LOGINRatu Azzura, anak dari ketua mafia pecinta kedamaian yang hobinya menolong orang-orang dengan cara merundungnya balik. Protagonis atau antagonis? Entahlah, tetapi orang-orang bilang dirinya antagonis. Ratu harus meninggal karena menolong seorang anak kecil yang menjadi sandera musuhnya. Shaqueena Moonstone, tokoh antagonis di dalam novel 'Anjani', anak orang kaya yang selalu disayang daddynya bagaikan berlian. Bahkan, apa pun yang Queen inginkan akan dikabulkan oleh daddynya detik itu juga. Bagaimana jadinya jika Ratu masuk ke dalam tubuh Queen? Apa yang akan dilakukan Ratu kepada tokoh-tokoh novel Anjani? Bahkan, Ratu menolak sistem yang ingin membantunya di dunia novel. "Ratu antagonis menjadi Queen antagonis, hmmm sangat menarik." R.S. "Aku nggak suka disentuh cewek, tapi kamu pengecualian, Shaqueena." Someone.
View More"Argggh, SIALAN!"
Maki seorang gadis dengan nafas terengah-engah. Sepasang kakinya terus dipaksa berlari, menghindari kejaran belasan pria bersenjata di belakangnya. Di gendongannya, seorang anak kecil memeluk lehernya sangat erat. Tubuh mungil itu gemetar karena ketakutan. Banyak luka di tubuh gadis itu akibat goresan semak, tapi rasa sakit itu tidak ia hiraukan, di pikirannya ia harus menyelamatkan anak kecil yang berada di dekapannya. Awalnya gadis itu hanya ingin menyelesaikan tugas terakhir dari daddynya, sang ketua mafia yang berniat turun takhta. Jika ia berhasil melumpuhkan musuh keluarga mereka, maka takhta tertinggi organisasi mafia akan resmi menjadi miliknya. Mulai detik ini, gadis itulah yang akan memegang kendali penuh. Namun, rencana matang itu hancur berantakan karena satu kelemahan terbesarnya. Gadis itu memiliki hobi yang sangat aneh untuk ukuran seorang calon ketua mafia, ia tidak bisa tinggal diam jika melihat orang tertindas apalagi seorang anak kecil. Dari kejauhan, ia melihat anak kecil sedang dianiaya oleh mereka. Entah apa kesalahan anak kecil itu, tapi hatinya sangat terenyuh untuk menyelamatkannya. Apalagi wajah anak kecil itu yang sangat polos saat melihatnya, membuat ia menjadi tidak tega. Akhirnya, di sinilah ia sekarang, terjebak dalam aksi kejar-kejaran antara hidup dan mati dengan nyawa sebagai taruhannya. Ratu Azzura, itulah nama gadis itu. Gadis keras kepala yang memiliki hobi aneh, yaitu menyelamatkan orang-orang tertindas meskipun harus melukai dirinya sekalipun. Memiliki satu Kakak yang umurnya tidak jauh darinya karena keduanya kembar tapi tidak identik. Sekarang Ratu berumur 23 tahun, ia adalah anak dari seorang ketua mafia di dunianya ini. Semua keluarganya sungguh aneh, mereka tidak memiliki belas kasihan, mungkin hanya ia yang masih memiliki rasa empati. Ratu berhenti di pohon besar, menurunkan anak kecil di gendongannya. Meski nafasnya terengah-engah karena lelah, tampang Ratu masih tetap tenang tanpa rasa takut sedikitpun. Ia melihat anak kecil itu yang ternyata sedang melihatnya juga dengan tatapan polos. "Hei bocah! Lo pergi sendiri dari sini, gue masih ada urusan," ucap Ratu. Gadis kecil itu memilin-milin baju bawahnya yang sudah robek. "Boleh Thena ikut, kakak?" "Nggak boleh, lo lihat jurang itu?" Ratu menunjuk ke depan, di mana ada jurang yang sangat dalam dan mengerikan. Thena mengerutkan keningnya heran, dia sama sekali tidak melihat apa pun di depannya. "Thena nggak liat apa-apa, kakak." "Argh, bodo amat lah. Pokoknya lo harus pergi dari sini kalo mau selamat." Ratu menatap tajam anak kecil itu, ia tidak bisa bersikap lembut karena