Anomali Sang Pewaris

Anomali Sang Pewaris

last updateDernière mise à jour : 2026-09-25
Par:  Rjm10Mis à jour à l'instant
Langue: Bahasa_indonesia
goodnovel12goodnovel
Notes insuffisantes
23Chapitres
26Vues
Lire
Bibliothèque

Partager:  

Report
Overview
Catalog
Scanner le code pour lire sur l'application

Sebagai pewaris klan bangsawan sihir terkuat, Kaelen justru membangkitkan kekuatan Anomali berupa energi penelan magis. Dianggap sebagai aib dan dikhianati keluarganya sendiri, ia dilucuti dari gelarnya dan dibuang ke distrik kumuh tanpa hukum. Saat berjuang bertahan hidup dari kejaran pembunuh bayaran, Kaelen menemukan fakta bahwa "kutukannya" adalah satu-satunya senjata rahasia untuk melawan ancaman kuno yang mengintai kekaisaran. Kini, Kaelen harus memilih: membiarkan kekaisaran hancur demi balas dendam, atau menggunakan kutukannya untuk merebut kembali takhtanya.

Voir plus

Chapitre 1

Padamnya Api Suci

Bagi Klan Adiwangsa, api bukan sekadar elemen. Api adalah napas, takhta, dan hukum mutlak.

Selama empat ratus tahun, garis keturunan Adiwangsa telah memerintah wilayah utara Kekaisaran dengan tangan besi yang diselimuti kobaran Api Suci—sihir tingkat tinggi yang konon bisa melelehkan baja hanya dengan satu hembusan napas.

Malam ini, di Aula Kebangkitan yang megah, ribuan lilin berjejer di sepanjang pilar marmer, menerangi ukiran naga api yang merambat di dinding. Udara terasa panas dan sarat akan sihir. Di ujung aula, para Tetua Klan dan bangsawan dari berbagai penjuru duduk dengan tatapan penuh ekspektasi.

Di tengah-tengah semua itu, Kaelen Adiwangsa berdiri dengan punggung tegap.

Mengenakan jubah sutra merah dengan sulaman benang emas, pemuda berusia delapan belas tahun itu tampak sempurna. Ia adalah pewaris tunggal, putra dari mendiang Kepala Klan.

Sejak kecil, Kaelen dididik untuk menjadi senjata yang tak kenal ampun. Ia hafal setiap taktik perang, menguasai ilmu pedang terbaik, dan memiliki kecerdasan yang membuat para tutornya kewalahan.

Hanya satu hal yang tersisa untuk mengesahkan takhtanya: Malam Kebangkitan. Malam di mana inti sihirnya akan diuji melalui Batu Suar, sebuah artefak kuno di tengah altar.

"Kaelen," panggil sebuah suara bariton yang bergema di penjuru aula.

Kaelen menoleh. Di kursi kehormatan yang seharusnya menjadi milik ayah Kaelen, duduklah Paman Varian—pria paruh baya dengan bekas luka bakar di lehernya. Senyum Varian tampak hangat, namun Kaelen selalu bisa melihat ada ambisi dingin di balik mata pria itu.

Selama ayahnya tiada, Varian-lah yang memegang kendali klan sebagai wali.

"Waktumu telah tiba, Keponakanku," ucap Varian, merentangkan tangannya. "Buktikan pada leluhur bahwa darah Adiwangsa mengalir deras di nadimu. Bangkitkan Api Suci, dan pimpinlah klan ini menuju kejayaan."

Gemuruh tepuk tangan memenuhi aula. Kaelen hanya membalasnya dengan anggukan tipis yang tenang. Ia tidak butuh validasi mereka. Ia tahu siapa dirinya.

Kaelen melangkah menaiki tangga pualam menuju altar. Di atas penyangga obsidian, Batu Suar seukuran tengkorak manusia berdenyut dengan cahaya merah redup, seolah menunggunya.

Aturannya sederhana. Letakkan kedua tangan di atas batu, alirkan energi kehidupan (Mana) ke dalamnya, dan batu itu akan memproyeksikan elemen sihir bawaan yang tertidur di dalam jiwa. Untuk seorang Adiwangsa, batu itu seharusnya meledak menjadi pilar api berwarna emas.

Kaelen menarik napas panjang. Ia menutup mata, memfokuskan pikirannya, lalu meletakkan kedua telapak tangannya ke permukaan Batu Suar yang dingin.

Ia mulai mengalirkan energinya.

Satu detik. Dua detik.

