MasukSerena Ashworth, putri bangsawan yang tidak bisa menggunakan sihir, selalu dianggap aib keluarga kerajaan. Hubungannya dengan sang ayah dingin sejak kematian ibunya, sementara kehidupan akademinya berubah kacau setelah seorang pria misterius bernama Lucifer mengetahui rahasia terbesar Serena, bahwa ia bukan berasal dari dunia ini.
Lihat lebih banyak“Serena Ashworth.”
Itulah nama yang dipanggil di dalam kelas Akademi Arvendale. Suara guru terdengar datar, tanpa semangat. Beberapa siswa tidak menoleh, sibuk membuka buku atau berbicara pelan dengan teman di sebelah mereka.
Serena mengangkat tangannya pelan. “Hadir,” katanya singkat. Lalu tangannya kembali turun tanpa drama apa pun.
Ia menghela napas panjang pelan, rupanya ia masih teringat ucapan ayah.
“Jangan mempermalukanku,” kata ayahnya sebelum ia dikirim ke akademi ini.
Serena menatap papan tulis di depan kelas, tapi tidak benar-benar fokus mendengarkan penjelasan guru. Tangannya mengetuk meja pelan, masih ingat tatapan dingin ayahnya. Tidak ada pelukan, tidak ada ucapan hati-hati, hanya satu kalimat itu.
“Jangan mempermalukanku.” Seolah keberadaannya memang hanya sebatas ancaman bagi nama keluarga mereka.
Pelajaran berjalan lambat. Guru menjelaskan teori sihir dasar, sementara beberapa siswa mulai menunjukkan kemampuan mereka satu per satu. Api kecil muncul di ujung jari, angin tipis berputar di atas meja, ada juga yang berhasil membuat cahaya kecil melayang di udara.
Serena hanya diam di tempat duduknya, sudah terbiasa menjadi satu-satunya orang yang tidak melakukan apa pun saat praktik sederhana seperti ini dimulai.
Beberapa siswa melirik ke arahnya, ada yang kasihan, ada yang mengejek, ada juga yang terang-terangan tersenyum sinis. “Kalau tidak bisa sihir, kenapa masuk akademi?” bisikan itu terdengar pelan dari belakang. Serena pura-pura tidak mendengar, terlalu lelah untuk marah.
Ketika bel akhir kelas berbunyi, suara kursi bergeser dan percakapan kecil langsung memenuhi ruangan. Serena tidak langsung keluar, menunggu sampai sebagian besar siswa pergi dulu, baru bangkit dari kursinya.
Namun bahkan saat ia berjalan menuju pintu kelas, beberapa tatapan masih mengikuti dirinya. Tatapan penasaran, tatapan merendahkan. Serena sudah hafal semuanya.
Saat ia melangkah keluar dari kelas, udara koridor akademi terasa lebih dingin dari biasanya. Dan di sana, sudah ada seseorang yang menunggunya.
“Serena,” suara itu ringan, santai. Seorang pemuda berdiri tidak jauh dari pintu kelas, bersandar di dinding seperti sudah biasa menunggu. Oliver, pangeran ketiga dari keluarga kerajaan.
Oliver melambaikan tangan kecil. “Ke kantin bareng?” Serena menatapnya sebentar, “Kau tidak ada kelas?”
“Ada,” jawab Oliver santai, “tapi aku lebih suka makan daripada mendengarkan teori membosankan itu.”
“Kau benar-benar tidak niat belajar,” kata Serena. “Aku tetap lulus,” jawab Oliver. “Itu karena kau pangeran,” kata Serena. Oliver tertawa kecil mendengar itu. “Dan kau sepupuku yang terlalu serius."
Tanpa menunggu jawaban, Oliver langsung berjalan di samping Serena. Sangat natural, seolah memang tempatnya di sana. Di perjalanan menuju kantin, beberapa siswa mulai memperhatikan mereka.
Bukan karena Oliver saja, tapi karena Serena. Bisik-bisik mulai terdengar pelan, tapi cukup jelas untuk ditangkap. “Itu dia… yang katanya tidak bisa sihir… aib keluarga kerajaan, kan?” “Kalau aku jadi dia sih malu keluar kamar."