dirinya sudah diajarkan oleh orang tuanya menjadi gadis yang seperti ini. "Kakak orang baik, Thena yakin kakak akan bahagia." Anak kecil itu tersenyum penuh arti kepada Ratu. Ratu berdecih. "Apa, orang baik? Bahkan, orang-orang bilang gue antagonis bocah, mending lo pergi udah nggak ada waktu lagi." Masih dengan senyuman yang polos, Thena menatap mata Ratu dengan mata berbinar-binar penuh bahagia. "Kakak orang baik, dan kehidupan kakak akan lebih berwarna ke depannya dengan orang-orang yang mencintai kakak, selamat datang kakak Ratu Azzura!" Wajah Ratu sedikit terkejut karena anak kecil itu mengetahui nama lengkapnya, padahal keduanya baru bertemu. Tapi Ratu tidak ambil pusing karena sekarang bukan waktu yang tepat, apalagi ia sudah merasakan kedatangan musuh yang mendekat. "Terserah lo, pergi sana dan hati-hati bocah." Ratu memalingkan wajahnya, tidak biasa berkata lembut. Sedetik kemudian matanya melotot, merasakan pipinya basah. Cup "Terima kasih kakak baik!" Bocah itu tersenyum lalu pergi berlari ke sembarang arah. Ratu mengerjapkan mata, tersadar kembali dan ia langsung menyentuh pipinya yang di kecup oleh bocah itu sambil menahan senyum kakunya. "Heh! Bahagia? Dicintai? Nggak mungkin ada di kamus gue. Sedari kecil gue nggak pernah merasakan itu, gue juga berharap mati cepat agar bisa menghapus darah mafia dari tubuh gue," gumam Ratu dengan wajah datar miliknya. "BERHENTI!" seru musuh yang sekarang sudah mendekat padanya. Ratu dikepung oleh mereka, tidak ada jalan untuknya pergi, apalagi pistol miliknya sudah kehabisan peluru. Bukannya takut, Ratu malah tersenyum menyeringai. Memundurkan langkah mendekati jurang, ia kembali melihat ke arah mereka lagi dengan wajah dingin. "Berlutut!" titah musuh. "Nggak ada di kamus gue, seorang Ratu berlutut di hadapan musuh," jawab Ratu tenang. "Baiklah. Itu pilihanmu, SERANG!!" "Tunggu! Gue mau bilang sesuatu. Kalo di markas kalian udah gue pasang Bom, dan mungkin tersisa lima menit dari sekarang…satu… dua…tiga … empat … Ah, bukan lima menit, tapi lima deti–” DUARRR! Bunyi bom terdengar nyaring. Bertepatan dengan itu, Ratu menjatuhkan diri ke jurang yang sangat dalam, tetapi di penglihatan mereka, Ratu menghilang entah pergi kemana. Ratu melihat ke atas dengan perasaan hampa, air matanya menetes dan senyuman lebar terukir di bibir indahnya. "Mom, Ratu sangat suka novel buatan Mommy, tetapi Ratu sangat nggak suka tokoh Antagonis yang bodoh." Itulah kata-kata terakhir dari seorang Ratu, bukannya kata perpisahan, tapi kata-kata yang mommynya tunggu dari anaknya selama ini. Ratu Azzura, anak ketua mafia generasi ke-8 meninggal dunia di usianya yang ke 23 tahun. ******* Di dunia yang berbeda BRAAAK!! Seorang murid terjatuh dari ketinggian lantai tiga. Murid-murid lain langsung berlarian menghampiri tempat kejadian, mereka berteriak heboh karena syok, bahkan ada juga yang merekam kejadiannya. “Aaaaaaaaaaaaaaa!” “Siapa itu yang jatuh!!” “Menyeramkan. Lihat, darahnya banyak yang keluar!” “Dari ciri-cirinya sangat tidak asing!” “Bukankah i-itu si antagonis!” “Apakah percobaan bunuh diri lagi?” “Woy, yang jatuh si Queen Antagonis!” “Gue yakin dia sudah meninggal.” “Kenapa sekolah kita selalu terjadi hal yang seperti ini?” “Gue bersyukur kalo dia mati, akhirnya orang jahat berkurang di dunia ini.” “Sangat menyeramkan!” Dan masih banyak lagi yang berteriak heboh, ada yang bahagia dan ada juga yang merasa kasihan melihat antagonis yang jatuh dari gedung sekolah. Sampai terdengar