LOGINSean menjelaskan semuanya dengan terperinci, mulai dari pengaturan tempat duduk tamu, setiap menit dalam rangkaian acara pernikahan, hingga padu padan busana mereka, bahkan daftar lagu yang akan diputar di pesta pernikahan ....Sean benar-benar memikirkan semuanya dengan sangat mendetail.Makin mendengarnya, Rachel mulai merasa pusing dan segera menahan lengan Sean. "Aku rasa semuanya cukup baik. Kamu saja yang putuskan."Sean tersenyum dan seketika melihat penolakan di mata istrinya. "Oke.""Sean ...," panggil Rachel dengan lembut."Hmm?""Aku rindu sama kamu.""Bukannya aku ada di sini?""Meski begitu, aku juga rindu sama kamu. Baik waktu kamu di hadapanku, waktu kita bersama atau berciuman ... aku tetap rindu," ujar Rachel. Suaranya makin rendah dan dia makin menempel pada Sean.Saat selesai berbicara, ujung bibir Rachel menyentuh dagu Sean sebelum beralih ke telinganya. Sean langsung menyadari godaan wanita itu. Dia menahan kepala Rachel dan langsung menciumnya.Barang-barang yang
Baik itu hubungan interpersonal maupun kemampuan profesional, Listya telah beradaptasi dengan baik. Rachel memilih untuk membiarkan Listya berjuang sendiri karena percaya padanya. Selain itu, dia merasa jika Listya hanya larut dalam masa lalu, membantunya juga tidak ada gunanya.Kini, Listya benar-benar telah berkembang. Itu juga terlihat dari cara dia menyikapi hubungannya dengan Andreas. Dia bukan lagi gadis muda seperti dulu, yang hanya akan mundur dan menyerah ketika menghadapi kesulitan, lalu hanya bisa melihat ke belakang dan mengasihani dirinya sendiri.Saat ini, Listya telah menjadi wanita dewasa yang mampu menghadapi perasaannya dengan berani, berjuang untuk mendapatkan segala hal yang diinginkannya, serta tahu kapan harus bertahan atau melepaskan dengan bijak."Oke."Rachel mendentingkan gelasnya dengan gelas Listya. Meskipun hanya untuk merayakan Listya yang begitu percaya diri saat ini, dia juga ingin bersulang."Setelah kamu lulus penilaian dan posisimu stabil, keputusan s
Selera Listya memang sangat bagus. Semua gaun yang dipilihnya terlihat begitu cocok untuk Rachel. Sebagai ucapan terima kasih, Rachel mengajak Listya untuk makan malam.Sean tidak ingin mengganggu mereka berdua, jadi dia meminta sopir mengantar mereka ke restoran.Saat makan, Rachel memperhatikan ponsel Listya sesekali berbunyi karena ada pesan masuk. Namun, Listya sedang asyik mengobrol dengannya sehingga tidak memeriksa ponselnya.Tiba-tiba, ponsel Listya berdering. Ada panggilan masuk. Barulah Listya mengambil ponselnya dan melihat layarnya. Setelah itu, dia mengangkat kepala dan melirik Rachel dengan sedikit ragu."Dari Kak Andreas ya? Cepat angkat."Setelah mendapat isyarat dari Rachel, Listya segera mengangkat telepon."Aku sedang makan bersama Rachel ... Hmm ... mungkin masih sebentar lagi. Nanti aku cerita setelah aku pulang.""Baik."Wajah Listya tampak sedikit tersipu malu. Setelah menutup telepon, dia kembali melihat pesan-pesan di ponselnya, lalu sudut bibirnya terangkat.
Sean terdiam sejenak. Tatapannya jatuh pada wajah Rachel yang sedikit memerah karena malu sekaligus kesal akibat terus diganggunya. Senyum lembut sekilas melintas di matanya. Namun, nada suara Sean saat berbicara dengan Elio tetap sopan dan dingin. "Aku masih ada urusan dengan Rere. Aku tutup dulu."Tanpa menunggu Elio berbicara lagi, Sean langsung menekan tombol untuk mengakhiri panggilan.Suasana seketika kembali tenang.Rachel berbalik dan melotot manja kepadanya. Dia mengulurkan tangan hendak merebut kembali ponselnya. "Kenapa kamu yang menutup teleponnya? Aku belum selesai bicara."Sean mengangkat ponsel itu tinggi-tinggi. Dengan tangan yang lain, Sean merangkul pinggang Rachel dan menariknya ke dalam pelukan, lalu menundukkan kepala dan menggigit bibirnya pelan."Masih mau bicara? Kenapa? Apa yang kukatakan kepadamu tadi malam masih belum cukup jelas?" Suara Sean merendah, terdengar sedikit tidak puas. "Mulai sekarang, kamu hanya milikku.""Dasar posesif!" Rachel mendengus kecil
Saat ini, Rachel sedang menuruni tangga.Pembantu sudah sibuk menyiapkan berbagai keperluan di area ruang makan.Pagi ini, Rachel berencana pergi ke tempat gym untuk melakukan olahraga ringan, lalu sarapan bersama Sean.Dokter pernah mengatakan bahwa ibu hamil sebaiknya tetap berolahraga secukupnya setiap hari, jadi dia perlahan membentuk kebiasaan tersebut."Ini cuma sedikit pemberian dariku. Sebenarnya, aku masih merasa belum cukup." Mendengar nada Rachel mulai melunak, Elio segera melanjutkan, "Besok aku akan kembali ke ibu kota. Kalau kamu sempat, bisakah kita bertemu hari ini?""Pak Elio, sebaiknya kamu terus terang saja. Sebenarnya apa yang Pak Elio inginkan dariku?"Pertanyaan Rachel yang begitu terus terang membuat Elio kembali terdiam."Tenang saja. Aku benar-benar nggak punya maksud lain. Aku cuma ingin bertemu denganmu dan mengobrol sebentar.""Pak Elio ... aku sudah berkeluarga." Rachel merasa sedikit lucu.Awalnya, Rachel mengira Sean hanya cemburu dan merasa dia terlalu m
Sean menuntun tangan Rachel hingga menyentuh garis otot perutnya yang kokoh dan kencang. Panas tubuh serta tekstur ototnya yang penuh kekuatan terasa menembus kulit, membuat jantung Rachel seketika berdegup tak beraturan. Ciuman Sean semakin dalam. Dengan tangan yang lain, dia dengan terampil melepaskan tali gaun tidur Rachel di bagian samping, kain yang lembut perlahan melorot dari bahunya tanpa suara.Udara yang sedikit dingin menyentuh kulitnya, membuat Rachel refleks menggigil, tetapi pria itu justru memeluknya semakin erat."Dingin?" Sean sedikit menjauh, tetapi bibir mereka masih berdekatan, ujung hidung saling bersentuhan, sementara napas hangat mereka berbaur.Rachel menggeleng pelan. Matanya mulai berkaca-kaca. Sean terkekeh. Suaranya terdengar begitu serak. "Apa kamu sudah merasakannya? Seluruh diriku adalah milikmu."Sean kembali mengecup sudut bibir Rachel. Ujung jarinya yang sedikit kasar membelai lembut kulitnya yang halus, turun perlahan dari tulang selangka.Rachel me







