LOGIN“Kriett… kriett… kriett…” "Hah... hah... hah.. " Suara derit ranjang disertai napas berat itu selalu terdengar setiap tengah malam, membuat Nayra tak bisa memejamkan mata. Baru beberapa hari menempati kontrakan tua di gang sempit itu, Nayra sudah dibuat gelisah oleh suara aneh dari kamar sebelah. Awalnya dia berusaha tidak peduli. Namun ucapan para tetangga terus terngiang di kepalanya, penghuni kamar di sebelahnya adalah seorang duda muda yang tinggal sendirian. Sejak saat itu, rasa penasaran Nayra semakin menjadi-jadi. Sebenarnya… apa yang dilakukan pria itu setiap malam? Dan kenapa suara dari kamarnya selalu terdengar begitu berisik?
View MoreKrieeet... krieeet...
"Eughhh!" "Sshhhh..." Mata Nayra langsung terbuka lebar, menatap lurus ke langit-langit kamar yang temaram. Dalam sekejap, rasa kantuk yang tadinya menggelayuti kelopak matanya menguap tanpa bekas. Tubuhnya menegang di balik selimut tipis. Jantungnya mulai bertalu cepat, bukan karena takut oleh makhluk halus, melainkan karena rasa penasaran yang membuncah hingga ke ubun-ubun. Ini bukan kali pertama, kedua atau ketiga. Ini sudah yang kesekian kalinya. Sudah dua tahun Nayra menghuni kosan dua lantai ini, dan selama itu pula hidupnya tenang-tenang saja. Namun, segalanya berubah sejak sebulan lalu, tepat ketika kamar di sebelah ujung koridor itu akhirnya terisi. Sejak malam itu, tidur nyenyak menjadi barang mewah yang mustahil ia dapatkan. Setiap jarum jam bergeser melewati tengah malam, saat sebelah kamarnya pulang kerja, suara-suara aneh itu selalu datang memecah keheningan. Maklum saja, bangunan ini bukan kosan elit berfasilitas mewah. Tempat ini sudah cukup tua, peninggalan era lawas yang hanya mendapat renovasi seadanya. Walaupun dinding pembatas antar kamar terbuat dari bata, ketebalannya sangat minim dan sama sekali tidak kedap suara. "Dia ngapain sih, ya Allah... Aku capek, pengen tidur!" rengek Nayra dalam hati. Ia membalikkan tubuhnya menghadap dinding, lalu menutup kedua telinganya rapat-rapat dengan bantal. Saking kesalnya, ia rasanya ingin menggedor dinding itu keras-keras. Pikiran untuk mengungsi mulai berputar di kepalanya. "Apa iya aku pindah aja ya ke lantai dua? Mumpung kamar yang di atas ada yang kosong? Tapi... ah, kesal banget! Aku 'kan yang lebih dulu tinggal di sini!" batinnya merutuk, tidak terima jika harus repot-repot pindah barang hanya karena tetangga baru. "Shhh... pelan-pelan. Jangan buru-buru!" Suara serak dan berat itu kembali terdengar, begitu dekat hingga membuat bulu kuduk Nayra meremang. Dahi Nayra berkerut dalam di kegelapan kamar. Ia menahan napas, mencoba mencerna setiap artikulasi suara yang barusan lolos dari balik dinding. Suara itu terdengar penuh tekanan, samar-samar diselingi derit ranjang kayu yang beritme konstan. ** Pagi harinya, dunia terasa berputar lebih cepat bagi Nayra. ia merasa seolah baru saja memejamkan mata selama lima menit tapi pagi sudah menyapa. Dengan sisa-sisa tenaga yang ada, ia menyeret tubuhnya bangkit dari kasur tipisnya. Saat berkaca di cermin lemari pakaian, Nayra hanya bisa menghela napas panjang melihat penampilannya sendiri. Sepasang mata panda yang menghitam dan sedikit bengkak menghiasi wajahnya yang pucat. Efek kurang tidur yang terakumulasi selama sebulan terakhir benar-benar mulai mengikis kewarasannya. ‘’Pagi Nayra, tetap semangat! Ingat tabungan kamu masih kurang banyak! Kamu harus sabar dan tetap kuat!’’ Sambil mengalungkan handuk bermotif bunga di leher dan menenteng sebuah keranjang plastik berisi sabun serta sampo, Nayra membuka pintu kamar. Langkah kakinya gontai, bersiap untuk mengantre di depan kamar mandi umum yang terletak di ujung koridor lantai satu. "Lesu amat Nay, abis begadang?’’ Sebuah suara nyaring yang khas menyapa pendengarannya. Nayra menoleh dan mendapati Mbak Dewi, penghuni kamar tepat di depan kamarnya sedang berdiri di ambang pintu sambil mengoleskan krim malam yang terlambat atau mungkin krim pagi yang terlalu tebal. "Biasa, Mbak," jawab Nayra pelan, nyaris berbisik. Suaranya serak, khas orang yang kekurangan istirahat. Mbak Dewi menggeleng-gelengkan kepala dengan raut wajah penuh simpati yang dibuat-buat. "Kamu itu masih muda, Nay. Jangan terlalu memforsir diri kamu dengan kerjaan atau nonton drama sampai subuh. Tubuh itu butuh istirahat, jangan begadang terus. Nanti cepat tua kayak Mbak, loh." Nayra hanya membalas dengan senyuman kecut yang dipaksakan. 'Aku juga pengen tidur nyenyak tiap malam, Mbak! Tapi gimana bisa kalau tetangga baru kita itu selalu bikin konser suara aneh tiap jam dua subuh?' jerit Nayra dalam hati. Tentu saja, ia tidak punya keberanian untuk menyuarakan kalimat itu dengan lantang. Ia terlalu gengsi, dan sejujurnya, terlalu malu untuk membahas suara-suara sensitif seperti itu di lorong kosan. Cklek. Pembicaraan mereka terputus saat pintu kamar mandi umum di ujung koridor terbuka. Uap air yang hangat dan aroma sabun antiseptik menyeruak keluar, membawa kesegaran yang kontras dengan udara koridor yang pengap. Sosok yang keluar dari sana seolah-olah membawa gravitasi sendiri, membuat suasana di lorong sempit itu mendadak terasa sesak dan intim. Seorang laki-laki muncul. Nayra terpaku di tempatnya berdiri. Laki-laki itu tinggi, kulitnya putih bersih, setipe dengan orang-orang yang menghabiskan lebih banyak waktu di dalam ruangan daripada di bawah terik matahari. Kaos putih polos yang basah di beberapa bagian melekat pas di tubuhnya yang tegap, mencetak jelas bidang dadanya yang kokoh. Celana pendek selutut yang dipakainya memperlihatkan tungkai kaki yang kuat. Rambutnya yang hitam legam masih basah kuyup, butiran air jatuh satu per satu ke handuk yang tersampir di pundak lebarnya yang bidang. Di tangan kanannya, ia menenteng sebuah gayung plastik berisi perlengkapan mandi sederhana, sebuah pemandangan yang seharusnya biasa saja, namun di mata Nayra, pria ini tampak seperti aktor film yang salah masuk set ke kontrakan kumuh. Ada kesan dingin yang terpancar dari wajahnya yang simetris, rahang yang tegas, hidung mancung, dan sepasang mata yang seolah bisa menembus apa pun yang ia lihat. Namun, sekaligus ada daya tarik misterius yang membuat siapa pun sulit untuk memalingkan wajah. "Halo Mas Arga, good morning? Segar banget tampaknya pagi ini," sapa Mbak Dewi dengan nada centilnya. Dalam sekejap, suara-suara yang didengarnya semalam kembali terngiang di kepala Nayra dengan resolusi tinggi. Suara derit kayu yang ritmis dan lenguhan berat seolah diputar kembali dengan volume maksimal tepat di telinganya. Tatapan Nayra tanpa sengaja turun ke arah tangan Arga yang memegang gayung. Tangan itu terlihat kuat dengan urat-urat yang menonjol di punggung tangannya. Bayangan tentang apa yang dilakukan tangan itu semalam membuat wajah Nayra mendadak memanas, merah padam hingga ke ujung telinga.Bagai disengat aliran listrik bertegangan tinggi, tubuh Nayra seketika menegang sempurna saat di tunjuk pacar oleh duda sebelah kamarnya.Jantungnya berdegup sangat kencang, memukul-mukul rongga dadanya dengan ritme yang berantakan hingga ia hampir lupa bagaimana cara bernapas. Kantong plastik di genggamannya berkerisik pelan karena jarinya yang mendadak gemetar.Nayra yang menjadi pusat perhatian mendadak