LOGINHe slid the divorce papers across the table like I was nothing. Three years of marriage, three years of me thinking he loved me, gone because his first love was back. I walked away pregnant, alone, disappearing from his life without a trace. Years later, I raised my son, I've built my life from scratch, away from him, Until my estranged father dies. Sudden, I'm the heiress to a multi- billion-dollar empire. He learns about it, and now he's sorry, wants me back, and our son, realizing too late what he lost. But I didn't owe him. Not my heart. Not my son. Not my life. Then Maxwell Kingston appears with a deal I can't refuse: a contract to protect my son, secure my empire, and put a claim on me in ways I've never expected. Every look, every word, every touch sets me on fire. Now I'm stuck between the man begging for redemption and the one who already owns me. So who do I choose before everything I've fought so hard for burns to ashes?
View More"Ku–kumohon, jangan sentuh aku! Biarkan aku pergi dari sini!" teriak Elea.
Gadis itu mencoba mendorong Hugo yang sedang menciumi bibir dan lekuk lehernya. Namun sayang, pria tersebut malah semakin merapatkan tubuhnya pada Elea. Celah untuk kabur pun tampaknya hanyalah angan belaka.Aktivitas Elea yang tadinya tenang tanpa gangguan, sekarang malah berubah menjadi petaka. Hal tersebut dikarenakan ada seorang pria–yang tak lain adalah suami Elea sendiri–Damian Hugo d'Cornelius masuk ke kamarnya. Parahnya lagi, pria itu masuk dalam keadaan mabuk."Chloe...," racau Hugo tak jelas.Mendengar sang suami menyebut nama istri pertamanya, mata Elea pun langsung membelalak. Kemudian, dia mulai memukuli bahu pria itu. "Tidak, tidak! Aku bukan Chloe! Aku Elea, orang yang kau benci!" sergah Elea.Sayangnya, Hugo malah menulikan telinganya. Tangan besarnya pun terangkat dan mengelus pelan setiap inci wajah Elea. Rasa geli sekaligus takut langsung menggerayangi tubuh gadis itu.Namun, Elea segera membuang pikiran yang baru saja melintas. Dia juga menepis tangan Hugo yang bertengger di wajahnya. "Lepaskan aku, Berengsek!" sembur Elea tiba-tiba.Kungkungan Hugo mulai mengendur. Elea pun tak mau menyia-nyiakan kesempatan tersebut. Dia langsung mendorong tubuh suaminya ke samping dan hendak berlari kabur.Namun sayang, sebelum kakinya berhasil menapak lantai, tangan Elea langsung dicekal kuat oleh Hugo. Pria itu kembali mengurung tubuh sang istri ke dalam dekapannya dengan kuat. Sampai-sampai, tubuh Elea tidak dapat bergerak ke mana pun.Tatapan Hugo yang semula sayu, kini berubah menggelap. Pikirannya juga bertambah kacau. Tanpa aba-aba, dia pun menempelkan bibirnya ke atas bibir Elea.Gadis itu mulai memberontak lagi. Namun, semakin dia memberontak, Hugo juga semakin erat dalam mendekapnya. Akhirnya, pasrah pun menjadi pilihan satu-satunya saat ini.Setelah beberapa saat, akhirnya ciuman panjang dari Hugo pun terlepas. Elea langsung meraup oksigen sebanyak-banyaknya dan mengatur pernapasannya. Dia mengira bahwa hal ini sudah berakhir. Sayangnya, Hugo malah melakukan hal sebaliknya dan mulai menjamahi tubuh istrinya satu per satu."Jangan lakukan itu...," lirih Elea pelan. Ucapannya itu seakan tidak terdengar di telinga Hugo. Pria itu semakin gencar dalam melakukan aksi tak terpujinya.Malam ini adalah malam yang kelam bagi Elea. Kesucian yang dijaganya selama 19 tahun itu juga sudah rusak. Raga, jiwa, serta hatinya merasakan sakit yang teramat. Sungguh, Elea membenci orang yang sudah membuatnya merasakan semua ini.