LOGINThis isn’t your merry little Christmas. This book brings together tempting fantasies, unexpected encounters, and forbidden attractions. From chance meetings beneath the mistletoe to romantic nights by the fire, every story is filled with passion, mystery, and irresistible chemistry. These short stories are quick, captivating, and full of unexpected twists, bringing a little extra excitement to your holiday season. If you’re ready for a Christmas filled with secrets, temptation, and unforgettable moments in red and gold… welcome to your next obsession!
View MoreDi Park Central, Nanjing. Seorang lelaki berpakaian jas lengkap sedang berlari dengan kecepatan cepat menuju sebuah bangunan yang berjarak kurang dari 200m darinya. Ini adalah hari pertama Andri Chen bekerja di perusahaan baru, sebentar lagi dia akan telat, dia tidak ingin dipecat karena telat, jadi dia berlari dengan cepat.
Saat dia berlari sampai di parkiran terbuka Park Central, seorang wanita berpakaian bisnis tiba-tiba keluar dari sebuah kendaraan off-road. Andri terkejut, dia tidak bisa langsung berhenti, dia hanya bisa berteriak “Cepat minggir!”Wanita itu mendengarkannya dan menoleh kearahnya, melihat Andri yang berlari kearahnya, wanita itu ketakutan, insting membuat dia ingin menghindarinya tapi, ketika dia ingin memutarkan badannya, hak sepatunya tersangkut di celah lantai dan tidak bisa dikeluarkan.Kemudian, wanita berambut panjang ini kehilangan kendali, badannya mulai terjatuh kebelakang.Disaat badan Andri akan menabrak wanita berambut panjang ini, Andri tiba-tiba menjungkir balikkan badannya diudara, badannya yang kekar melakukan putaran 360 derajat diatas kepala wanita berambut panjang ini, ketika kedua kakinya menyentuh lantai, badan wanita tersebut juga terjatuh kearah punggungnya.Andri langsung membungkukkan badannya, badan wanita ini terjatuh di punggungnya, Andri takut wanita ini akan terjatuh dari punggungnya lalu tangannya tanpa disengajakan diletakan didada wanita itu untuk menahannya, gerakan baik hati ini malah mengundang kemarahan wanita ini “Dasar Preman! Lepaskan tanganmu!”Setelah mendengar perkataan itu, Andri baru menyadari bahwa kedua tangannya berada didada lembut wanita ini, dia bergegas melepaskan tangannya, tapi tak disangka setelah dia melepaskan tangannya, wanita itu terjatuh.“Aduh!” terdengar wanita itu mengerang kesakitan, badannya terjatuh dilantai.Andri langsung berbalik badan dan menjelaskan “Halo cantik, kamu yang menyuruhku melepaskannya, bukan salahku.”Disamping perkataannya, Andri melihat rok wanita itu terangkat, seluruh pemandangan dibawah rok wanita itu terlihat olehnya,Pemandangan yang membuat mukanya merah, Andri terhenti, dia berkata dalam hati "Wah! Wanita ini begitu terbuka? Tidak memakai apa-apa didalam?"Yuni Lin menelusuri pandangan Andri dan menyadari bahwa dia sedang menatapi bagian bawah tubuhnya, dan Yuni akhirnya mengerti mengapa ketika dia berlari dia merasakan selangkangannya adem, ternyata dia lupa memakai celana dalam karena terburu-buru keluar dari rumahnya.Setelah itu, muka Yuni merah dan panas, dia buru-buru menutup selangkangannya dengan tas LV nya, dan merapikan roknya, takut Andri melihat apa-apa lagi.Setelah merapikan roknya, Yuni menyadari bahwa Andri masih saja melirik pahanya “Dasar preman! Kamu masih lihat?”Andri melirik sekilas dan menghentikan tatapannya, wanita ini mempunyai rambut cokelat yang panjang dan tidak diikat, kulitnya lembut, matanya besar, dan giginya bagus, badannya hot, benar-benar adalah seorang wanita cantik yang menawan, ditambah lagi dengan kedua kakinya yang panjang dan menggoda, membuat Andri menelan air ludah, Andri telah datang ke Nanjing selama sebulan, baru pertama kali dia melihat wanita yang secantik ini.Bahkan tampang ketika dia marah juga begitu menawan.Tapi seberapapun cantiknya wanita ini, dia juga harus sopan, setidaknya tadi Andri sudah menolongnya sekali, jika tidak sekarang dia mungkin sudah dirumah sakit.Mendengar kata preman dari mulut wanita ini, Andri merasa kurang enak, dia juga bukan sengaja melihatnya, jadi Andri juga tidak sungkan-sungkan, dia tertawa dan menyindir “Preman? Preman yang dimaksud itu kamu? Kamu lihat dirimu sendiri, terlihat cantik tapi tidak memakai celana dalam dan pergi jalan-jalan, kamu sangat fashion sekali! Apakah ibumu mengetahui hal ini?”