Kaelen mengerutkan kening. Ada yang salah. Biasanya, saat seseorang menyentuh batu itu, mereka akan merasakan tolakan hangat. Namun Kaelen tidak merasakan kehangatan. Ia merasa seolah tangannya dicelupkan ke dalam sumur tak berdasar yang terbuat dari es dan lumpur.

Energinya tidak mengalir ke dalam batu. Sebaliknya, sesuatu di dalam dirinya... terbangun. Sesuatu yang lapar.

Tiba-tiba, cahaya merah dari Batu Suar meredup drastis.

Bisik-bisik mulai terdengar dari bangku penonton. Kaelen membuka matanya dan terkesiap. Batu yang seharusnya bersinar keemasan kini berubah warna menjadi hitam pekat, seperti menyerap semua cahaya di sekitarnya.

"Apa yang terjadi?" gumam salah satu Tetua.

Kaelen mencoba menarik tangannya, tapi ia tidak bisa. Sesuatu menahannya. Rasa dingin menyengat menjalar dari dadanya, merambat ke lengan, dan menembus ke dalam Batu Suar.

Dan kemudian, mimpi buruk itu terjadi.

Bukan pilar api yang meledak dari altar. Melainkan sebuah pusaran kabut berwarna ungu kehitaman yang pekat. Pusaran itu berputar tanpa suara, merobek udara di sekitar altar.

Kejadian selanjutnya membuat seluruh aula terkesiap dalam horor. Ribuan lilin yang menerangi ruangan raksasa itu... padam secara serentak. Api di perapian besar mati seketika. Bahkan sihir perlindungan yang mengelilingi aula hancur berkeping-keping.

Udara panas tiba-tiba berubah menjadi sedingin es. Gelap gulita menelan Aula Kebangkitan. Sisa-sisa sihir api di ruangan itu seolah disedot paksa, ditelan habis-habisan oleh pusaran hitam yang berpusat pada Kaelen.

Pemuda itu terhuyung mundur, akhirnya berhasil melepaskan tangannya dari batu. Pusaran hitam itu perlahan meresap kembali ke dalam pori-pori kulitnya, meninggalkan Batu Suar yang kini retak seribu dan berubah menjadi abu kelabu.

Hening. Kesunyian yang mencekik menguasai ruangan.

Kaelen menatap telapak tangannya sendiri dengan napas memburu. Ia tidak merasakan panasnya Api Suci. Ia merasakan ketiadaan. Sebuah lubang hitam di dalam jiwanya yang mendambakan sihir untuk dimakan.

Cahaya perlahan kembali menyala saat para penjaga dengan tergesa-gesa menyalakan obor sihir cadangan. Cahaya redup itu menyorot wajah Kaelen yang pucat pasi, dan wajah-wajah para bangsawan yang kini menatapnya seolah ia adalah monster.

"Batu Suar hancur..." suara Tetua Agung bergetar, memecah keheningan. Ia menunjuk Kaelen dengan jari keriput yang gemetar. "Bukan api... itu bukan elemen apa pun! Itu adalah ketiadaan! Kekuatan penelan kutukan kuno!"

"Anomali," bisik seseorang dari kerumunan, disusul oleh gumaman panik yang semakin keras. "Dia seorang Anomali! Anak yang dikutuk!"

Kaelen mendongak, mencari pembelaan. Tatapannya berserobok dengan Paman Varian.

Di tengah kekacauan dan kepanikan para Tetua, Varian tidak tampak terkejut, tidak juga terlihat sedih. Pria dengan bekas luka bakar di leher itu menatap Kaelen dari atas kursinya. Dan perlahan, ujung bibir Varian tertarik ke atas, membentuk seringai tipis yang hanya bisa dilihat oleh Kaelen.

Seringai yang mengatakan: Permainan selesai, Kaelen. Takhta ini milikku.

"Tangkap dia!" suara Varian tiba-tiba menggelegar ke seluruh ruangan, penuh otoritas palsu yang dibalut kepanikan buatan. "Anomali adalah musuh alam semesta! Jangan biarkan dia mencemari Aula Suci ini!"

Belasan ksatria elit klan mencabut pedang mereka secara serentak. Ujung bilah yang menyala oleh api kini tidak lagi diarahkan untuk menghormatinya, melainkan diarahkan tepat ke leher sang pewaris.

Dalam satu malam, Kaelen Adiwangsa kehilangan segalanya.

Déplier
Chapitre suivant
Télécharger

Dernier chapitre

Plus de chapitres

Aux lecteurs

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

Pas de commentaire
23
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status