MasukShanaya berkata dengan ekspresi ragu, "Lokasi penguasa agung sekitar 450 kilometer dari sini. Aku bisa tunjukkan jalan padamu. Demi keamanan, aku sarankan ... kamu pergi sendiri saja. Tinggalkan Nova di sini biar dia nggak terancam bahaya."Tirta tahu Shanaya tidak terlalu percaya dengan kemampuannya, jadi dia langsung menyetujui, "Tentu saja aku nggak keberatan."Shanaya dan Tirta tidak menyangka Nova malah berbicara dengan tegas, "Nggak .... Tetua Shanaya, sekarang aku sudah jadi ... kekasih Tirta. Aku ini calon istrinya. Sekalipun harus mendatangi tempat yang sangat berbahaya, aku tetap mau pergi bersamanya. Kalau terjadi sesuatu pada Tirta, aku nggak ingin hidup lagi."Ucapan Nova membuat Tirta tersentuh.Shanaya menyarankan dengan serius, "Nova, kamu harus pikirkan baik-baik. Jangan main-main dengan nyawa."Nova menyahut dengan yakin, "Tetua Shanaya, aku tahu kamu berniat baik. Tapi, kamu juga tahu sifatku. Setelah aku membuat keputusan, siapa pun nggak bisa membujukku. Bahkan gur
Selesai bicara, air mata Nova mengalir lagi. Tirta ingin menghibur Nova, tetapi sekarang mereka tidak saling mencintai. Jadi, tidak ada gunanya Tirta menghibur Nova. Lebih baik Tirta diam saja.Shanaya menghibur Nova lagi, "Nova, kamu harus menjaga dirimu baik-baik. Ke depannya jalanmu masih panjang. Kalau gurumu tahu di alam baka, dia juga nggak ingin lihat kamu menangis setiap hari."Shanaya yang teringat sesuatu memberi tahu Nova tentang kehidupan Nayara sebelumnya di dunia fana, "Oh iya. Sebelum Tetua Nayara datang ke Sekte Hala, dia itu istri seorang pedagang di dunia fana. Dia juga punya seorang putra. Waktu bertahun-tahun sudah berlalu, kalau keturunan Tetua Nayara masih hidup, mungkin kamu bisa menjaga mereka.""Sebelum meninggal, Tetua Nayara sering diam-diam menceritakan masalah ini padaku. Dia sangat menyesal nggak bisa melihat putranya tumbuh sehat, lalu menikah dan punya anak. Dia juga nggak bisa memenuhi tanggung jawabnya sebagai seorang istri," lanjut Shanaya.Shanaya me
Krek! Pria licik itu mengepalkan tangannya. Kekuatan spiritual yang pekat bersirkulasi di antara jari-jari tangannya.Akhirnya, pria itu perlahan membuka kepalan tangannya dan tertawa sinis. Dia berkata, "Memangnya kenapa kalau kalian merasa nggak rela? Kultivasi kalian memang nggak dibatasi di istana ini, tapi kalian tetap nggak mampu membunuhku."Pria itu meneruskan, "Kalian harus tunduk padaku dan kenyataan ini nggak bisa diubah lagi. Cepat atau lambat, aku akan membuat kalian melayaniku dengan sukarela. Seperti orang-orang sebelumnya. Cepat pergi!"Pria licik itu adalah penguasa agung. Dia memang terlihat muda, tetapi sebenarnya dia sudah berusia 2 ribu tahun lebih. Kultivasinya masih belum mencapai tingkat pemurnian dewa.Di dunia awani, bisa dibilang bakat pria itu sangat buruk. Dia hanya mengandalkan statusnya yang tidak biasa. Itulah sebabnya dia bisa bertindak semena-mena.Terdapat banyak kamar di dalam istana yang disiapkan untuk para wanita itu. Saat mereka yang lemah hendak
Awalnya mereka tidak menemukan keberadaan anjing hitam. Tiba-tiba, anjing hitam bersin dua kali dan mengomel, "Sialan, bisa-bisanya pemuda berengsek itu diam-diam menjelek-jelekkanku pada saat-saat seperti ini! Kalau aku bertemu dengannya, aku pasti nggak akan melepaskannya!"Saat anjing hitam menutup mulut dan hidungnya, belasan murid itu menemukan keberadaannya. Semua murid itu menaiki Pedang Terbang untuk buru-buru menghampiri anjing hitam. Mereka berseru."Berhenti!""Siapa yang cari mati? Beraninya kamu mencuri obat spiritual Sekte Gemintang!""Huh! Ternyata anjing liar yang datang karena tertarik dengan aroma obat!""Tapi, anjing hitam ini gemuk dan kekar. Kalau kita tangkap anjing ini dan memanggang dagingnya, rasanya pasti sangat puas!"Setelah melihat jelas tampang anjing hitam, mereka tertawa. Semuanya tidak menganggap anjing hitam sebagai musuh besar.Anjing hitam meraung dan marah-marah, "Kalian mau makan dagingku? Nyali kalian besar sekali! Hari ini, aku akan merebut semua