“Kamu——“ Yuni marah hingga mukanya merah, dia ingin melemparkan tasnya ke lelaki ini, tapi dia tidak melakukannya karena dia tahu jika dia melakukannya, maka tidak ada barang yang bisa menutupi bagian intimnya.Yuni melirik-lirik sekeliling, untung saja tidak begitu banyak orang di parkiran terbuka ini, jika tidak hari ini dia akan malu besar, ini adalah pertama kalinya bagian intimnya dilihat oleh seorang lelaki, terlebih adalah seorang lelaki asing.Ini semua sudah membuatnya tidak bisa mengangkatkan kepalanya, tapi perkataan Andri semakin membuatnya marah.Melihat jam kerja segera tiba, Yuni juga tidak mau mempedulikan Andri, dia hanya ingin meninggalkan tempat ini secepatnya, untuk menghindari lebih banyak orang melihatnya.Yuni berusaha untuk bangkit, perlahan dia berdiri dari lantai, setiap kali dia melangkah, pergelangan kaki kirinya sangatlah sakit, dia tau kakinya terseleo, tapi dia tetap berjalan dengan sedikit pincang untuk mencabut sepatu hak tingginya yang tersangkut, lalu memakainya, setelah itu berjalan kearah Park Central.Baru juga dia berjalan, Andri mengejar dari belakang, dan tertawa “Cantik, kamu pergi bekerja seperti ini? Apakah kamu tidak takut kelihatan oleh orang lain? Maukah aku kasih sebuah celana dalam? Jika kamu pergi bekerja seperti ini, bagaimana jika tiba-tiba datang bulan?”Yuni mendengar perkataannya, dia tiba-tiba berhenti dan berbalik melotot Andri, dengan marah dia berkata “Tidak ada hubungannya denganmu jika aku datang bulan atau tidak. Dan tolong menghilang dari hadapanku, jika tidak aku akan melapor ke polisi.”Setelah itu, tanpa menunggu pembalasan dari Andri, Yuni langsung berjalan ke arah gedung Park Central dan memasuki gedung tersebut.Melihat sosok yang semakin menjauh, dengan tidak sopannya, Andri berteriak “Eh, wanita cantik didepan sana, kamu boleh tidak memakai celana dalam tapi tidak boleh tidak sopan.”Ketika kata-kata itu dikeluarkan, ada banyak wanita disekitar gedung Park Central menoleh dan menatapi Andri dengan pandangan yang aneh.Andri terkejut melihatnya, dia berbicara sendiri “Waduh, tidak salah?! Sebanyak ini wanita yang tidak memakai celana dalam?”Setelah itu, Andri melihat jam tangan Rolex di tangannya dan berseru “Gawat! Sebentar lagi akan telat, hari ini adalah hari pertama bekerja, dan jika telat aku pasti akan dipecat!”Dia lalu bergegas lari memasuki gedung Park Central, setelah masuk, dia menyadari ada antrian panjang di pintu lift, jika dia mengantri, dia pasti akan telat, karena 5 menit lagi dia akan telat kerja, dia tidak ingin melakukan kesalahan karena terlambat karena mengantri lift, jika begitu dia akan susah untuk berdebat.Perusahaan baru Andri ada di lantai 25, jadi dia tidak mungkin akan berlari naik, sekarang hanya ada satu cara.Andri berjalan menuju lift nomor 4, dia tersenyum dan meminta maaf ke pengantri lift nomor 4 “Mohon maaf semuanya, aku adalah petugas maintenance dari perusahaan lift, perusahaan kami menerima panggilan dan mengatakan bahwa lift ini rusak dan harus segera melakukan perbaikan!”Semua orang mendengar perkataannya dan mulai mengeluh.“Apa benar? Perbaikan sekarang?”“Apakah tidak salah? Kami masih harus bergegas pergi kerja.”“Kapan perbaikannya selesai?”“……”Andri memotong keluhan mereka, dan berkata dengan sopan “Semuanya, aku juga tidak mengharapkan hal ini terjadi, tapi, demi keselamatan semua orang, aku hanya bisa meminta kerjasamanya.”Pada saat menjelaskan, Andri memasuki lift sendirian, ketika pintu lift ditutup, dia juga berterima kasih kepada orang-orang diluar lift “Terima kasih atas kerja sama Anda.”Ketika lift telah tertutup, Andri tersenyum, dan setelah sampai di lantai 25, dia melihat jam tangannya, masih ada waktu 2 menit lagi.Suara “Ding dong” berbunyi, baru saja pintu lift terbuka, Andri bergegas berjalan keluar dari lift dan berjalan ke resepsionis perusahaan Dairy Milk LTD, ketika dia bersiap untuk menekan sidik jari, pandangannya melihat ada seorang wanita yang berdiri didepannya, dia menoleh dan menyadari bahwa wanita didepan ini adalah wanita yang tidak memakai celana dalam tadi. Dia mengangkatkan kepala nya dan tersenyum “Hai! Cantik, kebetulan sekali, kamu juga bekerja disini?”Seusai