INICIAR SESIÓNSean tidak bergeming. Sebaliknya, dia meletakkan tangannya di lengan Rachel, lalu memeluknya dan membalikkan kembali punggungnya."Sean...""Cuma ketemu mantan, kok. Apa aku memalukan atau kamu masih menaruh perasaan terhadapnya?" ujar Sean dengan tenang dan santai. Nadanya tidak mengandung sedikit emosi pun, tetapi selipan nada menggoda dalam ucapannya justru mengkhianati perasaannya yang sebenarnya.Setiap kali Rachel bertemu Joshua, meskipun dia tidak pernah bersikap baik terhadap Joshua, Sean tetap cemburu. Dengan kata lain, selama Joshua masih ada dan mendambakan Rachel, Sean akan merasa tidak nyaman."Tentu saja nggak. Aku cuma ... kesal melihatnya," ucap Rachel dengan gigi terkatup.Rachel secara naluriah ingin menghindari Joshua. Sebab, setiap kali melihat Joshua, kenangan traumatis itu akan melintasi benaknya. Bahkan tubuhnya juga secara refleks merasakan mual dan penolakan yang kuat. Terlebih lagi, Joshua juga mengganggunya tanpa henti. Ini membuatnya merasa sangat kesal.Nam
Tepat di ujung lorong di depan Joshua, Rachel dan seorang pria berdiri di samping troli belanja. Lengannya melingkari pinggang pria itu, senyumnya luar biasa lembut dan manis. Di sisi lain, tatapan pria itu terlihat lembut. Sosoknya yang tinggi dan tegap berjarak sangat dekat dengan Rachel. Dia memeluk Rachel erat-erat. Keduanya sangat fokus. Pandangan mereka beralih dari jeli di tangan mereka ke satu sama lain. Entah apa yang dibicarakan mereka, Rachel tidak bisa berhenti tertawa. Pipinya merona merah dan wajahnya begitu cantik sehingga Joshua bertanya-tanya apakah dirinya salah mengenali orang.Joshua merasa Rachel bahkan terlihat lebih cantik daripada saat pertama kali mereka bertemu di kampus. Kecantikannya seakan bersinar dan begitu menyilaukan hingga sulit dipandang.Di sisi lain, pria itu terhibur oleh apa yang diucapkan Rachel. Dia mengambil jeli dari tangan Rachel, lalu menaruh sederet jeli ke dalam keranjang belanja yang sudah penuh. Rachel meraih tangan pria itu, seolah ing
Rachel menyuruh Sean untuk tidak perlu percaya pada hal-hal mistis atau dirinya sendiri. Saat merasa sedih dan tersesat, Sean bisa memercayainya. Mereka adalah suami istri. Mulai sekarang, tidak ada "aku" di antara mereka, hanya "kita".Sore harinya, Xander yang membawa kepala pelayan dan dua pengawal menemani Sean serta Rachel untuk melihat beberapa rumah mewah. Rumah-rumah mewah ini telah dipilih dengan cermat.Yang paling mewah di antaranya sebanding dengan vila Keluarga Januardi. Selain menawarkan pemandangan dan fasilitas yang sempurna, vila itu bahkan pernah menjadi lokasi syuting untuk film dokumenter tentang pameran nasional. Namanya Puri Awan. Namun, harganya sangat tinggi, dengan penawarannya sudah mendekati 1,2 triliun.Sean ingin memberikan yang terbaik kepada Rachel. Dia tentu saja tidak pelit dalam hal kualitas dan harga. Dia bersedia menawar lebih tinggi dan langsung membeli Puri Awan.Awalnya, Rachel merasa rumah itu terlalu mewah dan ingin pindah ke tempat yang lebih s
Sean ingat bahwa Rachel pandai memasak. Rachel suka menonton film, jadi dia merasa menonton film bersama wanita itu adalah hiburan terbaik. Mengenai rumah baru, itu adalah beban dalam hatinya. Dia ingin membeli rumah baru secepat mungkin, lalu mengambil foto pernikahan, dan mengadakan resepsi pernikahan .... Setelah itu, Rachel tidak akan bisa berubah pikiran lagi.Mendengar ucapan Sean, wajah Rachel yang sudah merona menjadi makin merah. Dia tidak berbicara lagi, tetapi memberikan tanggapan dengan langsung mencium Sean. Semalam, ciuman pria itu terasa begitu nikmat. Pagi ini, hal pertama yang dia pikirkan ketika bangun adalah kehangatan bibir Sean....Jarang-jarang Sean dan Rachel memiliki waktu untuk benar-benar beristirahat. Mereka tidak bangun sampai siang hari. Sean melewatkan lebih dari belasan panggilan, sedangkan Rachel melewatkan tujuh atau delapan panggilan. Sebagian besar adalah panggilan kerja. Mereka hanya melihat sekilas informasi terkait pekerjaan, tetapi tidak ada yang
