FAZER LOGINSemoga syuka🥰💅
Di sebuah kamar di mansion Kingsley, layar televisi menjadi saksi bisu berakhirnya sebuah kekuasaan sang tirani. Febi terpaku, matanya tak berkedip melihat sosok-sosok yang selama ini menghantui hidupnya digiring keluar dengan tangan terborgol. "Ibu..." suara Febi pecah. Ia langsung menghambur ke pelukan sang ibu yang duduk di sampingnya. Keduanya terisak, menggambarkan sisa-sisa sakit yang selama bertahun-tahun menghimpit dada mereka. Penderitaan yang mereka alami akibat kesombongan keluarga Dexter seolah menguap begitu saja bersama raungan sirine polisi di layar kaca. Detik itu juga, Febi merasa dunianya langsung berubah menjadi jauh lebih terang. Udara yang ia hirup terasa lebih segar, seolah racun yang selama ini mencemari hidupnya telah dinetralkan. Namun, di balik rasa lega itu, ada setitik getir yang terselip. Kemenangan ini sekaligus menjadi titik balik bagi hubungannya dengan Victor. Kisah cinta mereka yang penuh lika-liku dan perbedaan kasta yang tajam kini menemui
"No... nooooo!!!" Nyonya Dexter berteriak histeris, suaranya melengking membelah keheningan penthouse yang baru saja kehilangan martabatnya. "Jangan sentuh aku! Kalian tahu siapa saya?!" Ia memundurkan langkah, mencoba menjauh dari dua petugas berseragam yang melangkah maju dengan borgol perak yang berkilau dingin di bawah lampu kristal. Gaun sutranya yang seharga ratusan juta kini tampak kusut, seiring dengan harga dirinya yang tak beraturan. Tuan Dexter, yang wajahnya sudah sepucat kertas, mencoba berdiri tegak meski lututnya gemetar. Ia meraba saku jasnya, mengeluarkan sebuah kartu nama berwarna emas milik seorang petinggi di kepolisian. "Dengar, Inspektur," suara Tuan Dexter bergetar, mencoba menggunakan otoritas yang sebenarnya sudah hangus. "Sebutkan berapa harganya. Saya tahu kalian hanya menjalankan tugas, tapi kita bisa menyelesaikan ini dengan cara yang lebih... bijak. Satu miliar? Dua miliar? Langsung masuk ke rekening kalian tanpa jejak." Inspektur yang memimpin
Kieran melihat ke arah jendela kamar rawatnya saat memeluk sang istri yang tertudur di pelukannya. Senja mulai datang dan ua hanya menyeringai diam-diam. "Mungkin mereka sedang berpesta." Kieran juga menambabi agar para media mendramatisir keadaannya. Ia ingin musuh-muauhnya menganggap kalau ia benar-benar sekarat. ••• Sementara itu, di sebuah penthouse pribadi yang tersembunyi di lantai teratas hotel milik keluarga Dexter, suasana tampak sangat kontras dengan ketegangan yang terjadi di kediaman Kingsley. Botol alkohol mahal sudah terbuka di atas meja kaca. Aroma cerutu membumbung tinggi, menciptakan kabut tipis yang menyelimuti tawa kemenangan tiga orang di dalamnya. Tuan Dexter, Nyonya Dexter, dan putra kebanggaan mereka, Antonio. Tuan Dexter menyesap cerutunya dengan senyum yang belum luntur sejak berita penembakan Kieran pecah semalam. "Si brengsek itu akhirnya tumbang di tangan anak kecil," gumamnya sambil menatap layar televisi besar yang menyiarkan berita breaking news t
"Dasar... sebel banget sama kamu, Mas. Ngeselin banget!" ucap Siti sambil terisak, wajahnya disembunyikan di dada Kieran. Tangannya yang mungil memukul pelan bahu suaminya, menyalurkan rasa sesak yang sejak semalam menghimpit napasnya. Kieran hanya terkekeh pelan, meski setiap getaran di dadanya memicu rasa perih di luka jahitan perutnya. Ia mengabaikan rasa sakit itu, lebih memilih fokus mengelus punggung istrinya dengan lembut. Sesekali ia mengecup puncak kepala Siti yang tertutup hijab, menghirup aroma menenangkan yang selalu menjadi rumah baginya. Ia benar-benar menyesal telah membuat wanita itu ketakutan setengah mati. "Maaf ya... Tapi aku ingin ngasih tahu juga ke kamu, tentang sesuatu yang berkaitan dengan rencanaku. Aku harap sih ini bisa meringankan kesedihanmu, Sayang." Siti melepas pelukan mereka. Ia menghapus air matanya dengan punggung tangan, menatap suaminya dengan mata sembap yang menuntut penjelasan. Kieran menghela napas panjang, lalu meraih tablet di atas nak
