LOGIN"Aku memang berniat begitu."Seketika, seekor macan tutul petir memelesat dengan kecepatan yang bahkan lebih dahsyat daripada kilat. Meskipun merupakan makhluk darat, dia mampu berlari dan bergerak bebas di udara.Dia membuka mulut dan memuntahkan rentetan petir yang mampu menembus logam dan menghancurkan batu."Aku juga!"Elang hitam yang sebelumnya menyerang kembali melancarkan serangan. Cakarnya yang tajam dan sebanding dengan senjata pusaka menebas ke arah Tirta.Krak! Krak! Langit dan bumi seakan hancur."Aku juga! Kali ini nggak ada lagi Api Ilahi Vermilion. Aku mau lihat, bagaimana caranya kamu bisa menahan serangan kami!"Rajawali emas juga tak mau kalah. Sekali lagi, dia melancarkan hujan pedang emas yang mengerikan dalam jumlah yang tak terhitung. Wajahnya dipenuhi seringai dingin.Dalam sekejap, ditambah kera iblis yang lebih dulu menyerang, ada empat monster iblis tingkat pencapaian agung tahap akhir.Dari empat arah berbeda, mereka serentak menyerang Tirta. Gelombang aura
'Selain itu, kamu juga nggak bisa menggunakan kekuatan hukum alam seperti orang yang benar-benar berada di tingkat pengguncang langit.' Suara wanita itu kembali terdengar.'Ini sudah cukup. Aku punya cara sendiri untuk mengeluarkan kekuatan tempur yang dahsyat.' Merasakan kekuatan yang bergelora di dalam tubuhnya, Tirta merasakan dorongan kuat untuk menengadah dan meraung.Perasaan menguasai kekuatan yang begitu dahsyat terasa sangat nyata. Ini seolah seluruh langit dan bumi tunduk di bawah kakinya, membuat Tirta merasa sangat percaya diri."Bocah, kamu ketakutan sampai merasa putus asa ya? Kalau kamu masih nggak mengeluarkan senjata andalanmu yang lain, kamu benar-benar akan mati di sini.""Hahaha. Dengan adanya lencana kuno ini, sebagian besar senjata spiritualnya sudah nggak bisa digunakan. Sekarang, satu-satunya yang bisa dia lakukan hanyalah menunggu kematian!"Di seberang sana, puluhan monster iblis itu masih belum menyadari perubahan yang terjadi pada Tirta. Saat ini, mereka sem
Mendengar perkataan itu, Tirta juga merasa kurang yakin.Tirta tentu tahu nyala Api Ilahi Vermilion akan semakin redup setiap kali digunakan. Namun, dia tetap menggunakannya karena sosok manusia berkepala harimau itu memegang sebuah lencana misterius."Tenang saja. Asalkan ada benda ini, dia nggak akan bisa berbuat apa-apa." Bala tertawa terbahak-bahak, lalu mengerahkan energi spiritual yang dahsyat dan menyalurkannya ke dalam lencana kuno itu.Taufik yang mengajarkannya cara mengendalikan lencana kuno itu.Wusss! Seketika, dari dalam lencana kuno itu muncul lingkaran cahaya yang bisa dilihat dengan mata telanjang. Lingkaran cahaya itu menyebar cepat seperti riak air.Saat lingkaran itu mencapai Tirta, Api Ilahi Vermilion yang menyelimuti tubuhnya memang tidak padam, tetapi tertekan hingga kembali masuk ke dalam peta bintang."Benda itu ternyata bisa menekan Api Ilahi Vermilion. Sepertinya, pemilik benda itu memang berada di tingkat yang sama dengan penguasa Istana Batara."Pemandangan
Penglihatan Tirta terasa kabur, seolah ada kekuatan tak kasatmata yang menutupinya."Huh. Jalu, dasar pengkhianat. Kamu malah tunduk pada manusia hina ini. Kalau masih tahu diri, cepat kemari dan tunggu kematianmu. Kalau nggak, jangan salahkan aku yang nggak mengingat hubungan kita. Aku akan menekanmu selama sepuluh ribu tahun, biar kamu mati menderita," teriak rajawali emas dengan suara penuh amarah."Kala, kamu ini benar-benar aib bagi Klan Elang Hitam. Selama puluhan ribu tahun, belum pernah ada kejadian seperti ini di Pegunungan Belantara. Lebih baik kamu bunuh diri saja. Karena sesama klan, aku akan membiarkan mayatmu tetap utuh," kata monster iblis dari Klan Elang Hitam yang juga memarahi Kala dengan perasaan kecewa."Kak, kami sudah mengambil pilihan ini, jadi kami sudah pasti nggak punya jalan untuk kembali.""Kami juga nggak mau selamanya berada di kelompok terbawah di antara para monster iblis.""Pegunungan Belantara begitu luas dan obat spiritual berusia sepuluh ribu tahun a
Saat ini Pegunungan Belantara memang terlihat sangat tenang dan damai. Sama sekali tidak tampak keanehan di sana. Namun, bahkan anak berumur tiga tahun di dunia awani pun tahu bahwa tempat ini merupakan salah satu dari tiga wilayah terlarang yang paling terkenal.Sepuluh ribu tahun yang lalu, pernah ada tiga puluhan ahli tingkat pencapaian agung yang bersama-sama memasuki Pegunungan Belantara. Mereka bersumpah akan merebut kembali tanah spiritual ini untuk umat manusia, tetapi tidak ada satu pun dari mereka yang berhasil kembali hidup-hidup."Aku bisa merasakan aura monster iblis yang bersembunyi. Tirta, berhati-hatilah," kata Tabib Suci sambil maju ke depan, lalu menatap pegunungan tak berujung yang menjulang tinggi di depan mereka dengan ekspresi serius."Aku juga merasakannya. Sepertinya dugaanku benar, mereka memang sedang menunggu kita masuk perangkap," kata Tirta sambil mengernyitkan alis.Di hutan purba yang membentang delapan ratus kilometer di depan Tirta dan yang lainnya, tib
Tirta mulai memberikan janji-janji manis."Baik, sahabatku. Kalau begitu, kita sepakat!" seru anjing hitam besar dengan girang, seolah pada detik berikutnya dia sudah bisa menyantap sepuluh obat spiritual berusia sepuluh ribu tahun.Tak lama kemudian, Tirta langsung membawa anjing hitam besar menuju gua kediaman Suryana karena kemarin Lavanya memasang formasi teleportasi di sana. Tabib Suci dan Afifah juga sudah tiba terlebih dulu dan menunggu di sana."Hitam, Emas, kalian berdua kecilkan tubuh kalian dan ikut masuk ke formasi teleportasi!" teriak Tirta pada dua burung besar di puncak gunung yang jauh."Baik, Tuan!"Setelah mencoba meyakinkan dirinya sendiri semalaman, kini Kala sudah menerima identitas barunya. Dia dan Jalu mengecilkan tubuh mereka hingga hanya sebesar telapak tangan, lalu terbang mendekat."Gila. Bocah, kapan kamu menaklukkan dua monster iblis sekuat ini?" tanya anjing hitam besar yang sangat terkejut setelah melihat kedua monster iblis itu.Sementara itu, Kala dan J