Shanaya yang berada di belakang tidak bisa berkutik, tetapi dia tetap bisa berbicara dengan tegas, "Benar. Aku nggak peduli dengan identitasmu aslimu dan tujuanmu. Kalau kamu berani mengecewakan Nova, aku ... juga nggak akan melepaskanmu biarpun harus bertarung mati-matian denganmu!""Tetua Shanaya, kamu tenang saja. Aku memang bukan orang baik, tapi aku selalu menepati janjiku pada wanita. Kalau aku mengecewakan Nova, aku pasti akan dihukum Tuhan!" balas Tirta. Dia mengulurkan tangannya dan bersumpah.Selain itu, Tirta juga membuka segel di tubuh Shanaya dan Nova."Oke. Kalau begitu, mulai sekarang aku sudah jadi kekasihmu. Aku percaya padamu ...," kata Nova sambil memandangi Tirta.Sepertinya Nova ingin melihat Tirta berbohong atau tidak, tetapi Tirta sama sekali tidak menghindar. Tirta juga tidak mundur atau merasa bersalah. Dia tidak takut sedikit pun."Kalau begitu, kita makamkan Tetua Nayara," usul Tirta. Dia tersenyum, lalu tiba-tiba teringat sesuatu. Tirta melanjutkan, "Tunggu
Rafif adalah seorang pemimpin sekte, tetapi malah diremehkan Tirta. Dia merasa dipermalukan. Rafif menunjukkan ekspresi geram. Namun, dia hanya bisa berteriak dengan perasaan tidak berdaya, "Pesan terakhir .... Hei, jangan terlalu sombong! Aku lebih baik bunuh diri daripada dibunuh olehmu! Kamu akan mati bersamaku!"Kemudian, Rafif mengerahkan kekuatannya secara paksa untuk menghancurkan jiwa dan pusat energinya.Bam! Cahaya yang menyilaukan terpancar bagaikan matahari kecil yang meledak. Kekuatan yang dipancarkannya sangat mengerikan seperti hendak menghancurkan segala sesuatu dalam jarak ratusan kilometer.Kekuatan ini tidak boleh diremehkan. Bukan hanya bisa membuat orang terluka parah, bahkan bisa melukai jiwa orang. Jika Tirta tidak beruntung, mungkin dia benar-benar akan mati bersama Rafif.Jika Tirta membiarkan kekuatan ini terus menyebar, Shanaya dan Nova juga akan mati. Namun, Tirta tidak khawatir. Dia langsung berencana membuka gerbang ketiga dari Teknik Rahasia Delapan Gerb
Senjata nuklir hanya senjata andalan yang terakhir. Erhard sudah menyiapkan trik lain untuk menghadapi Tirta."Oh? Kalau begitu, coba kamu bilang bagaimana caranya kamu membalas Negara Martim. Apa kamu mau menembakkan senjata nuklir ke negara mereka?" tanya Tirta dengan sinis.Kala ini, Tirta tidak
Whoosh! Setelah melontarkan ucapannya, tiba-tiba muncul Pedang Terbang di tangan Tirta. Kemudian, cahaya spiritual berkedip dan langsung memenggal kepala Alec.Srak! Darah Alec menyembur ke wajah Erhard dan lainnya. Kepala Alec jatuh ke tanah.Anggota Keluarga Galen berteriak sambil terus mundur, "S
Begitu Tirta melontarkan ucapannya, Lilian yang berada di pelukan Tirta bertanya dengan ekspresi polos, "Pak Tirta, bagaimana mereka memuaskan satu sama lain di puncak gunung yang tandus ini? Kamu bercanda dengan mereka ya?"Tirta tertawa mesum dan menyahut, "Kamu masih kecil, nggak boleh tahu hal-h
"Cih ...," balas Brianna seraya mencebik. Dia tidak buta. Jika tidak berpikiran kotor, kenapa Tirta berereksi?"Haha ... oke, Pak Tirta. Aku suruh mereka turun sekarang," sahut Faleo. Awalnya dia mengira Tirta akan menolak setelah melihat dia bicara dengan penuh wibawa. Siapa sangka, Tirta malah bic