dia berkata,gadis cantik diresepsionis langsung berjalan kemari dan bertindak sopan ketika melihat Yuni “Selamat pagi Manager Lin!”Mendengar perkataan ini, Andri terkejut senyumannya membeku, mulutnya berbisik “Manager Lin?”Nancy shivered as she knocked on Coach Leon's door, the snowflakes clinging to her red wool coat like tiny diamonds. It was Christmas Eve, and the neighborhood glowed with twinkling lights, but her mind was fixed on him. For three years, as the star cheerleader on his football team, she had watched Leon command the field with that intense focus, his broad shoulders straining against his jacket. Every pep rally, every victory huddle, she felt his eyes on her, a spark that went beyond coach and player. She loved him quietly, fiercely, through late-night practices and shared glances that lingered too long. Tonight, with the team on break and her parents away, she had texted him about dropping off a gift, hoping it would break the ice.Leon opened the door, his dark eyes widening in surprise. He wore a simple sweater that hugged his muscular frame, the scent of pine and cinnamon wafting from inside. "Nancy? What are you doing out in this storm?" His voice was deep, concerned, pulling
Clarissa's heart pounded as she stood on Sean's doorstep, the summer evening wrapping around her like a warm blanket. They had known each other since they were kids, running through the neighborhood with scraped knees and shared secrets. But somewhere along the way, those innocent games turned into stolen glances and unspoken words. She had loved him for years, a quiet ache that grew with every birthday, every holiday where she watched him from across the room. Tonight, after a chance text that led to this visit, she hoped things would change.Sean opened the door, his smile lighting up his face. He looked the same yet different, taller, broader, with that familiar tousle of dark hair. “Clarissa,” he said, his voice soft. “Come in.”He pulled her into a hug, and she melted against him, inhaling the scent of his soap and something uniquely him. Her body pressed close, and she felt the heat of his chest through his shirt.They sat on his couch, talking about old times. Laughter filled
Morning came slowly.Snow softened the city overnight, turning Manhattan into something hushed and almost forgiving. The windows of Julian’s bedroom glowed pale with winter light. Ava lay awake, tracing patterns on his chest, listening to the steady rhythm beneath her ear.This was the quiet that came after choosing. Not peace exactly. But truth.Julian stirred, his arm tightening instinctively around her waist, pulling her closer as if the world might try to take her away before he was fully conscious.“You’re still here,” he murmured, voice rough with sleep.She smiled. “That sounds like disbelief.”“It is.”He opened his eyes and looked down at her like she was real only because he was touching her. Like wealth and power had never given him this particular certainty before.“Good morning,” she said.Julian brushed a thumb along her shoulder, slow and reverent. “Stay.”It was not a command. It was not fear disguised as authority. It was need, unguarded.She lifted herself slightly s
When Want Becomes a DecisionAva did not intend to let Julian Blackwood follow her.She walked fast through the snow, heels sinking slightly with each step, breath clouding in front of her face. The cold burned, sharp and clarifying. She welcomed it. She needed something that hurt cleanly.Behind her, footsteps slowed, then stopped.“Wait.”Julian’s voice did not chase. It held.She stopped anyway.New York shimmered around them. Upper East Side brownstones dressed in lights. The hush that only came late on Christmas Eve, when even the city paused to breathe.She turned.Julian stood a few feet away, coat undone, hair mussed by frustration. He looked nothing like the man who commanded rooms without effort. This Julian was bare in ways money could not cover.“I didn’t come to convince you,” he said. “I came because letting you walk away feels like lying to myself.”Her chest tightened. “That’s not my responsibility.”“I know.”Snow settled on his shoulders. He did not brush it off.“I






Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.