linglung. Dengan gerakan kaku, ia menolehkan kepalanya ke arah kanan, lalu ke arah kiri, mencoba mencari tahu apakah ada orang lain yang berdiri di dekatnya yang mungkin menjadi objek tunjukan Arga. Namun nihil. Tidak ada siapa-siapa di radius satu meter di sampingnya. Di belakangnya, hanya ada Mbak Dewi yang sedang asyik mengobrol setengah berbisik dengan Bu Ratmi, sang pemilik kosan, yang baru saja turun dari lantai dua."Sayang, kamu sudah pulang?"Suara Arga mendadak berubah drastis. Nada dingin dan menggelegar yang ia gunakan untuk mengusir Shila beberapa detik lalu lenyap
Matahari sore baru saja terbenam ketika Nayra melangkah keluar dari area Mall Sentra.Shift kerjanya di butik tas mewah terasa berjalan lebih cepat hari ini, atau mungkin pikirannya saja yang terlalu terbagi sehingga tidak fokus pada waktu. Sepanjang hari, bayangan wajah lebam Arga dan rasa bersalah yang menggunung terus membayangi benaknya.Sebelum memesan ojek online untuk pulang, Nayra menyempatkan diri mampir ke sebuah rumah makan di dekat mall untuk membeli satu porsi makanan hangat. Tidak lupa, ia juga singgah ke toko buah terdekat, memilih satu kantong plastik berisi buah jeruk dan apel segar. Ia berpikir, orang yang sedang memulihkan diri dari luka fisik pasti membutuhkan asupan nutrisi yang baik. Setidaknya, ini adalah cara terbaik bagi Nayra untuk menebus prasangka buruknya semalam.Namun, harapan Nayra untuk bisa menjenguk tetangganya dengan tenang seketika pupus begitu ia melangkah masuk ke koridor lantai satu kosan tua itu. Suasana lorong yang biasanya sepi di jam-ja
Mbak Dewi justru terkekeh pelan melihat ekspresi panik Nayra yang berlebihan. "Bercanda, Nay, bercanda. Biar kamunya gak tegang. Makanya ini kita bangunin dia, kita pastikan sendiri kondisi dia gimana.’’‘’ Mas Arga... Mas!"Tok, tok, tok!Baru saja Mbak Dewi mengangkat tangannya untuk mengetuk kembali, terdengar suara gerendel pintu yang digeser perlahan dari dalam. Bunyi klik kunci yang berputar membuat kedua wanita itu refleks menahan napas dan mundur satu langkah. Pintu kayu yang catnya sudah agak mengelupas itu perlahan-lahan terbuka ke dalam.Begitu celah pintu melebar, Nayra seketika terpaku di tempatnya berdiri. Napasnya seolah tertahan di tenggorokan. Kondisi Arga yang berdiri di ambang pintu benar-benar jauh lebih parah dari apa yang ia bayangkan sebelumnya lewat cerita Mbak Dewi.Sudut bibir kiri pria itu pecah dan dilapisi bercak darah kering yang menghitam. Tulang pipi sebelah kanannya tampak membiru keunguan akibat hantaman benda tumpul yang keras. Tidak hanya di w
JEDUARRR!Bagai disambar petir di siang bolong, jantung Nayra mendadak mencos. Kalimat Mbak Dewi barusan terasa seperti hantaman keras yang meruntuhkan semua asumsi liar dan pikiran kotor yang bersarang di kepalanya sejak semalam.‘’Di keroyok?" beo Nayra, suaranya mendadak tercekat di tenggorokan. "Kok... kok Mbak Dewi bisa tahu? Mas Arga berantem sama siapa?"Mbak Dewi mengembuskan napas panjang, mencoba menenangkan diri sebelum bercerita. "Aku juga gak tahu gimana cerita aslinya, Nay. Cuma semalam tuh, kan, aku lagi di room sebelah, lagi sibuk melayani tamu yang pesan minum."Mbak Dewi menjeda kalimatnya sebentar, menoleh ke kanan dan ke kiri seolah memastikan tidak ada penghuni kos lain yang menguping pembicaraan sensitif ini."Tiba-tiba, VIP room yang di sebelah tempatku itu rame banget, berisik suara botol pecah sama kursi digeser kasar," lanjut Mbak Dewi dengan mata melebar, menggambarkan ketegangan malam itu. "Kami semua yang di luar, anak-anak kasir sama waitress langsung
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.