Sean menggeser kepala Rachel dengan pelan, lalu berkata dengan suara yang sangat lembut, "Aku Sean.""Ah! Pak Sean .... Apa aku mengganggu kalian?"Setelah menghubungkan suara napas yang didengarnya dengan kedua orang yang bersama dan masih tidur, Icha langsung menyadari apa yang sedang terjadi dan bahkan bisa membayangkannya. Wajah serta sosok Sean dan Rachel yang sangat serasi sedang saling bertautan dalam kabut pagi .... Apakah ini sesuatu yang bisa dia dengar melalui telepon? Icha bahkan ingin segera menutup telepon."Nggak. Hanya saja, Kak Rachel-mu belum bangun." Suara Sean makin lembut, sampai-sampai Icha tersipu dan jantungnya berdebar kencang."Kalau bisa, boleh tolong bantu dia ajukan cuti hari ini? Dia mau istirahat.""Tentu saja!" sela Icha sebelum Sean selesai bicara. Dia menambahkan, "Pengajuan cuti Kak Rachel sudah diajukan dari awal. Aku yang salah paham kemarin. Kalian berdua istirahatlah yang baik. Semoga Pak Sean cepat sembuh dan punya banyak anak!"Icha tidak tahu
"Jadi?" Xander masih merasa bingung.Wajah Celine sedikit memerah. Suaranya terdengar kesal. "Jadi, bisa nggak kamu tetap di ruang tamu bersamaku? Aku mau ditemani seseorang. Kamu boleh pergi setelah aku tertidur.""Ini ...." Xander merasa agak ragu."Penerbanganku besok pagi ...," ucap Celine dengan pelan sambil memiringkan kepalanya.Sebenarnya, Celine juga tahu bahwa kepulangannya kali ini mungkin tidak akan berakhir baik. Pada akhirnya, dia tidak mampu bersikap kejam. Jika benar-benar ingin menyakiti Sean, saat Sean menolak bertemu dengannya sebelum dia pergi ke luar negeri, dia pasti sudah pergi menemui Rachel. Melihat keadaan sekarang, Celine merasa dirinya dan Sean benar-benar tidak mungkin bersama lagi. Dia tidak mampu mendoakan kebahagiaan untuk Sean. Namun, demi harga dirinya, dia hanya bisa berusaha sebaik mungkin untuk tidak mengganggu pria itu.Sejak pertunangan Sean dan Rachel, Celine harus menelepon temannya hampir setiap malam atau meminta asistennya berjaga di luar k
"Takut kehilangan Rachel?" tanya Anisa.Anisa jelas ingin menguji Joshua, tetapi Joshua terlihat agak tak berdaya dalam menghadapinya hari ini. Dia hanya tersenyum dingin dan menjawab, "Jangan asal bicara."Seusai berbicara, Joshua memadamkan lampu, lalu meletakkan ponselnya dan tidak peduli lagi pa
Sebelum gambar selesai dimuat, sebuah panggilan telepon masuk. Yang menelepon adalah Anisa. Begitu Joshua menjawab, isak tangis seorang wanita memenuhi telinganya."Ada apa? Apa yang terjadi?" Jantung Joshua berdebar kencang, suaranya dipenuhi kecemasan. Namun, tak peduli bagaimana pun Joshua berta
Setelah duduk sembari menunggu dalam waktu lama, Howard juga tidak memiliki kesabaran untuk menyaksikan pertunjukan lagi.Howard menghela napas ringan. Tatapannya dipenuhi dengan rasa menyindir. “Jangan buru-buru. Sebentar lagi juga datang.” Rachel melihat jam sekilas, lalu membalas dengan datar.B
Rachel mengangguk. Seingatnya, Sean tidak suka makan yang manis-manis. Dia pun bertanya apakah Sean bisa makan yang pedas-pedas.Ketika melihat pria itu tertegun sejenak, Rachel pun berkata lagi, “Oke, aku sudah mengingatnya, Pak Sean nggak suka makan yang manis dan juga nggak bisa makan pedas.”“Ma