Serena tetap berjalan tanpa menoleh sedikit pun. Ekspresinya datar. Namun Oliver menghela napas kecil di sampingnya. “Orang-orang ini benar-benar tidak punya kegiatan lain.”
Serena tidak menjawab. Oliver tiba-tiba merangkul bahunya santai. “Jangan didengar.”
“Aku tidak peduli,” kata Serena. “Kau bohong,” jawab Oliver. Serena melirik Oliver sebentar, “Kau terlalu santai.” “Dan kau terlalu memendam semuanya sendiri,” kata Oliver.
Langkah Serena sedikit melambat, tapi ia tetap tidak mengatakan apa pun lagi. Kantin akademi cukup ramai siang itu. Suara sendok, piring, dan percakapan bercampur jadi satu. Oliver menarik Serena ke meja kosong di sudut.
“Duduk sini.” Serena duduk sementara Oliver mulai mengambil makanan tanpa banyak pikir.
Namun bahkan di dalam kantin, beberapa tatapan masih mengarah pada Serena. Beberapa siswa bangsawan berbisik sambil tertawa kecil. Serena pura-pura tidak melihat, sudah terlalu terbiasa.
Oliver mendorong segelas minuman ke arahnya. “Minum.” “Kau seperti sedang menenangkan anak kecil,” kata Serena. “Kalau begitu berhenti terlihat menyedihkan,” jawab Oliver.
Serena mendengus pelan. Untuk pertama kalinya sejak pagi, ekspresinya sedikit melunak. Namun di tengah keramaian kantin itu, ada seseorang yang tidak ikut berbicara. Tidak ikut tertawa. Tidak ikut memperhatikan keributan lain.
Di sudut paling jauh kantin, seorang pria duduk sendirian. Rambutnya berwarna perak, matanya merah tajam. Tatapannya lurus mengarah pada Serena sejak tadi. Diam, tenang, namun entah kenapa terasa mengintimidasi.
Ia tidak makan, tidak bergerak, hanya memperhatikan Serena tanpa berpaling sedikit pun. Dan Serena sama sekali tidak menyadari keberadaan pria itu.
Hari-hari di akademi berlalu dengan cukup tenang. Setidaknya bagi Serena. Beberapa hari terakhir ini dipenuhi hal-hal yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya. Lucifer semakin sering muncul dalam kehidupannya. Mereka memang berada di kelas seni yang sama, tetapi pria itu seolah sengaja mencari alasan untuk selalu berada di dekatnya.Kadang Lucifer menunggunya di depan kelas. Kadang pria itu muncul di perpustakaan. Kadang bahkan sudah berdiri di depan asrama sebelum Serena selesai bersiap. Hari ini pun sama. Mereka sedang makan siang bersama di kantin akademi. Serena sibuk memotong steak di piringnya. Sementara Lucifer hanya duduk santai di hadapannya. Makanan di depannya hampir tidak tersentuh. Tatapan merahnya justru tertuju pada Serena. Memperhatikan setiap gerakan gadis itu."Jadi?” tanyanya. Serena mengangkat kepala. “Hm?” Lucifer menopang dagunya. “Kamu terlihat banyak berpikir.” Serena menusukkan garpu ke steaknya. “Oliver aneh banget akhir-akhir ini.” Lucifer tidak menjawab.
