Mag-log inLeon and Clara have a problem. They’re both popular. They both get confessed to constantly. And somehow, they both still think romance sounds troublesome. As childhood best friends, their daily lives are filled with teasing, arguments, embarrassing moments, and ruining each other’s peace. Everything stays normal… until Clara jokingly confesses to Leon one afternoon. It was supposed to be a joke. So why can’t he stop thinking about it? Now, between school rumors, awkward realizations, and feelings neither of them fully understands, their once comfortable friendship slowly begins to change. What happens when the person who has always been beside you suddenly becomes someone you can no longer see the same way? Do or not?
view moreYerin Anindya adalah guru BK pindahan Gallaxy High School semenjak beberapa bulan lalu. Selama itu, ia sudah menyaksikan berbagai pelanggaran murid; dari bolos kelas, diam-diam merokok di gudang belakang, kabur dari sekolah, sampai berkelahi.
Hari itu, pengalaman Yerin kembali diuji. Dari laporan seorang siswi, ia mendengar ada perkelahian di sebuah kelas, jadi ia pun bergegas ke sana. “Bastian Miles Jarvis, lagi-lagi kamu!?” seru Yerin begitu melihat dua siswa yang sedang berkelahi. Bastian Miles Jarvis, murid yang paling sering Yerin awasi sejak hari pertama. Reputasinya sudah lebih dulu menyebar: pembuat onar, paling sering melanggar aturan, tapi entah kenapa sekolah tetap mempertahankannya. Merasa tidak baik ocehannya menjadi tontonan satu sekolah, Yerin langsung membawa Bastian dan satu siswa yang berkelahi dengannya ke ruang BK. “Jadi, kenapa kalian bertengkar?” Namun, dua siswa itu tidak menjawab, hanya diam selagi memalingkan wajah ke arah yang berbeda. Tahu tidak akan ada yang bicara, Yerin pun menghela napas kasar. “Baik. Kalau kalian tidak mau menyelesaikan masalah dengan kepala dingin, ibu akan panggil orang tua kalian masing-masing ke sini.” “J-jangan, Bu,” sahut Vando—murid yang bertengkar dengan Bastian—dengan cepat, suaranya terdengar panik. “Kalian berkelahi. Itu pelanggaran berat, orang tua kalian harus tahu,” tegas Yerin. Bastian tiba-tiba berdiri, kursinya bergeser ke belakang dengan berisik. “Kamu mau ke mana, Bastian?” tanya Yerin, menatapnya lurus. “Sudah selesai, ‘kan? Sudah capai kesimpulan. Tidak ada gunanya lagi saya masih di sini,” jawabnya dingin. “Tunggu sebentar.” Yerin berdiri. Tatapannya beralih ke Vando. “Kamu ke UKS sekarang. Lisa akan mengobatimu di sana.” Vando terkejut. Tidak menyangka guru ini tahu tentang pacarnya. Namun, tidak ingin membuang waktu berada di ruangan yang sama dengan Bastian, dia pun langsung pamit dan pergi. Begitu pintu ruangan tertutup, Yerin beralih pada Bastian. “Kamu, kemari,” titahnya, memerintahkan Bastian untuk duduk di sofa samping meja selagi dirinya meraih kotak P3K. “Bilang kalau sakit,” ucap Yerin sambil mulai membersihkan luka di sudut bibir Bastian. Walau lukanya cukup parah, tapi pemuda itu hanya diam bergeming, seperti sudah biasa. Setelah hening sekian lama, akhirnya Yerin buka suara. “Kamu terus berkelahi bukan karena sekadar iseng. Kamu sengaja. Kenapa?” Bastian mendengus, lalu membuang wajah. “Bukan urusan Ibu.” Yerin melirik Bastian sesaat. Pemuda itu tampan, bahkan dengan penampilannya yang urak-urakan. Tidak cuma itu, dia juga adalah pemimpin tim basket, dan bahkan berhasil membawa pulang piagam untuk sekolah. Tidak heran bahkan dengan reputasinya sebagai berandal, banyak murid wanita yang tetap berusaha menarik perhatiannya. “Ibu adalah orang tuamu di sekolah. Pun tidak bisa memberikan solusi, tapi paling tidak Ibu bisa berusaha menjadi tempatmu menumpahkan amarah, bukan?” Bastian tersentak. Dia langsung menatap Yerin dengan alis tertaut. Perempuan ini…. Sadar hampir terbuai, Bastian kemudian mendengus. “Orang tua saya sudah meninggal sejak saya lahir, dan keluarga saya menganggap saya pembawa sial. Kalau Ibu juga tidak mau terkena sial, sebaiknya Ibu jaga jarak dengan saya.” Usai mengatakan itu, Bastian menyadari Yerin sudah selesai mengobati dirinya. Dia pun beranjak dari sofa, lalu berkata, “Karena sudah selesai, saya bisa kembali ke