***"Argh, sial!"Hugo mengumpat saat merasakan sakit kepala yang begitu hebat. Lantas, tatapan pria itu menjadi bingung karena melihat keadaan sekitar. Ini bukanlah kamarnya dengan Chloe.Pria itu refleks menyingkap selimut yang membalut tubuhnya. Dia terkejut karena tak menggunakan sehelai benang pun saat ini. Ditambah lagi, ada noda darah segar di atas seprai.Rasa kalutnya itu bertambah besar saat mendengar ada suara gemericik air di dalam kamar mandi. Dengan segera, Hugo pun berlari ke arah tempat itu dan membuka pintunya dengan paksa. Dia bahkan lupa memakai celananya dan memilih menggunakan selimut saja.Hal pertama yang dilihatnya saat sampai di kamar mandi adalah seorang wanita yang meringkuk di bawah shower tanpa mengenakan apa pun. Hugo langsung berjalan cepat ke arahnya dan mematikan benda tersebut. Akhirnya, airnya pun berhenti turun.Terlihat wajah Elea yang sangat pucat. Wanita itu pingsan dan membuat perasaan aneh masuk ke dalam hati Hugo. Namun, pria itu segera menepis hal tersebut. Egonya masih terlalu tinggi untuk menerimanya.Kemudian, Hugo pun menggendong tubuh sang istri ala bridal style dan membawanya kembali ke ranjang. Pria itu lalu memakaikannya baju dan menggosok telapak tangan Elea agar suhu tubuhnya kembali menghangat. Untung saja cara tersebut berhasil, hingga membuat kesadaran Elea kembali.Setelah netra amber sang istri terbuka, tatapan lembut Hugo berubah menjadi dingin. "Aku tidak sadar karena mabuk kemarin. Aku pikir, aku sudah masuk ke kamarku dan Chloe," terangnya tiba-tiba.Elea ingin sekali meneriakki pria yang ada di hadapannya dan memakinya. Namun, rasa lelah di dalam hatinya membuatnya memilih untuk bungkam. Dia tahu bahwa Hugo tak mungkin mau melakukan itu secara sadar dengannya.Beberapa saat kemudian, seorang pelayan wanita masuk ke dalam kamar Elea. Pelayan tersebut membawa sebuah wadah kotak dan memberikannya pada Hugo. Setelah itu, dia pun pergi dan meninggalkan mereka berdua kembali.Sepeninggal pelayan tadi, Hugo langsung memberikan kotak yang dipegangnya ke hadapan Elea. Wanita itu seketika mengernyitkan dahinya. "Apa ini?" tanyanya pelan.Hugo menghela napasnya kasar. Kemudian, dia melipat tangannya ke depan dada sambil berkata, "Kotak itu berisi pil kontrasepsi untuk kau minum. Aku tidak mau benihku sampai tertanam di rahimmu. Hanya Chloe saja yang bisa, meski rasanya sangat mustahil."Hati Elea langsung berdenyut sakit saat mendengar penuturan tersebut. Dia tahu bahwa hati Hugo sudah terisi dengan sosok Chloe Barbara d'Cornelius–istri pertamanya.Eleanor Spencer hanyalah seorang istri kedua yang tak teranggap. Dia dijadikan bahan pelunas hutang oleh ayahnya sendiri karena kalah judi. Kehidupannya pun bertambah hancur saat dirinya terpaksa menikahi seseorang yang tak dicintainya.Alasan keluarga Cornelius menikahkan Hugo dan Elea adalah untuk mendapatkan penerus. Kebetulan, Chloe dinyatakan tidak bisa mengandung. Hal tersebut tidak dapat diterima oleh keluarga bangsawan sekaligus pemegang perekonomian negara tersebut.Pernikahan paksa yang dilakukan oleh Elea dan Hugo menimbulkan banyak luka di beberapa pihak, khususnya Chloe. Wanita itu jadi sangat membenci sosok Elea. Dia bahkan melakukan beberapa fitnah dan bualan untuk menjatuhkan istri kedua suaminya. Akhirnya, drama yang diciptakannya itu membuat Elea berhasil di benci oleh semua orang.Elea berpikir tidak ada siapa pun yang dapat memercayainya di sini, bahkan suaminya sendiri. Tenaga dan perasaannya juga sudah lelah dalam menghadapi kenyataan yang ada. Alhasil, seluruh perkataan yang dilontarkan padanya, tidak dia jawab.Kebungkaman Elea itu tampaknya mengusik hati seorang Hugo. Tanpa sadar, pria itu mengepalkan tangannya. Dia sangat tidak suka jika perkataannya diabaikan."Dan satu lagi. Jangan sampai Chloe tahu mengenai kejadian kemarin malam," desis Hugo. Matanya menyorot dingin menatap si istri kedua, membuat dada Elea makin terasa sesak, belum lagi karena ucapan Hugo. "Jika dia sampai dengar tentang kejadian semalam, kupastikan kau yang akan membayar, Elea."Floyd's POV The penthouse was quiet when I got home, just the noise of the city through the windows.Kim was curled up on the couch in leggings and an oversized sweater, her