"Ayah masih di perbatasan, kan? Kenapa tiba-tiba dia mau ke akademi?” Serena bertanya pada Alisa sambil memegang surat itu. Alisa mengangkat bahu. “Hm? Saya juga kurang tahu. Apa isi suratnya?"Serena tidak langsung menjawab. Ia kembali menatap kertas di tangannya beberapa saat sebelum akhirnya mengulurkannya pada Alisa. “Baca saja sendiri."Alisa menerima surat itu dengan hati-hati. Matanya bergerak mengikuti barisan tulisan tangan yang sangat dikenalnya. Tulisan milik Grand Duke Draven Ashworth memang selalu terlihat tegas dan rapi, hampir seperti laporan militer daripada surat untuk putrinya sendiri.Beberapa saat kemudian Alisa mulai membacanya dengan suara pelan. “Bagaimana sekolahmu? Kuharap kamu tidak membuat masalah dan mempermalukan nama Ashworth.” Serena langsung memutar matanya. “Nah kan. Baru kalimat kedua sudah mulai menyebalkan."Alisa mengabaikan komentar itu dan melanjutkan membaca. “Apa kamu sudah bertemu para pewaris keluarga Grand Duke? Secara pribadi aku menyaranka
Suara sayap gagak membuat Serena kaget. Seekor gagak hitam baru saja hinggap di jendela perpustakaan yang terbuka sedikit. Burung itu memiringkan kepalanya, lalu mengeluarkan suara serak yang memecah keheningan ruangan.Serena yang masih membeku karena ucapan Lucifer akhirnya menoleh ke arah jendela. Saat itu, dia menyadari sesuatu. Langit sudah mulai gelap. Cahaya jingga matahari sore hampir menghilang sepenuhnya, digantikan warna biru tua yang perlahan menyelimuti langit akademi.Jantung Serena berdegup tidak nyaman. Terlambat. Kalau dia tidak segera kembali, Alisa pasti khawatir. Memikirkan Alisa membuat Serena sedikit merasa bersalah. Alisa selalu memperlakukannya seperti anak sendiri. Tidak peduli berapa kali Serena mengatakan bahwa dirinya sudah berusia tujuh belas tahun, Alisa tetap menganggapnya gadis kecil yang perlu dijaga.Serena segera menarik tangannya dari genggaman Lucifer. Gerakannya cukup mendadak hingga pria itu sedikit terdiam. “Aku harus segera kembali ke asrama,”
"Tidak, bagaimana kamu tahu tentang bumi?” Serena bertanya dengan nada penasaran. Dia menatap Lucifer dengan serius, tanpa mempedulikan bahwa pria di depannya adalah raja iblis. Rasa penasarannya lebih besar daripada rasa takutnya.Lucifer hanya bersandar santai di kursinya, tanpa menunjukkan emosi apa pun. “Hm?” jawabnya dengan santai. "Aku membaca buku,” tambahnya, membuat Serena semakin penasaran."Buku apa?” Serena bertanya dengan antusias, mendekatkan tubuhnya ke arah Lucifer. "Aku juga mau baca,” tambahnya, dengan mata amber yang berbinar penuh harapan.Lucifer tersenyum santai, namun jawabannya membuat Serena terkejut. “Yahh, sayangnya sudah kumakan." "Apa?” Serena berkedip bingung, tidak percaya apa yang didengarnya."Dimakan?” tanyanya lagi, dengan nada yang lebih tinggi. "Iya,” Lucifer mengangguk, seolah itu hal normal. “Aku ingat waktu naik tahta, aku mendapatkan buku itu. Tapi karena aku malas membaca, jadi langsung kumakan saja."Serena membeku, tidak percaya apa yang did
Suara langkah kaki di luar koridor semakin mendekat. Tok. Tok. Tok. Lalu berhenti tepat di depan pintu kelas seni. Serena refleks menoleh ke arah pintu. Handle pintu bergerak pelan seolah seseorang mencoba membukanya dari luar. Namun pintu itu tidak terbuka. Terkunci.Serena langsung mengernyit kec
Serena berjalan mendekati salah satu kanvas kosong yang tersusun rapi di sudut ruangan. Ruangan kelas seni itu jauh lebih nyaman dibanding ruang kelas sihir. Tidak ada ledakan mana, tidak ada murid sok jenius, hanya aroma cat, kayu, dan cahaya sore yang masuk lewat jendela tinggi. Serena suka suasa
Keesokan harinya, akhirnya lonceng berbunyi menandakan kelas teori selesai. Sebagian besar siswa langsung bergegas menuju aula latihan sihir tambahan begitu lonceng berbunyi.Di koridor akademi, suara langkah kaki dan percakapan para bangsawan muda memenuhi udara. Mereka membahas elemen sihir masin
Setelah duduk minum teh beberapa menit bersama Alisa, Serena akhirnya memutuskan mandi. Hari pertamanya di akademi benar-benar melelahkan. Bukan karena pelajarannya sulit, tapi karena orang-orangnya. Tatapan meremehkan, bisik-bisik, dan para bangsawan yang terlalu sibuk mengurusi hidup orang lain






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.