kelas sekarang, ‘kan?” Yerin menatap Bastian, berharap pemuda itu bersedia membuka sedikit hatinya. “Bastian ….” “Terima kasih, permisi.” Lalu, Bastian pun meninggalkan ruang BK tanpa menoleh lagi. Setelah ditinggalkan oleh Bastian, Yerin menghela napas panjang. Namun, kalimat Bastian tadi layaknya petunjuk di gurun. Ternyata, alasan pemuda itu terus melanggar aturan … adalah karena keluarganya tidak ada yang peduli padanya? Karena dia dianggap pembawa sial atas kematian orang tuanya? Yerin menggelengkan kepala, merasa ini sangat konyol. Dia pun gegas berjalan ke mejanya untuk mengecek daftar catatan wali siswa. Terlepas apa yang terjadi dengan keluarga Bastian, tapi Yerin selaku guru BK memiliki tanggung jawab untuk memandu siswanya. Dan saat ini, dia tahu bahwa hanya anggota keluarga Bastian yang bisa memberikan jalan keluar! Demikian, Yerin bertekad untuk menuntaskan masalah ini. Namun, saat melihat nama wali Bastian, Yerin membeku sesaat. Kakak Bastian … ternyata adalah presiden direktur Skyline Corporation. Perusahaan mancanegara yang menguasai hampir sebagian besar ekonomi negara! Alis Yerin tertaut. Tidak heran selama ini tidak ada yang menyentuh Bastian terlepas dari segala pelanggarannya. Ternyata … kakaknya adalah orang yang begitu penting. Antara yakin dan ragu, akhirnya Yerin tetap menekan tombol panggil. Saat panggilan terhubung, Yerin langsung berkata dengan hati-hati, “Halo, dengan Skyline Corporation, saya—” “Dari Gallaxy High School, bukan?” Suara seorang perempuan di seberang dingin dan tegas. “Kalau ini tentang Tuan Bastian, maka Tuan Arsen tidak punya waktu. Permis—” “Tunggu.” Yerin memotong. Matanya menajam. Kalau ini cara bermain pihak keluarga Bastian, maka Yerin juga tidak akan sungkan. “Sampaikan pada kakak Bastian: sekali ini saja, tolong ulurkan tangan untuk adiknya. Datang ke sekolah dan bicara dengan saya apabila dia memang seseorang yang bertanggung jawab,” ucapnya tegas, sebelum kemudian memutus panggilan. Sementara itu, di kantor mewah tersebut, sang sekretaris terperangah, tidak menyangka panggilan telepon itu dimatikan begitu saja. Tepat pada saat tersebut, pintu kantor di dekatnya terbuka. Seorang pria berpostur tegap keluar dari ruang kerjanya. Jas hitamnya rapi, dasinya terikat sempurna. Ia berhenti di depan meja sekretaris. “Siapa tadi?” suaranya dalam, penuh wibawa. “Telepon dari Gallaxy High School, Sir.” Sekretarisnya menunduk sopan. “Anak itu berulah lagi?” tanyanya datar. “Guru perempuan yang menelepon bilang: sekali ini saja, tolong Tuan ulurkan tangan untuk Bastian. Datang ke sekolah dan bicara dengannya apabila … Tuan memang seseorang yang bertanggung jawab.” Pria itu terdiam sejenak. Cahaya lampu kantor memantul di matanya yang tajam. Arseno Jonathan Jarvis—orang-orang memanggilnya Arsen—terdiam dengan tangan di dalam saku. “Sepertinya aku harus datang,” ucapnya membuat sang sekretaris terkejut. Namun, kemudian mata Arsen memancarkan aura dingin mengerikan. “Dari caranya berbicara, kentara bahwa wanita itu sedang menantangku.”A peaceful morning arrives as the students gather in the school's gymnasium. The usually quiet building was now filled with excitement from the students. Conversations echoed across the court while the squeaking of rubber shoes mixed with the bouncing of basketballs and volleyballs warming up for the day's events.Today is not just a normal day, it is their second performance task in PE."Alright everyone! Please settle down," the loud voice of their professor echoed through the gymnasium as he stepped to the center of the court with a microphone in hand. "I have a few announcements before we begin."The students immediately gathered around and sat down in the court. Among the crowd, two pairs of eyes met almost instinctively. Among the boys it was Leon. Across from him, with the girls' volleyball team, was Clara.For a brief moment, the noise around them seemed to fade. Neither of them looked away nor smiled.But the competitive fire in their eyes said more than words ever could. It
