Suara Aneh dari Kamar Mas Duda

Suara Aneh dari Kamar Mas Duda

last updateLast Updated : 2026-05-31
By:  Mommy_ArUpdated just now
Language: Bahasa_indonesia
goodnovel18goodnovel
Not enough ratings
9Chapters
18views
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

“Kriett… kriett… kriett…” "Hah... hah... hah.. " Suara derit ranjang disertai napas berat itu selalu terdengar setiap tengah malam, membuat Nayra tak bisa memejamkan mata. Baru beberapa hari menempati kontrakan tua di gang sempit itu, Nayra sudah dibuat gelisah oleh suara aneh dari kamar sebelah. Awalnya dia berusaha tidak peduli. Namun ucapan para tetangga terus terngiang di kepalanya, penghuni kamar di sebelahnya adalah seorang duda muda yang tinggal sendirian. Sejak saat itu, rasa penasaran Nayra semakin menjadi-jadi. Sebenarnya… apa yang dilakukan pria itu setiap malam? Dan kenapa suara dari kamarnya selalu terdengar begitu berisik?

View More

Chapter 1

Suara aneh

Krieeet... krieeet...

"Eughhh!"

"Sshhhh..."

Mata Nayra langsung terbuka lebar, menatap lurus ke langit-langit kamar yang temaram.

Dalam sekejap, rasa kantuk yang tadinya menggelayuti kelopak matanya menguap tanpa bekas.

Tubuhnya menegang di balik selimut tipis.

Jantungnya mulai bertalu cepat, bukan karena takut oleh makhluk halus, melainkan karena rasa penasaran yang membuncah hingga ke ubun-ubun.

Ini bukan kali pertama, kedua atau ketiga. Ini sudah yang kesekian kalinya.

Sudah dua tahun Nayra menghuni kosan dua lantai ini, dan selama itu pula hidupnya tenang-tenang saja.

Namun, segalanya berubah sejak sebulan lalu, tepat ketika kamar di sebelah ujung koridor itu akhirnya terisi. Sejak malam itu, tidur nyenyak menjadi barang mewah yang mustahil ia dapatkan.

Setiap jarum jam bergeser melewati tengah malam, saat sebelah kamarnya pulang kerja, suara-suara aneh itu selalu datang memecah keheningan.

Maklum saja, bangunan ini bukan kosan elit berfasilitas mewah. Tempat ini sudah cukup tua, peninggalan era lawas yang hanya mendapat renovasi seadanya.

Walaupun dinding pembatas antar kamar terbuat dari bata, ketebalannya sangat minim dan sama sekali tidak kedap suara.

"Dia ngapain sih, ya Allah... Aku capek, pengen tidur!" rengek Nayra dalam hati.

Ia membalikkan tubuhnya menghadap dinding, lalu menutup kedua telinganya rapat-rapat dengan bantal.

Saking kesalnya, ia rasanya ingin menggedor dinding itu keras-keras.

Pikiran untuk mengungsi mulai berputar di kepalanya. "Apa iya aku pindah aja ya ke lantai dua? Mumpung kamar yang di atas ada yang kosong? Tapi... ah, kesal banget! Aku 'kan yang lebih dulu tinggal di sini!" batinnya merutuk, tidak terima jika harus repot-repot pindah barang hanya karena tetangga baru.

"Shhh... pelan-pelan. Jangan buru-buru!"

Suara serak dan berat itu kembali terdengar, begitu dekat hingga membuat bulu kuduk Nayra meremang.

Dahi Nayra berkerut dalam di kegelapan kamar.

Ia menahan napas, mencoba mencerna setiap artikulasi suara yang barusan lolos dari balik dinding.

Suara itu terdengar penuh tekanan, samar-samar diselingi derit ranjang kayu yang beritme konstan.

**

Pagi harinya, dunia terasa berputar lebih cepat bagi Nayra. ia merasa seolah baru saja memejamkan mata selama lima menit tapi pagi sudah menyapa.

Dengan sisa-sisa tenaga yang ada, ia menyeret tubuhnya bangkit dari kasur tipisnya.

Saat berkaca di cermin lemari pakaian, Nayra hanya bisa menghela napas panjang melihat penampilannya sendiri.

Sepasang mata panda yang menghitam dan sedikit bengkak menghiasi wajahnya yang pucat.

Efek kurang tidur yang terakumulasi selama sebulan terakhir benar-benar mulai mengikis kewarasannya.

‘’Pagi Nayra, tetap semangat! Ingat tabungan kamu masih kurang banyak! Kamu harus sabar dan tetap kuat!’’

Sambil mengalungkan handuk bermotif bunga di leher dan menenteng sebuah keranjang plastik berisi sabun serta sampo, Nayra membuka pintu kamar.

Langkah kakinya gontai, bersiap untuk mengantre di depan kamar mandi umum yang terletak di ujung koridor lantai satu.

"Lesu amat Nay, abis begadang?’’

Sebuah suara nyaring yang khas menyapa pendengarannya.

Nayra menoleh dan mendapati Mbak Dewi, penghuni kamar tepat di depan kamarnya sedang berdiri di ambang pintu sambil mengoleskan krim malam yang terlambat atau mungkin krim pagi yang terlalu tebal.

"Biasa, Mbak," jawab Nayra pelan, nyaris berbisik.

Suaranya serak, khas orang yang kekurangan istirahat.

Mbak Dewi menggeleng-gelengkan kepala dengan raut wajah penuh simpati yang dibuat-buat.

"Kamu itu masih muda, Nay. Jangan terlalu memforsir diri kamu dengan kerjaan atau nonton drama sampai subuh. Tubuh itu butuh istirahat, jangan begadang terus. Nanti cepat tua kayak Mbak, loh."

Nayra hanya membalas dengan senyuman kecut yang dipaksakan.

'Aku juga pengen tidur nyenyak tiap malam, Mbak! Tapi gimana bisa kalau tetangga baru kita itu selalu bikin konser suara aneh tiap jam dua subuh?'

jerit Nayra dalam hati. Tentu saja, ia tidak punya keberanian untuk menyuarakan kalimat itu dengan lantang.

Ia terlalu gengsi, dan sejujurnya, terlalu malu untuk membahas suara-suara sensitif seperti itu di lorong kosan.

Cklek.

Pembicaraan mereka terputus saat pintu kamar mandi umum di ujung koridor terbuka.

Uap air yang hangat dan aroma sabun antiseptik menyeruak keluar, membawa kesegaran yang kontras dengan udara koridor yang pengap.

Sosok yang keluar dari sana seolah-olah membawa gravitasi sendiri, membuat suasana di lorong sempit itu mendadak terasa sesak dan intim.

Seorang laki-laki muncul.

Nayra terpaku di tempatnya berdiri. Laki-laki itu tinggi, kulitnya putih bersih, setipe dengan orang-orang yang menghabiskan lebih banyak waktu di dalam ruangan daripada di bawah terik matahari.

Kaos putih polos yang basah di beberapa bagian melekat pas di tubuhnya yang tegap, mencetak jelas bidang dadanya yang kokoh.

Celana pendek selutut yang dipakainya memperlihatkan tungkai kaki yang kuat.

Rambutnya yang hitam legam masih basah kuyup, butiran air jatuh satu per satu ke handuk yang tersampir di pundak lebarnya yang bidang.

Di tangan kanannya, ia menenteng sebuah gayung plastik berisi perlengkapan mandi sederhana, sebuah pemandangan yang seharusnya biasa saja, namun di mata Nayra, pria ini tampak seperti aktor film yang salah masuk set ke kontrakan kumuh.

Ada kesan dingin yang terpancar dari wajahnya yang simetris, rahang yang tegas, hidung mancung, dan sepasang mata yang seolah bisa menembus apa pun yang ia lihat.

Namun, sekaligus ada daya tarik misterius yang membuat siapa pun sulit untuk memalingkan wajah.

"Halo Mas Arga, good morning? Segar banget tampaknya pagi ini," sapa Mbak Dewi dengan nada centilnya.

Dalam sekejap, suara-suara yang didengarnya semalam kembali terngiang di kepala Nayra dengan resolusi tinggi.

Suara derit kayu yang ritmis dan lenguhan berat seolah diputar kembali dengan volume maksimal tepat di telinganya.

Tatapan Nayra tanpa sengaja turun ke arah tangan Arga yang memegang gayung.

Tangan itu terlihat kuat dengan urat-urat yang menonjol di punggung tangannya.

Bayangan tentang apa yang dilakukan tangan itu semalam membuat wajah Nayra mendadak memanas, merah padam hingga ke ujung telinga.

Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

No Comments
9 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status