Kieran terbangun dari tidurnya saat melihat istrinya sudah ada di samping ranjangnya. Cahaya lampu kamar yang temaram membuat wajah Siti terlihat sembap. Terlihat sekali bahwa wanita itu tidak tidur semalaman untuk menunggunya melewati masa kritis. "Mas... mas, udah sadar. Dokter!" teriak Siti senang sekaligus panik. Dokter khusus yang berjaga pun langsung bangun dari tidur singkatnya itu. Ia pun turun dari sofa dan langsung mengambil stetoskop. Ia menghampiri pasiennya dan langsing memeriksanya. Kieran yang melihat itu langsung menghentikannya. "Wait, cuci muka dulu sana!" Dokter yang bernama Aldo itu pun langsung tersenyum malu dan melaksanakan apa yang dikatakan Kieran. Sementara itu, Siti sudah menatap Kieran dengan tatapan sengit. "Beb, kenapa?" tanyanya curiga. Ia takut istrinya marah. Faktanya kemarin ia mengabaikan opini istrinya yang logis dan bijaksana. "Dasar keras kepala! Omonganku gak kamu anggap, hah?!" Kieran menggeleng, "Maaf, Sayang. Aku--" "
Sinar lampu dari mobil tim Alpha menyorot langsung ke dinding gudang tua yang berkarat itu. Kieran tidak menunggu perintah siapapun. Dia turun dengan pistol yang sudah terkokang, napasnya memburu, hanya satu yang ada di kepalanya, yakni menghabisi siapa pun yang berani mengambil foto istrinya secara sembunyi-sembunyi. "Pih, jangan bburu-buru!" Victor mencoba menahan, tapi Kieran sudah merangsek masuk ke dalam kegelapan gudang. Suasana di dalam sangat sunyi, hanya ada suara tetesan air dari atap seng yang bocor. Di tengah ruangan, sebuah meja kayu tua berdiri di bawah lampu neon yang berkedip-kedip redup. Di atas meja itu, ada sebuah mangkuk bakso plastik, persis seperti di mall—dengan kepulan uap yang masih terlihat. Seseorang baru saja ada di sana. Kieran mendekat, matanya menyisir balkon lantai dua yang gelap. "KELUAR! JANGAN JADI CEMEN!" teriaknya, suaranya menggema hebat. Tepat saat gema suaranya hilang, sebuah titik merah kecil (laser) muncul di lantai semen, bergerak s
Kieran berjalan keluar dan berganti meja untuk menemui sang ibu. "Kieran, Mami jauh-jauh ke Indonesia tapi sepertinya kamu tidak menikmati pertemuan kita," ujar sang ibu. Perempuan paruh baya yang masih terlihat cantik itu menunjukkan kekesalannya. "Maaf Mamiku Sayang, aku agak kehilangan
Siti terkejut dengan jawaban Kieran yang sangat yakin, bisa-bisanya ia sesantai itu. "Enggak, Pih! Papi cuma bercanda kan?" tanya Edric serius. Sementara itu Clara ikut maju dan menggenggam tangan sang cucu. "Ed, kamu baru pulang sekolah. Kita duduk dulu," ujar Clara. Siti dan Kieran unt
Benar kata Kieran, saat malam tiba sehabis makan malam, ia menggandeng Siti untuk naik ke kamar. Hal itu langsung menjadi perhatian keempat anaknya. Namun, itu baru permulaan, karena hal yang lebih "gong" lagi adalah adegan keesokan harinya. Keesokan harinya, saat Siti sedang mengambil sesuatu di
"Siti," panggil Kieran halus. "Hem?" balas Siti yang terbangun. "Sayang," gumam Kieran lagi. Saat Siti membuka matanya, betapa terkejutnya ia karena wajah Kieran begitu dekat. Belum sempat ia mengatakan sesuatu, Kieran sudah lebih dulu menciumnya dan melakukan france kiss. Siti tentu saj







