LOGIN"Kak, jangan! Nanti ketahuan Mas Tama." Alena sering berfantasi sendiri dalam menuntaskan hasratnya. Suaminya~Tama, pria itu selalu acuh, bahkan jarang sekali menyenangkan Alena jika menyangkut urusan ranjang. Hingga pada akhirnya, Alena memutuskan untuk menceritakan semua masalah rumah tangganya, bahkan urusan ranjang sekali pun kepada Kakak Iparnya. Dan kebetulan, sosok Aston ini adalah Dokter SpOG.
View MoreSekuat tenaga langkah kaki Aston membawanya menuju taman barat rumah sakit dekat ruangan laboratorium. Disana langkah Aston mulai pelan. Ia melihat banyak orang berkerumun juga para Perawat dan Dokter jaga. Wajah tampan itu sudah mulai ketar ketir kala melihat tubuh seorang wanita di angkat para perawat, dan dari jenjang kakinya sangat mirip milik Alena. Putih, bersih. Air mata Aston mulai keluar. Rasa sesaknya semakin menusuk. Dengan langkah gemetar itu dia kembali melangkah. Suaranya pecah dan bergetar. "Alenaaaaa...." Namun tiba-tiba saja dari belakang ada suara rendah yang menghentikan langkahnya. "Kak Aston ngapain?" Aston reflek menoleh kaku. Air matanya masih membasahi rahang tegas itu tanpa rasa malu. Tapi di belakangnya kini? Aston berulang kali mengerjabkan mata. Paras cantik itu semakin nyata. Bahkan, ketika ada seseorang menyenggolnya tanpa
Sementara di lain tempat, malam ini Tama pulang lebih awal dari biasanya. Pria itu pulang dengan penampilan berantakan, wajah lusuh, tidak mencerminkan sikap profesionalisme seorang Dokter, lebih mirip bocah pulang dari demo. Aston yang pulang lebih awal, hanya mampu menatapnya sembari menghela napas berat. Adiknya sudah mirip berandalan. Huh.... Tama menjatuhkan tubuhnya di atas sofa, wajahnya kelihatan lelah, hingga helaan napas itu terdengar berat. Bukan hanya menghadapi beberapa operasi saja. Tapi menghadapi Dinda dan keluarganya yang selalu menuntut, itu lebih sulit dari operasi berat. "Sudah ingat rumah lagi?" Celetuk sang Kakak sembari duduk. Tama menarik tubuhnya, duduk menegak, kedua jemarinya saling meremas. "Orang tuanya Dinda meminta pernikahan secepatnya di lakukan, Mas. Dinda meminta menikah di gedung dan mengundang banyak rekan. Tapi aku menolak." Aston masih menyimak. Dahi
"Mas, kamu lihatin apa sih? Itu lampunya sudah hijau," pekik wanita yang tak lain Dinda. Tama, pria itu menyudahi tatapanya pada Danu. Ia mulai memfokuskan pandangannya ke depan, tapi tetap saja, gemuruh nama Alena memenuhi isi kepalanya. Sore itu setelah Dokter menyatakan sehat, Dinda langsung meminta pulang. Ia takut jika terlalu lama di rawat, maka hal itu dapat di gunakan Tama untuk menemui mantan Istrinya. Dinda lupa, jika Tama sendiri adalah seorang Dokter. Dan dapat bebas kapan saja datang ke rumah sakit. "Oh ya, Mas Tama, sesuai kata Mama dan Papa tadi, aku mau pernikahan kita di percepat saja. Aku nggak mau sampai anak ini lahir lebih dulu sebelum kita sah menjadi pasangan suami istri." Ucapnya penuh semangat. Dinda merengkuh lengan Tama, menyandarkan kepalanya di bahu tegap itu, menghembuskan napas lega, tak menyangka impiannya menjadi Istri seorang Dokter akan segera ia raih.
Danu keluar lebih dulu. Ia sadar diri akan posisinya saat ini yang hanya sekedar Bos saja. Sementara Aston masih tengah meyakinkan Alena, tapi pada akhirnya pria itu mengalah, memilih keluar juga meskipun ada perasaan sesak yang menyelinap. "Anda salah paham, Pak Aston," ucap Danu ketika Aston keluar. Dengan wajah sedingin es itu, Aston menjawab, "Tidak perlu menjelaskan hal yang sudah terbukti." "Tapi dengan begitu sama saja anda tidak percaya dengan kekasih anda sendiri, Pak Aston!" Suara Danu sedikit mendesak. Ia merasa kesal. Ingin sekali membuka lebar mata Aston, bahwa kejadian tadi tidak seperti tuduhannya. Tapi sepertinya, diam lebih baik daripada menjelaskan kalimat yang akan sia-sia. Suasana lorong lantai 8 itu mendadak kaku. Aston melipat kedua tanganya, menatap Danu kuat, dalam pikirannya berkata: pasti pria di depanya itu sudah mendoktrin isi kepala kekasihnya. D
Semenjak kecaman pedas yang Alena terima dari suaminya, semenjak itu pula Tama semakin menunjukan sikap acuh bahkan terkesan tak peduli dengan semua hal yang menyangkut Istrinya. Bukan hanya sehari dua hari Alena mencoba mengetuk pintu hati sang Suami, namun lagi-lagi yang dirinya dapat sebuah penol
Setelah pemeriksaan tadi siang, sesuai edukasi Aston, Alena yang sudah rapi mengenakan dress elegan terkesan seksi, kini mulai bersolek tipis di depan kaca rias, memastikan make-up naturalnya dapat menarik gairah Tama nantinya. Sudut bibir Alena tertarik simpul. Lipstik pink nude itu merekah indah
Aston tidak menjawab dengan kalimat panjang. Ia hanya memberikan tatapan tegas yang memberi isyarat bahwa perintah medisnya tidak untuk didebat. Pria itu melangkah menuju alat pemindai ultrasonografi (USG) di samping ranjang pasien dan mulai mengenakan sarung tangan latex medis."Saya perlu melakuk
Pagi harinya, suasana meja makan terasa canggung. Tepat setelah sarapan selesai, Tama bergegas pergi lebih dulu karena mendapat panggilan darurat dari IGD. Alena hanya mampu melambaikan tangan kecilnya. Ia masih bergeming beberapa detik di dekat pintu, sebelum berbalik dan tidak sengaja menabrak se












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews