri lalu berakhir begitu saja. Aston dan Tama sudah menyepakati, untuk tidak menceritakan masalalu pernikahan Tama dengan Alena. Aston hanya tidak ingi sang Ibu kembali kepikiran.Tama hanya tersenyum tipis, menegakan duduknya menatap kosong ke depan sambil menggapai gelas jahe tadi. Semakin ia mengingat bagaimana caranya memperlakukan Alena dulu, sama seperti Tama menggenggam pisau tajam yang hanya akan menyakitinya saja. Penyesalan memang hanya tinggal penyesalan. Namun setidaknya, Tama sudah berh
Setelah Aston selesai menandatangani data kepulangan pasien, ia dan Alena langsung menuju Apoteker bawah untuk mengambil vitamin yang sudah Aston resepkan tadi. Satu kantung paperbag itu sudah lengkah dengan beberapa vitamin pilihan, dan susu ibu hamil yang Aston recomended kan untuk sang Istri.Selanjutnya, Alena dan Aston langsung mampir ke rumah Mama Lusy, berniat untuk memberikan kejutan kepada keluarganya. Namun apa yang terjadi, setibanya di halaman rumah, Alena di buat mengernyit melihat mobil hitam mengkilap yang terparkir di halaman rumah Mamanya."Mobil itu?" bisik Aston. "Itu bukannya mobil milik Leon?" Aston menatap istrinya. "Sayang... Kamu yakin? Ada Leon di dalam?""Ada apa ya, Kak? Apa ada Leana juga di dalam?" gumam Alena penuh tanya. Ia hanya mengkhawatirkan sahabatnya, takut terjadi sesuatu."Sayang...." Aston menatap Istrinya penuh keyakinan. "Ayo kita masuk, dan kamu tidak perlu cemas lagi karena ada saya di samping kamu."
Langkah Aston semakin teratur begitu lift terbuka. Ia rengkuh pinggang istrinya, berjalan sedikit tergesa karena memang Alena sangat pucat. Semua orang banyak di buat bertanya-tanya, mengapa Dokter Aston kembali lagi bersama Istrinya? Namun tam sedikit pula yang fokus dengan masalah hidup masing-masing.Seorang Asisten perawat mengerutkan dahi, menegur Aston dengan wajah penuh tanya baru saja keluar dari meja konter. "Dok... Apa ada sesuatu?""Ini, Istri saya nggak enak badan. Saya mau periksa dulu," kata Aston."Oh, baik, Dok. Jika membutuhkan sesuatu hubungi saya," ucap sang Asisten.Pintu ruangan terbuka. Alena tersenyum pucat sebagai tanda terimakasih kepada Asisten suaminya. Di dalam, Aston meminta Istrinya untuk melakukan tes kehamilan, karena yang Alena rasakan sangat mirip dengan wanita hamil. Aston mengeluarkan tespack yang masih terbungkus rapi kepada Alena."Sayang, kamu coba tes dulu ya. Dan apapun hasilnya, jangan berkecil h
Aston meraih kedua tangan istrinya dengan mata berkaca. Mimpi buruk yang Istrinya katakan, mungkin semua itu kare perbuatan Leon sore tadi. Alena pun mengernyitkan dahi melihat perubahan ekspresi wajah suaminya. Ia bahkan menyeka sudut mata Aston yang kini luruh dengan air mata."Sayang, ada apa? Kamu menangis karena merasa bersalah padaku, sementara kamu selama ini sudah menjadi suami luar biasa," rintihnya. Aston pun langsung mendekap tubuh Alena dengan isakan tangis."Sayang... Kenapa kamu musti menutupi semuanya. Katakan pada saya, pasti pria brengsek itu 'kan yang sudah membuat kamu jadi seperti ini," ucap Aston begitu pelukan terlerai. "Sayang... Biar ku bunuh sekalian dia. Biar saya lenyapkan dia dari dunia ini."Alena terdiam. Bibirnya melekuk senyum dalam. "Kak....""Mana, sayang? Mana bagian tubuhmu yang dia sentuh? Biar saya bersihkan," sela Aston mengusap lengan Alena cukup lembut.Alena tahu suaminya tengah merasa berslah se
Aston tidak menjawab dengan kalimat panjang. Ia hanya memberikan tatapan tegas yang memberi isyarat bahwa perintah medisnya tidak untuk didebat. Pria itu melangkah menuju alat pemindai ultrasonografi (USG) di samping ranjang pasien dan mulai mengenakan sarung tangan latex medis."Saya perlu melakuk
Pagi harinya, suasana meja makan terasa canggung. Tepat setelah sarapan selesai, Tama bergegas pergi lebih dulu karena mendapat panggilan darurat dari IGD. Alena hanya mampu melambaikan tangan kecilnya. Ia masih bergeming beberapa detik di dekat pintu, sebelum berbalik dan tidak sengaja menabrak se
"Mas, aku menginginkan kamu malam ini. Tolong sentuh lah aku," mohon Alena dibalik kabut gairahnya.Mantan Model cantik berusia 25 tahun itu berjalan sensual menghampiri suaminya dengan balutan daster lingerie berbahan linen bewarna putih terawang.Sementara Tama, dokter bedah berusia 28 tahun itu,
Setelah pemeriksaan tadi siang, sesuai edukasi Aston, Alena yang sudah rapi mengenakan dress elegan terkesan seksi, kini mulai bersolek tipis di depan kaca rias, memastikan make-up naturalnya dapat menarik gairah Tama nantinya. Sudut bibir Alena tertarik simpul. Lipstik pink nude itu merekah indah






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Ulasan-ulasanLebih banyak