LOGINSerena Ashworth, putri bangsawan yang tidak bisa menggunakan sihir, selalu dianggap aib keluarga kerajaan. Hubungannya dengan sang ayah dingin sejak kematian ibunya, sementara kehidupan akademinya berubah kacau setelah seorang pria misterius bernama Lucifer mengetahui rahasia terbesar Serena, bahwa ia bukan berasal dari dunia ini.
View MoreHari-hari di akademi berlalu dengan cukup tenang. Setidaknya bagi Serena. Beberapa hari terakhir ini dipenuhi hal-hal yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya. Lucifer semakin sering muncul dalam kehidupannya. Mereka memang berada di kelas seni yang sama, tetapi pria itu seolah sengaja mencari alasan untuk selalu berada di dekatnya.Kadang Lucifer menunggunya di depan kelas. Kadang pria itu muncul di perpustakaan. Kadang bahkan sudah berdiri di depan asrama sebelum Serena selesai bersiap. Hari ini pun sama. Mereka sedang makan siang bersama di kantin akademi. Serena sibuk memotong steak di piringnya. Sementara Lucifer hanya duduk santai di hadapannya. Makanan di depannya hampir tidak tersentuh. Tatapan merahnya justru tertuju pada Serena. Memperhatikan setiap gerakan gadis itu."Jadi?” tanyanya. Serena mengangkat kepala. “Hm?” Lucifer menopang dagunya. “Kamu terlihat banyak berpikir.” Serena menusukkan garpu ke steaknya. “Oliver aneh banget akhir-akhir ini.” Lucifer tidak menjawab.
"Ayah masih di perbatasan, kan? Kenapa tiba-tiba dia mau ke akademi?” Serena bertanya pada Alisa sambil memegang surat itu. Alisa mengangkat bahu. “Hm? Saya juga kurang tahu. Apa isi suratnya?"Serena tidak langsung menjawab. Ia kembali menatap kertas di tangannya beberapa saat sebelum akhirnya mengulurkannya pada Alisa. “Baca saja sendiri."Alisa menerima surat itu dengan hati-hati. Matanya bergerak mengikuti barisan tulisan tangan yang sangat dikenalnya. Tulisan milik Grand Duke Draven Ashworth memang selalu terlihat tegas dan rapi, hampir seperti laporan militer daripada surat untuk putrinya sendiri.Beberapa saat kemudian Alisa mulai membacanya dengan suara pelan. “Bagaimana sekolahmu? Kuharap kamu tidak membuat masalah dan mempermalukan nama Ashworth.” Serena langsung memutar matanya. “Nah kan. Baru kalimat kedua sudah mulai menyebalkan."Alisa mengabaikan komentar itu dan melanjutkan membaca. “Apa kamu sudah bertemu para pewaris keluarga Grand Duke? Secara pribadi aku menyaranka
Suara sayap gagak membuat Serena kaget. Seekor gagak hitam baru saja hinggap di jendela perpustakaan yang terbuka sedikit. Burung itu memiringkan kepalanya, lalu mengeluarkan suara serak yang memecah keheningan ruangan.Serena yang masih membeku karena ucapan Lucifer akhirnya menoleh ke arah jendela. Saat itu, dia menyadari sesuatu. Langit sudah mulai gelap. Cahaya jingga matahari sore hampir menghilang sepenuhnya, digantikan warna biru tua yang perlahan menyelimuti langit akademi.Jantung Serena berdegup tidak nyaman. Terlambat. Kalau dia tidak segera kembali, Alisa pasti khawatir. Memikirkan Alisa membuat Serena sedikit merasa bersalah. Alisa selalu memperlakukannya seperti anak sendiri. Tidak peduli berapa kali Serena mengatakan bahwa dirinya sudah berusia tujuh belas tahun, Alisa tetap menganggapnya gadis kecil yang perlu dijaga.Serena segera menarik tangannya dari genggaman Lucifer. Gerakannya cukup mendadak hingga pria itu sedikit terdiam. “Aku harus segera kembali ke asrama,”
"Tidak, bagaimana kamu tahu tentang bumi?” Serena bertanya dengan nada penasaran. Dia menatap Lucifer dengan serius, tanpa mempedulikan bahwa pria di depannya adalah raja iblis. Rasa penasarannya lebih besar daripada rasa takutnya.Lucifer hanya bersandar santai di kursinya, tanpa menunjukkan emosi apa pun. “Hm?” jawabnya dengan santai. "Aku membaca buku,” tambahnya, membuat Serena semakin penasaran."Buku apa?” Serena bertanya dengan antusias, mendekatkan tubuhnya ke arah Lucifer. "Aku juga mau baca,” tambahnya, dengan mata amber yang berbinar penuh harapan.Lucifer tersenyum santai, namun jawabannya membuat Serena terkejut. “Yahh, sayangnya sudah kumakan." "Apa?” Serena berkedip bingung, tidak percaya apa yang didengarnya."Dimakan?” tanyanya lagi, dengan nada yang lebih tinggi. "Iya,” Lucifer mengangguk, seolah itu hal normal. “Aku ingat waktu naik tahta, aku mendapatkan buku itu. Tapi karena aku malas membaca, jadi langsung kumakan saja."Serena membeku, tidak percaya apa yang did
Suara langkah kaki di luar koridor semakin mendekat. Tok. Tok. Tok. Lalu berhenti tepat di depan pintu kelas seni. Serena refleks menoleh ke arah pintu. Handle pintu bergerak pelan seolah seseorang mencoba membukanya dari luar. Namun pintu itu tidak terbuka. Terkunci.Serena langsung mengernyit kec
Serena berjalan mendekati salah satu kanvas kosong yang tersusun rapi di sudut ruangan. Ruangan kelas seni itu jauh lebih nyaman dibanding ruang kelas sihir. Tidak ada ledakan mana, tidak ada murid sok jenius, hanya aroma cat, kayu, dan cahaya sore yang masuk lewat jendela tinggi. Serena suka suasa
Keesokan harinya, akhirnya lonceng berbunyi menandakan kelas teori selesai. Sebagian besar siswa langsung bergegas menuju aula latihan sihir tambahan begitu lonceng berbunyi.Di koridor akademi, suara langkah kaki dan percakapan para bangsawan muda memenuhi udara. Mereka membahas elemen sihir masin
Setelah duduk minum teh beberapa menit bersama Alisa, Serena akhirnya memutuskan mandi. Hari pertamanya di akademi benar-benar melelahkan. Bukan karena pelajarannya sulit, tapi karena orang-orangnya. Tatapan meremehkan, bisik-bisik, dan para bangsawan yang terlalu sibuk mengurusi hidup orang lain






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.