Leonel Grey MonteroClara was acting a bit strange. That realization came to me right after we split up our paths. "I've just been tired," That's what she answered earlier, but it seems to be not convincing to me. I can tell if she's really tired and this time she is not. She is really acting weird today."Mom, big bro is here." my little sister, Sunny, called to my mother as I finally got home.Coming out from the kitchen is my mom, greeted me. “Oh there you are, Leon. Actually, can I request a favor from you?”“What is it, Mom? ” "Leon, can you bring this wooden basket back to Celine?" Mom said, handing it to me. "We bumped into each other at the market earlier, and she was kind enough to lend it to me."I accepted the basket with a nod. That Celine was pertaining to Clara's mom."Just how many fruits did you buy this time, Mom?" I asked, raising an eyebrow.She laughed. "A lot. It's always good to keep you and Sunny healthy. Besides, someone has to make sure you two aren't livin
Clarina Rayne Lourencia.Everything had been normal these past few days. Well... almost normal."Uh, you've got a little sauce on your cheek.""There... you kept missing it."For some reason, that moment with Leon kept replaying in my head. I didn't understand why. We've known each other for years. We've spent most of our lives together. He's my best friend, and I'm his.So why was I still thinking about something so small?Every time I remembered the way he casually wiped the sauce from my face, my heart would start acting weird all over again. It didn't make any sense.Leon was Leon. My best friend. Nothing more...right?I buried my face into my pillow and groaned. "Uhh...what's wrong with me?"After spending way too much time thinking about it, I finally finished getting ready for school. As I walked down the hallway toward our classroom, I couldn't stop myself from replaying that moment again."There... you kept missing it."I groaned quietly and shook my head. Seriously, what was
It was Friday morning, and everything had returned to normal as Clara finally returned to school in good health."Clara, you're back!" exclaimed by her classmates as she stepped into the classroom. They welcomed her warmly, expressing their happiness and excitement to see her, even though she had only been absent for a day."She’s really popular, no?" Rosie remarked, casting a glance at the crowd surrounding Clara."Yeah," Leon replied, appearing uninterested as he flipped through a book that he’s reading."Good morning, everyone!" Clara greeted as she took her seat, looking well and energetic once again."Morning," they both responded in unison."I'm glad you're back, Clara," said Rosie, her expression serene as she smiled at her friend."Thank you, Rosie!" Clara replied, returning the smile before turning to Leon. "Hey, did you miss me?""Not a chance," Leon denied, slightly tilting his head in response to her question. But deep down, he was relieved that she was okay.Even during b
"Hey Rosie, I've been curious about your glasses for a while," Clara started the conversation while sitting beside Rosie."These?" Rosie pointed at her glasses. "What about them?""Are they prescription glasses?" Clara asked curiously."What do you think?" Rosie replied with an open response."Can
Clarina Rayne Lourencia."Go Clara, make it for the team!" people cheered me on as we faced off against the other team with just 1 point away for us to seal the victory. The game was intense and we were in a crucial moment, feeling the pressure especially because our opponent was a former represent
Leonel Grey Montero"Leon!" I heard an older woman's voice from the kitchen, sounding like my mom."Yeah?" I replied."Can you pick up your little sister from school before you go?" she asked."Sure, but why me?""I'm kinda busy preparing lunch before she gets back home," she explained, busy as alw
Leonel Grey Montero, a cool and well-known student, was peacefully walking alone in the school hallway until—“Leon!”Someone interrupted his quiet time from behind.“Not again, please,” he mumbled to himself, immediately recognizing the voice and already anticipating the unavoidable disturbance to


















Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.