teriakan seorang gadis. "QUEENNNNNN!" serunya mengenali gelang yang dipakai, saat sahabatnya ingin menghampiri tapi dihalangi oleh para guru. "Lepas! Gue mau bantu sahabat gue!" serunya berusaha memberontak. Tanpa disadari mereka, gadis yang terjatuh menggerakkan jarinya. Setelah itu, membuka matanya perlahan karena risi mendengar teriakkan mereka yang sangat berisik, tapi mereka tidak melihat. Hanya ada satu pria yang melihatnya, tapi menatap datar tanpa mengikuti mereka yang berteriak. Gadis yang dipanggil Queen terdiam merasa pusing. "Bukannya gue udah mati karena terjun ke jurang, apa ini neraka?" Ya, dia adalah Ratu yang memasuki tubuh gadis sekolahan bernama Shaqueena Moonstone. Dengan perlahan, Ratu berdiri dari tidur terlentangnya, lagi-lagi mereka berteriak heboh ketakutan dan mengira Ratu adalah hantu gentayangan. “Aaaaaaaaaaaaaaa!” “Hantu!!!!” Mereka berlarian kesana-kemari berusaha menjauh darinya. Ratu tidak memperdulikan, ia malah mengusap kening yang terasa sakit, ternyata darah yang terus keluar. "Beneran di neraka, ya?" gumam Ratu lagi. Kepalanya kembali terasa sakit, banyak ingatan asing yang datang. Di saat orang lain berlarian, ada seorang gadis datang menghampiri, yang tadi berteriak dan mengaku sahabatnya. Bahkan, ada segerombolan pria yang hanya melihat saja, tanpa melakukan apapun. "Queen, lo gapapa?" tanya gadis itu dengan wajah yang dipenuhi air mata. Ratu menatap gadis itu dengan senyum sinisnya. "Benar-benar konyol," cibirnya. Tidak menyangka ia memasuki novel yang berjudul 'Anjani', novel buatan ibunya sendiri. "Ratu antagonis menjadi Queen antagonis, sungguh menarik sekali." Setelah mengatakan itu Ratu kembali tidak sadarkan diri. Di alam bawah sadarnya, tiba-tiba ada sebuah robot yang melambai padanya. "Hai, Ratu Azzura, selamat datang di dunia Fiksi." Sapa robot itu ceria, sedangkan Ratu menatapnya datar.Ala terdiam memikirkan sesuatu, lalu tatapannya melihat kekasihnya yang juga sedang menatapnya polos. 'Apakah sayangnya aku yang melakukannya? Jika iya, maka gadisku sangat menyeramkan' batin Ala. "Apa?" Queen yakin Ala sudah tahu siapa yang meledakkan markasnya Ricard. Ya, ia yang melakukan itu. "Nggak perlu memikirkan itu, jika memang Ricard memiliki musuh itu jauh lebih bagus. Satu hal yang harus kamu lakukan Anne, lindungi orang yang meledakkan bom itu," sahut Ala dengan tatapan mata mengarah ke arah gadisnya, membuat Queen memalingkan wajah. Berbeda dengan Anne yang kebingungan. "Master, saya saja nggak tahu siapa orangnya. Bagaimana saya bisa melindunginya?" "Ck, lo kan kerja sama kakak gue, masa gitu aja nggak tahu," sahut Atarik. Anne menatap suaminya tajam, membuat Atarik menelan ludahnya gugup. Baru pertama kali sang istri berani menatap dia dengan tatapan seperti itu, dan membuat dia merasa tidak nyaman dan tidak suka juga. "Lo juga orang terdekatnya, apa lo juga tahu
Queen menelan ludahnya sendiri karena tatapan wanita paruh baya di depannya seperti sedang menilainya, entah kenapa ia lebih suka mengerjakan misi yang diberikan Daddy kandungnya daripada berada di situasi seperti ini. Ia grogi dan canggung guys!! Saat wanita paruh baya mengangkat tangannya spontan Queen memundurkan kepalanya sambil memejamkan mata karena berpikir ia akan ditampar, Queen tidak merasakan apapun di pipinya dan yang ia rasakan adalah elusan di kepalanya. Queen membuka mata, dan sedikit terkejut karena wanita itu tersenyum padanya, hatinya sedikit lega. "Cantik. Kamu tenang saja, Nak. Tante tidak memakan orang," ujar Ainsley lembut sedangkan wajah Queen merona ketahuan grogi. Hahahaha Ala yang memang duduk di samping kekasihnya tidak kuat menahan tawa melihat Queen yang berubah menjadi gadis kalem di depan ibunya, biasanya gadisnya berwajah dingin kepada orang baru. Tapi lihatlah sekarang, apa-apaan wajah merahnya itu, membuat Ala menggigit bibirnya merasa gemas deng