laptop open, wine glass half-empty beside her. She looked up when I walked in."You're finally back." She closed her laptop. "Just got home from the gallery an hour ago. How'd the visitation go?"I dropped my keys on the counter. "Bad."She tilted her head. "Bad how?""He wouldn't even look at me." The words tasted bitter. "The second the session ended, he ran to Hailey like I was some kind of monster or something. He didn't look back once."Kim set aside her wine glass. "Well that was expected."I poured myself a scotch, definitely a mistake after the drinks with Mason, and sat beside her. "He wouldn't talk to me," I said finally. "Every time I tried to connect, he'd bring up Maxwell. 'Daddy took me to the museum.' It was so constant it made me sick.""He's five, Floyd. He doesn't understand the situation yet.
Floyd's POV I want to go home to my actual real daddy.Gio's words replayed in my head on a loop, each repetition twisting the knife deeper.My son had looked at me like I was a stranger. Worse than a stranger. A threat.And when Hailey had finally said it was time to leave, Gio had practically thrown himself at her like I was something dangerous he needed to escape from. Five years. I'd missed five years of his life.Five years of first words and first steps and bedtime stories. Five years of scraped knees and birthday parties and learning what made him laugh.And now some other man was reaping the benefits of my DNA while I sat in supervised visits watching my son draw away from me.The way Gio's whole face had lit up when he talked about Kingston. The absolute trust and adoration in his voice.That should've been for me.My phone buzzed. It was Mason.Mason: How'd it go?I stared at the message, not knowing how to answer.Terrible. Horrible. My son thinks I'm nobody while calling
Hailey's POV Gio didn't let go of Maxwell for the rest of the day.The moment we got home from the visitation center, he'd wrapped himself around Max like he was trying to disappear into him. Even now, four hours later, he was still glued to his side."Daddy, can we build the Lego set?" Gio asked for the third time, his voice so small it made my throat tight."We already finished it, buddy. Remember?" Max spoke with patience. "Want to start a new one?""No." Gio shook his head. "I want to build that one again. The castle.""Okay. Let's take it apart and start over."I watched from the kitchen doorway as Maxwell sat on the floor with Gio in his lap, carefully dismantling the castle they'd spent all week building together. My son kept looking up at him every few seconds. Making sure he was still there."Mommy!" Gio's voice pulled me from my thoughts. "Come help us!"I set down my cold coffee and joined them on the floor. Gio immediately shifted between us, one hand on Max's arm, the ot
Gio's POVI knew something was wrong when mommy woke me up extra early on a Saturday. Normally, I got to sleep until the cartoon starts, but today, she was sitting on my bed with that face she made when she was trying to brave but really wasn't. "Good morning, baby. We need to get ready.""For what?" I rubbed my eyes."Remember how I told you about... about someone who wants to meet you?"My tummy got that icky feeling. "The other daddy?"She nodded, and her eyes got all wet. "His name is Floyd. We're going to see him for a little bit today.""But I don't want to." I pulled my teddy closer. "I already have a daddy. Why do I need another one?""It's complicated, sweetheart." She brushed my hair back. "But it's just for two hours. Then you come right back home. I promise."Two hours felt like forever.Daddy was making coffee in the kitchen when we came downstairs. He looked at me, then at Mommy, then back at me."Hey, buddy." He crouched down so we were the same height. "You're gonna
Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.
reviewsMore