Queen menatap Ala sinis, keduanya berada di jet pribadi milik Ala entah mau kemana Queen tidak tahu. "Sayang," panggil Ala, tapi Queen sama sekali tidak melihatnya. Ia lebih memilih melihat jendela yang memperlihatkan langit yang gelap gulita. Ala kira keduanya sudah baikan karena tadi pelukan, taunya kekasihnya masih merajuk padanya. "Sayang, aku minta maaf," ujar Ala lagi dengan suara manja, lagi-lagi Queen tidak memperdulikannya. Ala yang tahu kekasihnya marah mendekatinya, bahkan tangannya menarik-narik baju bagian bawah Queen seperti anak kecil, Queen memejamkan mata berusaha tidak peduli dengan sifat manja Ala padanya. "Sayang, aku sungguh minta maaf. Tolong jangan diamkan aku, aku akan jelaskan semuanya sama kamu. Oke?" lirih Ala. Bukannya merespon, Queen berdiri menuju kamar. Jet pribadi milik Ala memang sangat lengkap dan juga mewah, Ala yang tahu kekasihnya masih marah mengikuti Queen seperti anak kecil mengikuti ibunya. "Sayang, jangan diamkan aku. Aku nggak bisa kamu g
Setelah kepergian keduanya, lampu menyala kembali dan Ricard terkejut melihat Ala yang tidak berada di sampingnya. "Alaric, di mana kamu?" tanya Ricard tetap tenang, tapi wajahnya tidak enak dipandang. Orang-orang yang datang di sana berteriak heboh mengetahui prianya kabur, tapi melihat tuan rumah yang terlihat marah membuat mereka semua terdiam. "ALARIC!" teriak Ricard dengan mata menatap tajam ke sekelilingnya guna mencari Ala yang Ricard yakini tidak akan kabur karena Atarik masih berada di genggamannya. Ricard melepaskan topeng ibunya Ala dan juga Anne, tapi ternyata bukan mereka berdua membuat Ricard marah dan tangannya mengepal erat. Tiba-tiba ada satu bodyguard yang datang membisikkan sesuatu kepada Ricard membuat wajahnya semakin tidak enak dipandang. "Tuan besar, Tuan Muda sudah melarikan diri." Itulah yang bodyguard bisikan, saat Ricard ingin pergi bunyi ponselnya berdering dan dia mengangkat panggilan itu.
Sepanjang jalan menuju kelas, Queen termenung memikirkan pria yang katanya bernama Ala. Setelah mengatakan namanya, pria itu lagi-lagi meninggalkannya. Saat melewati lapangan ternyata di sana masih ada Zayn dkk, tapi tidak ada Anjani dan juga Atarik. Melihat sekeliling lapangan, ia tidak menemuka
Queen berjalan cepat menuju kelas 12A. Di belakangnya, Jenni mengikuti sahabatnya sambil ngos-ngosan karena Queen terlalu cepat berjalan. "Queen, tungguin!" seru Jenni, lagian sahabatnya itu mau kemana sih. "Queen, lo mau kemana sih!" Queen tidak mengg
Malam harinya, Queen dan Frederick sedang makan malam. Hanya berdua saja karena Frederick tidak mempunyai anak lagi selain Queen. "Gimana sekolahnya, princess?" tanya Frederick. Queen terkejut mendapatkan pertanyaan saat sedang makan. Di dunianya dulu, i
"Mau pesen apa, Queen?" tanya Jenni. "Batagor aja," sahut Queen santai. Jenni mengerutkan keningnya tidak mengerti. "Batagor itu apa Queen, apa sejenis makanan yang terbuat dari bata?" tanya Jenni polos tapi minta di tampol, sekarang Queen yang melihat Jenni aneh. "Kalo pun iya, lo mau makan?" t
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews